Kader TBC Komunitas, Warnai Bulan Kemerdekaan dengan Penyegaran dan Semangat Baru

Suasana penyegaran kader di Kabupaten Pinrang, Selasa 9 Agustus 2022

MAKASSAR– Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77 dijadikan program Tuberkulosis (TBC) Komunitas sebagai momentum untuk menyegarkan pengetahuan dan semangat kader. Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) sebagai pelaksana program TB Komunitas di wilayah Sulawesi Selatan menunjukkan tekadnya untuk terus bergerak menjalankan misi kemanusiaan yakni dengan memerdekakan masyarakat dari penyakit TBC.

Koordinator Program SR Yamali TB Sulsel, Kasri Riswadi, menyampaikan bahwa npenanggulangan TB harus terus digeliatkan mengingat bahwa penyakit menular yang telah berusia 141 tahun itu masih menjadi ancaman nyata di masyarakarat. “Hingga saat ini, negara kita masih menjadi penyumbang kasus TBC tertinggi ketiga di dunia. Karenanya, peran dan kolaborasi bersama baik pemerintah, sektor swasta dan khsusunya masyarakat harus terus digiatkan dan ditingkatkan,” tuturnya.

Yamali TB sendiri bergerak untuk upaya penemuan kasus dan pendampingan pasien TB melalui kader dan pasien supporter yang tersebar di 9 daerah kabupaten dan kota se-Sulsel. Kesembilan daerah itu di antaranya kota Makassar, kabupaten Gowa, Maros, Bone, Wajo, Sidrap, Pinrang, Jeneponto, dan Bulukumba.

“Penyegaran Kader ini adalah upaya peningkatan kapasitas sekaligus memupuk semangat para kader. Kita ada 610 kader, mereka inilah yang sebagai pegiat TB terus aktif di masyarakat dengan ragam kegiatan seperti penyuluhan, investigasi kontak, pelacakan pasien mangkir, serta pendampingan pasien,” ungkap Kasri melalui keterangan tertulisnya, Selasa (9/8).

Sementara itu, SR Manager Yamali TB, Wahriyadi, menyebutkan bahwa melalui momentum peringatan kemerdekaan tahun ini pihaknya ingin mengajak berbagai elemen masyarakat untuk selalu waspada dengan masalah TBC serta bersama-sama memerangi penyakit tersebut. “Selain pasang bendera di rumah atau tempat kita masing-masing, mari kita isi kemerdekaan dengan kesadaran untuk hidup sehat dan merdeka dari segala macam penyakit,” pungkasnya.

Perkuat Dukungan Psikososial Pasien TBC, Yamali TB Gandeng Kareba Baji

Penandatangan MOU antara Yamali TB Sulsel dan Kareba Baji (Foto by. Sri Niken)

MAKASSAR– Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) Sulawesi Selatan, menggandeng Yayasan Kareba Baji dalam upaya penguatan pendampingan pasien TBC Resisten Obat serta penemuan kasus TBC baru melalui kegiatan penyuluhan dan sikrinig TBC di wilayah kota Makassar.

Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan kerjasama atau MOU yang dilakukan di sekretariat Yamali TB, Jl. Cemara No. 2 Makassar, pada Jumat, 25 Maret 2022.

Ketua Yamali TB, Kasri Riswadi menjelaskan bahwa keberadaan Kareba Baji sebagai organisasi penyintas TB sangat relevan dalam pemberian dukungan psikososial kepada pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan.

“Beban pasien TBC itu tak terkira, meliputi lama proses pengobatan serta tantangan efek samping obat, karenanya memang perlu pendampingan. Kami meminta mereka untuk tergabung sebagai patient Supporter, sebab kehadiran Peer educator dari Kareba Baji dapat menjadi pemantik pasien tetap semangat berobat, punya asa sembuh dan bangkit,” tutur kasri.

Ketua Kareba Baji, Chandra Mustamin, menimpali bahwa aktivitas yang dilakukan Yamali TB selama ini memang sangat selaras dengan tujuan dan keberadaan Kareba Baji. Karenanya, ia mengaharapkan agar kerjasama ini juga dapat senantiasa selaras, saling support dengan orientasi yang sama meningkatakan angka kesembuhan pasien TBC RO serta mewujudkan misi eliminasi TBC 2030.

“Setelah ini, kami akan koordinasikan kegiatan yang bisa dilakukan bersama, juga kesedian dan kesiapan teman-teman di Kareba Baji sebagai peer educator,” terangnya.

Kareba Baji merupakan organisasi yang dibentuk oleh kelompok penyintas TBC RO sejak tahun 2014 untuk pendampingan pasien TBC Resistan Obat di RSUD Labuang Baji, yang kemudian merambah kota Makassar dan wilayah Sulsel. Mereka juga tergabung dalam jejaring POP TB Indonesia. Adapun Yamali TB adalah pelaksana program Global Fund TBC Komunitas untuk wilayah kerja se-Sulawesi Selatan kemitraan dengan Konsorsium Penabulu-STPI.

 

Masalah TBC di Sulsel, Seperdua dari Estimasi Jumlah Kasus Belum Diobati

Masalah TBC di Sulsel, Seperdua dari Estimasi Jumlah Kasus Belum Diobati

MAKASSAR– Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan pelibatan semua pihak dalam penanggulangannya, termasuk dalam hal ini  keterlibatan lintas sektor pemerintahan, organisasi profesi, hingga layanan kesehatan swasta baik rumah sakit maupun klinik.

Hal itu diungkapkan Penanggungjawab Program TB Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Andi Julia Junus, saat memaparkan materi pada kegiatan pertemuan lintas jejaring untuk penguatan peran komunitas dalam strategi Public Privat Mix (PPM)  yang diadakan Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) Sulsel, di Makassar, Rabu, 30 Maret 2022.

Data laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021 mencatat erdapat 31.022 estimasi kasus TB di Sulsel, di mana baru sebanyak 14808 kasus atau yang ternotifikasi yang jika dipersentasekan hanya 47,73%. Artinya, masih ada sekitar 53% yang tidak diketahui keberadaaanya di tengah ancaman penularan yang juga besar.

Andi Julia Junus, menjelaskan bahwa untuk melacak kasus TBC di masyarakat, perlu usaha lebih keras dan pelibatan lebih banyak pihak. Ia menyebut, kehadiran Yamali TB dari sisi kominitas merupakan satu yang pasti. Namun, baginya itu juga tak cukup, perlu keterlibatan multisektoral, baik dari sektor pemerintah maupun swasta.

“Starategi yang kita sedang lakukan sekarang adalah implementasi PPM atau pelibatan layanan kesehatan swasta untuk menjangkau kasus TBC, mengingat bahwa banyak masyarakat yang memilih berobat di sektor layanan swasta, sementra yang terlaporkan dari sektor hanya 9 % dari total kasus secara Nasional,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua KOPI TB Sulsel, dr. Arief Santoso, Sp.P, Ph.D, menegaskan bahwa selain swktor layanan, juga dibutuhkan peran penting organisasi profesi serta keberpihakan pemerintah untuk membuat suatu payung hukum tentang penanggulangan TBC.

Manager SR Yamali TB Sulsel, Wahriyadi menambahkan bahwa implementasi DPPM ini merupakan strategi penanggulangan Kemenkes tahun 2020-2024.

Kegiatan pertemuan jejaring ini dilaksanakan selama tiga hari, sejak 28-30 Maret 2022, dengan diikuti Dinas Kesehatan Sulsel, Dinkes Makassar, KOPI TB, IDI Sulsel, PPDI Cabang Sulawesi, Asosiasi Rumah Sakit, Asosiasi Klinik, Asosisi Laboratorium, Majelis Kesehatan Aisyiyah dan Muhammadiyah, serta sejumlah peerwakilan Rumah Sakit dan Klinik se-Makassar.

Kader Yamali Peringati Hari TB se-Dunia dengan Aksi Turun Jalan dan Menyusuri Pasar

MAKASSAR– Terik matahari pagi menjelang siang tak menjadi penghalang bagi puluhan kader TB Komunitas dari Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) Sulawesi Selatan untuk turun ke jalan memperingati hari tuberkulosis sedunia yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. Aksi turun ke jalan Kader Yamali TB ini dilakukan dengan edukasi terpadu kepada masyarakat umum pengguna jalan serta pedagang dan pengunjung pasar tradisional Toddopuli kota Makassar.

“Momentum TB Day yang tepat diperingati hari ini kita jadikan sebagai peneguhan komitmen mewujudkan masyarakat yang bebas TBC. Karenanya melalui aksi ini, kita bersosialisasi dengan harapan dapat menjaring kasus baru TBC yang belum tersentuh ke layanan kesehatan,” tutur Program Officier Yamali TB Makassar, Masnidar, S,Km., di sela-sela aksi, Kamis (24/3/2022).

Masnidar menegaskan, peringatan hari TBC ini penting untuk kita lakukan mengingat bahwa angkas kasus TBC masih sangat tinggi dan masih menjadi penyakit menular dengan angka kematian tertinggi. “catatan WHO tahun 2021, Indonesia masih menjadi negara nomor tiga dunia sebagai penyumbang kasus TBC tertinggi dengan estimasi 824.000 jumlah kasus dengan kematian sebanyak 13.100 dan hanya 47% kasus yang terlaporkan dalam setahun. Itu artinya masih banyak kasus tapi belum berobat dan terlaporkan,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator Program Yamali TB Sulsel, Kasri Riswadi, menambahkan bahwa peringatan hari TB tahun ini dilakukan dengan ragam aksi dan kegiatan. Selain aksi turun jalan di Makassar, aksi yang sama serta ragam kegiatan juga dilakukan secara serentak di 8 daerah lainnya seperti Gowa, Jeneponto, Bulukumba, Maros, Wajo, Bone, Pinrang, dan Sidrap.

“TB day berbasis komunitas ini kita konsolidasikan untuk membuat kegiatan secara terpadu sejak 24 Februari hingga 31 Maret ini, sejumlah kegiatan telah dihelat di 9 daerah itu seperti sisir kutu atau penyuluhan dan investigasi kontak kepada 50.000 orang dan merujuk terduga TB sebanyak 10.000 orang,” pungkasnya.

Kasri menambahkan, selain melakukan penjaringan terduga dan kasus baru TBC serta pendampingan pasien, program penanggulangan TBC juga diarahkan pada ranah advokasi untuk memperoleh dukungan publik, dukungan finansial bagi pasien, dukungan psikososial, serta dukungan komitmen politik dari pemangku kepentingan. “TBC masih menjadi persoalan besar saat ini, bahkan penanganannya diklaim mundur 4 tahun dikarenakan pandemi Covid-19, padahal kita semua tahu bahwa TBC ini juga merupakan penyakit menular yang menyebabkan kematian. Peringatan TB day 2022 ini kami ingin jadikan momentum kampanye agar kita semua tahu,” terangnya.

Peringatan hari TB sedunia tahun ini dilakukan oleh sejumlah pihak baik dari pegiat TB di Dinas kesehatan dan layanan, juga oleh kelompok masyarakat dan komunitas. Tema TB Day tahun sendiri adalah “Perkuat dukungan untuk Eliminasi TBC, Selamatkan Jiwa”.