Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Bergerak Bersama Kementerian Kesehatan RI dalam Hari Tuberkulosis Sedunia 2024

Setiap tahun, tepatnya tanggal 24 Maret seluruh dunia memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS). Hari Tuberkulosis Sedunia tentunya menjadi momentum terhadap upaya-upaya berbagai pihak untuk mengeliminasi penyakit Tuberkulosis terutama di Indonesia. Kegiatan HTBS bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus menerus tentang dampak kesehatan,  ekonomi dan sosial dari penyakit Tuberkulosis (TBC).

Pada hari Kamis, 2 Mei 2024 kegiatan puncak Hari Tuberkulosis Sedunia nasional berlangsung dari pukul 08.00 – 15.00 WIB di Pos Bloc, Jakarta Pusat. PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan RI untuk berpartisipasi dalam kegiatan Hari Tuberkulosis 2024.  PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI juga mengadakan sesi talkshow dengan beberapa narasumber, flashmob Jingle TBC, dan membuka booth edukasi di acara HTBS. Booth berisi poster edukasi dengan kegiatan games yang menarik untuk mendapatkan hadiah merchandise berupa mug, bolpen, stiker, dan pin. 

Acara dimulai dengan tarian tradisional sebelum akhirnya dibuka oleh MC. Setelah acara resmi dimulai, dr. Imran Priambudi selaku Direktur P2PM memberikan sambutan sekaligus membacakan data-data terkait penyakit TBC selama beberapa tahun terakhir. Dr. dr. Maxi Rein Rondonowu, DHSM, MARS selaku Direktur Jenderal P2PM juga turut memberikan sambutan dan arahan pembukaan acara. Beliau juga menjelaskan program terbaru untuk mengeliminasi penyakit TBC di Indonesia untuk tahun 2024 dan rencana kedepannya. 

Kemudian, acara dilanjutkan dengan pemberian apresiasi dan hadiah kepada pemenang lomba HTBS oleh Direktur Jenderal P2PM. Apresiasi juga diberikan kepada Kader, Koordinator Kader, Pasien Supporter, dan Manajer Kasus terbaik dari 30 provinsi dan 190 Kabupaten/Kota wilayah intervensi Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI. Apresiasi ini diberikan guna memberikan penghargaan dan semangat kepada seluruh elemen komunitas yang telah bekerja keras selama ini di lapangan. 


Setelah sesi pemberian apresiasi, acara dilanjutkan dengan melakukan Flashmob Jingle TOSS TBC untuk memeriahkan acara. Flashmob dipimpin oleh instruktur dari komunitas yang diikuti oleh seluruh Kader yang hadir sejumlah 50 orang serta diikuti oleh seluruh pengunjung yang hadir dalam acara puncak HTBS tersebut.

Acara disambung dengan sesi Talkshow “Gerakan Indonesia Akhiri TBC” yang dipimpin oleh moderator selebriti Sarah Sechan dan dihadiri oleh beberapa narasumber, yakni dr. Imran Priambudi selaku Direktur P2PM Kemenkes, Samsul Jamaluddin selaku QAGC PT. JNE, dr. Nurdin selaku pejabat Walikota Tangerang, dan Mas Raja selaku Penyintas TBC. Tema “Gerakan Indonesia Akhiri TBC” diusung dengan harapan seluruh komponen dari pemerintah, organisasi masyarakat sipil, swasta, perusahaan dan masyarakat dapat bergotong royong mencapai Indonesia Bebas TBC 2030.  

Pada sesi ini, dr. Imran Priambudi menjelaskan kondisi penyakit TBC di Indonesia yang terus bertambah sekitar 1.000.000 kasus setiap tahunnya. Tahun lalu, penyakit TBC sudah berhasil ditemukan sebanyak 80%. Saat ini, dengan kebaruan yang ada di bidang kesehatan penyakit TBC dapat disembuhkan dengan lebih cepat. Pak Samsul juga menyampaikan bahwa di bidang kurir tentunya tingkat penyebaran penyakit sangat tinggi. PT. JNE cukup aktif dalam penanggulangan penyakit TBC bahkan melakukan pencegahan dan penindakan lebih lanjut.. 

Mas Raja turut menceritakan pengalamannya sebagai penyintas TBC Ekstra Paru yang dialaminya pada tahun 2022. Terakhir, Pak Nurdin menjabarkan dukungan yang diberikan oleh pemerintah terhadap penanggulangan penyakit TBC berupa payung kebijakan, anggaran yang cukup, dan program-program untuk menangani kasus TBC. 

Sesi kedua acara dilanjutkan setelah istirahat siang dengan talkshow yang dimoderatori oleh Lina Harahap selaku perwakilan komunitas. Talkshow dihadiri oleh beberapa narasumber yakni Bu Ertin sebagai Koordinator Kader terbaik, Pak Bunli sebagai TB Army terbaik, Bu Poppy sebagai Manajer Kasus (MK) terbaik, Bu Kamisah sebagai Kader terbaik, dan Pak Sofyan sebagai Pasien Supporter (PS) terbaik.

Pada sesi ini, para narasumber melakukan sharing tentang pengalaman yang telah mereka lalui selama ini. Salah satu narasumber, Bu Poppy menceritakan keluh kesahnya selama menjadi Manajer Kasus (MK), baik itu kendala di lapangan maupun secara internal. Tidak sedikit pasien TBC yang tidak mau melakukan pengobatan, bahkan sampai melakukan perlawanan ketika diberikan edukasi. Bu Poppy tidak menyerah sampai disitu, beliau memberikan edukasi secara terus menerus untuk membujuk pasien hingga mau berobat. Dengan kegigihan yang dimilikinya, Bu Poppy berhasil menjadi Manajer Kasus (MK) terbaik.

Selanjutnya kegiatan sampai juga pada penghujung acara yang dimeriahkan oleh guest star yaitu Salma Salsabil yang membawakan beberapa lagu untuk menghibur para peserta yang hadir. Semoga kegiatan ini dapat memberikan edukasi tentang TBC yang masif kepada seluruh masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Highlight Kampanye Komunitas “Sembuh Lebih Cepat” Pengobatan TBC RO BpaL/M di RSUP Persahabatan

TBC RO atau Tuberkulosis Resisten Obat merupakan masalah kesehatan yang signifikan di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan terdapat 410.000 kasus TBC RO di seluruh dunia pada tahun 2023 yang memiliki jumlah paling tinggi di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Tidak terkecuali Indonesia dengan estimasi jumlah kasus TBC RO sebanyak 31.000 pada tahun 2022. Pasien TBC RO cenderung memiliki berbagai tantangan dan ancaman yang lebih serius, seperti durasi pengobatan yang lebih lama, peningkatan risiko efek samping obat yang merugikan, dan terbatasnya pengobatan. 

Oleh karena itu, peneliti telah mengembangkan kemajuan ilmiah yang telah memunculkan inovasi baru. Saat ini, terdapat tiga paduan obat yang tersedia untuk pengobatan TBC RO yaitu paduan jangka panjang (LTR), paduan jangka pendek (STR), dan paduan terbaru BPaL/BPaLM.

Regimen BpaL/M merupakan pengobatan terbaru telah menunjukkan hasil positif dalam keberhasilan pengobatan bagi pasien TBC RO di Indonesia. BPaL merupakan singkatan dari Bedaquiline, Pretomanid, Linezoid, dan Moxifloxacin (BPaL/M). Sejalan dengan pengobatan ini, Yayasan Pejuang Tangguh (PETA) selaku SSR Komunitas Penabulu-STPI wilayah Jakarta Timur bersama dengan PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) berinisiatif melaksanakan usaha menyebarluaskan kesadaran sekaligus memberikan edukasi terkait keberadaan paduan BPaL/M dalam programatik layanan perawatan TBC RO di Indonesia kepada kalangan orang terdampak TBC RO serta masyarakat umum melalui kampanye komunitas “Sembuh Lebih Cepat”. Kampanye ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2024.

Acara yang berlangsung selama 3 jam ini dilaksanakan di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur pada tanggal 22 April 2024. Acara dihadiri oleh Tim Ahli Klinis TBC RO RSUP Persahabatan, perwakilan penyintas TBC RO dengan Pengobatan BpaL/BPaLM, dan perwakilan Manajer Kasus serta Pasien Supporter. Selain itu, acara juga dihadiri oleh 24 peserta yang merupakan 12 pasien TBC RO dengan pengobatan BPaL/BPaLM serta 1 orang pendamping keluarga dari masing-masing pasien.

Acara dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi antara Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dengan PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, SR Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), SSR Yayasan Pejuang Tangguh (PETA), dan didukung oleh Bakrie Center Foundation (BCF). Tujuan diadakannya acara ini yaitu untuk memberikan edukasi pasien TBC RO terkait eligibilitas, komponen, dosis, durasi dan efek samping perawatan TBC RO menggunakan paduan BPaL/BPaLM. 

Acara dibuka oleh sambutan dari Dokter yang menangani kasus TBC RO. Selanjutnya, Dokter memaparkan mengenai pengobatan BpaL secara singkat dan dilanjutkan dengan sambutan dari SSR Peta Jawa Timur, yaitu Ibu Jumayati. Ibu Jumayati memotivasi para pasien untuk semangat melakukan pengobatan hingga sembuh.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan STPI yaitu Mas Arif. Mas Arif memaparkan informasi terbaru terkait pengobatan TBC RO. Selanjutnya, Ibu Siska selaku pasien TBC RO memberikan testimoni pengobatan TBC RO dengan BPaL. Setelah bercerita mengenai pengalamannya, Ibu Yulinda selaku MK RSUP Persahabatan mengenalkan masing-masing Pasien Supporter serta memberikan edukasi tentang pendampingan komunitas dan perawatan TBC RO. Sesi pemberian edukasi dilanjutkan oleh Dr. Riyadi selaku Dokter Paru mengenai pengobatan TBC RO. Beliau memaparkan bahwa pengobatan TBC dilakukan menggunakan jangka pendek terlebih dahulu, selanjutnya jika sudah tidak dapat dilanjutkan dikarenakan resisten atau gangguan ginjal/hati, pengobatan disarankan secara individual (pengobatan dilakukan tergantung dengan kondisi pasien). Beliau mengharuskan pasien TBC untuk diobati hingga sembuh agar tidak menulari orang lain maupun keluarga di rumah. 

Acara diakhiri dengan sharing session yaitu sesi tanya jawab antara pasien dengan Dokter dan perawat. Di sesi ini, pasien bercerita mengenai keluhan yang dialaminya dan Dokter memberikan saran serta motivasi kepada para pasien. Harapannya, acara ini dapat memberikan wawasan baru kepada masyarakat khususnya pasien TBC RO terkait pengobatan BPaL/M. Dengan adanya pengobatan ini, pasien dapat meminimalisir efek samping obat dan mendapatkan proses penyembuhan yang lebih cepat.

 

South East Asia Region Constituency Meninjau Program Eliminasi TBC Komunitas di DKI Jakarta

Pada tahun 2024, The Global Fund kembali memberikan dukungan kepada Indonesia dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV, TBC, dan Malaria. Pada program eliminasi TBC grant cycle 7, Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dipercaya untuk meneruskan program eliminasi TBC di Indonesia bersama dengan 30 Sub-Recipients di wilayah intervensi komunitas. 

Foto bersama tim site visit SEA Constituency di Puskesmas Cakung

The Global Fund mengajak anggota komunitas untuk menampilkan kemajuan, manfaat, dan dampak program kesehatan khususnya terkait program TBC dan HIV melalui site visit South East Asia (SEA) Region Constituency. Peserta site visit mengunjungi Puskesmas Cakung dan RSUP Persahabatan untuk melihat perkembangan program TBC di fasilitas kesehatan, termasuk layanan TBC RO, penerapan regimen BpaL/M, TPT, TB HIV, dan laboratorium di Rumah Sakit. Mereka juga berkesempatan untuk berinteraksi dan berdiskusi dengan para pasien supporter, kader TBC dan pasien TBC.

Tim site visit SEA Constituency membaca dokumen fact sheet komunitas dan berdialog dengan kader TBC Komunitas

Visitasi SEA Constituency di Puskesmas Cakung dilaksanakan dari pukul 08.30 hingga 09.50 WIB. Kegiatan ini melibatkan banyak pihak seperti Kementerian Kesehatan RI, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, CCM, Kader Tuberkulosis, Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan pihak puskesmas yang turut berkontribusi untuk keberhasilan acara. Pembukaan dilakukan oleh  pihak Puskesmas sekaligus memberikan sambutan kepada keseluruhan tamu yang hadir dalam kegiatan tersebut. Setelah pemberian sambutan, kegiatan site visit Puskesmas Cakung dilanjutkan dengan pemaparan pelayanan Program TBC dan HIV serta diskusi lebih lanjut. Tim site visit SEA Constituency juga berkesempatan untuk meninjau ruang laboratorium, ruang pemeriksaan, tempat obat, dan melakukan bincang serta diskusi bersama pasien TBC dan kader TBC. 

Tim site visit SEA Constituency berdialog bersama dengan pasien TBC RO, Pasien Supporter dan Manajer Kasus RSUP Persahabatan

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan melakukan kunjungan ke RSUP Persahabatan yang terletak di Jakarta Timur. Sama halnya dengan kunjungan di Puskesmas Cakung, kegiatan site visit di RS Persahabatan dimulai dengan pembukaan dan penyampaian sambutan dari pihak RS Persahabatan. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan pelayanan Program TBC dan HIV serta diskusi untuk mengetahui perkembangan layanan TBC dan HIV di RSUP Persahabatan. Di akhir kunjungan, tim site visit SEA Constituency bertemu dengan pasien TBC RO, pasien supporter dan manajer kasus untuk melakukan diskusi dan berbincang mengenai implementasi program TBC RO yang terlaksana di RSUP Persahabatan.  

Country Team The Global Fund Menilik Program Eliminasi TBC di Indonesia

Perlu diketahui bersama bahwa pada tahun 2024-2026 Indonesia kembali mendapatkan dukungan The Global Fund untuk melanjutkan program pencegahan dan penanggulangan HIV, TBC, dan Malaria, serta memperkuat RSSH dengan total dukungan sejumlah USD 309,743,581 ditambahkan dengan pendanaan untuk C19RM sejumlah USD 26 juta. Implementasi dukungan tersebut dilaksanakan oleh 8 penerima hibah utama atau Principal Recipient (PR) hibah Global Fund tahun 2024-2026 salah satunya untuk komponen TBC yaitu PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.

Muhammed Yassin membaca factsheet yang berisi kerja komunitas selama 2021-2023

Untuk mengetahui perkembangan capaian program TBC yang didukung dengan hibah Global Fund dan melihat pelaksanaan di lapangan, Country Team Global Fund melaksanakan site visit ke Jakarta, Jawa Tengah (Kota Semarang), dan Jawa Timur (Kota Surabaya) pada tanggal 24 Januari 2024 dan 26-29 Januari 2024. Di Jakarta, Country Team berkunjung ke RSPI Prof. Sulianti Saroso untuk melihat perkembangan program TBC di fasilitas kesehatan, termasuk layanan TBC RO, implementasi regimen BpaL/M, TPT, TB HIV dan lab.  (WGS) di Rumah Sakit, serta menyapa dan berdiskusi dengan pasien supporter dan pasien TBC.

Sambutan Direktur RSPI Prof. Sulianti Saroso

Visitasi The Global Fund di RSPI Prof. Sulianti Saroso dilaksanakan dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Kegiatan yang melibatkan banyak pihak tersebut seperti Dinas Kesehatan Jakarta, Komunitas, TWG TB, CCM, pihak Rumah Sakit dan Kementerian Kesehatan RI dibuka dengan sambutan dari direktur utama RSPI dr.Alvin Kosasih, Sp.P, MKM. Sambutan juga disampaikan oleh Country Team The Global Fund Muhammed Yassin. Dalam sambutannya, Muhammed Yassin sangat antusias dengan sambutan yang diberikan oleh seluruh pihak Rumah Sakit dan jajarannya. Beliau pun berpesan bahwa semoga seluruh program TBC yang dilaksanakan pada grant cycle 7 dapat terlaksana dengan optimal dan mendukung terciptanya eliminasi TBC di Indonesia.

Country Team The Global Fund melihat ruang pelayanan pasien TBC SO

Setelah pemberian sambutan dan diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke ruang pelayanan TBC di RSPI Prof. Sulianti Saroso. Country Team The Global Fund dengan didampingi oleh rumah sakit, komunitas, kemenkes dan mitra melihat bagaimana implementasi pelayanan pasien TBC.  Dalam kesempatannya, Country Team The Global Fund berkunjung ke ruang konseling pasien TBC RO, ruang pemeriksaan dan layanan TBC SO, ruang pemeriksaan dan layanan TBC RO, dan laboratorium.

Visitasi Country Team The Global Fund ke ruang layanan konseling pasien TBC

Di akhir kegiatan kunjungan, Muhammed Yassin berkesempatan untuk bertemu dan menyapa pasien TBC RO yang sedang mengambil obat di RSPI. Beliau juga berkesempatan untuk memberikan sertifikat sembuh kepada pasien TBC RO yang telah menyelesaikan pengobatan. Hingga saat ini, hibah The Global Fund memberikan andil besar dalam eliminasi TBC di Indonesia. Country Team The Global Fund tentunya memiliki harapan bahwa dengan dilanjutnya pemberian hibah kepada Indonesia dapat meningkatnya notifikasi kasus dan kesembuhan pasien TBC dalam pengobatan hingga selesai.

 

Konsolidasi Nasional Program Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Periode 2024–2026 : Optimisme Menuju Indonesia Bebas TBC Tahun 2030

Global Tuberculosis Report (GTR) tahun 2022 mencatat bahwa negara peringkat kedua dengan kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia adalah Indonesia. Dalam menanggulangi TBC, Indonesia mendapatkan dukungan dana dari The Global Fund yang dihibahkan kepada pemerintah Indonesia dan komunitas untuk saling berkolaborasi. Pemerintah menuangkan komitmen politik untuk mengeliminasi TBC dengan memastikan ketersediaan kebijakan dan anggaran untuk penanggulangannya. Sejalan dengan hal tersebut, pihak komunitas berperan untuk melakukan proses pencegahan, penemuan dan pendampingan kasus TBC hingga sembuh yang disertai dengan kegiatan kemitraan dan advokasi. Komunitas telah berkontribusi pada capaian penemuan kasus dan pengobatan pasien TBC melalui PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI. 

National Program Director bersama para manajer menyampaikan implementasi program periode 2024-2026

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dibentuk dan berkolaborasi dalam menanggulangi TBC melalui dana hibah the Global Fund untuk periode tahun 2021–2023. Sepanjang tahun 2021 hingga 2023 Konsorsium Penabulu-STPI terus meningkatkan capaian target indikator dengan penanda rating yang meningkat setiap semesternya; capaian semester-1 sebesar 24%, semester-2 sebesar 46%, semester-3 sebesar 66%, semester- sebesar 4 81%, semester 5 sebesar 78%, dan diproyeksikan semester-6 mampu mencapai 90%. 

Pada tahun 2024–2026, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI kembali mendapatkan mandat dari The Global Fund sebagai Principal Recipient untuk menjalankan program Eliminasi TBC di Indonesia dengan beberapa penyesuaian indikator utama hingga rincian kegiatan yang mengacu pada Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020–2024. Sebagai salah satu tahapan persiapan pelaksanaan program tahun 2024–2026, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan pembaruan informasi dan penyusunan strategi program. Hal ini akan diupayakan melalui kegiatan Konsolidasi Nasional Program PR Konsorsium Penabulu-STPI Tahun 2024–2026.

Pertemuan Konsolidasi Nasional Program PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI tahun 2024–2026 menjadi agenda penting bersama untuk melakukan pembaharuan informasi dan pembaruan strategi implementasi mengacu proses pelaksanaan program di tahun 2021–2023. Kegiatan pertemuan Konsolidasi Nasional Program PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dilaksanakan selama 5 hari dengan mendatangkan narasumber-narasumber ahli di bidangnya.

Sesi diskusi bersama dr.Imran Pambudi, MPHM selaku Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI

Kegiatan hari pertama diawali dengan kedatangan peserta, registrasi peserta, briefing dan konsolidasi internal tim PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI untuk mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan koordinasi serta tindak lanjut. Pada hari kedua, kegiatan dimulai dengan pembukaan dan  sambutan yang disampaikan oleh Ibu Heny Prabaningrum selaku National Program Director, Nurul Nadia Luntungan selaku Authorized Signatory, Prof.dr. Adang Bachtiar selaku ketua TWG TB Indonesia, dan dr. Imran Pambudi selaku Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dari Kementerian Kesehatan RI. Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang terdiri dari 3 panel dengan topik: a) update situasi TBC dan strategi nasional untuk eliminasi TBC dalam konteks komunitas (diskusi panel 1), b) Peluang Kolaborasi untuk Memperkuat Peran Komunitas dalam Eliminasi TBC di Indonesia (diskusi panel 2), dan c) Best Practices 4 Indikator Utama PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI. Selain itu, Ibu Heny sebagai NPD turut mengisi sesi di hari kedua dengan memberikan refleksi peran Komunitas tahun 2021–2023 (catatan penting pelaksanaan program oleh PR Komunitas).

Pemaparan hasil diskusi kelompok pada sesi Behaviour Changes Communication

Di hari ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan update kebijakan PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI tahun 2024–2026 seperti struktur PR dan SR, Preventing Sexual Exploitation, Abuse, and Harassment (PSEAH), penjelasan program tahun 2024-2026, dan Pedoman Pelaksanaan Program (PPP) yang disampaikan oleh para manajer. Setelahnya, kegiatan diisi dengan sesi diskusi panel yang terdiri dari topik Peran CSO dalam Memperkuat Komunitas (diskusi panel 4) dan Pelaksanaan IK untuk Penemuan Kasus TBC di Indonesia (diskusi panel 5) dengan mendatangkan narasumber-narasumber ahli dibidangnya. Sesi expert session juga dilaksanakan dengan mendatangkan Ibu Vida selaku konsultan dalam penyusunan strategi komunikasi Behaviour Changes Communication  dan beberapa peneliti seperti Ibu Christa Dewi dari WHO (tim peneliti KAP TB), Ibu Trisasi Lestari dari tim peneliti OR IK, dan Ibu Nurliyanti dari tim peneliti CHW CHV STPI. 

Penyampaian Panduan Implementasi Program (PIP) periode 2024-2026 oleh Program Manager

Di hari keempat, kegiatan lebih diarahkan dengan penjelasan Panduan Implementasi Program (PIP) periode 2024-2026 yang disampaikan oleh Program Manager dan MEL Manager dengan melaksanakan Forum Group Discussion (FGD). Kegiatan diskusi panel juga dilanjutkan dengan beberapa topik seperti Pemberian TPT dalam Upaya Pencegahan TBC di Indonesia (diskusi panel 7) dan Strategi Advokasi Pelibatan Komunitas dalam Penanggulangan TBC di Indonesia (diskusi panel 8). Selain itu, panel terkait Strategi Penghapusan Stigma dan Diskriminasi untuk Menciptakan Lingkungan yang Kondusif dalam Penemuan Kasus TBC di Indonesia juga disampaikan oleh Konsultan Human Right untuk Program GF di Indonesia agar menambah wawasan peserta terhadap diskriminasi bagi pasien TBC. 

Pemberian penghargaan kepada SR Jawa Tengah sebagai SR dengan capaian terbaik

Di hari akhir, kegiatan diisi dengan team building, penyampaian hasil kelas, performance, dan pemberian penghargaan bagi para SR dengan capaian terbaik.  Hal ini dilaksanakan guna mempererat hubungan sesama peserta dan menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik di setiap level. Pada kesempatan tersebut, Ibu Heny Prabaningrum selaku NPD juga berpamitan karena harus menyelesaikan mandatnya sebagai NPD selama periode 2021-2023. Beliau berpesan agar segala sesuatu yang akan dan telah dilaksanakan selama ini dapat memberikan dampak yang baik, terutama untuk pasien tuberkulosis. 

Foto bersama seluruh peserta Rapat Koordinasi Nasional

Adanya momentum ini diharapkan dapat menyatukan kesepahaman bersama antara PR Konsorsium Penabulu-STPI, SRs, pemerintah, dan mitra mengenai indikator kinerja, rencana kerja PR serta rencana implementasi tahun 2024–2026 (PPP, PIP, IAM, M&E Plan). Selain itu, Yuniar Ika Fajarini sebagai Ketua Panitia Rakornas 2023 menyampaikan bahwa, “Kegiatan ini berhasil dilaksanakan berkat kerja keras dan sinergi seluruh tim panitia, serta partisipasi aktif semua peserta. Kami berusaha menyediakan wadah kegiatan yang mendukung pertukaran ide dan kolaborasi antar stakeholder, sehingga mampu menghasilkan solusi-solusi inovatif untuk tantangan yang dihadapi saat ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut serta dalam kesuksesan Rakornas 2023. Saya yakin, dengan semangat kolaborasi dan tekad untuk terus berinovasi, kita mampu mencapai impian besar kita: eliminasi TBC di Indonesia. Bersama, kita bisa membuat perubahan yang nyata!.” 

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Melaksanakan Skrining TBC Kepada Ribuan Karyawan PT. Dua Kelinci dan PT. Handal Sukses Karya

Indonesia merupakan salah satu dari negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia. WHO memperkirakan insiden tahun 2022 sebesar 969.000 atau 367 per 100.000 penduduk, sedangkan TB-HIV sebesar 36.000 kasus per tahunnya atau 14 per 100.000 penduduk. Kematian karena TBC diperkirakan sebesar 107.000 atau 40 per 100.000 penduduk dan kematian akibat TB-HIV sebesar 9.400 atau 4 per 100.000 penduduk. Dengan estimasi insiden sebesar 969.000 kasus tahun 2022 dan notifikasi kasus TBC sebesar 443.235 kasus, maka masih ada sekitar 55% kasus masih belum ditemukan dan diobati (un-reach) atau sudah ditemukan dan diobati tetapi belum tercatat oleh program (detected, un-notified). Kondisi ini membuat negara Indonesia masih berjuang dalam menuju eliminasi TBC tahun 2030.

Pelaksanaan Skrining Pencegahan Tuberkulosis di PT. Handal Sukses Karya, Jepara, Jawa Tengah

Sebagai bagian dari mendukung akselerasi peningkatan penemuan kasus dan ikhtiar menuju Indonesia bebas TBC tahun 2023, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan kegiatan Skrining Pencegahan Tuberkulosis berbasis Tempat Kerja yang dilaksanakan di Jawa Tengah bersama dengan SR MSI (Mentari Sehat Indonesia). Kegiatan skrining ini adalah kegiatan active case finding menggunakan teknologi AI berbasis tempat kerja yang mana pemilihan lokasi ditentukan dengan adanya keberadaan kasus di tempat kerja tersebut. Selama tahun 2023, implementasi skrining TBC menggunakan teknologi AI berhasil memeriksa kontak serumah dan kontak erat sebesar 16.571 peserta di 17 Kabupaten-Kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur per tanggal 22 November 2023.

Pemeriksaan kesehatan fisik kepada seluruh karyawan PT. Dua Kelinci meliputi tensi, berat badan, gula, darah dan kolesterol

Melalui proses advokasi dan jejaring yang luas, SR Mentari Sehat Indonesia bersama dengan Dinas Kesehatan setempat berhasil menggandeng PT. Dua Kelinci dan PT. Handal Sukses Karya untuk berkolaborasi dalam melaksanakan skrining TBC serta skrining kesehatan kepada ribuan karyawan di perusahaannya. Skrining TBC di PT. Dua Kelinci dilaksanakan pada tanggal 12-14 September 2023, sedangkan di tanggal 15 September 2023 kegiatan skrining dilaksanakan di PT. Handal Sukses Karya. 

Antusiasme peserta saat mendapatkan media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) TBC saat menunggu antrian skrining

“Saya merasa terbantu dengan adanya program skrining TBC dan kesehatan di PT. Dua Kelinci Kabupaten Pati. Anggaran yang terbatas dari pemerintah membuat kami tidak masif melaksanakan skrining di tempat kerja dengan target ribuan karyawan, namun adanya komunitas membuat hal-hal seperti ini dapat dilaksanakan. Kami pun akan terus mendukung program – program selanjutnya dari komunitas,” ucap Ibu Yanti Kepala Tim Kerja TBC Kabupaten Pati.

Selain itu, pihak perusahaan sangat menyambut baik adanya kegiatan ini. Ibu Aris Windarsih selaku Human Resource Development (HRD) menyampaikan bahwa penularan TBC sangat riskan dan mudah terjadi dengan kondisi pekerja yang saling berhubungan dan berdekatan. Oleh karena itu, ketika PT. Dua Kelinci mendapat penawaran skrining, PT. Dua Kelinci merasa sangat terbantukan sehingga PT. Dua Kelinci juga dapat melakukan deteksi secara dini kepada karyawan-karyawannya. Pendapat positif lainnya juga disampaikan oleh Ibu Eni selaku General Manager dari PT. Handal Sukses Karya Jepara. “Kami sangat antusias ketika mendapatkan kerjasama ini. Karena kami bisa memastikan kesehatan pekerja kami dengan bantuan dari komunitas dan dinas kesehatan, serta mencegah terjadinya penularan TBC di lingkungan perusahaan kami,” ucapnya.

Pemberian edukasi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di tempat kerja kepada seluruh karyawan

Hingga saat ini, skrining pencegahan tuberkulosis di tempat kerja telah menyasar 1.685 karyawan PT. Dua Kelinci dan total 976 karyawan yang di skrining di PT. Handal Sukses Karya. Selanjutnya pada tanggal 18-19 September 2023, skrining TBC juga akan dilanjutkan di PT. Apparel One Indonesia di Semarang. 

Semoga, kegiatan Skrining Pencegahan TBC Berbasis Tempat Kerja dapat diimplementasikan secara rutin dengan menargetkan lebih banyak perusahaan sehingga dapat meningkatkan angka penemuan kasus, serta mewujudkan Indonesia Bebas TBC 2030. 

POP TB bersama PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mengajak Masyarakat Bogor Melawan Diskriminasi kepada Pasien TBC RO

Pada pengobatan TBC di Indonesia, khususnya pasien TBC RO, kesehatan mental, stigma dan diskriminasi menjadi sebuah permasalahan serius yang mungkin dihadapi. Hal ini dipengaruhi oleh lamanya pengobatan yang menguras energi pasien, terlebih lagi efek samping obat yang memicu terjadinya depresi, kecemasan dan keputusasaan. Diagnosis awal TBC merupakan salah satu penyebab gangguan psikologis terutama depresi. Kebanyakan pasien akan merasa takut dan menganggap bahwa TBC adalah penyakit yang dapat membuat mereka kehilangan masa depan.

Suasana Peserta Saat Mengikuti Sosialisasi Penggunaan laportbc.id

Untuk dapat mengoptimalkan upaya pendampingan, maka komunitas mendorong penguatan layanan kesehatan mental agar dapat terakses, terjangkau dalam proses pengobatan dan pelayanan yang berpusat pada pasien TBC. Dalam hal ini, SR Tematik telah mengembangkan Hotline Kesehatan Mental untuk pasien TBC dalam rangka mendukung layanan pengobatan dan pendampingan pasien yang bermartabat. Telah terlatih 14 responder hotline kesehatan mental untuk memberikan dukungan psikososial bagi pasien TBC. POP TB Indonesia/SR Tematik sebagai unsur komunitas mengambil peran strategis dalam mendorong adanya mekanisme pemantauan yang menghasilkan tanggapan atau umpan balik dari penyedia layanan maupun pemangku kepentingan sehingga kebutuhan pasien dan atau komunitas bisa dipenuhi. SR Tematik (SRT) POP TB Indonesia meluncurkan kanal aduan berbentuk Website based laportbc.id yang melayani 4 aduan, yaitu: 1. Akses Layanan, 2. Enabler, 3. Konseling 4. Stigma dan diskriminasi dalam mendukung kesembuhan pasien TBC dan juga menjadi sarana umpan balik bagi pasien TBC atau CBMF (Community Based Monitoring Feedback). 

Mas Jajuli saat menjelaskan terkait penggunaan kanal laportbc.id

Demi memperluas kebermanfaatannya, maka diperlukan kampanye serta keterlibatan semua pihak untuk bergerak bersama dan menjadikan masyarakat turut andil di dalamnya. Merespon hal tersebut, POP TB bersama PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI menyelenggarakan Sosialisasi CBMF Nasional Serta Campaign kenali TBC pada 29-30 September 2023, yang mana kegiatan sosialisasi dilaksanakan di Swiss-Belhotel Bogor dan kampanye dilaksanakan di Stadion Pakansari Bogor bagian luar.   

Senam pagi peserta kampanye dan seluruh pengunjung Stadion Pakansari Bogor

Sosialisasi CBMF Nasional serta Kampanye kenali TBC menjadi bekal dan memberi pemahaman terkait CBMF di laportbc.id bagi peserta di hari pertama kegiatan. Peserta yang melibatkan 93 orang dari mulai MK, SR, Kader, dan PS dibekali pengetahuan mulai dari pemaparan materi dari Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat tentang stigma dan diskriminasi bagi pasien TBC RO, kemudian dilanjutkan dengan materi alur pengobatan dan pendampingan pasien TBC RO yang disampaikan oleh Wasor Dinas Kesehatan Bogor. Di malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan paparan grafik kunjungan laportbc.id serta cara penggunaan dari kanal tersebut yang disampaikan oleh Mas Jajuli dan diakhiri dengan briefing teknis untuk pelaksanaan kampanye esok hari. 

Edukasi TBC dan sosialisasi laportbc.id kepada pengunjung Stadion Pakansari Bogor

Pada hari kedua tepatnya Sabtu tanggal 30 September 2023, seluruh peserta berkumpul menggunakan atribut yang sama untuk menggaungkan kanal laportbc.id kepada seluruh masyarakat Bogor yang hadir di wilayah Stadion Pakansari. Kegiatan diawali dengan senam bersama dan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Ketua POP TB Nasional Pak Budi Hermawan dan National Program Director PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Heny Prabaningrum. Selanjutnya, peserta dibagi menjadi beberapa tim yang terdiri dari 5 orang dengan pembagian tugas masing-masing seperti pemberian edukasi umum terkait TBC serta informasi tentang kanal website laportbc.id. Kegiatan kampanye juga dimeriahkan dengan tersedianya merchandise menarik yang diberikan kepada seluruh pengunjung Stadion Pakansari Bogor. Antusiasme masyarakat terlihat dari semangat mereka yang berkenan untuk mengikuti acara dari awal hingga pembagian merchandise dan acara berakhir. Untuk meningkatkan komitmen, seluruh peserta, elemen komunitas dan pengunjung Stadion Pakansari Bogor diberikan wadah untuk menyampaikan komitmen mereka melalui cap tangan dan tanda tangan deklarasi. Tentunya hal ini merupakan wujud nyata semangat warga Bogor untuk mendukung anti kekerasan, stigma dan diskriminasi bagi pasien TBC RO terutama di wilayah Bogor. 

Tanda tangan deklarasi anti diskriminasi untuk pasien TBC

Budi Hermawan sebagai ketua POP TB Nasional menyampaikan bahwa “kepedulian akan pentingnya melindungi pasien TBC RO dimulai dari sendiri. Semoga dengan momentum ini akan banyak masyarakat yang terketuk hati untuk terus memberikan payung perlindungan kepada pasien TBC RO. Selain itu, terbentuknya kanal website laportbc.id juga diharapkan dapat membantu memecahkan seluruh masalah pasien TBC di Indonesia.”

Kolaborasi Penanggulangan TBC PR Konsorsium Komunitas bersama dengan Civitas Akademis dalam Talkshow: Upaya Peningkatan Literasi Mahasiswa terhadap Isu Tuberkulosis

Foto bersama seluruh pembicara, moderator dan master of ceremony (MC) yang berperan dalam  kegiatan talkshow

Tuberkulosis (TBC) hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Menurut WHO dalam Global TB Report (GTR) tahun 2022, Indonesia berada di peringkat kedua di dunia dengan kasus TBC terbanyak. Dengan estimasi insiden sebesar 969.000 kasus pada tahun 2022 dan notifikasi kasus TBC sebesar 443.235 kasus, masih ada sekitar 55% kasus masih belum ditemukan dan diobati (un-reach) atau sudah ditemukan dan diobati tetapi belum tercatat oleh program (detected, un-notified). Kondisi ini membuat negara Indonesia masih berjuang dalam menuju eliminasi TBC 2030. Salah satu tantangan terbesar dalam penanggulangan TBC di Indonesia salah satunya adalah pengetahuan masyarakat yang masih rendah terhadap kasus TBC.

Literasi masyarakat yang masih rendah terkait TBC, dapat memiliki dampak pada upaya pencegahan, pengobatan, dan penanggulangan penyakit TBC, terlebih menuju program Eliminasi TBC tahun 2030. Hal tersebut menyebabkan masyarakat kurang mampu memahami informasi yang tepat dan akurat tentang gejala, penyebaran, pencegahan, dan pengobatan TBC. Kondisi tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan kasus TBC yang tidak terdiagnosis atau tidak terobati, serta penyebaran informasi yang salah atau mitos terkait TBC (stigma). Sekitar 500 ribuan kasus yang belum ditemukan dan diobati bisa menjadi rantai penularan aktif yang bukan tidak mungkin akan menjangkau kita dan keluarga kita. Apalagi 1 orang sakit TBC yang tidak diobati sampai sembuh dalam 1 tahun, mengakibatkan penularan ke 10-15 orang di sekitarnya.

Proses sesi tanya jawab talkshow. Seluruh peserta sangat aktif untuk bertanya terhadap materi yang sudah disampaikan

Beberapa efek dari pengetahuan masyarakat yang rendah terhadap TBC adalah kurangnya pengetahuan tentang gejala awal TBC yang dapat menyebabkan masyarakat mengabaikan tanda-tanda TBC yang muncul pada diri mereka atau anggota keluarga. Hal tersebut dapat mengakibatkan penundaan dalam pemeriksaan medis dan diagnosis yang tepat waktu. Selain itu, masyarakat yang tidak memahami cara penularan TBC tentu tidak mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk menghindari penyebaran penyakit kepada orang lain seperti tidak melakukan vaksinasi atau menghindari paparan.

Merespon kondisi tersebut, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI berkolaborasi dengan Fakulas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia melakukan kampanye Tuberkulosis secara masif kepada masyarakat luas secara umum dan juga civitas akademik FKM Universitas Indonesia melalui kegiatan SPARE XVII (Sport and Art Event). SPARE Merupakan program kerja unggulan di bawah Bidang Pengembangan Minat dan Bakat BEM IM FKM UI, yang mana, harapan dari kolaborasi ini dapat menjadikan TBC sebagai isu prioritas (top of mind) dalam berbagai kebijakan di segala lapisan masyarakat dan kalangan anak muda.

Salah satu rangkaian kegiatan SPARE XVII adalah pelaksanaan Talkshow pada tanggal 15 September 2023, bertempat di Aula A Gedung FKM Universitas Indonesia. Talkshow bertajuk “TBC Awareness Starts with You” merupakan kegiatan Grand Opening SPARE XVII yang bertujuan untuk sharing pengetahuan terkait penyakit TBC dengan berbagai narasumber ahli, diantaranya adalah dr.Ugiadam Farhan (Dokter Ahli), Dr.Dian Ayubi, S.KM, M.QIH (Dosen FKM UI), Heny Prabaningrum M.PA, M.Sc yang diwakilkan oleh Dangan Prasetya (PR TBC Komunitas), dan Budi Hermawan (Ketua POP TB Indonesia dan penyintas TB). Talkshow dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan dihadiri oleh 100 peserta baik dari masyarakat umum maupun mahasiswa UI. Masing-masing pembicara menyampaikan informasi yang sangat komprehensif serta faktual terhadap isu, program, dan progress eliminasi TBC di Indonesia saat ini.

dr. Ugiadam Farhan dan Dr.Dian Ayubi, S.KM, M.QIH sebagai narasumber menjelaskan isu klinis TBC dan usaha preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah TBC

Ugiadam Farhan sebagai praktisi ahli menyampaikan secara klinis terkait faktor resiko terjadinya TBC, keadaan paru-paru saat mengalami TBC, dan pola penyakit TBC. dr. Farhan juga menegaskan kepada peserta talkshow bahwa banyak sekali fakta dan mitos yang beredar di masyarakat terhadap informasi TBC. Ia pun berharap bahwa masyarakat dapat lebih bijak dalam mengolah informasi yang diperoleh agar tidak terjadi penyebaran ilmu yang salah terhadap penyakit TBC. “Mungkin beberapa peserta disini percaya bahwa TBC dapat menular melalui alat makan dan sebagainya, namun itulah contoh pendistribusian informasi yang kurang tepat. Carilah sumber terpercaya agar meyakinkan info yang didapat adalah mitos/fakta,” ujarnya.

Selanjutnya, Dr.Dian Ayubi, S.KM, M.QIH (Dosen FKM UI) turut menyampaikan materi terkait model penyebaran penyakit TBC, epidemologi TBC di Indonesia, cara mencegah penyebarluasan penyakit TBC dan preventif serta promosi informasi TBC kepada khalayak luas. Dr. Dian Ayubi menggarisbawahi bahwa peran anak muda terutama mahasiswa menjadi ujung tombak yang penting untuk bertanggungjawab dalam penyebaran informasi di masyarakat. Menurutnya, dengan era teknologi media sosial yang banyak dikelola oleh anak muda dapat menjadi salah satu media untuk memperluas informasi selain mengandalkan kader TBC dilapangan yang memberikan informasi dari rumah ke rumah. “Saat ini semua dalam hitungan detik dapat mengakses beribu ribu informasi di internet. Nah anak-anak muda, Gen-Z seperti kalian dapat berperan aktif untuk memperluas informasi TBC melalui platform media sosial,” tambahnya.

Dangan Prasetya dan Budi Hermawan turut memaparkan materi terkait peran komunitas dalam eliminasi TBC di Indonesia dan perjuangan pasien saat terdiagnosa hingga proses penyembuhan

Kemudian dari sisi implementasi eliminasi TBC dari sudut pandang komunitas, Dangan Prasetya selaku pembicara dari PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI membagikan ilmu dengan topik implementasi kebijakan program komunitas mengenai TBC, peran komunitas dan pemerintah dalam mendukung eliminasi TBC di Indonesia, dan program-program yang saat ini dilakukan oleh komunitas untuk mengurangi angka kasus TBC di Indonesia. “Saat ini, kami bekerja di 30 provinsi wilayah, mendukung pemerintah mencapai eliminasi TBC 2030 melalui kegiatan investigasi kontak, Terapi Pencegahan TBC dan pemberian enabler. Dengan sumber daya di lapangan seperti Kader, Pasien Supporter (PS), dan Manajer Kasus (MK) kami terus berusaha untuk menemukan banyak kasus dan mengajak pasien untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan hingga sembuh,” sambungnya.

Pembicara terakhir yaitu Pak Budi Hermawan sebagai penyintas TBC pun turut membagikan kisahnya terhadap hambatan pengobatan, suka duka dan perjuangan ia untuk sembuh dari penyakit TBC. Baginya, kesembuhan dari penyakit TBC yang ia alami merupakan titik balik untuk memulai hidup dengan semangat baru. Ia pun mengatakan bahwa saat ini ia ingin mendukung seluruh pasien TBC RO agar semangat dan dimudahkan perjuangannya dalam menjalani pengobatan. Sehingga ia dan rekan-rekan POP TB Indonesia saat ini menciptakan kanal Lapor TBC dan Hotline Kesehatan Mental untuk pasien TBC RO sebagai fasilitas bagi para pasien TBC RO yang dapat diakses secara gratis.

Tentunya, informasi dari masing-masing narasumber memberikan banyak manfaat dan ilmu bagi kita untuk lebih peduli dan masif menyebarkan informasi TBC kepada keluarga, saudara, teman sejawat dan seluruh masyarakat. Semoga ilmu dari talkshow yang telah dilaksanakan dapat ditindaklanjuti oleh seluruh peserta agar peningkatan literasi masyarakat terhadap TBC dapat meningkat dan mendukung indonesia bebas TBC 2030.


Penulis: Winda Eka Pahla

Editor: Dangan Prasetya

 

Tanggap Digitalisasi oleh Komunitas, PR PB-STPI Meluncurkan Program Pencatatan Pelaporan Kasus TBC dengan SITK Mobile

Dalam upaya menanggulangi TBC, Indonesia mendapatkan dukungan dana dari The Global Fund. Dukungan ini disalurkan kepada pemerintah Indonesia beserta komunitas untuk saling berkolaborasi. Salah satu prioritas program dari Pemerintah adalah dengan mengupayakan ketersediaan obat dan fasilitas serta pelayanan kesehatan yang ramah, berkualitas dan berpusat pada pasien TBC. Selain itu, dukungan komitmen politik pemerintah juga dituangkan dalam ketersediaan kebijakan dan anggaran yang berfokus untuk penanggulangan TBC. Sejalan dengan hal tersebut, pihak komunitas turut berperan dalam upaya menanggulangi TBC melalui proses pencegahan, penemuan dan pendampingan kasus TBC hingga sembuh. 

Bimbingan Teknis SITK Mobile di Garut, Jawa Barat

Salah satu upaya penanggulangan TBC adalah dengan cara melakukan Investigasi Kontak (IK). IK merupakan strategi dalam penemuan kasus TBC dengan cara mendeteksi secara dini dan sistematis terhadap orang yang kontak dengan sumber yang terinfeksi TBC. Untuk memaksimalkan strategi serta cara penemuan kasus, proses IK perlu mengedepankan prinsip pendekatan pemberdayaan dari akar rumput. Pendekatan yang mendorong peran aktif masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumberdaya lokal potensial, dalam menemukan kasus TBC dengan potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal, yakni dengan melakukan edukasi tentang TBC sesuai tingkat pemahaman masyarakat setempat.

Elemen penting dalam melaksanakan IK adalah pencatatan dan pelaporan. Pencatatan dan pelaporan yang baik memainkan peran kunci dalam memastikan efektivitas dan kesuksesan program pengendalian TBC serta mengidentifikasi dan mengurangi penyebaran infeksi lebih lanjut. Selain itu, pencatatan dan pelaporan dapat membantu para tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi dan memberikan perawatan tepat pada kontak yang berisiko tinggi terinfeksi TBC. 

Praktik kegiatan Investigasi Kontak menggunakan SITK Mobile di Makassar, Sulawesi Selatan

Untuk melakukan percepatan dan peningkatan kualitas pencatatan dan pelaporan, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI telah mengembangkan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITK) Mobile. SITK Mobile ini telah diuji coba secara langsung di lapangan dalam pelaksanaan kegiatan IK, dengan melibatkan kader-kader dan juga para Patient Supporter (PS) serta Manajer Kasus (MK) di wilayah provinsi DKI Jakarta (11-12 Januari 2023), Banten (12-13 Januari 2023) dan Jawa Barat (16-17 Januari 2023). Dengan adanya SITK Mobile, diharapkan dapat menjadi media yang mendukung proses akselerasi dalam pelaksanaan IK berbasis indeks kasus yang didapatkan dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). SITK mobile juga diharapkan dapat meningkatkan proses capaian pendampingan pasien TB RO sampai sembuh.

Melalui SITK Mobile, para kader sebagai ujung tombak pelaksana IK di lapangan, bisa melakukan proses IK dengan lebih cepat. Karena kader-kader tersebut telah didaftarkan sebagai  user SITK Mobile yang dapat mengakses secara langsung data indeks kasus melalui Smartphone nya masing-masing. Melalui berbagai menu dan sub menu yang terintegrasi dengan baik dalam SITK Mobile, para kader bisa melaporkan secara cepat proses pelacakan dan pendampingan kasus, bahkan secara real-time. Begitu juga dengan teman-teman PS dan MK dalam melakukan pendampingan kasus TB RO. 

Bimbingan Teknis SITK Mobile di Bekasi, Jawa Barat

Guna mendukung akselerasi pelaksanaan IK dalam rumah tangga (IK-RT) dan pendampingan pasien TB RO berbasis data SITB, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan kegiatan “Bimbingan Teknis Akselerasi IK RT dan Pendampingan Pasien TB RO Berbasis Data SITB dan Pencatatan Pelaporan SITK Mobile”. Kegiatan bimtek ini ditujukan bagi para kader, MK dan PS dan dilakukan di tingkat Kota/Kab (SSR). Adapun SSR yang terlibat dalam kegiatan uji coba ini adalah Provinsi Jawa Tengah (19 SSR), Jawa Timur (5 SSR), Jawa Barat (17 SSR), Sumatera Utara (2 SSR), Sulawesi Selatan (2 SSR),  Lampung (2 SSR), DKI Jakarta (4 SSR), dan Banten (3 SSR). Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena memiliki kontribusi capaian indeks kasus tertinggi dengan rentang sekitar 300-4000 kasus.

Kegiatan bimbingan teknis dilakukan secara paralel oleh tim Data Management (DM) PR PB-STPI pada periode waktu 15 Mei hingga 28 Juni 2023 dengan melibatkan 1 orang Staf SR, 1 orang Pengelola Program SSR, 9 orang Kader, 3 orang Koordinator Kader, 2 orang MK dan 9 orang PS di SSR di masing-masing wilayah. Kegiatan ini dilaksanakan dengan dua tahapan, yang pertama yaitu proses diskusi dan koordinasi, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan praktik penggunaan SITK Mobile. Proses diskusi difasilitasi oleh tim PR, SR dan SSR untuk mendapatkan gambaran utuh pemahaman dan implementasi dalam pencatatan, pelaporan serta pendokumentasian berbasis aplikasi di tingkat SR dan SSR/IU/MK. Dengan tujuan untuk menggali solusi serta sebagai penguatan kapasitas Kader dan PS terkait SITK Mobile. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktek penggunaan SITK Mobile yang dilakukan oleh tim SR, SSR/IU, Kader dan PS untuk secara bersama-sama melihat hal apa yang sudah baik, dan apa saja yang perlu ditingkatkan agar penggunaan SITK Mobile dapat optimal untuk menunjang kegiatan bagi Kader, PS, dan MK di lapangan. 

Praktik kegiatan Investigasi Kontak menggunakan SITK Mobile di Pekalongan, Jawa Tengah

Setelah adanya kegiatan ini, harapannya seluruh wilayah yang telah dilakukan bimbingan teknis tersebut dapat segera memaksimalkan penggunaan SITK Mobile. Kedepannya, wilayah lain yang belum mendapatkan bimtek juga akan disasar untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Proses pembuatan SITK Mobile ini merupakan sebuah pendekatan digitalisasi untuk memudahkan dan meningkatkan dukungan kegiatan penemuan kasus di kalangan kader, PS dan MK. Sehingga seluruh sumber daya akan lebih mudah untuk menginput data pencatatan dan pelaporan kasus, serta dapat meminimalisir penggunaan form-form pencatatan dan pelaporan dalam bentuk cetakan (hardfile). 


Penulis: Winda Eka Pahla

Editor: Dangan Prasetya

Implementasi Workshop Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) sebagai Usaha Menghentikan Laju Penularan TBC di Congregate Setting

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang diakibatkan oleh infeksi bakteri. TBC umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain, seperti ginjal, tulang belakang, otak dan organ vital lainnya. Dilansir dari website Yayasan KNCV Indonesia, berdasarkan laporan Global TB Report dari World Health Organization (WHO) tahun 2022, di tahun 2021 menjadikan TBC sebagai penyakit menular paling mematikan kedua di dunia setelah COVID-19. Yang mana angka kematian akibat TBC di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 150.000 kasus (satu orang setiap 4 menit), naik 60% dari tahun 2020 yang sebanyak 93.000 kasus kematian akibat TBC, dengan tingkat kematian sebesar 55 per 100.000 penduduk. Dengan contoh kasus tersebut, diperlukan upaya untuk mencegah dan mengendalikan penularan penyakit infeksi TBC di fasilitas kesehatan maupun dalam konteks masyarakat umum atau komunitas (non-fasilitas kesehatan) agar menekan laju angka kematian dan penularan TBC. 

Implementasi Workshop PPI di Pondok Pesantren Darussalam Pipitan, wilayah Banten

Pada hakikatnya, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi. Pada tahun 2009, WHO menerbitkan pedoman pengendalian infeksi untuk TBC pada berbagai setting, termasuk salah satunya berfokus pada congregate settings. Congregate Setting adalah suatu lingkungan dimana sejumlah orang bertemu dan berbagi ruangan sosial dalam jangka waktu tertentu. Berbagai contoh congregate setting yaitu sekolah, penitipan anak, tempat kerja, shelter (rumah singgah atau lokasi hunian pasca bencana), fasilitas rehabilitasi, asrama, dan lainnya. Situasi dalam congregate setting tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi penyakit menular. Potensi dan peningkatan risiko penularan terjadi karena adanya kepadatan sosial dalam jangka waktu tertentu yang terbilang lama, sehingga penularan dapat lebih mudah terjadi. Dari lokasi congregate setting tersebut dapat berpotensi menjadi penyebab penularan kepada kontak dekat atau orang dalam satu rumah. 

Skrining dan edukasi TBC di Balai Disabilitas Sentra Phala Martha Sukabumi

Berdasarkan landasan di atas, Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mengembangkan model pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di congregate setting sebagai upaya promotif dan preventif terhadap infeksi penyakit TBC. Implementasi sosialisasi dan diseminasi uji coba Panduan PPI TBC di congregate settings dilaksanakan selama bulan Oktober – Desember 2022. Kemudian kegiatan implementasi Workshop PPI dibagi menjadi dua tahap, tahap 1 pada bulan Februari – April 2023, dan tahap 2 pada bulan Mei – Juni 2023.

Pada periode tersebut, workshop implementasi PPI dilaksanakan pada beberapa area congregate setting yang dipilih, seperti Sekolah Berasrama, Pondok Pesantren, Panti Asuhan, Panti Jompo, Panti Rehabilitasi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Panti Rehabilitasi Narkoba, Perusahaan/Pabrik, Perkantoran, Barak Militer dan Universitas. Workshop PPI juga melibatkan beberapa komponen pemangku kebijakan lintas program-lintas sektor baik di level nasional, level provinsi, dan level kabupaten/kota. Pada level nasional, Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, lewat tim Program bekerjasama dengan Tenaga Ahli PPI (IPCD/IPCN atau Dokter dan Perawat pelaksanaan PPI di Rumah Sakit). Di level provinsi program PPI menggaet beberapa mitra yaitu Tim SR Konsorsium dan Biro Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Wasnaker), dan pada level kabupaten/kota berbagai pihak seperti Tim SSR/IU, Narasumber PPI Rumah Sakit (IPCD/IPCN), Manajemen/Pengurus/Pegawai/Penghuni Congregate Settings (Pondok Pesantren, Panti Asuhan, Panti Jompo, Panti Rehabilitasi ODGJ, Panti Rehabilitasi Narkoba, Perusahaan/Pabrik, Perkantoran, Sekolah Berasrama, Barak Militer, Universitas. Ada juga Perwakilan dari Dinas Kesehatan Kab/Kota, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Kementerian Agama, Serikat Buruh/Pekerjaan, KOPI TB, IBI/IDI, Rumah Sakit, Puskesmas dan Kader turut mensukseskan kegiatan PPI yang diimplementasikan di 100 kabupaten/kota wilayah intervensi program kerja Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.

Visitasi ke ruangan fasilitas berasrama di PT. Ikan Dorang, Surabaya

Dalam prosesnya, implementasi PPI di setiap kab/kota dilakukan selama 3 hari. Di hari pertama, kegiatan yang dilaksanakan meliputi perkenalan dan informasi tujuan pertemuan, paparan informasi dasar TBC dan penjelasan situasi TBC terkini di Kab/Kota yang disampaikan oleh Wasor TB Dinkes kab/kota. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab peserta, pemaparan panduan PPI TBC di congregate setting, diskusi dan curah pendapat, dan diakhiri dengan setting lokasi untuk pelaksanaan hari kedua. Pada hari kedua, kegiatan dimulai dengan visitasi/kunjungan ke ruangan fasilitas berasrama/pabrik/kantor untuk mengukur Air Change/Hour (ACH), relative humidity (RH), temperatur, dan kualitas udara dalam ruangan. Setelahnya, kegiatan diakhiri dengan diskusi pembuatan paparan kegiatan yang meliputi hasil visitasi/kunjungan, rekomendasi prosedur PPI dan alur mekanisme rujukan pasien TBC. 

Untuk peningkatan penemuan kasus aktif, kader di sekitar lokasi PPI juga melakukan skrining dan edukasi kepada beberapa penghuni dari tempat congregate setting tersebut. Kemudian di hari terakhir, kegiatan PPI di tutup dengan penyampaian paparan hasil workshop PPI, diskusi lanjutan dan feedback prosedur pengendalian dan pencegahan penularan TBC, serta penyampaian kesimpulan akhir prosedur pencegahan dan pengendalian penularan TBC. Implementasi workshop PPI di beberapa setting lokasi tersebut mempunyai tujuan:

  1. Memberikan pemahaman mengenai Panduan PPI TBC di area congregate settings
  2. Melakukan asesmen dan rekomendasi ke institusi terkait upaya pencegahan dan pengendalian infeksi TBC
  3. Menyusun, mengembangkan, dan menyepakati prosedur standar institusi dalam upaya pencegahan penularan TBC dan COVID-19, termasuk sistem rujukan dan integrasi institusi dengan surveilans kepada fasyankes setempat
  4. Mendapatkan input perbaikan terhadap dokumen PPI di congregate setting dengan pengalaman dan pembelajaran implementasi yang sudah berjalan
  5. Mendapatkan input untuk pengembangan dan penyusunan Pedoman PPI TBC pada komunitas

Dengan tujuan-tujuan diatas, besar harapan seluruh elemen pemegang kebijakan dan pelaku program kegiatan dari congregate setting dapat menjalankan rekomendasi-rekomendasi yang disepakati pada setiap akhir kegiatan workshop PPI sesuai settings lokasi.