Dinkes Ngawi Apresiasi Yabhysa Ngawi atas Kontribusi Tanggulangi TBC

Dalam peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia (25/4) lalu, Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (Yabhysa) Ngawi menerima penghargaan dari Pemerintah Kabupaten. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi Yabhysa pada program penanggulangan penyakit TBC di Kabupaten Ngawi.

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Ngawi dr. Ana Mursyida menyerahkan secara langsung penghargaan kepada Ketua Yabhysa Ngawi Muhammad Via Pratama. Adapun acara inin digelar di Kurnia Convention Hall Ngawi.

”Kami sampaikan terima kasih kepada Dinas Kesehatan atas apresiasi yang diberikan kepada kami, tentunya ini menambah semangat kami dalam menanggulangi TBC di Ngawi,” ujarnya.

Kerja sama Yabhysa Ngawi bersama dengan Dinas Kesehatan berjalan sejak 2021. Kolaborasi tersebut salah satunya dalam kegiatan pada akhir tahun 2023 lalu, yakni Skrining TBC berbasis masyarakat dengan menggunakan mobile rontgen di 10 kecamatan di Ngawi.”Kami tidak berpuas diri dengan apa yang sudah kami lakukan 4 tahun berjalan ini,” ungkapnya. Via mengatakan, upaya yang dilakukan masih merupakan awal kontribusinya dalam penanggulangan TBC di Ngawi. Khususnya untuk mensukseskan eliminasi TBC tahun 2030. ”Untuk tujuan yang lebih jauh lagi Ngawi bebas TBC,” katanya.

Ketua TP PKK Kabupaten Ngawi dr.Ana Mursyida menyebut TBC berkaitan dengan masalah stunting. Pun, kasusnya masih banyak. Bahkan, infeksi TBC jika tidak diobati akan menulari sekitarnya hingga menimbulkan kematian.

“Kita berkolaborasi baik dari PKK tingkat desa, kecamatan dan kabupaten memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk sadar tentang TBC,” ungkapnya.

Kepala Seksi P2PMPTM Dinkes Jawa Timur dr. Faridha Cahyani mengapresiasi kegiatan program penaggulangan TBC di Ngawi.

”Di Jawa Timur masih ada 11 persen yang sudah didiagnonsa tapi belum diobati, kalau tidak diobati, menjadi sumber penularan,” terangnya, sembari menyebut satu kasus TBC bisa menular ke 10 orang disekitarnya.

 

Kader Ujung Tombak Investigasi Kontak Tuberkulosis

Koordinasi Komunitas Tingkat Kabupaten yang dilaksanakan oleh SSR MSI Kab. Banjarnegara

SSR MSI Kab. Banjarnegara melaksanakaan Koordinasi Komunitas Tingkat Kabupaten yang diadakan pada hari Senin hingga Rabu, tanggal 04-06 Maret 2024. Kegiatan Pelatihan Penyegaran Kader TBC Komunitas diikuti oleh 30 Kader Komunitas dengan rincian 26 orang Kader baru, 2 orang Kader tahun 2023 dan 2 orang Koordinator Kader.

Senin, 4 Maret 2024: Pelaksanaan hari pertama kegiatan

Hari pertama kegiatan diawali dengan melakukan pre-test. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian Materi Informasi Dasar Tuberkulosis dan Analisa Situasi TBC di Kab. Banjarnegara yang disampaikan oleh Technical Officer Dinkes Kab. Banjarnegara, Pemberdayaan Masyarakat, dan Investigasi Kontak (IK) oleh Penyuluh Kesehatan Masyarakat Bidang Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinkes Kab. Banjarnegara, Community Outreach (CO) oleh Staff Program SSR MSI Kab. Banjarnegara serta Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) oleh Wasor TB Dinkes Kab. Banjarnegara. Setiap jeda antar materi diberikan ice breaking untuk ibu-ibu Kader agar terhindar dari rasa jenuh dan ngantuk akibat materi yang diberikan cukup banyak. Peserta berpartisipasi secara aktif selama sesi materi berlangsung. Kegiatan hari kedua ditutup dengan post-test dan pemberian apresiasi kepada peserta: Terajin, Teraktif dan Tertinggi Nilai Pre- Test.

Selasa, 5 Maret 2024: Pelaksanaan hari kedua kegiatan

Pada hari kedua kegiatan, pemberian materi terdiri atas Pengenalan Profil Mentari Sehat Indonesia dan Pendampingan Pasien TB RO sejak Terdiagnosa oleh Staff Program SSR MSI Kab. Banjarnegara. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Wasor TB Dinkes Kab. Banjarnegara Prosedur Pengambilan dan Pengemasan Dahak serta Komunikasi Efetktif, Pencatatan dan Pelaporan oleh SSR MSI Kab. Banjarnegara. Pada hari kedua kegiatan, peserta semakin aktif untuk melakukan diskusi di tiap sesinya.

Hal-hal yang menjadi rencana tindak lanjut dalam kegiatan ini meliputi:

  1. Setiap wilayah dengan Kader baru akan mendapatkan pendampingan investigasi kontak dan community outreach oleh Koordinator Kader masing- masing.
  2. Rabu, 06 Maret 2024 dilaksanakan kegiatan praktik lapangan investigasi kontak dan dan community outreach oleh Koordinator Kader dan Kader wilayah Pandanarum, Batur 1, Batur 2 dan Bawang 2.

Pada kesempatan tersebut, Staff Program SSR MSI Kab. Banjarnegara menekankan bahwa Kader merupakan ujung tombak investigasi kontak dan bahwa sesuai dengan Perpres No. 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis Kader memiliki peran dalam penemuan kasus TBC secara aktif melalui pelacakan dan pemeriksaan kasus kontak sehingga pemberian penghargaan berupa reward dari dana hibah Global Fund merupakan bonus, poin utamanya adalah ikhlas berpartisipasi aktif dalam program pemberdayaan masyarakat dan memberikan dampak atau manfaat untuk lingkungan masing- masing.

Semoga semangat kader dari awal pelatihan terjaga hingga pelaksanaan di lapangan, sehingga dapat membantu program pemerintah dalam mengentaskan masalah tuberkulosis di masyarakat.

Mari TOSS TBC! Komunitas Sehat & Berdaya, Ayo Bersama Akhiri TBC!

Validasi Data, Koordinasi Komunitas dan Layanan Kesehatan di Kab. Banjarnegara

Pelaksanaan Validasi Data, Koordinasi Komunitas, dan Layanan Kesehatan di Joglo Karaharjan Madukara – Banjarnegara

Kamis, 29 Februari 2024 di Joglo Karaharjan Madukara – Banjarnegara SSR MSI Kab. Banjarnegara melaksanakaan Validasi Data, Koordinasi Komunitas, dan Layanan Kesehatan. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Tim SSR (Staff Program, Staff Finance and Administration, MK Kabupaten dan Data Entry), Wasor dan Technical Officer TB Dinas Kab. Banjarnegara, Pengelola Program TBC Puskesmas (Rakit 1, Klampok 2, Susukan 2, Kalibening, Punggelan 1, Purwanegara 1, Banjarnegara 1, Mandiraja 1, Mandiraja 2, Rakit 2, Punggelan 2, Banjarnegara 2, Pagedongan, Purwanegara 2, Pejawaran).

Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai perencanaan monitoring dan evaluasi sebagai bentuk salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas program dengan menyajikan kualitas data yang baik. Hal- hal yang didiskusikan meliputi validasi data antara hasil capaian indikator TB SO dan RO dari Tim Komunitas dengan data bakteriologis dari seluruh fasyankes dan dinas kesehatan, verifikasi data bridging dari SITK- SITB terkait kesesuaian jumlah data yang diterima dan dilaporkan serta tantangan dalam proses penemuan kasus melalui kegiatan investigasi kontak, community outreach, dan pendampingan pasien untuk mendukung success treatment.

Rencana tindak lanjut dari kegiatan tersebut menghasilkan diskusi- diskusi sebagai berikut:

  1. Peningkatan kualitas investigasi kontak oleh Puskesmas dan Kader dengan proporsi ideal target 5 terduga: 1 positif TBC pembelajaran program 2023.
  2. Penambahan Kader Komunitas wilayah Puskesmas: Rakit 1 (1 orang), Punggelan 1 (1 orang), Rakit 2 (1 orang), Banjarnegara 2 (2 orang), dan Purwanegara 2 (1 orang).
  3. Kader-kader tersebut akan diikutsertakan dalam Pelatihan Penyegaran Kader TBC Komunitas yang akan dilaksanakan selama tiga hari, yaitu hari Senin hingga Rabu di tanggal 04-06 Maret 2024.

Semoga kolaborasi yang dijalankan terus membawa manfaat untuk masyarakat Kabupaten Banjarnegara khususnya dalam bidang pemberdayaan masyarakat, mendorong masyarakat yang bergejala untuk melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat, dan bagi yang terkonfirmasi dirangkul untuk melakukan pengobatan sesuai ketentuan.

TOSS TBC! Komunitas Sehat & Berdaya, Ayo Bersama Akhiri TBC!

Patuh Pengobatan, Nutrisi Adekuat serta Dukungan Sekitar Kunci Keberhasilan Pengobatan

Staff Program SSR melakukan dialog bersama dengan pasien TB RR/MDR

Rabu, 28 Februari 2024 di Poli TB RS PMDT Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, SSR MSI Kab. Banjarnegara melaksanakaan Pertemuan Dukungan Pasien TBC RR/MDR. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Tim SSR (Staff Program dan Staff Finance and Administration, MK Kabupaten, MK TB RO, Patient Supporter (PS), Penyintas TB RR/MDR, Tim Poli TB RO RS PMDT, Pasien, dan keluarga pasien yang didampingi dan sedang menjalani pengobatan.

Pada kesempatan tersebut, Staff Program SSR MSI Kab. Banjarnegara memandu kegiatan. Kegiatan ini memfasilitasi pasien dan penyintas TB RR/MDR dalam berbagi informasi, kendala pengobatan, dan motivasi untuk mendukung pengobatan yang adekuat.

Pada kesempatan yang spesial ini, SSR mengundang salah satu pasien pendampingan yang telah sembuh.  Tn. Z (28 tahun) memberikan sharing terkait pengalamannya selama menjalani pengobatan TBC. Beliau menyampaikan bahwa TBC RO dapat sembuh. Setelah sembuh dari penyakit TBC, beliau bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala. Beliau juga menyampaikan bahwa kunci kesembuhan terdiri atas kepatuhan pengobatan, nutrisi yang kuat, serta dukungan sekitar. Beliau menyampaikan bahwa adanya SSR MSI sebagai komunitas yang peduli TBC memiliki peran penting dalam perjalanan pengobatannya. Selain diskusi tersebut, terdapat perkembangan status pengobatan dan progress pendampingan sejak terdiagnosis dari setiap pasien yang didampingi, progress pendampingan sejak terdiagnosis, tantangan implementasi beserta alternatif solusi dalam kegiatan pendampingan, dan pemberian enabler bersama Tim TB RS PMDT penguatan dari intervensi pendampingan yang secara rutin telah dilakukan oleh MK dan PS setiap bulan sejak pasien terdiagnosis dan selama pengobatan.

Semoga kolaborasi yang dijalankan SSR, RS PMDT, dan mantan pasien terus membawa manfaat untuk masyarakat Kabupaten Banjarnegara khususnya yang sedang menjalani pengobatan. Tn. Z merupakan contoh riil bahwa TBC RO dapat sembuh. Yuk semangat, yuk bisa yuk, Bapak/Ibu pasien pasti akan menyusul untuk sembuh!

TOSS TBC! Komunitas Sehat & Berdaya, Ayo Bersama Akhiri TBC!

Penulis: Saroh, S. Kep

SSR MSI Kab. Banjarnegara Gandeng RS dan Klinik Swasta untuk Kolaborasi Eliminasi TBC di Banjarnegara

Global TB Report 2023 menyebutkan bahwa Indonesia menduduki negara peringkat kedua dengan beban TBC tertinggi setelah India. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI Tahun 2023, angka penemuan kasus baru sebesar 682.170 (62%) dari target 90%. Berdasarkan data tersebut artinya masih terdapat sekitar 36% dari 1.0060.000 kasus TBC yang belum ternotifikasi, baik yang belum terjangkau, belum terdeteksi maupun belum terlaporkan. Kasus TBC yang belum teridentifikasi tersebut beresiko dalam penularan di masyarakat.

Sebagai implementasi dari peningkatan peran serta komunitas sebagaimana yang tertuang dalam Perpres RI Nomor 67 Tahun 2021 Tahun 2021 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis, pada Senin, 19 Februari 2024 SSR MSI Kab. Banjarnegara melaksanakaan koordinasi komunitas tingkat Kabupaten di Rumah Kopi Sari Rahayu 4, Semampir Banjarnegara.

 

 

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wasor dan Technical Officer TB Dinas Kab. Banjarnegara, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dan Subkor Organisasi Kemasyarakatan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kab. Banjarnegara, Pengelola Program Tuberkulosis RSMPDT dan RSUD Hj. Anna Lasmanah, RS Islam Banjarnegara, RS Emanuel, RSU PKU Muhammadiyah, Klinik PKU Muhammadiyah Merden, Klinik PKU Muhammadiyah Kalibening, Klinik Ibunda, Puskesmas Pandanarum, Puskesmas Wanadadi 1, Puskesmas Batur 1 dan Puskesmas Batur 2, Tim SSR MSI Kab. Banjarnegara meliputi Staff Program, Staff Finance and Administration, MK Kabupaten, MK TB RO, PS, Koordinator kader dan perwakilan kader.

Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai media diskusi evaluasi program penanggulangan dan capaian TBC Kab. Banjarnegara 2023 serta sebagai upaya membuka kolaborasi lebih masif lagi dengan 3 (tiga) puskesmas wilayah intervensi baru (Pandanarum, Batur 1 dan Batur 2) serta fasyankes swasta dalam penanggulangan dan penemuan kasus TBC secara aktif.

Hal- hal yang di diskusikan meliputi program penanggulangan TBC 2023 Dinkes Kab. Banjarnegara, target TBC 2024 Dinkes Kab. Banjarnegara, laporan perkembangan indikator program oleh komunitas, rencana strategis komunitas 2024, diskusi analisa situasi TBC Puskesmas wilayah intervensi baru, RS Swasta serta Klinik, penemuan kasus, investigasi kontak, pendampingan pasien TB RO serta diskusi peran komunitas oleh Kesbangpol.

Hal- hal yang menjadi rencana tindak lanjut dalam kegiatan ini meliputi:

  1. Adanya kerjasama antara MSI dengan RS Islam Banjarnegara, RSU PKU Muhammadiyah, RS Emanuel, Klinik PKU Muhammadiyah Merden, Klinik PKU Muhammadiyah Kalibening, Klinik Ibunda
  2. Kesepakatan antara RSUD, RS swasta serta klinik untuk segera merujuk indeks kasus TBC bakteriologis di SITB ke puskesmas untuk ditindak lanjuti investigasi kontak oleh puskesmas dan kader komunitas
  3. RSUD, RS swasta dan klinik melakukan komunikasi dan edukasi ke indeks kasus terkait dilakukannya investigasi kontak di kemudian hari oleh puskesmas dan kader komunitas
  4. Peningkatan kualitas investigasi kontak oleh puskesmas dan kader dengan proporsi ideal target 5 terduga: 1 positif TBC
  5. Indeks kasus diluar kabupaten untuk dapat dikomunikasikan ke Tim TBC Dinkes Kab. Banjarnegara
  6. Timeline Kegiatan Refreshment kader baru akan dilaksanakan rentang akhir Februari- Awal Maret

Pada kesempatan tersebut, Bapak Erwan Adi Priyanto, S. STP selaku Sekretaris Kesbangdan Kab. Banjarnegara menyampaikan bahwa peran komunitas adalah tak lain tak bukan membantu menyukseskan program pemerintah tanpa mengancam keamanan dan keselamatan negara, peran ini sesuai dengan program- program yang telah dilaksanakan oleh SSR MSI Kab. Banjarnegara. Wasor TB Dinkes Kab. Banjarnegara juga menyampaikan bahwa pelajaran yang dapat diambil dari program 2023 adalah peningkatan kualitas skrinning sedangkan Staff Program SSR MSI Kab. Banjarnegara melengkapi bahwa setiap kader yang merujuk terduga wajib suspek yang memenuhi syarat rujukan.

 

Semoga kolaborasi yang dijalankan terus membawa manfaat untuk masyarakat Kabupaten Banjarnegara, baik dalam pemberdayaan masyarakat yang dalam ini kader maupun bagi masyarakat yang sakit TBC untuk segera ditemukan dan melakukan pengobatan sesuai ketentuan. TOSS TBC! Komunitas Sehat&Berdaya, Akhiri TBC di Indonesia!

Penulis: Saroh, S. Kep

Percepat Kesembuhan TBC, KMP Simpang Empat Sigap Memberikan Bantuan Sembako Untuk Pasien TBC

Seperti yang kita ketahui bersama, TBC adalah penyakit menular (bukan penyakit turunan) yang memerlukan pengobatan dengan durasi minimal 6 bulan. Pengobatan yang tidak dilakukan hingga tuntas dapat menyebabkan resisten sehingga waktu pengobatan lebih lama dan efek pengobatan yang dirasakan lebih terasa seperti mual, pusing, dan lainnya. Oleh karena itu, pasien TBC harus dipastikan benar-benar sembuh saat melakukan proses pengobatan, terlebih obat yang diminum diberikan secara gratis oleh pemerintah. 

Pada tahun 2022, angka keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat di Indonesia pada tahun 2022 sebanyak 85%. Sementara angka keberhasilan pengobatan TBC resisten obat di Indonesia tahun 2022 secara umum keberhasilannya 55% (Global TB Report 2022). Sehingga, perlu adanya pemaksimalan dukungan keberhasilan pengobatan yang diberikan baik dari pemerintah maupun komunitas untuk menjamin kesembuhan para pasien TBC. 

Menurut studi yang dilakukan oleh  Ivan S. Pradipta (dkk) yang dipublikasikan di BMC Public Health ini mengungkap beberapa permasalahan faktual yang dihadapi oleh pasien TBC di Indonesia sehingga menyebabkan terjadinya kegagalan pengobatan TBC. Setidaknya ada tiga permasalahan utama yang menyebabkan kegagalan terapi pasien TBC, yakni: masalah sosio-demografi dan ekonomi, pengetahuan dan persepsi, dan efek pengobatan TBC. Terutama pada aspek ekonomi, walaupun biaya obat TBC telah ditanggung pemerintah, pasien TBC tetap perlu merogoh kocek untuk biaya transportasi dan memenuhi kebutuhan primer keluarganya. 

Merespon hal tersebut, Komunitas Masyarakat Peduli Tuberkulosis (KMP TBC) hadir dengan melibatkan masyarakat untuk turut aktif dalam mendukung program-program TBC di grassroot. PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mendukung terciptanya KMP di wilayah-wilayah intervensi komunitas salah satunya di Kalimantan Selatan dengan adanya KMP di wilayah Tanah Bumbu. Sejak berdiri tahun 2021, KMP Simpang Empat telah aktif melakukan advokasi ke pemerintah lokal, CSR, organisasi dan stakeholder lainnya untuk memberikan dukungan mereka terhadap keberhasilan pengobatan pasien TBC melalui pemberian sembako. Rudy Farianor selaku SR Manager Kalimantan Selatan menyampaikan bahwa, “Kami melakukan identifikasi dan mengajak mitra potensial untuk berpartisipasi aktif mendukung pasien TBC dengan pemberian bantuan terutama dalam bentuk sembako. Kita pasti mengerti bahwa adanya efek obat TBC membuat para pasien tidak dapat beraktifitas secara produktif, oleh karena itu kami arahkan ke pemberian sembako agar kebutuhan sehari-hari mereka dapat terbantu dengan adanya bantuan dari kami,” ucapnya.

Di akhir tahun 2023, KMP Simpang Empat bekerja sama dengan DPD KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Tanah Bumbu memberikan bantuan kepada 12 pasien TBC SO di desa Bersujud dan Tungkaran Pangeran, Tanah Bumbu. Kegiatan tersebut merupakan hasil dari advokasi apik yang dilakukan oleh KMP Tanah Bumbu dengan KNPI Tanah Bumbu. Saat ini, pendistribusian sembako telah diberikan kepada 6 pasien atas nama Khairunnisa, Nana, Sahuri dan Ahmad Dhani dari desa Bersujud serta Viona dan Misnawati dari desa Tungkaran Pangeran. Selanjutnya, 6 pasien lainnya yang belum diberikan sembako akan didistribusikan pada bulan Januari ini. Dalam implementasinya, nama-nama indeks dengan kondisi yang kurang mampu disediakan dari kader TBC. Selanjutnya, nama-nama indeks tersebut di advokasikan kepada mitra agar berkenan memberikan bantuan kepada pasien TBC yang sudah dituliskan. Rusniansyah selaku Ketua KMP Simpang Empat Tanah Bumbu menyampaikan bahwa “kegiatan ini akan menjadi kegiatan rutin yang dilakukan KMP dan membangun jejaring lain menjadi target kami tahun 2024 ini”.

Selain itu, SR Kalimantan Selatan terus melaksanakan advokasi melalui kegiatan pertemuan dengan pejabat desa dan fasyankes setempat agar pemberian dana desa dapat diberikan kepada pasien TBC di wilayah Kalimantan Selatan. “Kami rutin melibatkan pemerintah desa untuk hadir dalam pertemuan bersama dengan fasyankes dan mitra lainnya. Pada pertemuan itu, kami menjabarkan data riil pasien TBC dan selanjutnya data tersebut lah yang akan mendapatkan bantuan BLT dari desa,” jelas Rudy.  

Kedepannya, kegiatan pemberian sembako akan gencar dilaksanakan dengan menargetkan mitra untuk berpartisipasi dalam aktivitas ini. Harapannya, pemberian sembako juga dapat menyasar pasien TBC kecamatan lainnya di wilayah Tanah Bumbu. 

Kolaborasi dengan Pemkab Ngawi, Yabhysa Gelar Skrining dan Pencegahan TBC Berbasis Masyarakat

Pencegahan penularan penyakit tuberculosis (TBC) terus diupayakan. Misi tersebut diemban Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera atau Yahbhysa dengan menggandeng Pemkab Ngawi. Sinergitas dalam program penanggulangan TBC tersebut terus berjalan dengan baik. Bulan Oktober ini, kedua pihak menggelar skrining kesehatan keliling wilayah di Ngawi. Contohnya di Puskesmas Pangkur, pada hari Jumat, 20 Oktober 2023. Di puskesmas setempat, digelar  skrining dan pengobatan gratis untuk masyarakat.

Situasi pelaksanaan skrining pencegahan tuberkulosis berbasis masyarakat di Puskesmas Pungkur, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur

”Kami bekerjasama dengan PT Tirta Medical Center dalam mendekatkan pelayanan ke beberapa kecamatan,” ujar Muhammad Via Pratama, Ketua Yabhysa Ngawi. Via mengatakan, pihaknya secara spesifik menyasar orang yang kontak serumah dengan penderita TBC. Adapun skrining tersebut sudah digelar di Kecamatan Widodaren, Paron, dan selanjutnya di Kedunggalar, Kendal, Geneng, Gerih juga Kecamatan Ngawi.

”Kegiatan serupa akan digelar di 10 kecamatan, hingga November mendatang,” kata Via. Via mengungkapkan, sasaran skrining ini berjumlah 1.600 orang. Dari jumlah itu sebanyak 295 sudah diperiksa dengan rontgen. Ditemukan 65 sasaran yang upnormal TB. Selanjutnya hasil skrining tersebut diserahkan ke puskesmas setempat untuk diperiksa lebih lanjut. ”Setelah ada temuan upnormal TB, akan diperiksa di laboratorium spesimen dahaknya,” jelasnya.

Via menilai antusias masyarakat dari program tersebut luar biasa. Dia mengakui keseriusan Pemkab dalam penanganan TBC tak setengah jalan. Itu terbukti dari dukungan sejumlah pemerintah desa yang turut memfasilitasi warganya untuk datang memeriksakan diri. Dengan mendukung mobilitas warga ke lokasi skrining.

Ketua Yabhysa Muhammad Via Pratama (paling kiri), bersama Forkopimcam Pangkur, perwakilan Dinkes Ngawi, dan para kader TBC, usai serah terima penghargaan.

 

 

 

Dinkes Ngawi sebagai mitra Yabhysa menyambut positif kegiatan ini. Sekretaris Dinkes Ngawi dr Heri Nur Fachrudin mengatakan bahwa program penanggulangan TBC di Ngawi bisa lebih cepat dan efektif melalui cara tersebut. Dalam tiga tahun terakhir, pihaknya berkolaborasi dengan Yabhysa berupaya menemukan lebih banyak kasus TBC di Ngawi. Dari target 1400 an di tahun 2023 ini nyatanya sudah menjaring 930 an kasus. ”Dari situ nantinya segera dilakukan pengobatan. Semakin cepat diobati semakin baik,” ungkapnya.

Heri menambahkan dari temuan skrining TBC pada penderita anak-anak nyatanya menjadi faktor yang mempengaruhi stunting. Sebab penderita mengalami ganguan tumbuh kembang karena penyakit tersebut khususnya pada balita. Karenanya diapun juga menghimbau agara masyarakat tak ragu memeriksakan diri ke puskesmas setempat. ”Terlebih untuk keluarga pasien ataupun siapa saja yang menderita batuk lebih dari dua minggu, secepatnya periksa ke puskesmas,” katanya.

Program skrining dan pencegahan TBC melayani rontgen gratis untuk masyarakat Pangkur dan sekitarnya

Kepala Puskesmas Pangkur dr Mochtar turut menyampaikan terimakasih dan dukungan dari terselenggaranya program tersebut. Pihaknya mengakui kegiatan skrining menggunakan mobil rontgen masih menjadi kendala bagi puskesmas. Karenanya kerjasama antara puskesmas, vendor dan Yabhysa dirasa lebih efektif dan efisien. ”Hasilnya akan lebih mudah ditemukan kalau menggunakan rontgen sehingga deteksi lebih dini kasus TBC lebih baik”, katanya. Pihaknya berharap program eliminasi TBC tahun 2030 berhasil. Sinergi antara pemerintah dan pihak pendukung diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan.

Pemberdayaan Pasien TBC Melalui Ternak Ayam dari Program Inovasi SSR Yabhysa Ngawi, Jawa Timur

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang membutuhkan waktu pengobatan yang tidak sebentar. Selain itu, adanya efek samping obat dan tantangan-tantangan lainnya yang dialami oleh mereka pasien tuberkulosis juga membuat pasien TBC kesulitan menjalankan kegiatan sehari-hari secara produktif. Dengan kondisi tersebut, Yabhysa Ngawi melalui program SSR YABHYSA PEDULI TBC membuat sebuah program inovasi yaitu Pemberdayaan Pasien TBC melalui Ternak Ayam.

Pemberian ayam kepada pasien TBC SO untuk dikembangkan dan diternak

Program inovasi tersebut bertujuan untuk memberdayakan pasien TBC selama pengobatan berlangsung. Mereka diberikan tanggung jawab untuk memelihara ayam yang nantinya dapat dikembangkan menjadi lebih banyak lagi. Program inovasi ini dipilih dengan melihat beberapa sisi. Dari sisi ekonomi pemberdayaan ini bisa berkembang dan diarahkan ke ekonomi ketika ayam dapat berkembang banyak. Kemudian dari sisi pola hidup sehat, telur yang dihasilkan menjadi protein tambahan buat pasien selama pengobatan. Dan dari sisi psikososial pasien, pasien memiliki kesibukan atau kegiatan tambahan sehingga dapat mengurangi rasa jenuh dalam meminum obat selama pengoabatan.

Sasaran dari program inovasi ternak ayam adalah pasien TBC SO dalam masa pengobatan, yang mampu dan memiliki kemauan untuk menerima program ini. Setiap penerima manfaat akan diberikan 2 ekor ayam betina dewasa dengan kesepakatan bahwa ketika ayam tersebut sudah bertelur, menetas lalu tumbuh dewasa, selanjutnya SSR Yabhysa Ngawi akan meminta 2 ekor ayam betina lagi dari hasil telur untuk diberikan kepada pasien TBC lainnya. Sehingga program ini dapat berkelanjutan dan dirasakan manfaatnya untuk pasien TBC lainnya. Oleh karena itu, makna mampu disini ialah dalam hal kesepakatan diawal tentang program dan keberlanjutannya.

Pemberian ayam kepada pasien TBC SO untuk dikembangkan dan diternak

Awal program inovasi ternak ayam dimulai pada bulan November 2022 lalu dengan jumlah 4 penerima manfaat dari 4 wilayah puskesmas (Paron, Tambakboyo, Kendal, Bringin ). Tentu saja setiap program tidak langsung berhasil. Paada gelombang pertama terdapat 2 ekor ayam dari 1 pasien yang meninggal. Meskipun demikian, SSR Yabhysa Ngawi tidak patah semangat dan memperoleh hasil ketika 3 pasien TBC lainnya dapat mengembangkan ayamnya, dan menyalurkan 2 ekor ayam betina untuk disalurkan ke pasien TBC lainnya pada gelombang kedua bulan September 2023. Melihat keberhasilan tersebut, SSR Yabhysa Ngawi termotivasi untuk semakin mengembangkan program inovasi ini. Pada bulan lalu, SSR Yabhysa Ngawi menyalurkan kembali 8 ekor ayam betina untuk 4 pasien TBC lainnya. Sehingga sampai dengan saat ini sudah ada 11 pasien TBC dengan jumlah 22 ekor ayam betina yang menerima manfaat program pemberdayaan ini. SSR Yabhysa Ngawi juga melakukan monitoring program ini dengan selalu memastikan setiap bulan kepada kader dan penerima manfaat by phone.

Selama ini, SSR Yabhysa Ngawi sudah berupaya untuk mencari mitra atau donor dengan mengajukan proposal terkait program inovasi ini walaupun hingga saat ini masih belum membuahkan hasil. Meskipun demikian, SSR Yabhysa Ngawi tidak patah semangat, karena hal yang besar dimulai dari hal kecil. Meskipun hanya dari 2 ekor ayam betina dan baru 11 pasien, mereka yakin bahwa program ini akan berhasil dan akan semakin berkembang sehingga dapat dirasakan manfaatnya untuk pasien TBC yang lain.

Harapannya ialah, pasien TBC memerlukan perhatian dari semua pihak baik dari pemerintah, swasta, masyarakat atau pribadi. Semoga program ini mampu memberikan manfaat bagi pasien TBC di Kabupaten lNgawi dan semakin banyak lagi penerima manfaat dari program ini. Lebih jauh lagi, semoga program ini dapat direplikasikan di daerah lainnya untuk mewujudkan program pengentasan TBC yang inovatif dan kreatif.

 

KMP TBC Sekar Melati Bringin Berbagi Puluhan Paket Sembako

NGAWIJawa Pos Radar Madiun – Hari Tuberkulosis Sedunia diperingati Kelompok Masyarakat Peduli (KMP) TBC Sekar Melati Bringin dengan menggelar bakti sosial. Mereka berbagi 28 paket sembako dan genting kaca. Sebanyak 18 paket bantuan tersebut diserahkan secara langsung kepada mantan penderita TBC di halaman Puskesmas Bringin.

GAYENG : Panitia dan tamu undangan bersama-sama mempraktikan salam temukan, obati sampai sembuh (TOSS) TBC

Sedangkan 10 paket bantuan sisanya diberikan saat kunjungan ketuk pintu ke rumah mantan penderita TBC lainnya. ‘’Tujuan bakti sosial ini untuk memberikan dukungan moril kepada mantan pasien bahwa pemerintah hingga masyarakat lainnya tidak acuh terhadap penderita TBC tersebut. Selalu ada kepedulian untuk mereka,’’ ungkap Ketua KMP TBC Sekar Melati Bringin Puji Rahayu. Menurutnya paket bantuan berupa sembako diberikan untuk meringankan beban kebutuhan masyarakat sehari-hari. Apalagi beras, gula, minyak dan kebutuhan dapur lainnya diperkirakan bakal mahal jelang Ramadan.

Sedangkan bantuan genting kaca disebutnya sebagai bagian dari upaya preventif KMP TBC Sekar Melati untuk mengurangi potensi perkembangbiakan Mycobacterium tuberculosis. ‘’Paparan sinar matahari ke dalam rumah mampu membunuh bakteri penyebab TBC itu,’’ tegasnya.

Dalam kegiatan bakti sosial, edukasi mengenai penanganan TBC pun diberikan. Mantan penderita penyakit paru-paru yang ada diminta untuk menceritakan pengalamannya divonis menderita TBC untuk kali pertama, pengobatan dan pendampingan dari puskesmas yang dijalani hingga sembuh. ‘’Bermodalkan pengalaman dari penderita ini kami ingin masyarakat termotivasi untuk sembuh dan tahu tata cara penyembuhannya,’’ bebernya. Aksi bakti sosial tersebut tidak hanya diikuti pengurus KMP Sekar Melati Bringin dan mantan penderita TBC. Hadir pula perwakilan dari Dinas Kesehatan Ngawi, Puskemas Bringin, anggota forkopimcam Bringin, kepala desa se-Kecamatan Bringin hingga hingga Sub Sub Recipient (SSR) Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (Yabhysa) Kabupaten Ngawi.

Yayasan penerima dana hibah dari The Global Fund dibawah Konsorsium Penabulu – Stop TB Partnership Indonesia (STPI) itu tidak hanya salah satu inisiator kegiatan bakti sosial, melainkan juga kemunculan KMP TBC Sekar Melati Bringin bulan November 2021 lalu. KMP itu bukan hanya satu-satunya di Ngawi, bahkan satu diantara dua KMP file project Konsorsium Yayasan Penabulu-STPI yang ada di Jawa Timur selain di Trenggalek.  ‘’Terimakasih kepada anggota forkopimcam Bringin, kepala desa se-Kecamatan Bringin dan Yayasan Yabhisa Ngawi atas dukungannya,’’ tuturnya.

Kepala Sub Koordinator Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Ngawi Paulina Kristinati menyebut bahwa penderita TBC bisa resisten terhadap obat hingga meninggal dunia tanpa pengobatan yang sesuai prosedur dan tuntas. Dengan adanya kegiatan bakti sosial yang digelar KMP TBC Sekar Melati Bringin tersebut, dia gembira. Aksi tersebut menandakan bahwa masyarakat telah peduli terhadap penderita penyakit TBC. Alih-alih mengucilkan, mereka justru memberikan dukungan sampai sembuh. Motivasi penderita TBC untuk sembuh pun diharapkan semakin tinggi.  ‘’Harapan kami semakin banyak penderita TBC yang berhasil diidentifikasi dan diobati sampai tuntas sehingga Ngawi bisa bebas TBC,’’ tegasnya.

Ketua Yabhysa Ngawi Muhammad Via Pratama menyebut bahwa inisiatif membentuk KMP TBC Sekar Melati Bringin berawal dari tingginya kasus TB di Kecamatan Bringin. Dengan adanya KMP TBC itu, pihaknya ingin seluruh unsur masyarakat berperan aktif dalam penanggulangan penyakit paru-paru tersebut. Itupun melalui dukungan berupa peningkatan kapasitas pengurus melalui pelatihan dengan mendatangkan narasumber. ‘’Dukungan itu kami berikan agar ke depan KMP Sekar Melati bisa berdaya mandiri dan jadi organisasi yang memiliki daya ungkit tinggi kaitannya dengan permasalahan TBC di Brigin,’’ tuturnya. 

Entaskan TBC di Ngawi, Bakrie Center Foundation Kolaborasi dengan Yabhysa

NGAWIJawa Pos Radar Madiun – Pengentasan Tuberculosis (TB/TBC) di wilayah Ngawi terus dimaksimalkan. Bakrie Center Foundation (BCF), sponsor program Campus Leader, menggandeng Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (YabhysaNgawi, dalam mendukung penanggulangan TBC di daerah setempat.

KOORDINASI: Yabhysa Ngawi berkoordinasi dengan Dinkes terkait program Campus Leader dalam pengentasan TBC bersama perwakilan Dinkes Ngawi dan mahasiswa. (SATRIO/RADAR NGAWI)

Dalam program ini, BCF juga berkolaborasi dengan mahasiswa, dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi. Adapun program ini dilaksanakan di enam provinsi termasuk Jawa Timur, khususnya Ngawi. Kegiatan ini diikuti oleh 200 mahasiswa magang. Di Ngawi, ada empat mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat yang mengikuti program tersebut. ”Nantinya para mahasiswa diharapkan bisa memberikan kritik, saran, masukan dan inovasi dalam penanggulangan TBC di Ngawi,” kata Muhammad Via Pratama, Ketua Yabhysa Ngawi.

Dia mengatakan, Yabhysa sudah tiga tahun bekerjasama dengan Dinkes Ngawi dalam upaya penanggulangan TBC. Dalam kegiatan yang rencanya berlangsung lima bulan tersebut para mahasiswa dituntun untuk mengikuti kerja lapangan. Diantaranya koordinasi dan komunikasi dengan para kader TBC juga Dinkes, serta pengelola program di 24 Puskesmas (PKM) se Ngawi. “Dilakukan bersama-sama dalam satu tim,” sebutnya.

Via mengatakan dari program ini kedepan bisa dibentuk paguyuban bagi mantan pasien TBC di Ngawi. Sebab selama ini belum pernah terrealisasi. Dia berharap para mahasiswa menjadi inisiator pembentukan paguyuban tersebut. ”Harapannya adalah bisa mendukung pengobatan bagi pasien TBC lainya,” ujar Via.

KOLABORASI: Ketua Yabhysa Ngawi, Muhammad Via Pratama (ke dua dari kiri) dan Pengelola Program TBC Dinkes Ngawi, Ririn Noviyanti dan para mahasiswa magang Program Campus Leader

Pengelola Program TBC Dinkes Ngawi, Ririn Noviyanti menyatakan pihaknya menyambut baik program kolaborasi tersebut. Hal itu sejalan dengan upaya pengentasan TBC yang dilaksanakan Dinkes. Menurutnya sejauh ini Dinkes masih mengalami kendala dalam menjaringan kasus dan mendiagnosis pasien secara menyeluruh. ”Dari survei Kementerian Kesehatan estimasinya ada 1.428 namun sementara ini baru sekitar 740,” paparnya. Karena itu, pihaknya berharap melalui program magang nantinya mampu menjaring pasien lebih banyak. Ririn mengatakan perlunya pengobatan TBC secara tuntas. Sebab TBC merupakan penyakit menular. Terlebih bagi pasien yang tak tuntas mengikuti treatment pengobatannya. Mereka justru bisa lebih berisiko mengalami resistensi obat TBC. ”Malah pengobatan yang dilakukan bisa lebih lama dan efek samping obat yang lebih parah,” ujarnya, sembari mengimbau pasien TBC supaya disiplin dalam mengonsumsi obat.

Sementara itu, Rani Siyratu, Program Staff BCF, mengungkapkan bahwa Campus Leader Program merupakan bagian dari upaya BCF mendukung program nasional. BCF sudah tersebar di 238 kabupaten/kota se-Indonesia. Dia mengatakan tahun ini Ngawi merupakan percontohan sebagai wilayah yang aktif eliminasi TBC. ”Di Ngawi banyak aktivis yang turun untuk menanggulangi TBC karena itu kami turut mendukung melalui lembaga sosial yang ada,” katanya.

Rani menyebut bahwa program magang BCF sudah berjalan selama kurang lebih 3,5 tahun di Jawa Timur. Pun tahun depan pihaknya mengupayakan penambahan program serupa untuk kabupaten/kota lain. Khususnya penambahan di wilayah Jawa Timur. Sebab saat ini Jawa Timur berada di posisi ke-dua pengidap TBC terbanyak. ”Harapannya tahun 2024 mendatang bisa melingkupi seluruh kabupaten/kota dalam eliminasi TBC,” pungkasnya.