Eliminasi TBC Di Provinsi Banten, SR Konsorsium Penabulu STPI Tanda Tangani Kesepakatan Bersama Dengan Dinas Kesehatan

Penabulu-STPI dan Dinas Kesehatan Banten melakukan Penandatanganan Kesepakatan

Tangerangupdate.com (21/06/2022) | Kota Serang — Sub Recipient (SR) Konsorsium Penabulu-STPI Provinsi Banten menandatangani Kesepakatan bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Banten program pencegahan dan penanggulangan tuberculosis (TBC) di wilayah Provinsi Banten.

Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Banten tersebut menyepakati 5 poin yang mana kesepakatan ini dalam rangka melibatkan organisasi masyarakat dalam Komunitas, dalam rangka eliminasi TB di Provinsi Banten.

“Sub Recipient (SR) Konsorsium Penabulu-STPI Provinsi Banten adalah Pelaksana dana hibah Global Fund Indonesia program Eliminasi TB Konsorsium Komunitas Penabulu – STPI” Ungkap Subhan Programer SR Banten kepada Kantor Berita Tangerangupdate.com, Selasa (21/06).

Ditambahkannya Peran Organisasi Masyarakat Sipil mendapatkan porsi yang cukup signifikan, terutama dalam hal promotif, preventif, dan rehabilitatif serta mengembangkan berbagai penelitian, melakukan inovasi-inovasi, advokasi dan meningkatkan peran semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung guna mendukung percepatan upaya eliminasi TBC di tahun 2030.

“Landasan kita sebagai Komunitas dalam membantu eliminasi TBC di Provinsi Banten adalah Peraturan Presiden Nomor 67 tahun 2021 tentang penanggulangan TBC, Intruksi Gubernur Provinsi Banten nomor 2 tahun 2018 tentang Gerakan Banten Eliminasi eliminasi TBC, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 tahun 2016 tentang penanggulangan Tuberkulosis”

Lalu lanjutnya “Kesepakatan Bersama antara Dinas Kesehatan Provinsi Banten dengan Konsorsium Komunitas Panabulu-STPI Provinsi Banten tentan program pencegahan dan penanggulangan TBC di wilayah provinsi banten oleh komunitas” Tandasnya

Kegiatan tersebut dihadir juga kepala bidang pencegahan dan pengendalian penyakit ibu dr, Rr Sulestiorini, kepala seksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular ibu drg. Nenden Diana Rose, MRS, Tekhnical Officer DPPM Dinkes Banten, Tim RO Dinkes Banten, Tim enabler Dinkes Banten.

Kepala bidang pencegahan dan pengendalian penyakit, Ibu dr, Rr Sulestiorini menyambut baik kerjasama tersebut “tentu dinas (Dinas Kesehatan Banten-Red) tidak bisa sendiri melakukan kegiatan eliminasi TBC, kita butuh kawan-kawan seperti Penabulu STPI” Ucapnya.

Strategi Jemput Bola Temukan TBC : Kolaborasi Kader dan Puskesmas dalam Investigasi Kontak SR Jambi

Sudah kita ketahui bersama bahwa Indonesia hingga saat ini menduduki peringkat tertinggi ketiga dengan beban Tuberkulosis (TBC) terbanyak di dunia setelah India dan China. Hal tersebut pun divalidasi oleh Kementerian Kesehatan Indonesia yang menyatakan bahwa dari estimasi 824 ribu pasien TBC di Indonesia Baru 49% yang ditemukan dan diobati sehingga terdapat sebanyak 500 ribuan orang yang belum diobati dan berisiko menjadi sumber penularan. Sehingga dengan latar belakang tersebut, sangat diperlukan upaya melakukan penemuan kasus secepat mungkin serta pemberian pengobatan secara tuntas sampai sembuh untuk memutus rantai memutuskan penularan TBC. 

Salah satu upaya yang dapat mendukung upaya tersebut adalah dengan mengimplementasikan pelacakan atau investigasi kontak. Investigasi kontak (IK) merupakan kegiatan pelacakan dan investigasi yang ditujukan pada individu untuk menemukan terduga TBC. Kontak yang terduga TBC akan dirujuk ke pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan dan bila terdiagnosa TBC, akan diberikan pengobatan yang tepat dan sedini mungkin. 

Dalam penerapannya, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan tugas tersebut dengan menggandeng relawan kesehatan komunitas populasi kunci yaitu kader yang tersebar di 30 provinsi dan 190 kabupaten/kota salah satunya di Jambi. Jambi sendiri pada umumnya memiliki masyarakat yang sudah mulai mengetahui keberadaan komunitas dan paham mengenai pengetahuan TBC. “Saat ini masyarakat Jambi cukup memahami keberadaan kami sebagai aktivis TBC setelah perjuangan kami memberikan edukasi dan pengetahuan tentang TBC di tahun sebelumnya yang cukup sulit dikarenakan adanya pandemi COVID-19,” ucap Dandy selaku Program Koordinator Sub Recipient (SR) Jambi. 

Meskipun begitu, pencapaian tersebut tidak membuat SR Jambi lengah. SR Jambi meneruskan upaya eliminasi TBC dengan membangun jejaring yang efektif di kota Jambi. “Kami sadar bahwa eliminasi TBC tidak bisa dikerjakan sendiri dan harus diselesaikan secara bersama dengan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Komunitas HIV, Komunitas Masyarakat Peduli TBC, dan Komunitas yang terhubung lainnya,” ucap Dandy. 

Tak hanya kerjasama dengan multi stakeholder, SR Jambi melanjutkan perjuangan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan Investigasi Kontak. Investigasi Kontak dilakukan oleh kader secara berulang kepada masyarakat agar mereka dapat menerima dan mencerna secara baik tentang kehadiran komunitas dan manfaat dari memahami TBC. Pendekatan pun juga kerap dilakukan oleh para kader dengan berkunjung ke rumah indeks dan mendekatkan diri kepada kontak erat dan membujuk secara perlahan agar berkenan melakukan pemeriksaan. Tentunya bukan hal yang mudah mengingat bahwa stigma masyarakat terkait penyakit TBC  masih banyak. Namun hal tersebut tidak menjadi kendala yang berarti bagi SR Jambi untuk melaksanakan Investigasi Kontak terlebih dengan semangat kader yang tak pernah lelah untuk memberikan edukasi dan penemuan kasus di masyarakat.

Kader merupakan komponen yang penting dalam menentukan capaian IK  suatu wilayah, sehingga pemberdayaan kader sangat diperhatikan oleh SR Jambi. “Kami melakukan bonding dengan kader agar mereka terus semangat dengan melakukan pelatihan baik secara teori maupun turun langsung di lapangan,” tambah Dandy. Memberikan reward kepada kader sebagai penghargaan atas kerjanya, melakukan pelatihan secara berkala dengan mengingatkan kembali tentang pentingnya IK dan penemuan kasus terbaru adalah langkah-langkah yang SR Jambi lakukan untuk menumbuhkan motivasi kader. Bahkan, jika pencapaian berhasil, SR Jambi juga mengajak para kader untuk makan bersama.

Selain pemberdayaan kader, SR Jambi juga aktif melakukan follow up terkait dengan data yang masuk di Puskesmas agar dapat terdata dengan baik. “Strategi khusus yang dilakukan SR Jambi kami menyebutkan strategi jemput bola dengan meminta langsung ke Puskesmas melampirkan berita acara pengambilan data Indeks Kasus yang berada di Puskesmas, dikarenakan jika menunggu petugas Puskesmas menginput data ke SITB membutuhkan durasi yang lebih lama,” tandas Dandy. Ia menambahkan bahwa strategi ini terbilang efektif agar data kasus terduga TBC dapat terinput di Sistem Informasi Tuberkulosis Komunitas (SITK) sehingga hasil kasus yang diperoleh kader dapat termonitoring dengan baik oleh komunitas.

Di akhir pembicaraan, sebagai PMEL Coordinator, ia berharap bahwa seluruh SR wilayah dalam naungan PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dapat lebih aktif untuk berkomunikasi kepada Puskesmas agar berita acara pengambilan data indeks kasus dapat terolah dengan baik agar tidak ada data yang telat ataupun terlewat. Ia juga berpesan untuk seluruh aktivis TBC untuk terus bersemangat dalam meneruskan perjuangan agar Indonesia dapat segera bebas dari TBC. 


Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Di Balik Kisah Ibu Musdalifah, Pasien Suporter TBC RO yang Membaktikan Dirinya Untuk Membantu Pasien TBC Sembuh

Ibu Musdalifah merupakan salah satu dari patient  supporter (PS) untuk pasien Tuberkulosis  Resisten Obat (TBC RO) di Makassar, Sulawesi Selatan. Ibu Musdalifah mendedikasikan dirinya sebagai PS semenjak tahun 2018. Berasal dari latar belakang pendidikan Psikologi yang mana mempelajari terkait kegiatan maupun interaksi manusia dalam hubungannya dengan konteks sosial, Ibu Musdalifah mulai tergerak untuk berpartisipasi aktif di dunia sosial salah satunya dengan menjadi pasien supporter TBC RO. “Karena background di fakultas psikologi, jiwa sosial tersebut akhirnya muncul untuk membantu sesama. Terlebih terdapat beberapa tetangga yang mengalami penyakit TBC dan melihat mereka putus asa dan tidak meminum obat, saya kasihan dan terketuk hati untuk membantu mereka,” ucap Bu Musdalifah.

Dalam kesehariannya, Ibu Musdalifah memulai aktivitasnya  hingga siang hari dengan mengajar Bimbingan Konseling di Pondok Pesantren Ummul Mukminin, Sudiang. Setelahnya, Ibu Musdalifah mengunjungi pasien dalam sehari maksimal 5 pasien menggunakan kendaraan bermotor hingga sore sebelum maghrib. “Iya saya sudah menjalankan aktivitas menjadi guru dan PS selama kurang lebih 5 tahun. Walaupun jarak antar rumah pasien ada yang dekat dan cukup jauh, namun semua itu terasa nyaman asalkan dijalankan dengan ikhlas,” sambung beliau.

Pendampingan pasien TBC RO yang Ibu Musdalifah jalankan pun tidak semudah yang dilihat. Panjangnya durasi pengobatan serta efek samping yang diakibatkan dengan adanya penggunaan obat anti TBC (OAT) menjadikan beberapa pasien menyerah dan tidak berkenan untuk melanjutkan pengobatan lagi. “Saya kadang kasihan lihat mereka putus asa. Tapi dengan efek samping yang mereka rasakan saya pun paham dengan rasa sakit yang mereka alami,” tutur Ibu Musdalifah. Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan yang berarti. Beliau secara konsisten terus memberikan semangat dan edukasi tidak hanya ke pasien, namun juga ke keluarga dan lingkungan tempat tinggal pasien agar dapat membantu memberikan afirmasi positif kepada pasien tersebut untuk sembuh.

Keluarga yang mendukung profesi Ibu Musdalifah memberikan suntikan semangat yang membuat segala kesulitan yang dihadapi menjadi mudah. Dengan segala resiko yang mungkin terjadi di lapangan, Ibu Musdalifah juga mengaku pasrah dan ikhtiar karena beliau yakin dengan menggunakan masker dan menjalankan protokol kesehatan, Ibu Musdalifah dapat terhindar dari penularan penyakit TBC. Hal tersebut pun terbukti dari kiprah beliau selama 4 tahun mendampingi pasien TBC tanpa tertular. “Yang penting pakai masker dan prokes ketat diterapkan saya akan merasa aman, alhamdulillah saya juga tidak dan semoga jangan sampai tertular untuk kedepannya,” utas beliau. 

Saat ini, Ibu Musdalifah sedang mendampingi 13 pasien TBC RO. Di tahun 2021, Ibu Musdalifah berhasil menemani pasien TBC RO hingga sembuh sebanyak 15 pasien. “Tahun lalu saat pandemi, saya cukup kewalahan karena adanya PPKM sehingga saya hanya mendatangi pasien selama 4 kali dalam satu bulan,” ucap Ibu Musdalifah. Namun hal tersebut tidak membuat beliau menyerah dan terus bersemangat mendampingi pasien minum obat, edukasi seputar penyakit, dampak, serta penularannya. 

Sebagai PS, kebahagiaan yang dirasakan adalah ketika menemukan ada pasien yang sembuh karena pendampingan yang dilakukan. “Saya merasa senang karena saya berhasil bisa membuat pasien sembuh dan tidak mangkir. Ada pasien dengan pengobatan 2020 hingga 2022 baru sembuh dan itu salah satu contoh perjuangan yang cukup panjang dengan kerjasama keluarga dan lingkungan pasien,” tandas beliau.

Untuk kedepannya, Ibu Musdalifah berharap bahwa seluruh PS dapat terus bersemangat untuk mendampingi pasien hingga sembuh. Beliau juga mengatakan bahwa meskipun menjadi PS bukanlah hal yang mudah dilakukan, tetapi selagi melaksanakan tugas dengan baik dan tulus ikhlas, beliau yakin semuanya akan aman dan nyaman untuk dijalani. 


Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Perjuangan Ibu Siti Aminah dalam Mencari Suspek untuk Indonesia Bebas Tuberkulosis 2030

Siti Aminah, atau yang akrab dipanggil dengan nama Ibu Siti merupakan salah satu dari sekian kader Tuberkulosis (TBC) yang bekerja di Puskesmas Rangkah, Tambaksari, Surabaya. Pengabdiannya sebagai kader TBC dimulai pada tahun 2014 yang mana hal tersebut muncul dari keresahannya karena tidak ada yang  berminat untuk menjadi kader saat dilaksanakan pelatihan kader TBC di Puskesmas Rangkah. “Awalnya, saya berpikir jika nanti ada yg sakit TBC bagaimana untuk penanganannya. Akhirnya saya yang angkat tangan untuk ikut pelatihan TBC dulu dan pelatihan selama 2 minggu sampe kita faham mengenai TBC,” tutur Ibu Siti. 

Dalam kesehariannya, Ibu Siti mencari suspek dari pagi pukul 08.00 WIB hingga sore pukul 17.00 WIB, dari satu rumah ke rumah lainnya di wilayah kerjanya yang cukup luas.  Selain itu, Ibu Siti juga aktif mengadakan kegiatan penyuluhan di masyarakat seperti bergabung pada saat kegiatan PKK, pertemuan masyarakat, arisan dan lainnya. “Saat memberikan edukasi, saya selalu memberikan penekanan bahwa TBC itu penyakit yang menular. Saya juga memberikan pengertian bahwa TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan,” utas Ibu Siti.

Ibu Siti berkomitmen untuk membuat masyarakat mengerti pengertian dari penyakit TBC dengan gejalanya seperti batuk yang tidak kunjung reda, nafsu makan yang berkurang, serta keringat dingin di malam hari. “Saya khawatir dengan lansia yang rentan dengan penyakit TBC, terlebih orang dengan diabet juga rawan dengan TBC, sehingga saya gunakan sebaik mungkin program penyuluhan di PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI,” ucap Ibu Siti. Dalam alur pengambilan suspek, Ibu Siti mengambil dahak pasien dari rumah ke rumah yang kemudian dahaknya dibawa ke laboratorium Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan. Jika ada suspek yang positif, Ibu Siti langsung datang  ke rumah pasien untuk menyarankan pengobatan gratis sampai 6 bulan dan memberikan edukasi agar tidak mangkir  atau putus pengobatan TBC di tengah jalan.

Namun, pencarian suspek tidak semudah yang dilihat. Terkadang, penolakan demi penolakan dalam penjangkauan suspek kerap dialami oleh Ibu Siti di lingkungan masyarakat. Beliau juga mengatakan bahwa terkadang pasien yang ia temui kurang suportif. “Saya memiliki kesedihan tersendiri sih, seperti kadang kerap menemui pasien yang bandel,” ujar Ibu Siti. Semangat beliau untuk membantu masyarakat bebas TBC tidak pudar dan terus gencar untuk menjangkau masyarakat dan pasien TBC yang positif. 

Di sisi lain, kesedihan yang ia rasakan juga dapat beliau tutupi dengan banyaknya teman dan orang baru yang ia temui saat menjadi kader TBC. “Saya cukup senang bertemu dengan orang baru karena banyak sekali pelajaran yang saya peroleh dari mereka, banyak pengalaman dan ilmu baru,” tambah Ibu Siti. 

Daya juang Ibu Siti pun membuahkan hasil. Capaian Ibu sebagai kader Siti terus menerus konsisten dengan capaian yang cukup memuaskan. Di tengah lelahnya ia menjaga usahanya dalam membuka warung, beliau masih sempat untuk membantu menemukan pasien TBC. Ia juga berpesan kepada para kader lainnya untuk terus semangat demi menyehatkan masyarakat dengan tujuan sosial. Ia juga yakin bahwa jika kader akan aman dan  tidak akan tertular jika kita dapat selalu mematuhi peraturan dan protokol yang ditetapkan. 


Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Matras TB Dorong Eliminasi TB di Bangka Belitung

 

Bangka merupakan salah satu Kabupaten di Bangka Belitung yang memiliki tingkat terduga Tuberkulosis (TB) tertinggi dibanding Kabupaten lainnya, dengan tingkat capaian penemuan yang masih rendah. Selain itu, dari segi jarak dan luas wilayah, Kabupaten Bangka memiliki wilayah yang besar dibandingkan dengan wilayah Kabupaten lainnya, sehingga Kabupaten Bangka menjadi wilayah yang memerlukan perhatian khusus baik dari masyarakat maupun dari pemerintah daerah setempat terkait dengan penanganan TB.

Dalam hal ini peran dan koordinasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka sangat penting untuk menghimbau apa saja upaya-upaya dalam penanggulangan dan pemecahan dalam masalah ini. Selain Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Puskesmas yang ada di Kabupaten Bangka juga memiliki peran penting  seperti yang dilakukan oleh Puskesmas Sungailiat .

Hal pertama yang dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan dibuatnya suatu wadah untuk mencari dan menemukan pasien TB yang bernama “ Matras TB”.  Kata Matras diambil dari nama salah satu pantai / objek wisata di Kabupaten Bangka yang terkenal indahnya. Sehingga, ketika mendengar kata matras, diharapkan masyarakat awam dapat langsung merepresentatifkan Kabupaten Bangka sebagai daerah yang indah dan nyaman. 

Matras TB sudah diimplementasikan selama 6 tahun dengan pencetus pertama yaitu dari kepala Puskesmas Sungailiat yang pelaksanaan dan penggerakannya dilanjutkan oleh pengelola program TB yaitu Bapak Supriyadi atau yang akrab dipanggil dengan Pak Yusuf.

Bapak Yusuf ini adalah pengelola program TB yang sudah lama bekerja di Puskesmas Sungailiat. Ia mengatakan bahwa dengan adanya Matras TB membuat pekerjaan Pak Yusuf dalam mencari penemuan kasus di lapangan lebih terorganisir dan lebih mudah. 

Selama di Matras TB,  ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan untuk mendukung eliminasi TB. “Kami menggerakkan masyarakat yang ada di wilayah Sungailiat untuk menjadi kader TB, yang mana kader ini mampu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menemukan kasus,” ucap Pak Yusuf.  Selain itu, terdapat juga beberapa kader yang juga merupakan ketua RT atau ketua lingkungan setempat, sehingga  mempermudah kegiatan penemuan kasus di tingkat wilayah dasar.  

Pak Yusuf menyampaikan bahwa melakukan kegiatan edukasi TB bukanlah hal yang mudah dilakukan. “Awalnya masih sulit menggerakan masyarakat yang masih minim informasi mengenai apa itu TB, tapi lama lama ada saja orang yang berminat untuk maju bersama dalam mengentaskan TB di masyarakat Sungailiat,” tutur beliau. 

Setelah mendapatkan masa yang mempunyai tujuan bersama, Pak Yusuf selalu aktif memberikan motivasi kepada kader untuk menjadikan semangat sebagai sebuah kunci. “Ada 30an orang kader yang tercatat di dalam Matras TB ,sehingga terbayang wilayah yang sangat luas dan orang yang banyak mampu di koordinir oleh 1 orang pengelola program,” tandas beliau.  

Sejak adanya kader-kader dari Matras TB, jumlah penemuan pasien TB di Puskesmas Sungailiat mulai meningkat dan terdapat strategi serta acuan yang jelas kedepannya, sehingga kader akan lebih mudah melakukan kegiatan dalam penemuan kasus TB di wilayah  Sungailiat. Selain itu, daya juang para kader juga tercipta dengan adanya koordinasi tim yang baik antara puskesmas dengan para kader. 

“Semua ini tercipta karena koordinasi yang apik baik antara pengelola, perawat, dokter serta para aktivis TBC di lapangan. Adanya Matras TB membuat capaian penjangkauan kasus TB di Puskesmas Sungailiat menjadi yang tertinggi di Provinsi Bangka Belitung,” tambah Pak Yusuf.  

Dari kisah yang sudah dibagikan, Pak Yusuf berharap bahwa setiap daerah di Bangka Belitung dapat menciptakan kinerja yang solid dalam menghentikan laju pertumbuhan kasus TBC di Bangka Belitung. Beliau yakin di setiap hal sulit yang dijalani kedepannya akan menjadi mudah jika kita semua bersedia memahami dan ikhlas mengerjakannya. 

 


 

Cerita ini dikembangkan dari SR Bangka Belitung

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

 

Pengelolaan Shelter Sebagai Penguatan Eliminasi TBC di Lampung

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Terlebih, saat ini Indonesia menjadi negara yang berada pada nomor urut tiga penderita TBC terbanyak di dunia. Laporan WHO juga memperkirakan angka kematian tuberkulosis di Indonesia yaitu sekitar 35 per 100.000 penduduk atau terdapat sekitar 93.000 orang meninggal akibat tuberkulosis pada tahun 2018 (NSP, 2020 – 2024). Hal tersebut membuat kita harus bergerak cepat dalam melakukan eliminasi TBC untuk meminimalisir terjadinya penularan TBC di masyarakat.

Selain itu, data tahun 2018 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 51,2% (4.704 dari 9.180 kasus) pasien TBC MDR (Multi Drug Resistant) atau yang bisa juga disebut dengan TBC RO (Resisten Obat) yang didiagnosis tidak memulai pengobatan karena kurangnya akses diagnosis yang berkualitas dan pengobatan yang berpusat pada pasien. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam Strategi Nasional TB 2020-2024 pada strategi 2 tercantum bahwa diperlukannya peningkatan akses layanan tuberkulosis bermutu yang berpihak pada pasien.

Salah satu operasionalisasi dalam memastikan layanan tuberkulosis yang berpihak pada pasien dan memberikan solusi pada rintangan yang dialami pasien adalah dengan menyediakan tempat singgah sementara (shelter) bagi pasien MDR TB. Saat ini, PR Konsorsium Penabulu-STPI memiliki 14 shelter yang tersebar di wilayah intervensi daerah PR Konsorsium Penabulu-STPI yang mana salah satunya berada di provinsi Lampung.

Shelter di Lampung diperuntukkan sebagai rumah singgah, transit minum obat pasien, juga sebagai rumah edukasi bagi pasien dan keluarga yang membutuhkan pendampingan serta motivasi dari Manajer Kasus (MK) dan Pasien Suporter (PS) dalam proses pengobatan untuk kesembuhan pasien TBC MDR. Selain itu, shelter juga diperuntukkan sebagai tempat kegiatan untuk MK & PS yang digabungkan dengan kantor Sekretariat KOMPPI LAMPUNG (Komunitas Masyarakat Peduli Penyakit Infeksi) serta Kantor OMP BADAK (Basmi dan Akhiri) TBC Lampung.

Irma Syafitri, salah satu MK SR Lampung menjelaskan bahwa terdapat beberapa kriteria pasien yang diperkenankan untuk tinggal di shelter tersebut seperti para pasien pasca suntik dari RS PMDT yang akan singgah untuk istirahat karena ESO (Efek Samping Obat) dan setelah ESO mereda pasien akan pulang ke rumahnya masing-masing; selanjutnya adalah pasien dari luar kota Bandar Lampung yang akan menginap atau transit sebelum dan sesudah ke RS PMDT dikarenakan akses transportasi yang sulit; kemudian yang terakhir adalah para pasien yang diberikan edukasi dan pendampingan bersama PS/MK dengan menerapkan protokol kesehatan dan kepatuhan pengobatan serta menghilangkan/mengurangi traumatik dampak Covid-19.

“Di shelter, kami memberikan edukasi dan motivasi kepada pasien dan keluarga tentang TB MDR, pengobatannya, efek samping obatnya, pencegahan, penularan hingga pendampingan yang dibutuhkan pasien saat harus konsultasi ke Ahli Jiwa/Psikiater pada malam hari,” tutur Irma. 

“Pelayanan makan dan minum pasien juga kami berikan 2 x 24 jam selama pasien dan keluarganya menginap di shelter yang mana dana untuk itu kami ambil dari uang Iuran MK/PS.  Di masa pandemic, shelter juga pernah digunakan sebagai tempat ambil obat pasien saat Kondisi buruk Pandemi Covid 19, selama 10 hari, dimana saat itu RS Full Bed dipenuhi pasien Covid 19,” tambah Irma terkait dengan pelayanan di shelter. 

Beberapa kegiatan lainnya yang juga dilakukan di shelter adalah FGD dengan pasien dan keluarga, Posyandu Lansia bekerjasama dengan Pemerintahan Kelurahan, pengajian bersama lingkungan dan Majlis Masjid sekitar Shelter, dan tempat melakukan vaksinasi, bekerjasama dengan Puskesmas dan POLRES/POLSEK.

Dalam proses kerjanya, 1 MK bertanggung jawab untuk bertugas di shelter secara bergiliran setiap harinya sesuai dengan jadwal piket yang telah ditentukan. Selain PS dan MK, beberapa kader juga turut bekerjasama dengan MK/PS melakukan CASE FINDING TB RO, ataupun berkunjung untuk berkonsultasi menangani permasalahan yang timbul saat pendampingan pasien TBC RO maupun SO.

 

Selain melakukan pendampingan, para PS dan MK juga mengadakan kegiatan sell out yang kegiatannya dilakukan di shelter sebagai Basis Stock. 

“Iya mba di masa pandemi kami membantu pasien yang memiliki usaha jual buah segar yang dikemas kemudian dibawa ke shelter dan kami jualkan langsung, maupun melalui WA Group “Pejuang Siger”. Usaha yang lain seperti minuman kemasan GURENJA (Gula Aren Jahe), usaha konektor hijab juga kami bantu pasarkan dengan cara dibeli sendiri ataupun promosi melalui WA Group”Pejuang Siger.” Pejuang Siger adalah group yang beranggotakan mantan pasien, pasien yang masih berobat, tenaga kesehatan, Kader, MK dan PS Mba,” tutur Irma Syafitri.

Dalam membantu pasien, Irma mengakui bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah bentuk rasa kepedulian untuk melindungi dan membantu pasien hingga sembuh. “Seyogyanya kami memberikan optimalisasi pelayanan kepada pasien dan juga masyarakat sekitar shelter untuk memberi rasa nyaman bagi yang membutuhkan dengan keberadaan,” ucap Irma. Bagi Irma, Shelter adalah Rumah Asa dimana bisa digambarkan secara umum mereka yang sudah mendapatkan pelayanan di shelter akan merasa senang.

Peringati Hari Tuberkulosis Sedunia Komunitas Eliminasi TBC Kabupaten Serang Mengadakan Penyuluhan Kepada Masyarakat Desa Sanding

Perkasanews.com, Serang – Diketahui bahwa Komunitas Eliminasi TBC, adalah tim koordinasi antara pemerintah baik Kabupaten, Kecamatan, Desa dan semua elemen masyarakat, untuk penanganan, pencegahan, dan pengobatan TBC, acara penyuluhan bertempat di Aula Kantor Desa Sanding Kecamatan Petir, Kabupaten Serang. Sabtu 26/03/2022

Dalam acara tersbut di hadiri Kepala Desa Sanding, Kader, warga masyarakat Desa Sanding, pemerintah Kecamatan Petir yang di wakil, Kepala Puskesmas Kecamatan Petir, dan penanggung jawab Tuberkulosis.

Selaku ketua koordinator Eliminasi TBC Sidik menjelaskan kami dari koordinator akan bergerak menggandeng semua pemerintah Desa yang ada di Kabupaten Serang untuk melakukan penyuluhan.

“Dalam hal ini Alhamdulillah untuk pertama kali kita adakan penyuluhan warga masyarakat di Desa Sanding Kecamatan Petir, dan mudah-mudahan untuk selanjutnya kita bisa merembukan dengan pemerintah Desa untuk mengembangkan penyuluhan terkait bahaya dan penanganan penyakit TBC sesuai dengan peraturan presiden nomor 67 tahun 2021 tentang penanggulangan tuberkorosis”, jelasnya sabtu 26/03/22

Rosid Kepala Desa Sanding dalam sambutanya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam giat ini, dan kami dari Pemerintah Desa Sanding sangat mengapresiasi kepada semua pihak yang terlibat.

“Mudah-mudahan dengan adanya program ini mendukung warga masyarakat Desa Sanding khususnya untuk lebih sadar akan menjaga kesehatan dan menjadi program edukasi hidup bersih dan sehat” ucapnya sabtu 26/03/22

Selain itu Agus Kusuma, selaku Kepala Puskesmas Kecamatan Petir dalam sambutanya menjelaskan TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan penyakit paru-paru akibat kuman (Mycobacterium tuberculosis), penyakit ini pun termasuk penyakit ke 7 berbahaya di Dunia, dengan gejala berupa batuk yang berlangsung selama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak dan terkadang mengeluarkan darah,

“Selain menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama, penderita TBC juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti, demam, lemas, berat badan turun, tidak nafsu makan, nyeri dada dan berkeringat di malam hari”

“Satu orang dalam keluarga yang positif TB maka dalam satu keluarga kemungkinan besar akan tertular, karena penyakit TBC gampang sekali menular, melalui kontak secara langsung dengan orang yang positif TBC, dan percikan pernapasan. Penyakit TBC ini bisa disembuhkan dengan catatan rutin berobat selama enam bulan dan menjaga kesehatan” jelasnya. Sabtu 26/03/22

Red:P03/Idris

Peringati Hari Tuberkulosis Sedunia Komunitas Eliminasi TBC Kabupaten Serang Adakan Penyuluhan

Perkaranusantara.net, Serang Diketahui bahwa Komunitas Eliminasi TBC, adalah tim koordinasi antara pemerintah baik Kabupaten, Kecamatan, Desa dan semua elemen masyarakat, untuk penanganan, pencegahan, dan pengobatan TBC, acara penyuluhan bertempat di Aula Kantor Desa Sanding Kecamatan Petir, Kabupaten Serang Banten. Sabtu 26/03/2022

Dalam acara tersbut di hadiri Kepala Desa Sanding, Kader, warga masyarakat Desa Sanding, pemerintah Kecamatan Petir yang di wakil, Kepala Puskesmas Kecamatan Petir, dan penanggung jawab Tuberkulosis.

Selaku ketua koordinator Eliminasi TBC Sidik menjelaskan kami dari koordinator akan bergerak menggandeng semua pemerintah Desa yang ada di Kabupaten Serang untuk melakukan penyuluhan.

“Dalam hal ini Alhamdulillah untuk pertama kali kita adakan penyuluhan warga masyarakat di Desa Sanding Kecamatan Petir, dan mudah-mudahan untuk selanjutnya kita bisa merembukan dengan pemerintah Desa untuk mengembangkan penyuluhan terkait bahaya dan penanganan penyakit TBC sesuai dengan peraturan presiden nomor 67 tahun 2021 tentang penanggulangan tuberkorosis”, jelasnya sabtu 26/03/22

Rosid Kepala Desa Sanding dalam sambutanya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam giat ini, dan kami dari Pemerintah Desa Sanding sangat mengapresiasi kepada semua pihak yang terlibat.

“Mudah-mudahan dengan adanya program ini mendukung warga masyarakat Desa Sanding khususnya untuk lebih sadar akan menjaga kesehatan dan menjadi program edukasi hidup bersih dan sehat” ucapnya

Selain itu Agus Kusuma, selaku Kepala Puskesmas Kecamatan Petir dalam sambutanya menjelaskan TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan penyakit paru-paru akibat kuman (Mycobacterium tuberculosis), penyakit ini pun termasuk penyakit ke 7 berbahaya di Dunia, dengan gejala berupa batuk yang berlangsung selama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak dan terkadang mengeluarkan darah,

“Selain menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama, penderita TBC juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti, demam, lemas, berat badan turun, tidak nafsu makan, nyeri dada dan berkeringat di malam hari”

“Satu orang dalam keluarga yang positif TB maka dalam satu keluarga kemungkinan besar akan tertular, karena penyakit TBC gampang sekali menular, melalui kontak secara langsung dengan orang yang positif TBC, dan percikan pernapasan. Penyakit TBC ini bisa disembuhkan dengan catatan rutin berobat selama enam bulan dan menjaga kesehatan” tutupnya

Reporter : Idrus.           Editor : Akmal

Pentingnya Peranan Masyarakat Untuk Bebas TBC Di Kecamatan Bojonegara

Peringatan TBC Sedunia, Puskesmas Bojonegara mengadakan acara TBC Selamatkan Bangsa, Putri Banyuwangi kiri, Siti Novianti memberikan pemaparan tentang gejala, penularan, pengobatan dan pemutusan rantai penyebaran TBC di Kecamatan bojonegara, dan Sulasmi Moderator kanan. Kamis, 24 Maret 2022. Sobirin/Bantenaktual.com

Cilegon, Bantenaktual.com — TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TBC adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC akan menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah.

Memperingati hari TBC sedunia Puskesmas Bojonegara mengadakan acara dengan tagline investasi untuk elemenasi TBC selamatkan bangsa di Puskesmas Bojonegara. Kamis, 24 Maret 2022.

Pada acara tersebut Siti Novianti Dokter Umum Puskesmas Bojonegara memberikan pemaparan tentang gejala, penularan, pengobatan dan pemutusan rantai penyebaran TBC di Kecamatan bojonegara.

“Ciri- ciri TBC itu seperti suara serak, sakit tenggorokan, sesak napas, nyeri ulu hati, rasa asam di mulut, pilek atau hidung tersumbat, dan terasa ada lendir menetes di belakang hidung ke tenggorokan,” terangnya.

Lanjut Siti, secara data Indonesia menduduki peringkat ke 2 didunia setelah India, dan Kecamatan Bojonegara ada di peringkat 10 besar dengan tingkat kasus TBC tertinggi di Kabupaten Serang.

“Penularan TBC itu Saat penderita TBC batuk atau bersin, penderita TBC dapat menyebarkan kuman yang terdapat dalam dahak ke udara. Dalam sekali batuk, penderita TBC dapat mengeluarkan sekitar 3.000 percikan dahak, TBC tidak menular melalui kontak fisik (seperti berjabat tangan) atau menyentuh peralatan yang telah terkontaminasi bakteri TBC. Selain itu, berbagi makanan atau minuman dengan penderita TBC juga tidak menyebabkan seseorang tertular penyakit ini.” jelasnya.

Lebih lanjut siti mengungkapkan, tahapan pengobatan TBC yaitu tahap awal (Intensif) berlangsung sejak memulai pengobatan hingga 2 bulan, dimana pasien TBC diwajibkan meminum obat setiap hari dan tahap lanjutan sejak bulan ke 2 hingga bulan ke 6 atau lebih. Pada tahap ini, pasien hanya diwajibkan meminum obat 3x seminggu.

“Kami berharap kepada masyarakat Bojonegara jangan takut untuk memeriksakan kesehatannya terhadap rasa sakit yang dirasakan di Puskesmas Bojonegara,” harapnya.

Putri Banyuwangi kader TBC Kecamatan Bojonegara yang tergabung juga di Konsorsium Komunitas Penabulu STPI Kabupaten Serang mengatakan dalam upaya melakukan Eliminasi TBC di Kabupaten serang umumnya, khususnya di wilayah tempat tinggal dan lingkungan sekitar kader Puskemas Bojonegara. untuk saat ini jumlah Indeks Kasus (Pasien) TBC sebanyak 56 orang di Kecamatan Bojonegara, sedangkan pasien di tahun 2021 berjumlah 93 orang.

“Kita berharap kedepan Eliminasi TBC ini bisa dilakukan secara bersama-sama dengan pemerintahan yang ada di Kecamatan Bojonegara terutama pemerintahan Desa sebagai implementasi dari Perpres (Peraturan Presiden) No.67 Tahhn 2021 tentang Penanggulangan Tuberkolusis yang strategi pelaksanaannya berbasis kewilayahan,” harap Putri. (Sobirin/Red)

Perdhaki TBC Kab. Sumba Barat Daya Bersama KAREKA Sumba Salurkan Paket Sembako kepada Pasien TBC

Liputan6.com, Jakarta – Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan di dunia. Dibutuhkan kerja lintas sektor untuk bergerak bersama dalam mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.

Dalam rangka memperingati HTBS (Hari Tuberkulosis Sedunia), SSR PERDHAKI Program TBC Kab. Sumba Barat Daya menggandeng Komunitas Relawan Kemanusiaan atau yang biasa disingkat dengan sebutan KAREKA SUMBA, adalah komunitas sosial berbasis kerja relawan yang berada di pulau sumba, tepatnya di Waitabula, Sumba Barat Daya – NTT.

Komunitas ini berfokus pada isu literasi, sosial, kesehatan dan Pendidikan. Sering melakukan kegiatan-kegiatan sosial di pulau sumba dengan berkolaborasi dengan beberapa pihak, baik perorangan, kelompok, Lembaga dan perusahan. Komunitas ini berdiri sejak 14 oktober 2014.

Tema Hari TB Sedunia 2022 adalah “Invest to End TB. Save Lives” atau “Investasi untuk menghentikan TB. Menyelamatkan nyawa”. Tema ini memberikan pesan kepada kita untuk menginvestasikan sumber daya meningkatkan perjuangan melawan TB dan mencapai komitmen untuk mengakhiri TB yang dibuat oleh para pemimpin global.

Dengan semangat yang sama dan kerja kolaborasi KAREKA Sumba bersama SSR PERDHAKI Program TBC Kab. Sumba Barat Daya Menggalang Open Donasi selama bulan Maret 2022 dan terkumpul Dana sebesar Rp. 15.500.000,-. Dengan dana yang terkumpul ini dilakukan pengadaan Telur 130 Rak dan Beras 5 Kg sebanyak 130 Karung.

Telur dan beras ini menjadi paket yang didistribusikan ke 9 Puskesmas di Kabupaten Sumba Barat Daya Wilayah dampingan SSR PERDHAKI Program TBC Kab. Sumba Barat Daya dibantu oleh Pengelola TBC Masing-masing Puskesmas dan Kader TBC Perdhaki.

Paket ini dibagikan dalam dua hari yakni Rabu, 23 Maret 2022 kepada pasien di wilayah Puskesmas Waimangura, Weekombak, Tenggaba, Elopada dan Palla. Sedangkan pada Kamis, 24 Maret 2022 Paket disalurkan untuk pasien di wilayah Puskesmas Watukawula, Kori, Kawango Hari dan Bondo Kodi.

Ronald Asto Perwakilan dari SSR PERDHAKI Program TBC Kab. Sumba Barat Daya mengatakan: “Terima kasih kami untuk pihak Komunitas KAREKA Sumba yang sudah berkenan untuk berkolaborasi dan menggalang dana sehingga bisa terkumpul sejumlah Rp. 15.500.000,-. Dari dana tersebut yang digunakan untuk pengadaan sembako lalu disalurkan kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan TBC. Kami juga berterima kasih kepada semua pihak yang dengan caranya masing-masing sudah mendukung kegiatan ini, terkhususnya para penyumbang donasi yang mendukung kegiatan ini.”

“Semoga kerja sama baik ini bisa terus dilanjutkan dan kerja kolaborasi ini sebagai wujud kepedulian bersama semua elemen  terhadap masalah  TBC di Kab. Sumba Barat Daya,” tambahnya.

Benya Manulena, Selaku Sekretaris komunitas KAREKA Sumba, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi karena bisa berkolaborasi dengan PERDHAKI.

“Harapan kami, paket ini bisa memberikan manfaat bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan, dan bisa membantu mereka dari segi gizi dan nutrisi. Semoga ke depan bisa terus kerja sama untuk Sumba yang lebih baik.”

Hal senada juga disampaikan oleh Yustina Dendo, Selaku Wasor TBC Kab. Sumba Barat Daya. “Kami berterima kasih atas kerja sama ini, paket ini sangat bermanfaat bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan TBC di wilayah dampingan Perdhaki TBC. Semoga kegiatan-kegiatan begini terus diadakan setiap tahun.”

Terpantau pendistribusian paket ini, dipimpin langsung oleh bung Irwan Api, Andrys Rina, Rafael, Rifal dan Ades.