Country Team The Global Fund Menilik Program Eliminasi TBC di Indonesia

Perlu diketahui bersama bahwa pada tahun 2024-2026 Indonesia kembali mendapatkan dukungan The Global Fund untuk melanjutkan program pencegahan dan penanggulangan HIV, TBC, dan Malaria, serta memperkuat RSSH dengan total dukungan sejumlah USD 309,743,581 ditambahkan dengan pendanaan untuk C19RM sejumlah USD 26 juta. Implementasi dukungan tersebut dilaksanakan oleh 8 penerima hibah utama atau Principal Recipient (PR) hibah Global Fund tahun 2024-2026 salah satunya untuk komponen TBC yaitu PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.

Muhammed Yassin membaca factsheet yang berisi kerja komunitas selama 2021-2023

Untuk mengetahui perkembangan capaian program TBC yang didukung dengan hibah Global Fund dan melihat pelaksanaan di lapangan, Country Team Global Fund melaksanakan site visit ke Jakarta, Jawa Tengah (Kota Semarang), dan Jawa Timur (Kota Surabaya) pada tanggal 24 Januari 2024 dan 26-29 Januari 2024. Di Jakarta, Country Team berkunjung ke RSPI Prof. Sulianti Saroso untuk melihat perkembangan program TBC di fasilitas kesehatan, termasuk layanan TBC RO, implementasi regimen BpaL/M, TPT, TB HIV dan lab.  (WGS) di Rumah Sakit, serta menyapa dan berdiskusi dengan pasien supporter dan pasien TBC.

Sambutan Direktur RSPI Prof. Sulianti Saroso

Visitasi The Global Fund di RSPI Prof. Sulianti Saroso dilaksanakan dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Kegiatan yang melibatkan banyak pihak tersebut seperti Dinas Kesehatan Jakarta, Komunitas, TWG TB, CCM, pihak Rumah Sakit dan Kementerian Kesehatan RI dibuka dengan sambutan dari direktur utama RSPI dr.Alvin Kosasih, Sp.P, MKM. Sambutan juga disampaikan oleh Country Team The Global Fund Muhammed Yassin. Dalam sambutannya, Muhammed Yassin sangat antusias dengan sambutan yang diberikan oleh seluruh pihak Rumah Sakit dan jajarannya. Beliau pun berpesan bahwa semoga seluruh program TBC yang dilaksanakan pada grant cycle 7 dapat terlaksana dengan optimal dan mendukung terciptanya eliminasi TBC di Indonesia.

Country Team The Global Fund melihat ruang pelayanan pasien TBC SO

Setelah pemberian sambutan dan diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke ruang pelayanan TBC di RSPI Prof. Sulianti Saroso. Country Team The Global Fund dengan didampingi oleh rumah sakit, komunitas, kemenkes dan mitra melihat bagaimana implementasi pelayanan pasien TBC.  Dalam kesempatannya, Country Team The Global Fund berkunjung ke ruang konseling pasien TBC RO, ruang pemeriksaan dan layanan TBC SO, ruang pemeriksaan dan layanan TBC RO, dan laboratorium.

Visitasi Country Team The Global Fund ke ruang layanan konseling pasien TBC

Di akhir kegiatan kunjungan, Muhammed Yassin berkesempatan untuk bertemu dan menyapa pasien TBC RO yang sedang mengambil obat di RSPI. Beliau juga berkesempatan untuk memberikan sertifikat sembuh kepada pasien TBC RO yang telah menyelesaikan pengobatan. Hingga saat ini, hibah The Global Fund memberikan andil besar dalam eliminasi TBC di Indonesia. Country Team The Global Fund tentunya memiliki harapan bahwa dengan dilanjutnya pemberian hibah kepada Indonesia dapat meningkatnya notifikasi kasus dan kesembuhan pasien TBC dalam pengobatan hingga selesai.

 

Percepat Kesembuhan TBC, KMP Simpang Empat Sigap Memberikan Bantuan Sembako Untuk Pasien TBC

Seperti yang kita ketahui bersama, TBC adalah penyakit menular (bukan penyakit turunan) yang memerlukan pengobatan dengan durasi minimal 6 bulan. Pengobatan yang tidak dilakukan hingga tuntas dapat menyebabkan resisten sehingga waktu pengobatan lebih lama dan efek pengobatan yang dirasakan lebih terasa seperti mual, pusing, dan lainnya. Oleh karena itu, pasien TBC harus dipastikan benar-benar sembuh saat melakukan proses pengobatan, terlebih obat yang diminum diberikan secara gratis oleh pemerintah. 

Pada tahun 2022, angka keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat di Indonesia pada tahun 2022 sebanyak 85%. Sementara angka keberhasilan pengobatan TBC resisten obat di Indonesia tahun 2022 secara umum keberhasilannya 55% (Global TB Report 2022). Sehingga, perlu adanya pemaksimalan dukungan keberhasilan pengobatan yang diberikan baik dari pemerintah maupun komunitas untuk menjamin kesembuhan para pasien TBC. 

Menurut studi yang dilakukan oleh  Ivan S. Pradipta (dkk) yang dipublikasikan di BMC Public Health ini mengungkap beberapa permasalahan faktual yang dihadapi oleh pasien TBC di Indonesia sehingga menyebabkan terjadinya kegagalan pengobatan TBC. Setidaknya ada tiga permasalahan utama yang menyebabkan kegagalan terapi pasien TBC, yakni: masalah sosio-demografi dan ekonomi, pengetahuan dan persepsi, dan efek pengobatan TBC. Terutama pada aspek ekonomi, walaupun biaya obat TBC telah ditanggung pemerintah, pasien TBC tetap perlu merogoh kocek untuk biaya transportasi dan memenuhi kebutuhan primer keluarganya. 

Merespon hal tersebut, Komunitas Masyarakat Peduli Tuberkulosis (KMP TBC) hadir dengan melibatkan masyarakat untuk turut aktif dalam mendukung program-program TBC di grassroot. PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mendukung terciptanya KMP di wilayah-wilayah intervensi komunitas salah satunya di Kalimantan Selatan dengan adanya KMP di wilayah Tanah Bumbu. Sejak berdiri tahun 2021, KMP Simpang Empat telah aktif melakukan advokasi ke pemerintah lokal, CSR, organisasi dan stakeholder lainnya untuk memberikan dukungan mereka terhadap keberhasilan pengobatan pasien TBC melalui pemberian sembako. Rudy Farianor selaku SR Manager Kalimantan Selatan menyampaikan bahwa, “Kami melakukan identifikasi dan mengajak mitra potensial untuk berpartisipasi aktif mendukung pasien TBC dengan pemberian bantuan terutama dalam bentuk sembako. Kita pasti mengerti bahwa adanya efek obat TBC membuat para pasien tidak dapat beraktifitas secara produktif, oleh karena itu kami arahkan ke pemberian sembako agar kebutuhan sehari-hari mereka dapat terbantu dengan adanya bantuan dari kami,” ucapnya.

Di akhir tahun 2023, KMP Simpang Empat bekerja sama dengan DPD KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Tanah Bumbu memberikan bantuan kepada 12 pasien TBC SO di desa Bersujud dan Tungkaran Pangeran, Tanah Bumbu. Kegiatan tersebut merupakan hasil dari advokasi apik yang dilakukan oleh KMP Tanah Bumbu dengan KNPI Tanah Bumbu. Saat ini, pendistribusian sembako telah diberikan kepada 6 pasien atas nama Khairunnisa, Nana, Sahuri dan Ahmad Dhani dari desa Bersujud serta Viona dan Misnawati dari desa Tungkaran Pangeran. Selanjutnya, 6 pasien lainnya yang belum diberikan sembako akan didistribusikan pada bulan Januari ini. Dalam implementasinya, nama-nama indeks dengan kondisi yang kurang mampu disediakan dari kader TBC. Selanjutnya, nama-nama indeks tersebut di advokasikan kepada mitra agar berkenan memberikan bantuan kepada pasien TBC yang sudah dituliskan. Rusniansyah selaku Ketua KMP Simpang Empat Tanah Bumbu menyampaikan bahwa “kegiatan ini akan menjadi kegiatan rutin yang dilakukan KMP dan membangun jejaring lain menjadi target kami tahun 2024 ini”.

Selain itu, SR Kalimantan Selatan terus melaksanakan advokasi melalui kegiatan pertemuan dengan pejabat desa dan fasyankes setempat agar pemberian dana desa dapat diberikan kepada pasien TBC di wilayah Kalimantan Selatan. “Kami rutin melibatkan pemerintah desa untuk hadir dalam pertemuan bersama dengan fasyankes dan mitra lainnya. Pada pertemuan itu, kami menjabarkan data riil pasien TBC dan selanjutnya data tersebut lah yang akan mendapatkan bantuan BLT dari desa,” jelas Rudy.  

Kedepannya, kegiatan pemberian sembako akan gencar dilaksanakan dengan menargetkan mitra untuk berpartisipasi dalam aktivitas ini. Harapannya, pemberian sembako juga dapat menyasar pasien TBC kecamatan lainnya di wilayah Tanah Bumbu. 

Konsolidasi Nasional Program Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Periode 2024–2026 : Optimisme Menuju Indonesia Bebas TBC Tahun 2030

Global Tuberculosis Report (GTR) tahun 2022 mencatat bahwa negara peringkat kedua dengan kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia adalah Indonesia. Dalam menanggulangi TBC, Indonesia mendapatkan dukungan dana dari The Global Fund yang dihibahkan kepada pemerintah Indonesia dan komunitas untuk saling berkolaborasi. Pemerintah menuangkan komitmen politik untuk mengeliminasi TBC dengan memastikan ketersediaan kebijakan dan anggaran untuk penanggulangannya. Sejalan dengan hal tersebut, pihak komunitas berperan untuk melakukan proses pencegahan, penemuan dan pendampingan kasus TBC hingga sembuh yang disertai dengan kegiatan kemitraan dan advokasi. Komunitas telah berkontribusi pada capaian penemuan kasus dan pengobatan pasien TBC melalui PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI. 

National Program Director bersama para manajer menyampaikan implementasi program periode 2024-2026

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dibentuk dan berkolaborasi dalam menanggulangi TBC melalui dana hibah the Global Fund untuk periode tahun 2021–2023. Sepanjang tahun 2021 hingga 2023 Konsorsium Penabulu-STPI terus meningkatkan capaian target indikator dengan penanda rating yang meningkat setiap semesternya; capaian semester-1 sebesar 24%, semester-2 sebesar 46%, semester-3 sebesar 66%, semester- sebesar 4 81%, semester 5 sebesar 78%, dan diproyeksikan semester-6 mampu mencapai 90%. 

Pada tahun 2024–2026, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI kembali mendapatkan mandat dari The Global Fund sebagai Principal Recipient untuk menjalankan program Eliminasi TBC di Indonesia dengan beberapa penyesuaian indikator utama hingga rincian kegiatan yang mengacu pada Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020–2024. Sebagai salah satu tahapan persiapan pelaksanaan program tahun 2024–2026, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan pembaruan informasi dan penyusunan strategi program. Hal ini akan diupayakan melalui kegiatan Konsolidasi Nasional Program PR Konsorsium Penabulu-STPI Tahun 2024–2026.

Pertemuan Konsolidasi Nasional Program PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI tahun 2024–2026 menjadi agenda penting bersama untuk melakukan pembaharuan informasi dan pembaruan strategi implementasi mengacu proses pelaksanaan program di tahun 2021–2023. Kegiatan pertemuan Konsolidasi Nasional Program PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dilaksanakan selama 5 hari dengan mendatangkan narasumber-narasumber ahli di bidangnya.

Sesi diskusi bersama dr.Imran Pambudi, MPHM selaku Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI

Kegiatan hari pertama diawali dengan kedatangan peserta, registrasi peserta, briefing dan konsolidasi internal tim PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI untuk mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan koordinasi serta tindak lanjut. Pada hari kedua, kegiatan dimulai dengan pembukaan dan  sambutan yang disampaikan oleh Ibu Heny Prabaningrum selaku National Program Director, Nurul Nadia Luntungan selaku Authorized Signatory, Prof.dr. Adang Bachtiar selaku ketua TWG TB Indonesia, dan dr. Imran Pambudi selaku Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dari Kementerian Kesehatan RI. Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang terdiri dari 3 panel dengan topik: a) update situasi TBC dan strategi nasional untuk eliminasi TBC dalam konteks komunitas (diskusi panel 1), b) Peluang Kolaborasi untuk Memperkuat Peran Komunitas dalam Eliminasi TBC di Indonesia (diskusi panel 2), dan c) Best Practices 4 Indikator Utama PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI. Selain itu, Ibu Heny sebagai NPD turut mengisi sesi di hari kedua dengan memberikan refleksi peran Komunitas tahun 2021–2023 (catatan penting pelaksanaan program oleh PR Komunitas).

Pemaparan hasil diskusi kelompok pada sesi Behaviour Changes Communication

Di hari ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan update kebijakan PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI tahun 2024–2026 seperti struktur PR dan SR, Preventing Sexual Exploitation, Abuse, and Harassment (PSEAH), penjelasan program tahun 2024-2026, dan Pedoman Pelaksanaan Program (PPP) yang disampaikan oleh para manajer. Setelahnya, kegiatan diisi dengan sesi diskusi panel yang terdiri dari topik Peran CSO dalam Memperkuat Komunitas (diskusi panel 4) dan Pelaksanaan IK untuk Penemuan Kasus TBC di Indonesia (diskusi panel 5) dengan mendatangkan narasumber-narasumber ahli dibidangnya. Sesi expert session juga dilaksanakan dengan mendatangkan Ibu Vida selaku konsultan dalam penyusunan strategi komunikasi Behaviour Changes Communication  dan beberapa peneliti seperti Ibu Christa Dewi dari WHO (tim peneliti KAP TB), Ibu Trisasi Lestari dari tim peneliti OR IK, dan Ibu Nurliyanti dari tim peneliti CHW CHV STPI. 

Penyampaian Panduan Implementasi Program (PIP) periode 2024-2026 oleh Program Manager

Di hari keempat, kegiatan lebih diarahkan dengan penjelasan Panduan Implementasi Program (PIP) periode 2024-2026 yang disampaikan oleh Program Manager dan MEL Manager dengan melaksanakan Forum Group Discussion (FGD). Kegiatan diskusi panel juga dilanjutkan dengan beberapa topik seperti Pemberian TPT dalam Upaya Pencegahan TBC di Indonesia (diskusi panel 7) dan Strategi Advokasi Pelibatan Komunitas dalam Penanggulangan TBC di Indonesia (diskusi panel 8). Selain itu, panel terkait Strategi Penghapusan Stigma dan Diskriminasi untuk Menciptakan Lingkungan yang Kondusif dalam Penemuan Kasus TBC di Indonesia juga disampaikan oleh Konsultan Human Right untuk Program GF di Indonesia agar menambah wawasan peserta terhadap diskriminasi bagi pasien TBC. 

Pemberian penghargaan kepada SR Jawa Tengah sebagai SR dengan capaian terbaik

Di hari akhir, kegiatan diisi dengan team building, penyampaian hasil kelas, performance, dan pemberian penghargaan bagi para SR dengan capaian terbaik.  Hal ini dilaksanakan guna mempererat hubungan sesama peserta dan menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik di setiap level. Pada kesempatan tersebut, Ibu Heny Prabaningrum selaku NPD juga berpamitan karena harus menyelesaikan mandatnya sebagai NPD selama periode 2021-2023. Beliau berpesan agar segala sesuatu yang akan dan telah dilaksanakan selama ini dapat memberikan dampak yang baik, terutama untuk pasien tuberkulosis. 

Foto bersama seluruh peserta Rapat Koordinasi Nasional

Adanya momentum ini diharapkan dapat menyatukan kesepahaman bersama antara PR Konsorsium Penabulu-STPI, SRs, pemerintah, dan mitra mengenai indikator kinerja, rencana kerja PR serta rencana implementasi tahun 2024–2026 (PPP, PIP, IAM, M&E Plan). Selain itu, Yuniar Ika Fajarini sebagai Ketua Panitia Rakornas 2023 menyampaikan bahwa, “Kegiatan ini berhasil dilaksanakan berkat kerja keras dan sinergi seluruh tim panitia, serta partisipasi aktif semua peserta. Kami berusaha menyediakan wadah kegiatan yang mendukung pertukaran ide dan kolaborasi antar stakeholder, sehingga mampu menghasilkan solusi-solusi inovatif untuk tantangan yang dihadapi saat ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut serta dalam kesuksesan Rakornas 2023. Saya yakin, dengan semangat kolaborasi dan tekad untuk terus berinovasi, kita mampu mencapai impian besar kita: eliminasi TBC di Indonesia. Bersama, kita bisa membuat perubahan yang nyata!.” 

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Melaksanakan Skrining TBC Kepada Ribuan Karyawan PT. Dua Kelinci dan PT. Handal Sukses Karya

Indonesia merupakan salah satu dari negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia. WHO memperkirakan insiden tahun 2022 sebesar 969.000 atau 367 per 100.000 penduduk, sedangkan TB-HIV sebesar 36.000 kasus per tahunnya atau 14 per 100.000 penduduk. Kematian karena TBC diperkirakan sebesar 107.000 atau 40 per 100.000 penduduk dan kematian akibat TB-HIV sebesar 9.400 atau 4 per 100.000 penduduk. Dengan estimasi insiden sebesar 969.000 kasus tahun 2022 dan notifikasi kasus TBC sebesar 443.235 kasus, maka masih ada sekitar 55% kasus masih belum ditemukan dan diobati (un-reach) atau sudah ditemukan dan diobati tetapi belum tercatat oleh program (detected, un-notified). Kondisi ini membuat negara Indonesia masih berjuang dalam menuju eliminasi TBC tahun 2030.

Pelaksanaan Skrining Pencegahan Tuberkulosis di PT. Handal Sukses Karya, Jepara, Jawa Tengah

Sebagai bagian dari mendukung akselerasi peningkatan penemuan kasus dan ikhtiar menuju Indonesia bebas TBC tahun 2023, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan kegiatan Skrining Pencegahan Tuberkulosis berbasis Tempat Kerja yang dilaksanakan di Jawa Tengah bersama dengan SR MSI (Mentari Sehat Indonesia). Kegiatan skrining ini adalah kegiatan active case finding menggunakan teknologi AI berbasis tempat kerja yang mana pemilihan lokasi ditentukan dengan adanya keberadaan kasus di tempat kerja tersebut. Selama tahun 2023, implementasi skrining TBC menggunakan teknologi AI berhasil memeriksa kontak serumah dan kontak erat sebesar 16.571 peserta di 17 Kabupaten-Kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur per tanggal 22 November 2023.

Pemeriksaan kesehatan fisik kepada seluruh karyawan PT. Dua Kelinci meliputi tensi, berat badan, gula, darah dan kolesterol

Melalui proses advokasi dan jejaring yang luas, SR Mentari Sehat Indonesia bersama dengan Dinas Kesehatan setempat berhasil menggandeng PT. Dua Kelinci dan PT. Handal Sukses Karya untuk berkolaborasi dalam melaksanakan skrining TBC serta skrining kesehatan kepada ribuan karyawan di perusahaannya. Skrining TBC di PT. Dua Kelinci dilaksanakan pada tanggal 12-14 September 2023, sedangkan di tanggal 15 September 2023 kegiatan skrining dilaksanakan di PT. Handal Sukses Karya. 

Antusiasme peserta saat mendapatkan media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) TBC saat menunggu antrian skrining

“Saya merasa terbantu dengan adanya program skrining TBC dan kesehatan di PT. Dua Kelinci Kabupaten Pati. Anggaran yang terbatas dari pemerintah membuat kami tidak masif melaksanakan skrining di tempat kerja dengan target ribuan karyawan, namun adanya komunitas membuat hal-hal seperti ini dapat dilaksanakan. Kami pun akan terus mendukung program – program selanjutnya dari komunitas,” ucap Ibu Yanti Kepala Tim Kerja TBC Kabupaten Pati.

Selain itu, pihak perusahaan sangat menyambut baik adanya kegiatan ini. Ibu Aris Windarsih selaku Human Resource Development (HRD) menyampaikan bahwa penularan TBC sangat riskan dan mudah terjadi dengan kondisi pekerja yang saling berhubungan dan berdekatan. Oleh karena itu, ketika PT. Dua Kelinci mendapat penawaran skrining, PT. Dua Kelinci merasa sangat terbantukan sehingga PT. Dua Kelinci juga dapat melakukan deteksi secara dini kepada karyawan-karyawannya. Pendapat positif lainnya juga disampaikan oleh Ibu Eni selaku General Manager dari PT. Handal Sukses Karya Jepara. “Kami sangat antusias ketika mendapatkan kerjasama ini. Karena kami bisa memastikan kesehatan pekerja kami dengan bantuan dari komunitas dan dinas kesehatan, serta mencegah terjadinya penularan TBC di lingkungan perusahaan kami,” ucapnya.

Pemberian edukasi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di tempat kerja kepada seluruh karyawan

Hingga saat ini, skrining pencegahan tuberkulosis di tempat kerja telah menyasar 1.685 karyawan PT. Dua Kelinci dan total 976 karyawan yang di skrining di PT. Handal Sukses Karya. Selanjutnya pada tanggal 18-19 September 2023, skrining TBC juga akan dilanjutkan di PT. Apparel One Indonesia di Semarang. 

Semoga, kegiatan Skrining Pencegahan TBC Berbasis Tempat Kerja dapat diimplementasikan secara rutin dengan menargetkan lebih banyak perusahaan sehingga dapat meningkatkan angka penemuan kasus, serta mewujudkan Indonesia Bebas TBC 2030. 

Komitmen Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dalam Melanjutkan Mandat Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia tahun 2030

Pada tahun 2024–2026, PR Konsorsium Penabulu-STPI (PB-STPI) kembali mendapatkan mandat sebagai Principal Recipient (PR) Komunitas untuk kembali menjalankan program Eliminasi TB di Indonesia. Dengan beberapa penyesuaian indikator utama hingga details kegiatan mengacu pada Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020–2024, PR Konsorsium PB-STPI akan melaksanakan program di 190 kabupaten/kota pada tahun 2024 dan 229 kabupaten kota pada tahun 2025–2026.

Tanggal 27 November – 1 Desember 2023, PR PB-STPI melaksanakan kegiatan Workshop Konsolidasi Strategi Program 2024–2026. Kegiatan tersebut menjadi agenda penting untuk melakukan pembaharuan informasi, pembaruan strategi implementasi sesuai dengan perkembangan dan capaian kontribusi komunitas dalam penanggulangan TBC selama tahun 2021–2023. Selain itu, pertemuan ini digunakan sebagai ruang diskusi bersama untuk memperkuat tools perencanaan, monitoring dan evaluasi dari aspek program, keuangan, pengelolaan pengetahuan dan manajemen data.

Workshop Konsolidasi Strategi Program 2024-2026 ini diikuti oleh seluruh komponen PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI meliputi Authorized Signatory (AS), Management Advisory Team (MAT), para Manajer, Koordinator dan Staff dengan membawa harapan bahwa terdapat keluaran hasil yang diharapkan sesuai tujuan seperti kesepahaman grant cycle 7 2024–2026. Terutama pada tersusunnya beberapa dokumen penunjang kegiatan, yaitu: a. Pedoman Pelaksanaan Program (PPP), b.  Panduan Implementasi Program (PIP), c. Rencana Monitoring dan Evaluasi (M&E Plan), dan Rencana Kegiatan 2024–2026 (PoA), serta terciptanya simulasi dan input penggunaan aplikasi enabler.

Selanjutnya, hasil dari kegiatan Workshop akan menjadi landasan dalam pertemuan Konsolidasi Nasional Program Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI yang akan melibatkan seluruh SR dan beberapa SSR dengan capaian tinggi pada tanggal 17 -22 Desember 2023, di Bali. Semoga, Workshop Konsolidasi Strategi Program 2024–2026 yang melibatkan semua divisi kemudian dapat menjadi langkah awal untuk persiapan pelaksanaan program tahun 2024–2026 yang optimal.

 

Kontribusi Komunitas Masyarakat Peduli (KMP) Tuberkulosis dalam Mendukung Eliminasi TBC di Indonesia

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global hingga saat ini. Indonesia menjadi negara kedua terbesar pengidap TBC setelah India  dengan jumlah kasus diperkirakan mencapai 969.000 per tahun. TBC merupakan penyakit menular yang mempunyai gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, demam tinggi, berat badan dan nafsu makan menurun, lemas, dan berkeringat di malam hari. Perlu di garis bawahi, kasus kematian akibat TBC per tahun mencapai 200.000 atau lebih tinggi dari kematian akibat COVID-19.

Suasana anggota KMP Kahu, Bone saat melalukan Forum Group Discussion (FGD) di kegiatan peningkatan kapasitas anggota KMP

Untuk mengatasi masalah tersebut, dibutuhkan kerjasama dari semua pihak, termasuk masyarakat agar berpartisipasi langsung dalam eliminasi TBC di Indonesia. Salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam mengatasi TBC adalah dengan membentuk Komunitas Masyarakat Peduli (KMP) Tuberkulosis (TBC). Komunitas ini memiliki peran penting dalam mendukung eliminasi TBC di wilayah akar rumput.

Pada prinsipnya kerja KMP TBC adalah mengakomodasi kepentingan masyarakat terutama pasien dan penyintas TBC sebagai media komunikasi untuk saling bertukar informasi antar masyarakat. Sehingga keberadaannya menjadi salah satu modal sosial yang cukup besar guna membangun kekuatan di tingkat komunitas. 

KMP memberikan Pemberian Makanan Nutrisi (PMT) kepada pasien TBC SO

Saat ini, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI memiliki 14 KMP yang tersebar di beberapa wilayah intervensi. KMP memiliki keanggotaan yang terdiri dari beberapa lini profesi meliputi dosen, guru, perangkat desa (lurah/RT/RW), bidan, tenaga kesehatan, pemuda desa dan profesi-profesi lainnya. 

Berikut adalah beberapa pemanfaatan KMP TBC Komunitas dalam mendukung eliminasi TBC di wilayah intervensi komunitas:

  • Peningkatan Kesadaran

KMP TBC memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang TBC. Melalui berbagai program dan kegiatan seperti sosialisasi, edukasi door to door, dan kampanye, komunitas mampu memberikan edukasi dan informasi tentang TBC serta cara pencegahan dan pengobatannya secara akurat dan tepat sasaran.

  • Peningkatan Deteksi Dini

Sebagai bagian dari masyarakat, KMP TBC mempunyai akses yang makin lama makin luas ke seluruh lapisan masyarakat. Adanya keanggotaan KMP dari berbagai profesi salah satunya tenaga kesehatan memudahkan koordinasi dan konsolidasi KMP terhadap layanan kesehatan terkait. Hal ini memungkinkan KMP membantu komunitas dalam melakukan deteksi dini kasus TBC pada masyarakat yang bergejala TBC. Ini adalah langkah awal yang krusial dalam rangka pengendalian penyebaran TBC.

  • Pendorong Pengobatan yang Efektif

KMP TBC membantu memotivasi pasien TBC untuk mengikuti pengobatan sampai tuntas. Dengan menerapkan pendampingan yang intensif melalui pemberian dukungan psikososial bagi pasien TBC dari mantan pasien, KMP TBC dapat memastikan bahwa pengobatan TBC pada pasien dilaksanakan sesuai standar dan tepat waktu. Tersedianya program pemberian nutrisi bagi pasien TBC juga dapat mendukung dan memberikan semangat kepada pasien TBC agar menyelesaikan pengobatannya hingga akhir. 

  • Mendorong Partisipasi Aktif Masyarakat dalam Program Pengendalian TBC

KMP TBC mendorong partisipasi aktif masyarakat pada program pengendalian TBC di wilayahnya. Di mana pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat lokal dinilai lebih efektif dalam mencapai target eliminasi TBC, karena terdapat peran aktif masyarakat dalam proses pencegahan dan pengendalian TBC. Hal ini diwujudkan dengan keterlibatan aktif KMP TBC dalam kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Di beberapa wilayah, keluaran Musrenbang dengan keterlibatan KMP menghasilkan output berupa tersedianya Anggaran Dana Desa bagi isu TBC di wilayah masing-masing. Terlebih jika ada jumlah data pasien yang akuntabel, anggaran dana desa dapat dipersiapkan lebih untuk isu TBC di wilayah yang berkaitan. 

Anggota KMP turut berpartisipasi dalam kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa untuk memasukkan isu TBC ke dalam anggaran dana desa setempat

Dengan berjalannya program-program di atas oleh KMP TBC, diharapkan tingkat kesembuhan pasien TBC akan meningkat secara signifikan dan eliminasi TBC dapat terwujud pada tahun 2030.

Kolaborasi dengan Pemkab Ngawi, Yabhysa Gelar Skrining dan Pencegahan TBC Berbasis Masyarakat

Pencegahan penularan penyakit tuberculosis (TBC) terus diupayakan. Misi tersebut diemban Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera atau Yahbhysa dengan menggandeng Pemkab Ngawi. Sinergitas dalam program penanggulangan TBC tersebut terus berjalan dengan baik. Bulan Oktober ini, kedua pihak menggelar skrining kesehatan keliling wilayah di Ngawi. Contohnya di Puskesmas Pangkur, pada hari Jumat, 20 Oktober 2023. Di puskesmas setempat, digelar  skrining dan pengobatan gratis untuk masyarakat.

Situasi pelaksanaan skrining pencegahan tuberkulosis berbasis masyarakat di Puskesmas Pungkur, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur

”Kami bekerjasama dengan PT Tirta Medical Center dalam mendekatkan pelayanan ke beberapa kecamatan,” ujar Muhammad Via Pratama, Ketua Yabhysa Ngawi. Via mengatakan, pihaknya secara spesifik menyasar orang yang kontak serumah dengan penderita TBC. Adapun skrining tersebut sudah digelar di Kecamatan Widodaren, Paron, dan selanjutnya di Kedunggalar, Kendal, Geneng, Gerih juga Kecamatan Ngawi.

”Kegiatan serupa akan digelar di 10 kecamatan, hingga November mendatang,” kata Via. Via mengungkapkan, sasaran skrining ini berjumlah 1.600 orang. Dari jumlah itu sebanyak 295 sudah diperiksa dengan rontgen. Ditemukan 65 sasaran yang upnormal TB. Selanjutnya hasil skrining tersebut diserahkan ke puskesmas setempat untuk diperiksa lebih lanjut. ”Setelah ada temuan upnormal TB, akan diperiksa di laboratorium spesimen dahaknya,” jelasnya.

Via menilai antusias masyarakat dari program tersebut luar biasa. Dia mengakui keseriusan Pemkab dalam penanganan TBC tak setengah jalan. Itu terbukti dari dukungan sejumlah pemerintah desa yang turut memfasilitasi warganya untuk datang memeriksakan diri. Dengan mendukung mobilitas warga ke lokasi skrining.

Ketua Yabhysa Muhammad Via Pratama (paling kiri), bersama Forkopimcam Pangkur, perwakilan Dinkes Ngawi, dan para kader TBC, usai serah terima penghargaan.

 

 

 

Dinkes Ngawi sebagai mitra Yabhysa menyambut positif kegiatan ini. Sekretaris Dinkes Ngawi dr Heri Nur Fachrudin mengatakan bahwa program penanggulangan TBC di Ngawi bisa lebih cepat dan efektif melalui cara tersebut. Dalam tiga tahun terakhir, pihaknya berkolaborasi dengan Yabhysa berupaya menemukan lebih banyak kasus TBC di Ngawi. Dari target 1400 an di tahun 2023 ini nyatanya sudah menjaring 930 an kasus. ”Dari situ nantinya segera dilakukan pengobatan. Semakin cepat diobati semakin baik,” ungkapnya.

Heri menambahkan dari temuan skrining TBC pada penderita anak-anak nyatanya menjadi faktor yang mempengaruhi stunting. Sebab penderita mengalami ganguan tumbuh kembang karena penyakit tersebut khususnya pada balita. Karenanya diapun juga menghimbau agara masyarakat tak ragu memeriksakan diri ke puskesmas setempat. ”Terlebih untuk keluarga pasien ataupun siapa saja yang menderita batuk lebih dari dua minggu, secepatnya periksa ke puskesmas,” katanya.

Program skrining dan pencegahan TBC melayani rontgen gratis untuk masyarakat Pangkur dan sekitarnya

Kepala Puskesmas Pangkur dr Mochtar turut menyampaikan terimakasih dan dukungan dari terselenggaranya program tersebut. Pihaknya mengakui kegiatan skrining menggunakan mobil rontgen masih menjadi kendala bagi puskesmas. Karenanya kerjasama antara puskesmas, vendor dan Yabhysa dirasa lebih efektif dan efisien. ”Hasilnya akan lebih mudah ditemukan kalau menggunakan rontgen sehingga deteksi lebih dini kasus TBC lebih baik”, katanya. Pihaknya berharap program eliminasi TBC tahun 2030 berhasil. Sinergi antara pemerintah dan pihak pendukung diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan.

Shelter sebagai Rumah Singgah untuk Pasien Tuberkulosis Resisten Obat

Di tengah tantangan yang dihadapi oleh pasien tuberkulosis resisten obat (TBC RO), terdapat cahaya harapan yang terus menyala bagi mereka yang tidak menyerah menjalani perjalanan kesembuhan. Pasien TBC RO menghadapi tantangan besar dalam menyelesaikan proses dan tahap pengobatan mereka. Resistensi obat berarti bahwa tuberkulosis yang mereka alami tidak merespon dengan baik terhadap pengobatan standar, dan membutuhkan penggunaan obat yang lebih kuat. Ini berarti pasien perlu menjalani perawatan yang lebih lama dan kompleks, dengan efek samping yang serius dan dampak sosial mungkin dapat dialami terhadap kehidupan mereka.

Tampak depan shelter di kota Makassar, Sulawesi Selatan

Sehingga, dalam upaya memberikan bantuan dan perawatan yang lebih baik bagi pasien TBC RO, shelter hadir sebagai solusi untuk menyediakan rumah singgah yang nyaman dan aman bagi pasien selama perjalanan kesembuhan mereka. Seluruh pasien TBC RO dapat mengakses shelter kapanpun dan dimanapun selama mereka memerlukannya. Jarak antara rumah dengan RS PMDT yang cukup jauh dan bahkan berbeda kabupaten/kota, membuat perjalanan mereka cukup menguras tenaga. Dengan lokasi shelter yang berdekatan dengan RS PMDT, pasien dan keluarga dapat bersinggah untuk istirahat sejenak setelah/sebelum melakukan pemeriksaan di RS PMDT. 

Selain itu, manfaat utama shelter adalah penyediaan lingkungan yang steril dan terkontrol. Pasien TBC RO harus menghindari risiko penularan infeksi kepada orang lain, termasuk anggota keluarga mereka sendiri. Shelter menyediakan ruang yang terpisah, sehingga pasien dapat menjalani perawatan mereka dengan aman dan tidak menghadapi stigmatisasi yang seringkali terjadi di masyarakat. Sehingga di beberapa kota besar, pasien lebih memilih tinggal di shelter dari awal pengobatan hingga selesai pengobatan untuk menghindari terjadinya penularan di kediaman mereka yang cukup sempit. 

Proses Forum Group Discussion (FGD) pasien bersama dengan Organisasi Penyintas TBC (OPT)

Saat ini, tim komunitas memiliki 10 shelter aktif yang tersebar di beberapa wilayah. Dengan ketersediaan shelter tersebut, pasien merasa terbantu untuk menjalani proses pengobatan yang mereka lakukan. Shelter komunitas juga berperan sebagai tempat penyediaan perawatan terpadu yang lengkap. Pasien tidak hanya mendapatkan obat yang diperlukan, tetapi juga mendapatkan dukungan psikologis dan sosial yang sangat dibutuhkan. Dengan adanya pasien supporter (PS) dan manajer kasus (MK) yang memantau proses pengobatan pasien, melalui sesi konseling kelompok dan individu, pasien dapat berbagi pengalaman dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang penyakit mereka. Ini secara positif mempengaruhi persepsi mereka terhadap penyembuhan, pemulihan, dan mengurangi tingkat kecemasan dan depresi yang seringkali timbul.

Dukungan psikososial yang diberikan dari Pasien Supporter (PS) kepada pasien TBC RO di shelter

Penting untuk mengakui peran vital dan dampak positif yang dibawa oleh shelter bagi proses penyelesaian pengobatan pasien TBC RO. Dalam kondisi pasien yang seringkali sulit baik jiwa dan raga, shelter memberikan tempat yang aman, nyaman, dan mendukung untuk pemulihan pasien. Melalui fasilitas ini, pasien TBC RO dapat merayakan perjalanan kesembuhan mereka, mengatasi stigmatisasi, dan membangun kembali kehidupan yang sehat.

Pemberian nutrisi dari tim SR Sulawesi Selatan kepada pasien TBC RO di wilayah kota Makassar

Dalam upaya memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pasien TBC RO, penting bagi masyarakat, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah untuk bekerja sama dalam mendukung pemberian tempat yang baik dan layak untuk pasien TBC RO. Melalui upaya bersama, kita dapat membawa harapan bagi mereka yang berjuang melawan penyakit yang mematikan ini. 

POP TB bersama PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mengajak Masyarakat Bogor Melawan Diskriminasi kepada Pasien TBC RO

Pada pengobatan TBC di Indonesia, khususnya pasien TBC RO, kesehatan mental, stigma dan diskriminasi menjadi sebuah permasalahan serius yang mungkin dihadapi. Hal ini dipengaruhi oleh lamanya pengobatan yang menguras energi pasien, terlebih lagi efek samping obat yang memicu terjadinya depresi, kecemasan dan keputusasaan. Diagnosis awal TBC merupakan salah satu penyebab gangguan psikologis terutama depresi. Kebanyakan pasien akan merasa takut dan menganggap bahwa TBC adalah penyakit yang dapat membuat mereka kehilangan masa depan.

Suasana Peserta Saat Mengikuti Sosialisasi Penggunaan laportbc.id

Untuk dapat mengoptimalkan upaya pendampingan, maka komunitas mendorong penguatan layanan kesehatan mental agar dapat terakses, terjangkau dalam proses pengobatan dan pelayanan yang berpusat pada pasien TBC. Dalam hal ini, SR Tematik telah mengembangkan Hotline Kesehatan Mental untuk pasien TBC dalam rangka mendukung layanan pengobatan dan pendampingan pasien yang bermartabat. Telah terlatih 14 responder hotline kesehatan mental untuk memberikan dukungan psikososial bagi pasien TBC. POP TB Indonesia/SR Tematik sebagai unsur komunitas mengambil peran strategis dalam mendorong adanya mekanisme pemantauan yang menghasilkan tanggapan atau umpan balik dari penyedia layanan maupun pemangku kepentingan sehingga kebutuhan pasien dan atau komunitas bisa dipenuhi. SR Tematik (SRT) POP TB Indonesia meluncurkan kanal aduan berbentuk Website based laportbc.id yang melayani 4 aduan, yaitu: 1. Akses Layanan, 2. Enabler, 3. Konseling 4. Stigma dan diskriminasi dalam mendukung kesembuhan pasien TBC dan juga menjadi sarana umpan balik bagi pasien TBC atau CBMF (Community Based Monitoring Feedback). 

Mas Jajuli saat menjelaskan terkait penggunaan kanal laportbc.id

Demi memperluas kebermanfaatannya, maka diperlukan kampanye serta keterlibatan semua pihak untuk bergerak bersama dan menjadikan masyarakat turut andil di dalamnya. Merespon hal tersebut, POP TB bersama PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI menyelenggarakan Sosialisasi CBMF Nasional Serta Campaign kenali TBC pada 29-30 September 2023, yang mana kegiatan sosialisasi dilaksanakan di Swiss-Belhotel Bogor dan kampanye dilaksanakan di Stadion Pakansari Bogor bagian luar.   

Senam pagi peserta kampanye dan seluruh pengunjung Stadion Pakansari Bogor

Sosialisasi CBMF Nasional serta Kampanye kenali TBC menjadi bekal dan memberi pemahaman terkait CBMF di laportbc.id bagi peserta di hari pertama kegiatan. Peserta yang melibatkan 93 orang dari mulai MK, SR, Kader, dan PS dibekali pengetahuan mulai dari pemaparan materi dari Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat tentang stigma dan diskriminasi bagi pasien TBC RO, kemudian dilanjutkan dengan materi alur pengobatan dan pendampingan pasien TBC RO yang disampaikan oleh Wasor Dinas Kesehatan Bogor. Di malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan paparan grafik kunjungan laportbc.id serta cara penggunaan dari kanal tersebut yang disampaikan oleh Mas Jajuli dan diakhiri dengan briefing teknis untuk pelaksanaan kampanye esok hari. 

Edukasi TBC dan sosialisasi laportbc.id kepada pengunjung Stadion Pakansari Bogor

Pada hari kedua tepatnya Sabtu tanggal 30 September 2023, seluruh peserta berkumpul menggunakan atribut yang sama untuk menggaungkan kanal laportbc.id kepada seluruh masyarakat Bogor yang hadir di wilayah Stadion Pakansari. Kegiatan diawali dengan senam bersama dan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Ketua POP TB Nasional Pak Budi Hermawan dan National Program Director PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Heny Prabaningrum. Selanjutnya, peserta dibagi menjadi beberapa tim yang terdiri dari 5 orang dengan pembagian tugas masing-masing seperti pemberian edukasi umum terkait TBC serta informasi tentang kanal website laportbc.id. Kegiatan kampanye juga dimeriahkan dengan tersedianya merchandise menarik yang diberikan kepada seluruh pengunjung Stadion Pakansari Bogor. Antusiasme masyarakat terlihat dari semangat mereka yang berkenan untuk mengikuti acara dari awal hingga pembagian merchandise dan acara berakhir. Untuk meningkatkan komitmen, seluruh peserta, elemen komunitas dan pengunjung Stadion Pakansari Bogor diberikan wadah untuk menyampaikan komitmen mereka melalui cap tangan dan tanda tangan deklarasi. Tentunya hal ini merupakan wujud nyata semangat warga Bogor untuk mendukung anti kekerasan, stigma dan diskriminasi bagi pasien TBC RO terutama di wilayah Bogor. 

Tanda tangan deklarasi anti diskriminasi untuk pasien TBC

Budi Hermawan sebagai ketua POP TB Nasional menyampaikan bahwa “kepedulian akan pentingnya melindungi pasien TBC RO dimulai dari sendiri. Semoga dengan momentum ini akan banyak masyarakat yang terketuk hati untuk terus memberikan payung perlindungan kepada pasien TBC RO. Selain itu, terbentuknya kanal website laportbc.id juga diharapkan dapat membantu memecahkan seluruh masalah pasien TBC di Indonesia.”

Pemberdayaan Pasien TBC Melalui Ternak Ayam dari Program Inovasi SSR Yabhysa Ngawi, Jawa Timur

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang membutuhkan waktu pengobatan yang tidak sebentar. Selain itu, adanya efek samping obat dan tantangan-tantangan lainnya yang dialami oleh mereka pasien tuberkulosis juga membuat pasien TBC kesulitan menjalankan kegiatan sehari-hari secara produktif. Dengan kondisi tersebut, Yabhysa Ngawi melalui program SSR YABHYSA PEDULI TBC membuat sebuah program inovasi yaitu Pemberdayaan Pasien TBC melalui Ternak Ayam.

Pemberian ayam kepada pasien TBC SO untuk dikembangkan dan diternak

Program inovasi tersebut bertujuan untuk memberdayakan pasien TBC selama pengobatan berlangsung. Mereka diberikan tanggung jawab untuk memelihara ayam yang nantinya dapat dikembangkan menjadi lebih banyak lagi. Program inovasi ini dipilih dengan melihat beberapa sisi. Dari sisi ekonomi pemberdayaan ini bisa berkembang dan diarahkan ke ekonomi ketika ayam dapat berkembang banyak. Kemudian dari sisi pola hidup sehat, telur yang dihasilkan menjadi protein tambahan buat pasien selama pengobatan. Dan dari sisi psikososial pasien, pasien memiliki kesibukan atau kegiatan tambahan sehingga dapat mengurangi rasa jenuh dalam meminum obat selama pengoabatan.

Sasaran dari program inovasi ternak ayam adalah pasien TBC SO dalam masa pengobatan, yang mampu dan memiliki kemauan untuk menerima program ini. Setiap penerima manfaat akan diberikan 2 ekor ayam betina dewasa dengan kesepakatan bahwa ketika ayam tersebut sudah bertelur, menetas lalu tumbuh dewasa, selanjutnya SSR Yabhysa Ngawi akan meminta 2 ekor ayam betina lagi dari hasil telur untuk diberikan kepada pasien TBC lainnya. Sehingga program ini dapat berkelanjutan dan dirasakan manfaatnya untuk pasien TBC lainnya. Oleh karena itu, makna mampu disini ialah dalam hal kesepakatan diawal tentang program dan keberlanjutannya.

Pemberian ayam kepada pasien TBC SO untuk dikembangkan dan diternak

Awal program inovasi ternak ayam dimulai pada bulan November 2022 lalu dengan jumlah 4 penerima manfaat dari 4 wilayah puskesmas (Paron, Tambakboyo, Kendal, Bringin ). Tentu saja setiap program tidak langsung berhasil. Paada gelombang pertama terdapat 2 ekor ayam dari 1 pasien yang meninggal. Meskipun demikian, SSR Yabhysa Ngawi tidak patah semangat dan memperoleh hasil ketika 3 pasien TBC lainnya dapat mengembangkan ayamnya, dan menyalurkan 2 ekor ayam betina untuk disalurkan ke pasien TBC lainnya pada gelombang kedua bulan September 2023. Melihat keberhasilan tersebut, SSR Yabhysa Ngawi termotivasi untuk semakin mengembangkan program inovasi ini. Pada bulan lalu, SSR Yabhysa Ngawi menyalurkan kembali 8 ekor ayam betina untuk 4 pasien TBC lainnya. Sehingga sampai dengan saat ini sudah ada 11 pasien TBC dengan jumlah 22 ekor ayam betina yang menerima manfaat program pemberdayaan ini. SSR Yabhysa Ngawi juga melakukan monitoring program ini dengan selalu memastikan setiap bulan kepada kader dan penerima manfaat by phone.

Selama ini, SSR Yabhysa Ngawi sudah berupaya untuk mencari mitra atau donor dengan mengajukan proposal terkait program inovasi ini walaupun hingga saat ini masih belum membuahkan hasil. Meskipun demikian, SSR Yabhysa Ngawi tidak patah semangat, karena hal yang besar dimulai dari hal kecil. Meskipun hanya dari 2 ekor ayam betina dan baru 11 pasien, mereka yakin bahwa program ini akan berhasil dan akan semakin berkembang sehingga dapat dirasakan manfaatnya untuk pasien TBC yang lain.

Harapannya ialah, pasien TBC memerlukan perhatian dari semua pihak baik dari pemerintah, swasta, masyarakat atau pribadi. Semoga program ini mampu memberikan manfaat bagi pasien TBC di Kabupaten lNgawi dan semakin banyak lagi penerima manfaat dari program ini. Lebih jauh lagi, semoga program ini dapat direplikasikan di daerah lainnya untuk mewujudkan program pengentasan TBC yang inovatif dan kreatif.