Mentari Sehat Indonesia Mengajak Para Petinggi Kabupaten Untuk Bersinergi Berantas TBC

komunitas mentari sehat indonesia kabupaten cilacap lakukan pertemuan

CILACAP.INFO – Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap mengajak para pemangku kebijakan terutama Dinas Kesehatan untuk mewujudkan sinergi berantas TBC (tuberkulosis).

Untuk mewujudkan Kabupaten Cilacap yang bebas akan TBC pada tahun 2030. Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap lakukan pertemuan selama dua hari, Dimulai pada hari Senin-Selasa, Tanggal 19-20 September 2022 di Hotel Atrium Cilacap.

Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap juga mengundang berbagai instansi seperti DPRD, Sekda, Kepala Dinas Pembedayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cilacap dan masih banyak lagi.

Tujuan Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap salah satunya mendorong layanan pemerintah dan swasta agar dapat memenuhi SPM melalui pertemuan dengan pihak legislatif dan eksekutif.

Angka kasus TBC di Kabupaten Cilacap sendiri juga masih cukup tinggi, hal ini memerlukan kolaborasi yang pro aktif antar sektor pemerintah, swasta dan komunitas.

“Di Cilacap kasus TBC masih tinggi, banyaknya kasus ditemukan yang akhirnya meninggal mungkin karena pengelolaannya tidak tepat, adapun yang terkena penyakit lain (Komorbit),” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Pramesti Griana Dewi.

“Sampai sekarang kita berupaya mengatasi, menangani dan mengelolanya dengan harapan angka kesembuhan juga akan tinggi,” tambah Pramesti.

Ketua Yayasan Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap, Rokhmah Agus Ciptaningsih, SE, M.Si mengatakan, saat ini TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan paling utama di Indonesia.

“Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Menurut Global TB Report tahun 2021, Indonesia berada di peringkat ketiga di dunia dengan kasus TBC terbanyak, Diperkirakan estimasi insidensi sebesar 824.000 kasus atau 301 per 100.000 penduduk,” terang Rokhmah.

Perlu kerja keras lintas sektor secara komprehensif, tidak hanya mengandalkan dinas Kesehatan tetapi peran aktif dari komunitas dan seluruh masyarakat, juga memilki peran yang sama-sama penting.

Sebagaimana diketahui dalam perpres No 67 tahun 2021 tersebut berisi 9 Bab, 33 Pasal, dan lampiran 80 hal, yang mencakup Target Dan Strategi Nasional Eliminasi TBC, Pelaksanaan Strategi Nasional Eliminasi TBC, Tanggung Jawab Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah Dalam Eliminasi TBC, Koordinasi Percepatan Penanggulangan TBC, Peran Serta Mayarakat Dalam Eliminasi TBC.

“Harapan kami setelah diadakannya kegiatan ini tercipta kolaborasi yang lebih pro aktif dari berbagai sektor Pemerintah Kabupaten, bukan hanya dari Dinas Kesehatan tetapi dari unsur yang lain. Serta kita juga berharap adanya peran Pemerintah Desa di tingkat bawah,” pungkas Rokhmah.

 

Gandeng Pemkab Cilacap, Komunitas Mentari Sehat Inginkan Sinergitas Berantas TBC

HARMASNEWS – Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap mengajak para pemangku kebijakan terutama Dinas Kesehatan untuk mewujudkan sinergi berantas TBC (tuberkulosis).

Untuk mewujudkan Kabupaten Cilacap yang bebas akan TBC pada tahun 2030. Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap lakukan pertemuan selama dua hari, Dimulai pada hari Senin-Selasa, Tanggal 19-20 September 2022 di Hotel Atrium Cilacap.

Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap juga mengundang berbagai instansi seperti DPRD, Sekda, Kepala Dinas Pembedayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cilacap dan masih banyak lagi.

Tujuan Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap salah satunya mendorong layanan pemerintah dan swasta agar dapat memenuhi SPM melalui pertemuan dengan pihak legislatif dan eksekutif.

Angka kasus TBC di Kabupaten Cilacap sendiri juga masih cukup tinggi, hal ini memerlukan kolaborasi yang pro aktif antar sektor pemerintah, swasta dan komunitas.

“Di Cilacap kasus TBC masih tinggi, banyaknya kasus ditemukan yang akhirnya meninggal mungkin karena pengelolaannya tidak tepat, adapun yang terkena penyakit lain (Komorbit),” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Pramesti Griana Dewi.

“Sampai sekarang kita berupaya mengatasi, menangani dan mengelolanya dengan harapan angka kesembuhan juga akan tinggi,” tambah Pramesti.

Ketua Yayasan Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap, Rokhmah Agus Ciptaningsih, SE, M.Si mengatakan, saat ini TBC masih menjadi salahsatu masalah kesehatan paling utama di Indonesia.

“Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Menurut Global TB Report tahun 2021, Indonesia berada di peringkat ketiga di dunia dengan kasus TBC terbanyak, Diperkirakan estimasi insidensi sebesar 824.000 kasus atau 301 per 100.000 penduduk,” terang Rokhmah.

Perlu kerja keras lintas sektor secara komprehensif, tidak hanya mengandalkan dinas Kesehatan tetapi peran aktif dari komunitas dan seluruh masyarakat, juga memilki peran yang sama-sama penting.

Sebagaimana diketahui dalam perpres No 67 tahun 2021 tersebut berisi 9 Bab, 33 Pasal, dan lampiran 80 hal, yang mencakup Target Dan Strategi Nasional Eliminasi TBC, Pelaksanaan Strategi Nasional Eliminasi TBC, Tanggung Jawab Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah Dalam Eliminasi TBC, Koordinasi Percepatan Penanggulangan TBC, Peran Serta Mayarakat Dalam Eliminasi TBC.

“Harapan kami setelah diadakannya kegiatan ini tercipta kolaborasi yang lebih pro aktif dari berbagai sektor Pemerintah Kabupaten, bukan hanya dari Dinas Kesehatan tetapi dari unsur yang lain. Serta kita juga berharap adanya peran Pemerintah Desa di tingkat bawah,” pungkas Rokhmah.***

 

Biar Saya Saja yang Sakit (TBC), Anak Saya Jangan (Harus Tetap Sehat)

Foto bersama seluruh narasumber dengan seluruh peserta Diskusi Publik TPT 2022

Sleman, 2 September 2022 – Indonesia merupakan negara ketiga dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia (GTR 2021). Tidak semua orang yang terinfeksi kuman TBC akan mengalami gejala sakit TBC, kondisi ini dikenal dengan infeksi laten TBC (ILTB). Untuk dapat mengatasi kondisi tersebut diupayakan pemberian obat Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak serumah dan kontak erat dengan pasien TBC yang sehat dan yang berisiko tinggi terkena TBC. Pada semester pertama Tahun 2022, capaian TPT di Indonesia mencapai 3.420 orang, angka ini walaupun masih rendah namun perlu diapresiasi semua pihak, mengingat cakupan pasien TBC bakteriologis baru yang ditemukan pada periode Januari-Juni 2022 sebanyak 91.869 orang. Sehingga dibutuhkan penguatan kolaborasi dan usaha lebih masif untuk memberikan TPT.

Rendahnya cakupan pemberian TPT masih terkendala beberapa hal, antara lain: (a) masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai ILTB dan TPT, termasuk keamanan pemberian TPT; (b) sehingga masih terjadi penolakan yang datang dari orang tua/wali/keluarga anak dengan faktor risiko TBC yang kontak erat atau tinggal serumah dengan pasien TBC serta (c) pemahaman pada tenaga kesehatan yang masih bervariasi terhadap perlu atau tidaknya Pemberian TPT, serta (d) ketersediaan  dan jaminan keberlanjutan logistik TPT di fasilitas kesehatan. Untuk menjawab hal-hal tersebut, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI bersama SR TBC Siklus Indonesia DIY sebagai Perwakilan Organisasi Masyarakat Sipil Penanggulangan TBC menggelar kegiatan Diskusi Publik bertajuk “Tanpa Tuberkulosis, Anak dan Keluarga Sehat, Indonesia Kuat!” di Sekretariat Daerah Kab. Sleman, DIY pada Jumat, 2 September 2022.

Penyampaian Presentasi oleh Country Officer WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono

Menurut Country Officer WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, Terapi Pencegahan TBC adalah pengobatan yang ditawarkan kepada perseorangan yang diperkirakan memiliki risiko sakit TBC dalam rangka mengurangi risiko sakit TBC tersebut. TPT diperlukan karena mayoritas orang yang terinfeksi TBC tidak memiliki gejala atau tanda TBC, tetapi memiliki risiko untuk mendapatkan sakit TBC. dr. Setiawan juga menegaskan bukti ilmiah dari TPT “TPT sudah terbukti sebagai intervensi yang efektif untuk menghindarkan individu dari sakit TB, bahkan mengurangi risiko mengalami TB sebesar 60-90% dibandingkan dengan individu lain yang memiliki karakteristik yang sama tetapi tidak mendapatkan TPT.” Hal ini juga diperkuat dengan informasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) diwakili oleh DR. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), bahwa balita sehat yang kontak dengan pasien TBC harus mendapatkan TPT, TPT terbukti efektif mencegah sakit TBC dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Efek samping yang timbul hanya sedikit dan sebagian besar ringan serta dapat sembuh secara sempurna”. Dr. Nastiti juga memberikan penekanan pentingnya memberikan perhatian pada TBC anak, untuk mencegah kasus TBC di masa dewasa, yang berpotensi menjadi sumber penularan baru.

(Diskusi Panel 1 dengan topik “Kebijakan dan Strategi Mendukung TPT di DIY”)

Kekuatan pemerintah dalam pemberian TPT tentu menjadi modal dasar. Menurut Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati, MPH, telah dibentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC yang disahkan dengan Surat Keputusan Gubernur DIY nomor 55/TIM/2022 sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden 67/2021. Salah satu rekomendasi Dinkes DIY untuk melibatkan Tim Percepatan dan kolaborasi dalam Pemberian TPT adalah “seluruh organisasi profesi dapat mensosialisasikan TPT kepada semua anggota profesi; sedangkan untuk fasyankes dapat berperan untuk menyiapkan SDM pelaksana TPT”. Hal ini dikuatkan oleh Ketua KOPI (Koalisi Organisasi Profesi Indonesia) TB DIY, yang merekomendasikan tiga strategi, “untuk peningkatan TPT balita dan kontak serumah kita dapat bersama-sama (1) mengadvokasikan memberikan tanggung jawab keberhasilan TPT pada kepala pemerintahan sehingga menjadikan TPT sebagai sebuah Gerakan bersama; (2) maksimalkan IK dan deteksi ILTB di populasi rentan (3) serta komunitas dapat mengaktifkan peran dasawisma untuk pendampingan anggota yang menerima TPT maupun pengobatan TBC”.  Advokasi kepada pemerintah juga disambut baik oleh H. Koeswanto, S.IP selaku Ketua Komisi D DPRD DIY yang menyatakan dukungannya untuk Pemberian TPT dan upaya penanggulangan TBC di DIY. Menurut Ketua Komisi D DPRD DIY, pemerintah daerah harus yakin dengan upaya penanggulangan TBC dan bersama-sama bertanggung jawab dalam menanggulangi TBC.

(Diskusi Panel 2 dengan topik “Dukungan Organisasi Profesi, Dukungan Komunitas dan Pengalaman Puskesmas dalam Pemberian TPT”)

Bagaimana peran komunitas dan fasilitas layanan kesehatan? Rekomendasi lain dari Dinkes DIY juga membicarakan peningkatan peran komunitas dalam investigasi kontak untuk menemukan kontak yang berhak mendapatkan TPT, memotivasi untuk memulai TPT dan menjadi pengawas menelan obat TPT. Peran komunitas dalam konteks pelaksana dana hibah The Global Fund untuk TBC diwakili Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, juga telah mengembangkan beberapa strategi peningkatan cakupan TPT melalui video partisipatif oleh kader dan Tim Kerja Komunitas mengenai TPT dan implementasi pengawasan menelan obat TBC bersamaan dengan pemberian TPT berbasis keluarga menggunakan lembar edukasi khusus TPT. Rakhmawati selaku PMELC SR Siklus DIY menyampaikan bahwa pihak komunitas mengelola kader-kader TBC untuk dapat melakukan komunikasi persuasif kepada keluarga dengan balita yang kontak serumah dengan pasien TBC. Peran dari komunitas tentu sebagai pendukung dari peran utama fasilitas kesehatan (Puskesmas) yang melakukan skrining pada keluarga (kontak serumah) pasien baru TBC terutama balita dan anak untuk mengetahui status TBC dan segera diberikan TPT jika tidak terkonfirmasi TBC, sebagaimana diungkapkan dr. Cahyo Susilowati selaku dokter fungsional Puskesmas Cangkringan. Beliau juga menyampaikan perlunya pendampingan dengan konseling serta pemantauan efek samping dari TPT.

Diskusi Publik ditutup dengan Closing Remarks dari Dr. Adang Bachtiar, MPH, DSc selaku Ketua Technical Working Group (TWG) TB – CCM Indonesia yang menyatakan bahwa “Asumsinya, ILTB dan pemberian TPT adalah kunci sukes untuk dapat eliminasi TBC. Untuk dapat mengimplementasikan TPT diperlukan kepemimpinan yang kolaboratif dengan budaya kerja berbasis bukti”.  

Selanjutnya Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan terus mengupayakan kolaborasi untuk memperkuat dukungan sistem untuk Pemberian TPT sekaligus “demand creation” sehingga gerakan bebas TBC dapat diwujudkan untuk mewujudkan eliminasi TBC 2030. Sebagaimana diungkapkan salah satu pasien TBC yang bersedia memberikan TPT kepada Tim Kerja Komunitas yang mendampingi “Biar saya saja yang sakit (TBC), anak saya jangan (harus tetap sehat)”.

 Komunitas Berdaya, Akhiri TBC di Indonesia!

Mangkir di Tembilahan, Pelacakan di Padang Pariaman

Padang Pariaman – Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) adalah kondisi dimana bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang sudah kebal terhadap obat TB lini 1. TBC biasa ataupun TBC RO bisa disembuhkan asalkan patuh minum obat selama pengobatan. lama pengobatan TBC RO ada yang jangka pendek (9-11 bulan) dan ada yang jangka panjang (18-24 bulan).

Pengobatan TBC Khususnya TBC RO dipantau secara medis dan didampingi untuk psikososial pasien. Untuk pendampingan medis diberikan oleh petugas kesehatan baik dari Rumah sakit PMDT dan petugas puskesmas, sedangkan untuk pendampingan Psikososial dilakukan oleh Manajer Kasus (MK) dan Pasien Supporter (PS) TBC RO dari Konsorsium Penabulu STPI di 190 Kota/ Kab. yang didampingi di seluruh Indonesia.

Pendampingan Psikososial dilakukan oleh MK dari sebelum pengobatan dan dilanjutkan sampai pasien sembuh. Hal ini dilakukan untuk mencegah pasien mangkir dari pengobatan karena akan beresiko menularkan pada orang terdekat bahkan berujung pada kematian. Mangkir pengobatan dapat dicegah dengan pemantauan dan pendampingan yang intensif sesuai dengan keluhan pasien.

Seperti kasus pasien pengobatan di RSUD Tembilahan, sebut saja namanya Ronal (37 Tahun). Ronal terdiagnosa TBC RO pada 17 Desember 2021 dan memulai pengobatan pada tanggal 9  Juni 2022 di RSUD Tembilahan. Dari awal pengobatan, Ronal sudah didampingi oleh MK RSUD Tembilahan. Setiap hari Ronal datang Ke RSUD untuk minum obat, akan tetapi pada hari ke empat, Ronal tidak datang untuk minum obat sehingga MK RSUD Tembilahan melakukan kunjungan rumah Ronal, tetapi Ronal tidak berada dirumah. Berdasarkan informasi dari tetangga, Ronal pulang kampung. MK RSUD Tembilahan mencoba menghubungi Hp Ronal , tetapi tidak pernah direspon.

Setelah 4 hari mangkir, MK RSUD Tembilahan mencoba menghubungi MK Padang Pariaman sesuai data di KTP Ronal (daerah Sintuak) dan memberikan data Ronal untuk dilakukan pelacakan. MK Padang Pariaman, meminta bantuan kader Sintuak untuk mengecek keberadaan Ronal di alamat tersebut. dalam waktu 30 menit, kader Sintuak memberikan laporan bahwa Ronal berada di Sintuak di rumah Orang tuanya.

Berdasarkan informasi tersebut MK Padang Pariaman melaporkan ke Dinkes Kab. Padang Pariaman bahwa ada pasien mangkir dari RSUD Tembilahan berada di Wilayah kerjanya, kemudian MK Padang Pariaman juga meminta izin melakukan Visite home didampingi petugas Puskesmas Sintuk.

Saat kami melakukan kunjungan, Ronal Berkata ” Kok tau se urang dinas ko dima awak?”. Petugas Puskesmas memberikan jawaban sembari senyum dan berkata ” Kan dilacak”.

Selanjutnya Petugas mengedukasi dan melakukan pendekatan untuk mengetahui alasan Ronal Mangkir. Setelah berdiskusi lama, akhirnya Ronal meminta untuk pengobatan TBC RO-nya di Sintuak saja karena Ronal tinggal sendiri di Tembilahan. Hal ini didukung oleh orang tua Ronal, agar dapat merawat anaknya dalam melakukan pengobatan. Secara psikologis, orang yang menjalani pengobatan butuh dukungan dan motivasi dari orang terdekat terutama dari keluarga agar membantu proses pengobatannya.

Hasil kunjungan tersebut dilaporkan ke Dinkes Kab. Padang Pariaman dan MK RSUD Tembilahan untuk memproses kepindahan tempat pengobatan Ronal. Pemindahan Pasien pengobatan TBC RO butuh waktu dan Proses, baik secara teknis, administratif dan pelaporannya. Setelah menunggu hampir 1 Bulan, pada tanggal 14 Juli 2022, Ronal dibawa ke RSUD Padang Pariaman untuk memulai kembali pengobatannya.

Dengan adanya kerjasama dinas kesehatan dan komunitas dalam pelacakkan pasien mangkir sesegera mungkin baik dalam kota, luar kota bahkan antar provinsi, dapat mengurangi resiko penularan TBC RO demi ELIMINASI TBC INDONESIA 2030.

Penabulu Bersama Mahasiswa UNIBA Adakan Sosialisasi Pencegahan Dan Pengendalian Penyebaran TBC Pada Masyarakat Sujung

Suasana sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyebaran TBC. (Foto dokumentasi ketua panitia)

Serang, Bantenaktual.com – Penabulu bersama Mahasiswa dan Mahaiswi Uniba (Universitas Bina Bangsa) yang tergabung dalam KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) kelompok 35 mengadakan kegiatan sosilisasi pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit Tbc (Tuberculosis) pada masyarakat Desa Sujung di Aula Balai Desa Sujung.

Kegiatan itu mengusung tema ‘Perilaku hidup sehat untuk kehidupan lebih baik dan masa depan tanpa Tbc’ yang dihadiri oleh unsur RT/RW, tokoh masyarakat Desa Sujung, Kader Puskesmas Desa Sujung dan unsur pemerintahan Desa Sujung.

Program SSR Penabulu STPI yang diwakili Tb Deni Faisal Hasyim pada sosialisasi itu mengajak masyarakat Desa Sujung untuk berperilaku hidup sehat dan bersih setiap hari.

“Kita harus melakukan pendataan kepada masyarakat yang terindikasi menderita Tbc, pendataan ini nanti dilakukan oleh semua RT yang didampingi kader Tbc Puskesmas Desa Sujung di lingkungan wilayahnya,” ucap Deni. Rabu (10/08).

Lanjut Deni menerangkan, masyarakat yang batuk lebih dari 2 minggu bahkan batuk berdarah, demam lebih dari sebulan, keluar keringat di malam hari tanpa aktivitas wajib di cek dahak di puskesmas, apabila hasilnya positif maka segera dilakukan pengobatan insentif di puskesmas selama 6-8 bulan hingga di nyatakan sembuh oleh Dokter.

“Itulah cara kita untuk penanganan pasien Tbc karena ada pasien Tbc yang SO (Sensitif Obat) dan RO (Resisten Obat) dan untuk mengetahui jenis Tbc tersebut kita melakukan TCM (Tes Cepat Molekular),” jelas Deni.

Lebih lanjut Deni menyampaikan, ada bantuan dari komunitas Global Found yang sudah bekerjasama dengan Penabulu untuk masyarakat yang menderita penyakit Tbc RO yaitu uang sebesar Rp.600.000 setiap bulannya selama masa pengobatan dengan catatan pasien harus rutin berobat, jadi itu yang disebut dengan enabler. (Sob/red)

 

Ibu Juniwati, dari Kader Posyandu ke Kader TBC

Juniwati (50) memilih bergabung sebagai Kader Tuberkulosis sejak pertengahan tahun 2018 untuk lebih banyak lagi membantu masyarakat. Ia pun mendapatkan dukungan penuh dari keluarga saat bergabung dalam komunitas tersebut.

Ibu dari 2 orang anak ini mulai bergabung setelah mengetahui adanya pelatihan kader dan ikut serta dalam pelatihannya. Ia telah berproses selama hampir lebih lima tahun. Berbagai pengalaman pun ia dapatkan seperti melakukan pendampingan pasien TBC hingga berhasil serta melihat pasien yang didampinginya dinyatakan sembuh oleh petugas TBC. “Sebagai kader TBC, yang paling menggembirakan adalah saat pasien dampingan kita dinyatakan sembuh, apalagi kalau pasien itu dari kalangan anak-anak atau balita. Sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri,” tuturnya.

Ibu Rumah tangga ini sebelumnya juga aktif sebagai kader posyandu dan kader KB, hal tersebut membuatnya lebih mudah melakukan penyuluhan dan pendampingan karena telah dikenal baik oleh masyarakat. “Dalam melakukan aktivitas sebagai kader TBC, baik investigasi kontak maupun penyuluhan, alhamdulillah saya pribadi cukup diterima di masyarakat. Bahkan untuk penyuluhan saya seringkali dikasi ruang penyuluhan di tempat-tempat khusus seperti di Gereja, padahal mereka tahu bahwa saya seorang Muslimah. Kita semua saling percaya,” bebernya.

Selain itu, tugasnya sebagai kader di komunitas menuntutnya untuk piawai dalam berkomunikasi. Ia perlu efektif dalam mengkomunikasikan terkait TBC karena masyarakat di lingkungannya masih banyak bertahan pada stigma yang salah terkait TBC, sehingga hal tersebut membuat mereka malu jika diajak memeriksakan diri.

Ibu Juni,  demikian ia disapa oleh rekannya sesama kader, juga pernah mengalami kejadian menyedihkan saat melaksanakan tugas. Ia merasa gagal ketika pasien yang didampinginya akhirnya meninggal. “Bagaimana tidak sedih kodong, baru satu berobat tiba-tiba ia meninggal dunia,” jelasnya. Namun, kejadian itu tak memutuskan asanya untuk terus bergiat dan mensosialisasikan program TBC komunitas, ia terus bersemangat membantu masyarakat untuk ‘memerangi’ TBC.

Ibu Juni juga mengaku senang atas insentif yang ia terima sebagai bentuk apresiasi dan perhatian komunitas terhadap kader seperti dirinya. Saat insentif terlambat atau salah pencatatan pelaporan, itu merupakan salah satu bentuk perjuangannya untuk bersabar dan mengulanginya lagi. Ke depan, Ibu yang sehari-hari juga aktif mengajar TK TPA di kediamannya itu berharap agar program terus berlanjut, namun keberlanjutan dari program ini perlu lebih baik, termasuk dalam hal perhatian terhadap kesejahteraan kader. “Kami ikhlas bekerja, namun jika ada subsidi tambahan untuk biaya transportasi, akan semakin melancarkan aktivitas kami,” harapnya.

Secara capaian sebagai kader, Ibu Juni cukup baik dalam memberikan kontirbusi. Setiap bulan, temuan kasusnya dapat mencapai enam kasus TBC baru setiap bulan, belum lagi dengan kegiatan invesigasi kontak dan penyuluhan juga yang selalu dilakukannya intens setiap bulan.

Di luar aktivitas sebagai pegiat TBC, Ibu Juni adalah seorang yang super aktif. Selain terkenal sebagai kader posyandu dan kader KB, ia juga aktif sebagai kader Kesehatan Lingkungan. Dalam aktivitas hariannya, ia pun masih aktif mengajar di sebuah PAUD yang terletak di jalan Sungai Klara, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar.


Ditulis oleh: Kasri Riswadi (Koordinator PMEL Yamali TB Sulawesi Selatan)

Editor: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Rapat Koordinasi Nasional Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI 2022: Evaluasi dan Penyusunan Strategi sebagai Upaya Peningkatan Implementasi Program Eliminasi Tuberkulosis

(Ibu Heny didampingi oleh para manajer menyampaikan arahan kepada 30 SR Provinsi dan 1 SR Tematik dalam acara Rakornas 2022)

Jakarta, 26 Maret 2022 Principal Recipient (PR) Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dengan tema “Komunitas Berdaya, Akhiri TBC di Indonesia” di Bogor.  Acara dimulai pada hari Senin (18/7/2022) hingga Jumat (22/7/2022). Pertemuan Rakornas tahun 2022 menjadi agenda penting bersama untuk melakukan pembaharuan informasi, strategi implementasi sesuai dengan perkembangan dan capaian kontribusi komunitas dalam penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Indonesia . Selain itu, Rakornas digunakan sebagai ruang untuk memperkuat kemampuan pengelola program dalam menggunakan tools perencanaan, monitoring dan evaluasi dari aspek program, keuangan, pengelolaan pengetahuan dan manajemen data.

Dalam acara pembukaan, Bapak Muhammad Hanif selaku Authorized Signatory PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI menyampaikan bahwa penanganan eliminasi TBC  adalah tantangan yang luar biasa menantang banyak sekali hambatannya, namun beliau yakin bahwa setiap elemen komunitas mempunyai peran pentingnya masing-masing. ”Kita sudah mencapai sesuatu, tapi masih ada tantangan dan waktu untuk memanfaatkan sisa waktu.  Kader, Patient Supporter (PS) dan Manager Kasus (MK) TBC  adalah ujung tombak melakukan Investigasi Kontak, rujukan dan meyakinkan warga dan masyarakat serta membantu memastikan pengobatan TBC sampai selesai. Dan Rakornas ini adalah suatu upaya untuk menemukan solusi dan jalan keluar atas segala hambatan yang terjadi di lapangan,” ucap beliau.

(Ibu Heny Prabaningrum sebagai National Program Director menyampaikan sambutannya di Rakornas)

Dilanjutkan oleh Ibu Henny selaku National Program Director dari PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, beliau menambahkan bahwa “Rapat Koordinasi adalah momentum untuk melakukan refleksi terkait segala pembelajaran yang sudah dilakukan di semester lalu. Kita juga harus mencari dan memutuskan strategi seperti apa yang akan kita ambil dalam upaya peningkatan implementasi program sehingga capaian yang diperoleh juga maksimal,” tambahnya. 

Setelah sambutan dari Authorized Signatory dan National Program Director acara dilanjutkan dengan pemaparan situasi Konsorsium Q5 2022 yang disampaikan oleh para manager. Dwi Aris Subakti (Monitoring Evaluation and Learning (MEL) Manager PR PB-STPI) menjelaskan terkait Capaian Indikator Utama Wilayah Kerja Konsorsium Komunitas Q5 2022, dilanjutkan dengan pemaparan  Kontribusi Pelaksanaan Kegiatan serta Pengelolaan Kader dalam Capaian Indikator Utama yang disampaikan oleh Barry Adhitya (Program Manager PR PB-STPI), kemudian update Perkembangan Serapan Anggaran yang dijelaskan oleh Farhan (Finance and Operation Manager PR PB-STPI), dan yang terakhir yaitu pemaparan Perkembangan Kemitraan Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia Konsorsium Komunitas yang disampaikan oleh Sugeng (Human Resources and Administration  Manager PR PB-STPI).

 

(Bapak Setiawan Jati Laksono dari WHO Indonesia menjadi moderator  Diskusi Panel 1 dengan tema : Kemitraan Komunitas dengan Pemerintah Menuju Eliminasi TBC di Indonesia)

Selanjutnya di hari kedua, acara dilaksanakan dengan pemberian materi dan diskusi yang disampaikan oleh para narasumber ahli. Diskusi panel 1 di moderatori oleh Setiawan Jati Laksono dari WHO Indonesia dengan mengusung tema “Kemitraan Komunitas dengan Pemerintah Menuju Eliminasi TBC di Indonesia”. Diskusi ini dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia yaitu drg. Agus Suprapto, M.Kes. yang menjelaskan tentang Program Terpadu Kemitraan Penanggulangan Tuberkulosis (PROTEKSI) dan Pelibatan Konsorsium Komunitas untuk Percepatan Eliminasi TBC, kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari dr. Tiffany Tiara Pakasi selaku Direktur P2PM Kementerian Kesehatan RI yang memaparkan terkait Strategi Kolaborasi Active Case Finding (ACF) Pemerintah dan Konsorsium Komunitas untuk Percepatan Eliminasi TBC, disambung dengan pemaparan dari Ketua Umum PP Asosiasi Dinas Kesehatan, dr. M. Subuh, MPPM dengan materi Strategi Kolaborasi Adinkes dan Konsorsium Komunitas dalam Pencapaian dan Pemantauan Standar Pelayanan Minimal (SPM) TBC, dan diakhiri dengan penjelasan dari TWG TB,  Adang Bachtiar, MPH, DSc. dengan materi Harmonisasi Target, Capaian, Strategi Implementasi GF TB Pemerintah, Adinkes dan Komunitas.

Setelah diskusi panel 1 berakhir, acara disambung dengan diskusi panel 2 yang dipimpin oleh Meirinda Sebayang dari Jaringan Indonesia Positif. Narasumber yang hadir yaitu Zero TB yang menjelaskan terkait Pembelajaran dan Kolaborasi Zero TB dengan Komunitas dalam ACF Menggunakan Chest X-Ray di DIY, dilanjutkan pemaparan dari USAID TB Private Sector (TBPS) dengan materi  Peluang Kolaborasi USAID TBPS dengan Komunitas dalam Pendekatan Public Private Mix dan diakhiri dengan penyampaian materi dari SWG TB-HIV dengan tema Strategi Kolaboratif Implementasi RAN TB HIV. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pemberian Tanggapan Kolaborasi Konsorsium dan Program Eliminasi di Indonesia yang disampaikan oleh dr. Carmelia Basri, M.Epid (Ahli Tuberkulosis).

Kemudian di hari kedua, pemaparan materi dan update juga disampaikan kembali oleh para manajer dan SR Tematik. Dwi Aris Subakti (MEL Manager PR PB-STPI) menjelaskan terkait Hasil Kajian dan Pembelajaran Konsorsium, Farhan (FO Manager PR PB-STPI) memaparkan Hasil Temuan dan Rekomendasi Auditor, Budi Hermawan (Sub-Recipient Manager  Tematik POP TB) mempresentasikan Peran Strategis SR Tematik dalam Community System Strengthening TBC (CRG, CBMF, Paralegal, Hotline), dan yang terakhir Barry Adhitya (Program Manager PR PB-STPI) menyampaikan terkait Sinkronisasi Program Konsorsium terhadap Strategi Nasional Konsorsium Komunitas dalam Eliminasi TB. Setelah semua presentasi telah selesai disampaikan, peserta diarahkan untuk saling mengelompok per grup dengan fasilitator masing-masing di wilayahnya. Dalam grup tersebut, peserta diwajibkan untuk melakukan forum diskusi terkait status situasi Konsorsium, berdasarkan anvar, hasil monthly meeting SR 2022 terkait dengan indikator utama dan proses Konsorsium Komunitas PB-STPI serta tantangan dan peluang implementasi program Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, antara lain: pencatatan dan pelaporan, managemen, kapasitas dan sumber daya internal SR dan faktor pihak eksternal.

(Anton dari SR Riau mewakili kelompoknya untuk mempresentasikan hasil diskusi)

Berlanjut di hari ketiga, seluruh peserta melanjutkan forum diskusi sesuai dengan pertanyaan yang telah diberikan sebelumnya. Setelah sesi diskusi berakhir, Barry Adhitya sebagai Program Manager memoderatori jalannya presentasi untuk menyampaikan hasil diskusi dari setiap grup. Terdapat empat perwakilan yang mempresentasikan hasil diskusi dari setiap grup yaitu Hidayat SRM NTB, Lukman SRM Banten, Anton SRM Riau dan Beni SRM Jambi. Setelah pemaparan presentasi dari peserta selesai, dr. Carmelia Basri, M.Epid , Authorized Signatory  & Management Advisory Team, National Program Director, serta para Manajer menanggapi hasil presentasi yang disampaikan oleh peserta.

(Thoriq Hendrotomo dari DM Coordinator menyampaikan materi terkait dengan situasi dan kebijakan enabler)

Mengakhiri lokakarya ini, acara masih dilanjutkan dengan pemberian materi dari beberapa narasumber. Pemaparan yang pertama yaitu tentang Refreshment Kader yang disampaikan oleh Field Program Coordinator, Rahmat Hidayat. Kemudian disusul dengan penjelasan tentang situasi dan kebijakan enabler oleh Raisa Afni Afifah (MDR-TB Coordinator), Thoriq Hendrotomo (DM Coordinator) dan Subhan (IC Coordinator),  dan diakhiri oleh penjelasan tentang update Strategi dan Produk Komunikasi Konsorsium oleh Permata Silitonga (KM Coordinator) dan Winda Eka Pahla (Communication Staff).

Di akhir kegiatan rakornas, dr. Carmelia Basri, M.Epid juga memberikan nasihat dan petuah kepada seluruh peserta agar terus bekerja dengan semangat dalam mencapai tujuan. Dan setelah sesi tanggapan berakhir, Eko Komara selaku Authorized Signatory juga menyampaikan bahwa pemberdayaan komunitas akan dapat terus tercipta jika terdapat kesinambungan dan keselarasan bekerja baik antara pemerintah, organisasi masyarakat dan lainnya. Oleh sebab itu, setelah acara Rakornas berakhir, beliau berharap bahwa seluruh elemen dapat berkoordinasi secara harmonis untuk mencapai tujuan bersama. Kemudian, Direktur Program Nasional, Ibu Heny, didampingi para manajer menutup acara rakornas 2022 dengan meminta seluruh peserta untuk bekerja secara kompak. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir untuk bersama-sama mengevaluasi dan menentukan strategi yang akan dilakukan di semester selanjutnya agar mendapat capaian yang lebih baik kedepannya. 

TALKSHOW “TALK x BINCANG TBC 2022” : Mari Cegah TBC Anak Dengan Pemberian TPT pada Balita

(Foto bersama dengan narasumber-narasumber talkshow yaitu Dokter Hetty, Ibu Khadijah, Ibu Julaeha dan Kak Rinaldi)

Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit infeksi yang  banyak menyebabkan kematian. Tidak hanya menyerang orang dewasa, TBC juga dapat terjadi pada anak-anak. Global TB Report 2021 memperkirakan bahwa terdapat 4 juta anak usia di bawah 5 tahun terkena TBC akibat kontak serumah dengan pasien TBC. Sehingga pada kasus ini, pemberian obat TPT (Terapi Pencegahan TBC) menjadi langkah penting untuk dilakukan kepada orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien terutama bagi balita.

Perlu diketahui, TPT adalah serangkaian program pemberian pengobatan dengan satu atau lebih jenis obat antituberkulosis yang diberikan untuk mencegah berkembangnya penyakit TBC di tubuh seseorang. Pemberian obat TPT dapat diberikan dalam jangka waktu 3-6 bulan secara rutin sesuai dengan pertimbangan dokter. Upaya pemberian TPT ini merupakan usaha untuk mengurangi jumlah balita yang menjadi sakit TBC. Namun, sayangnya, literasi dan pengetahuan masyarakat terkait dengan TPT masih sangat kurang. Bahkan, beberapa keluarga yang kontak erat dengan pasien pun menolak untuk mendapatkan TPT.

Menanggapi kurangnya informasi tentang TPT di masyarakat, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI bersama dengan Stop TB Partnership Indonesia mengadakan acara Talkshow TALK x BINCANG TBC sebagai upaya kolaborasi  untuk mengajak  dan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan  informasi TPT kepada anak.

Acara ini menyuguhkan talkshow komunikatif spesial Hari Anak Nasional 2022 dengan mengundang 4 narasumber yaitu Ibu Khadijah (Orangtua Anak Penerima TPT), Ibu Julaeha (Kader TPT Banten), dr. Hetty Wati Napitupulu, SpA (Dokter Spesialis Anak) dan Apt. Rinaldi Nur Ibrahim, S.Farm (Duta TBC) yang diselenggarakan pada tanggal 23 Juli 2022 di kantor PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.

Acara talkshow dibuka oleh pemaparan dari Apt. Rinaldi Nur Ibrahim yang menjelaskan kondisi TBC di Indonesia. “Indonesia ini berada pada posisi ke-3 di dunia untuk kasus TBC. Sebenarnya kalau dibandingkan dengan tahun 2020, kasus TBC di Indonesia ini mengalami penurunan, namun bukan karena banyak yang sembuh tapi karena angka notifikasi kasusnya menurun akibat dampak pandemi COVID-19,” ucapnya.  Notifikasi yang rendah tersebut juga menunjukkan bahwa kemungkinan penularan TBC masih banyak terjadi. Sehingga, pemberian TPT merupakan langkah yang baik untuk mencegah terjadinya sakit TBC dan menurunkan beban TBC di Indonesia.

(Ibu Julaeha, Kader dari SR Banten menceritakan usahanya dalam memberikan edukasi TPT kepada masyarakat di wilayahnya)

Banyaknya kasus TBC juga dialami oleh provinsi-provinsi di daerah contohnya yaitu Banten. Ibu Julaeha selaku kader TBC mengatakan bahwa wilayah kerjanya yaitu Banten menduduki peringkat ke-3 dengan kasus TBC tertinggi di Indonesia.”Kasus di wilayah kami masih tinggi. Sehingga butuh adanya sosialisasi terhadap masyarakat. Karena eliminasi TBC tidak hanya dapat bertumpu kepada tenaga kesehatan, namun juga para pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah baik dari tingkat desa hingga nasional,” tuturnya. 

Sehubungan dengan situasi tersebut, dr. Hetty sebagai dokter spesialis anak memberikan tanggapan terkait dengan kondisi genting yang terjadi saat ini. Beliau menyampaikan bahwa pemberian TPT adalah langkah yang baik sebagai upaya eliminasi TBC terutama pada anak-anak.”TBC ini merupakan penyakit infeksi yang dapat terjadi dalam jangka panjang di tubuh kita. Sehingga, semua anak terutama balita yang kontak dengan pasien TBC Paru harus diberikan TPT. Karena daya tahan tubuh anak-anak belum cukup kuat sehingga ada kemungkinan resiko terinfeksi kuman TBC yang nanti didalam tubuhnya dapat terjadi infeksi TBC Laten bahkan TBC,” jelasnya. 

Walaupun sudah kita pahami bahwa pemberian TPT sangat penting untuk mencegah TBC, namun adanya pro kontra opini di masyarakat terkait dengan TPT yang masih sering dijumpai oleh Ibu Julaeha. “Saat melakukan Investigasi Kontak, kami masih sering menemui beberapa orangtua yang menolak untuk kita kunjungi apalagi untuk mendapatkan TPT. Maka saya sebagai kader berharap semua pemangku kepentingan dapat turun tangan untuk membantu mensosialisasikan informasi terkait TPT kepada seluruh masyarakat,” ucapnya.

(Ibu Khadijah selaku orang tua dari anak yang menerima TPT menyampaikan pendapatnya terkait dengan TPT)

Dibalik banyaknya orang tua yang menolak untuk anaknya mendapatkan TPT, Ibu Khadijah sebagai orang tua anak yang menerima TPT mempunyai pandangan lain. Beliau sangat yakin bahwa TPT dapat membantu anaknya untuk terhindar dari TBC. “Kondisi anak saya setelah mendapatkan TPT kondisinya sehat dan baik. Saya menginformasikan keluarga saya bahwa TPT ini sangat baik untuk kesehatan keluarga. Jadi anak saya, bahkan kami sekeluarga juga memutuskan untuk melakukan TPT,” jelas beliau. 

Di akhir dialog, seluruh narasumber mengajak seluruh masyarakat untuk bertekad melakukan eliminasi TBC 2030. Mari kita lindungi generasi Indonesia dari kuman TBC dengan melakukan TPT. Semoga, kegiatan Talkshow TALKS x BINCANG TBC ini, dapat membantu meningkatkan literasi masyarakat terkait dengan TPT dan membantu Indonesia bebas TBC tahun 2030. 

 

TB Campaign Day 2022 : Stop Stigma & Diskriminasi Terhadap Pasien TBC

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksius yang diakibatkan oleh mycobacterium tuberculosis, penyakit ini bisa menular kepada siapa saja bahkan mematikan. Di Indonesia, estimasi kasus TBC mencapai 824,000 dengan jumlah pasien yang meninggal sebesar 15,186 jiwa sementara jumlah kasus TB yang ditemukan dan diobati baru 443,235 hanya separuh dari estimasi kasus yang ditemukan (data NTP 2021). Di tengah tantangan mencapai target eliminasi TB 2030, upaya mencegah dan menangani penyakit TBC dipersulit dengan adanya stigma terhadap TB di masyarakat.

Stigma terhadap TBC mengakibatkan orang yang mengalami TBC terlambat untuk didiagnosis (melakukan pengobatan), tidak patuh berobat, bahkan putus pengobatan. Dengan demikian, stigma dan diskriminasi secara tidak langsung juga mengakibatkan penyebaran TBC yang lebih luas di masyarakat, bahkan berkembang menjadi resistensi atau TBC kebal obat  yang membuat penanganan TBC menjadi semakin kompleks. Stigma juga menyebabkan orang dengan TBC mengalami diskriminasi di lingkungan sosial. Orang yang mengalami TBC menarik diri dari lingkungan, disisihkan dari pergaulan, sulit mendapatkan pekerjaan, bahkan sampai kehilangan pekerjaannya dan ada pula yang memutusukan untuk mengakhiri hidupnya. Hal tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya permasalahan ekonomi dan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan. Semua hal ini, baik psikologis, ekonomi, dan kesehatan, saling berkaitan satu sama lain dan berdampak multiplikatif jika tidak ditangani dengan tepat.

POP TB Indonesia sebagai salah satu komunitas berfokus pada Eliminasi TBC dengan 22 Jejaring Organiasi Penyintas TBC (OPT) di 16 Provinsi  bekerjasama dengan Indonesia Aids Coalition dengan dukungan dana dari Global Fund telah mengadakan capacity building dan TB Campaign Day pada tanggal 17-19 Juni 2022 di Kota Makassar Sulawesi Selatan. Kegiatan ini berupaya selain meningkatkan kualitas jejaring (OPT) yang menjadi ujung tombak dalam meningkatkan peran komunitas yang berdaya. Seperti yang diungkapakan oleh Bapak Patrick Johanes Laurens (Program Manager Indonesia Aids Coalition) bahwa Organiasi atau komunitas merupakan kendaraan dalam pergerakan Eliminasi TBC di Indonesia. “Sewajarnya kendaraan, kendaraan tersebut harus kuat dan berkualitas. Kembangkan diri dengan adanya perubahan-perubahan yang signifikan dan membangun agar team dan organisasi dapat berkembang” imbuh Bang Patrick.

Selain perubahan sinergi dan penguatan team dari organisasi komunitas, POP TB juga mengadakan pelatihan fundraising & Report Writing. Dua hal ini merupaka kesatuan yang tidak bisa dipisahkan bagi suatu komunitas nirlaba yang bergerak secara volunteer. Fundraising merupakan suatu hal yang harus dilakukan sebagai keberlangsungan suatu organisasi (bahan bakar). Seperti yang disampaikan oleh Thea Y. Hutanamon (Partnership & Development Manager Stop TB Partnership Indonesia) Jiwa kesukarelawanan harus selalu ada di dalam tubuh OPT karena itu dasar dari Fundraising. “Selain narasi yang dituangkan di Proposal fundraising bahwa kita juga harus membangun jejaring dan melakukan branding organisasi agar ketika suatu organisasi memiliki program yang butuh dukungan, hal ini akan mempermudah kerjasama dalam program” Sambung Ibu Thea.

untuk menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap pasien TBC di Indonesia melalui TB Campaign Day, POP TB Indonesia dengan mengajak OPT dari 16 Provinsi melakukan aksi kampanye sosial dan Flashmob berupa edukasi kepada masyarakat dan pengunjung Lego Lego CPI Kota Makassar. Kampanye sosial yang kami lakukukan mengangkat isu stop stigma dan diskriminasi terhadap pasien TBC dengan melakukan survey, sosialisasi dan edukasi kepada pengunjung Lego Lego CPI Kota Makassar. Dari 60 pengunjung yang bersedia menjadi responden dalam survey kami, 30% orang yang pernah mengalami TBC juga mengalami stigma. Adapun stigma dan diskriminasi yang didapatkan adalah dikucilkan dari lingkungan sosial. Kampanye sosial dan edukasi terkait TBC dirasa sangat dibutuhkan oleh Masyarakat setempat agar mereka lebih berhati-hati dan menjaga diri dari penularan TBC dan penanganan yang benar ketika terjangkit.

“Kami di Makassar berharap pemerintah bisa melakukan kampanye edukasi TBC seperti covid, Edukasi covid 19 dimana-mana bahkan ditempat umum atau pasar pun pemerintah membangun baliho untuk edukasi covid, mengapa tidak dengan TBC?” Imbuh seorang pengunjung yang pada saat pengisiian survey oleh peserta kampanye sosial.  Dengan adanya kegiatan kampanye ini kami berharap kegiatan ini dapat mereduksi stigma TBC di masyarakat. Selain kampanye turun ke jalan, kami juga melakukan kampanye digital di medsos. Peserta juga melakukan posting terkait kegiatan TB Campaign dan dengan tagline stop stigma dan diskriminasi terhadap pasien TBC.

Kedepan nya POP TB berharap orang dengan TBC bisa memliki kesempatan yang sama sebagai mahluk sosial dan manusia sebagai fitrahnya. Hal ini sesuai dengan orasi yang disampaikan oleh Ketua POP TB Indonesia, Bapak Budi Hermawan “Kami, POP TB Indonesia berharap dengan adanya kampanye ini, POP TB indonesia menjadi bagian dan berkontribusi terhadap upaya eliminasi TBC 2030 bisa!” Belajar dari kasus covid-19, ketika pasien covid-19 bisa dengan leluasa mengkonfirmasi di media sosial bahwa dirinya terjangkit covid-19 dengan melakukan posting hasil PCR atau antigennya di medsos ataupun dengan memberitahukan langsung kepada keluarga dan tetangga sekitar. Respon positif sosial dengan berduyun-duyun mengirimkan bantuan baik obat ataupun kebutuhan nutrisi yang mendukung penyembuhan untuk covid-19 ketika pasien melakukan isolasi itu pun bisa terjadi dengan mereka yang terkena TBC. Covid-19 dan TBC sama-sama penyakit menular dan mematikan namun adanya perlakukan yang jauh berbeda. Apakah kita salah dalam membranding TBC? Atau masih kurang dalam hal edukasi? Mari kita urai bersama permasalahan yang ada di TBC untuk solusi yang terbaik.

Eliminasi TBC Di Provinsi Banten, SR Konsorsium Penabulu STPI Tanda Tangani Kesepakatan Bersama Dengan Dinas Kesehatan

Penabulu-STPI dan Dinas Kesehatan Banten melakukan Penandatanganan Kesepakatan

Tangerangupdate.com (21/06/2022) | Kota Serang — Sub Recipient (SR) Konsorsium Penabulu-STPI Provinsi Banten menandatangani Kesepakatan bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Banten program pencegahan dan penanggulangan tuberculosis (TBC) di wilayah Provinsi Banten.

Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Banten tersebut menyepakati 5 poin yang mana kesepakatan ini dalam rangka melibatkan organisasi masyarakat dalam Komunitas, dalam rangka eliminasi TB di Provinsi Banten.

“Sub Recipient (SR) Konsorsium Penabulu-STPI Provinsi Banten adalah Pelaksana dana hibah Global Fund Indonesia program Eliminasi TB Konsorsium Komunitas Penabulu – STPI” Ungkap Subhan Programer SR Banten kepada Kantor Berita Tangerangupdate.com, Selasa (21/06).

Ditambahkannya Peran Organisasi Masyarakat Sipil mendapatkan porsi yang cukup signifikan, terutama dalam hal promotif, preventif, dan rehabilitatif serta mengembangkan berbagai penelitian, melakukan inovasi-inovasi, advokasi dan meningkatkan peran semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung guna mendukung percepatan upaya eliminasi TBC di tahun 2030.

“Landasan kita sebagai Komunitas dalam membantu eliminasi TBC di Provinsi Banten adalah Peraturan Presiden Nomor 67 tahun 2021 tentang penanggulangan TBC, Intruksi Gubernur Provinsi Banten nomor 2 tahun 2018 tentang Gerakan Banten Eliminasi eliminasi TBC, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 tahun 2016 tentang penanggulangan Tuberkulosis”

Lalu lanjutnya “Kesepakatan Bersama antara Dinas Kesehatan Provinsi Banten dengan Konsorsium Komunitas Panabulu-STPI Provinsi Banten tentan program pencegahan dan penanggulangan TBC di wilayah provinsi banten oleh komunitas” Tandasnya

Kegiatan tersebut dihadir juga kepala bidang pencegahan dan pengendalian penyakit ibu dr, Rr Sulestiorini, kepala seksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular ibu drg. Nenden Diana Rose, MRS, Tekhnical Officer DPPM Dinkes Banten, Tim RO Dinkes Banten, Tim enabler Dinkes Banten.

Kepala bidang pencegahan dan pengendalian penyakit, Ibu dr, Rr Sulestiorini menyambut baik kerjasama tersebut “tentu dinas (Dinas Kesehatan Banten-Red) tidak bisa sendiri melakukan kegiatan eliminasi TBC, kita butuh kawan-kawan seperti Penabulu STPI” Ucapnya.