Dukung Eliminasi TBC 2030, SSR Sinergi Sehat Indonesia Bantul Ikut Terlibat dalam Penanggulangan TBC

Foto Bersama dalam Kegiatan Konfrensi Pers Pernyataan Bersama Upaya Penanggulangan Tuberkulosis di Kabupaten Bantul

Pengendalian penyakit Tuberkulosis termasuk satu dari lima prioritas kesehatan nasional. Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, estimasi kasus TBC pada tahun 2021 berjumlah 969.000 kasus TBC, namun baru 443.235 kasus TBC yang ditemukan dengan jumlah kematian sebanyak 15.186 kasus. Dari jumlah kasus tersebut, penularan penyakit TBC mayoritas ditemukan pada kelompok usia produktif. Penularan penyakit TBC juga dipengaruhi oleh faktor sosial seperti kemiskinan, urbanisasi, pola hidup yang kurang aktif, penggunaan tembakau, dan alkohol (WHO, 2020).

Di Kabupaten Bantul, pada bulan Januari sampai November 2022, tercatat ada 1.216 kasus TBC yang ditemukan di seluruh fasilitas kesehatan di Kabupaten Bantul. 619 diantaranya adalah kasus TBC anak dan 12 kasus pasien TBC Resisten Obat. Jumlah tersebut masih 50% dari estimasi 2.431 kasus TBC di Kabupaten Bantul. Artinya masih banyak orang dengan TBC yang masih belum ditemukan dan diobati.

Proses Kegiatan Konfrensi Pers Upaya Kolaborasi Penanggulangan Tuberkulosis di Kabupaten Bantul

Selain masih banyaknya estimasi orang dengan TBC yang belum ditemukan, angka pasien yang putus berobat TBC di Kabupaten Bantul juga cukup tinggi yaitu sebesar 3,93% dari jumlah pasien yang diobati tahun 2021. Pasien yang tidak menjalani pengobatan sampai tuntas dikhawatirkan akan membuat pasien terkena TBC Resisten Obat. Oleh karena itu pendampingan bagi pasien TBC agar dapat menjalani pengobatan sampai tuntas sangat dibutuhkan.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk menekan angka penularan penyakit TBC di Kabupaten Bantul. Salah satunya adalah memberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi kontak erat pasien TBC, menguatkan jejaring internal dan eksternal fasilitas kesehatan, serta kolaborasi multi sector melalui pendekatan District based Public Private Mix (DPPM).

Dinkes Bantul menyatakan komitmennya untuk saling berkolaborasi dalam peningkatan penemuan kasus TBC di Bantul

Melalui pendekatan DPPM, Dinas Kesehatan Bantul, fasilitas kesehatan, dan Komunitas saling berkolaborasi untuk meningkatkan angka penemuan kasus TBC serta memastikan pasien mendapatkan pengobatan sesuai standar dan berpusat pada pasien. SSR Sinergi Sehat Indonesia Bantul sebagai TBC Komunitas melakukan peranannya dalam penemuan kasus TBC melalui kegiatan Investigasi Kontak (tracing), Sosialisasi TBC ke masyarakat, mendorong pemberian TPT pada kontak erat pasien TBC, pelacakan dan edukasi pasien TBC putus berobat, serta pendampingan pasien TBC. Harapannya dengan adanya upaya kolaborasi tersebut dapat meningkatkan penanggulangan TBC di Kabupaten Bantul.

Mari kita temukan, obati sampai sembuh kasus TBC di Wilayah Kabupaten Bantul

TOSS TBC !

SSR Sinergi Sehat Indonesia Bersama Dinas Kesehatan dan Komisi D DPRD Sleman Melakukan Pernyataan Bersama Upaya Penanggulangan Tuberkulosis

Foto Bersama dalam Kegiatan Konferensi Pers Pernyataan Bersama Upaya Penanggulangan Tuberkulosis di Kabupaten Sleman

Sleman, 20 Desember 2022 bertempat di Hotel Grand Keisha dilaksanakan kegiatan pertemuan Konferensi Pers Pernyataan Bersama Upaya Penanggulangan Tuberkulosis di Kabupaten Sleman dengan Narasumber Wakil Ketua Komisi D DPRD, Dinas Kesehatan dan SSR Sinergi Sehat Indonesia Kabupaten Sleman. Kegiatan ini sebagai proses penyebarluasan informasi terkait situasi terkini penanggulangan TBC, tantangan, serta praktik baik kepada pemangku kepentingan dan berbagai pihak sebagai sebagai salah satu strategi advokasi melalui saluran komunikasi publik yang dilaksanakan bersama jejaring DPPM.

“Sejak tahun 2021 hingga saat ini SSR Sinergi Sehat Indonesia melakukan kegiatan penanggulangan TBC di Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut untuk mendukung Eliminasi TBC di Kabupaten Sleman melalui dukungan kader TBC di masyarakat dalam penemuan kasus secara aktif melalui Investigasi kontak, penyuluhan, pengantaran spesimen dahak pelacakan pasien mangkir, pendampingan pengobatan dan rangkaian pertemuan jejaring dan kemitraan untuk implementasi DPPM.” Ujar Primarendra selaku Pelaksana Program SSR Sinergi Sehat Indonesia Kabupaten Sleman.

Global Tuberculosis Report (GTR) 2022 mencatat bahwa terdapat 969.000 kasus tuberkulosis (TBC) baru di Indonesia dan menempatkan sebagai negara kedua dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Sub Koordinator Kelompok Substansi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, dr. Seruni Angreni Susila menyampaikan bahwa kasus TBC di Kabupaten Sleman yang tercatat di Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) per tanggal 15 Desember 2022, adalah 1.604 kasus.  Apabila dibandingkan dengan tahun 2021 maka ada peningkatan sekitar 1.000an kasus. Program Dinas Kesehatan Sleman tahun 2023 akan meningkatkan penemuan secara aktif atau active case finding dengan melibatkan kerjasama Puskesmas, Zero TB FKKMK UGM dan Kader TBC komunitas SSR Sinergi Sehat Indonesia.

dr. Seruni dari Dinas Kesehatan mengajak seluruh stakeholder dan masyarakat bersama-sama memberantas tuberkulosis di Sleman

Beliau mengajak seluruh masyakat Kabupaten Sleman  agar dapat bersama-sama saling bahu membahu untuk mencegah serta berperan dalam penanggulangan TBC sesuai dengan potensi dan kapasitas masing-masing sehingga harapan Indonesia Eliminas TBC di tahun 2030 dapat terwujud. “Mari bersama-sama seluruh warga Kabupaten Sleman siap melawan penyakit TB dan mewujudkan Indonesia Eliminasi TB 2030.” tutur dr. Seruni.

Komisi D DPRD siap memberikan dukungan penuh terhadap upaya penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten Sleman

Komisi D DPRD Kabupaten Sleman juga siap mendukung upaya penanggulangan TBC di Kabupaten Sleman. Muh. Zuhdan, S.Pd, M.A.P selaku Wakil Ketua Komisi D DPRD Sleman menyampaikan bahwa “Melalui fungsi pegawasan DPRD akan berperasn agar program tepat sasaran, anggaran dapat maksimal digunakan serta mempersiapkan anggota dewan dalam pengganggaran kepentingan untuk masyarakat.”

Dalam upaya meningkatkan peran Fasyankes Pemerintah maupun Swasta dalam jejaring District Public Private Mix [DPPM] di penghujung tahun 2022 Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memberikan Piagam Penghargaan DPPM Champion untuk Puskesmas, Rumah Sakit dan Klinik yang melakukan upaya terbaik dalam penanggulangan TBC. Piagam Penghargaan DPPM Champion Kabupaten Sleman 2022 diberikan kepada:

  • Puskesmas Sleman dengan jumlah pasien TBC, keberhasilan pengobatan, Terapi Pencegahan TBC [TPT] dan Investigasi Kontak [IK] terbanyak dari hasil penilaian bersama Dinas Kesehatan, SSR Sinergi Sehat Indonesia dan Tim Zero TB FKKMK UGM
  • RS PKU Muhammadiyah Gamping dengan penemuan jumlah terduga, jumlah pasien TBC dan keberhasilan pengobatan terbanyak
  • Klinik Pratama HM Sosromihardjo untuk perannya dalam penemuan terduga dan pasien TBC terbanyak

Piagam Penghargaan DPPM Champion harapannya dapat mendorong Fasyankes untuk semakin termotivasi dan melakukan upaya maksimal dalam program penanggulangan TBC.

Salam TOSS TBC!

Temukan TBC Obati Sampai Sembuh

 

 

Bersama Komunitas SSR PKBI Kota Yogyakarta, Mari Wujudukan Indonesia Eliminasi TBC 2030

Kegiatan Konferensi Pers Pernyataan Bersama Upaya Kolaborasi Penanggulangan Tuberkulosis

Tuberkulosis dinyatakan oleh World Health Organization [WHO] sebagai salah satu penyakit menular yang paling mematikan di dunia. Terlebih lagi dalam Global TBC Report dari WHO yang diterbitkan pada 27 Oktober 2022 disebutkan Indonesia kembali naik peringat dua dengan estimasi beban TBC terbanyak di dunia setelah India. Kasus TBC di Indonesia diperkirakan sebanyak 969.000 kasus TBC [satu orang setiap 33 detik]. Angka ini naik 17% dari tahun 2020, yaitu sebanyak 824.000 kasus. Insidensi kasus TBC di Indonesia adalah 354 per 100.000 penduduk, yang artinya setiap 100.000 orang di Indonesia terdapat 354 orang di antaranya yang menderita TBC. Data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta per 6 Desember 2022 ditemukan 1.143 kasus TBC semua tipe.

Sebagai salah satu upaya eliminasi TBC diperlukan kolaborasi multi pihak baik dari pemerintah, pemangku kebijakan dan komunitas penanggulangan TBC di Kota Yogyakarta.

PKBI Kota Yogyakarta sejak April 2021 menjadi salah satu Sub-sub Recipient [SSR] penerima dana hibah Global Fund dibawah Sub Recipient [SR] Siklus Indonesia dan Principle Recipient [PR] Konsorsium Komunitas Penabulu STPI. SSR PKBI Kota Yogyakarta berperan dalam penaggulangan TBC berbasis komunitas di Kota Yogyakarta dengan melakukan peran TOSS TBC yaitu dalam penemuan kasus TBC melalui kegiatan Investigasi Kontak Rumah Tangga [IK RT] atau tracing kontak erat dan serumah, Investigasi Kontak Non Rumah Tangga [IK Non RT] dalam bentuk sosialisasi dan skrinning TBC ke masyarakat, edukasi pemberian Terapi Pencegahan TBC [TPT] balita kontak serumah, pendampingan pasien TBC Resisten Obat [RO] dan pelacakan pasien TBC Sensitif Obat  [SO] dalam implementasi District Private Public Mix [DPPM], pengantaran spesimen dahak, dsb. Area intervensi SSR PKBI Kota Yogyakarta adalah 100% dari 18 puskesmas di Kota Yogyakarta meliputi Umbulharjo, Kotagede, Mergangsan, Gondokusuman, Pakualaman, Mantrijeron, Wirobrajan, Kraton, Gondomanan, Gondokusuman, Tegalrejo, Jetis dan kader yang telah mengikuti pelatihan sebanyak 58 orang.

Investigasi kontak RT oleh kader SSR PKBI Kota Yogyakarta pada Januari-November 2022 terlaksana sebanyak 372 untuk indeks kasus terkonfirmasi TBC bakteorologis dan TBC anak. Pelaksanaan IK tersebut berdasarkan indeks yang diterima dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta sejumlah 702 indeks. Dari 372 IK RT yang terlaksana ada 8033 kontak yang di skrinning, 783 yang memenuhi syarat rujuk, 710 yang berhasil dirujuk, 670 yang melakukan tes dengan hasil negatif [339 pemeriksaan rontgen, 98 pemeriksaan TBC anak, 233 pemeriksaan TCM] dan 40 dengan hasil tes positif [21 pemeriksaan rontgen, 5 pemeriksaan TBC anak, 14 pemeriksaan TCM]

Investigasi kontak Non RT berupa penyuluhan dan skrining TBC di Kota Yogyakarta Januari-November 2022 dilaksanakan 64 Kali dengan 1344 kontak yang di skrinning, 340 yang berhasil dirujuk, 302 diperiksa dengan hasil negatif [57 pemeriksaan rontgen, 76 pemeriksaan TBC anak, 169 pemeriksaan TCM] dan 38 dengan hasil tes positif [13 pemeriksaan rontgen, 4 pemeriksaan TBC anak, 21 pemeriksaan TCM]

Tantangan bagi kami adalah dalam merujuk balita kontak serumah dengan pasien TBC Baktereologis untuk diberikan TPT. Selain pada balita TPT diberikan pada orang dengan Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) dimana sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi tidak mampu mengeliminasi bakteri Mycobacterium tuberculosis dari tubuh secara sempurna tetapi mampu mengendalikan bakteri TBC sehingga tidak timbul gejala sakit TBC. Hasil studi menunjukan sekitar 5-10% orang dengan ILTB akan berkembang menjadi TBC aktif, biasanya terjadi dalam 5 tahun sejak pertama kali terinfeksi.  Risiko penyakit TBC pada ODHA, anak kontak serumah dengan pasien TBC terkonfirmasi TBC bakteorologis dan kelompok beresiko lainnya dapat dikurangi dengan pemberian TPT. Dengan pemberian TPT dapat mengurangi risiko reaktivasi sekitar 60% sampai 90%. Selain itu pemberian TPT pada ODHA dapat memberikan perlindungan hingga lebih dari 5 tahun. Pemberian TPT ini bukan kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi diimplementasikan secara komprehensif di layanan TBC dan sistem kesehatan. Harapannya kedepan kita semuanya semakin memahami pentingnya TPT dan dapat diberikan dengan lancar untuk terwujudnya Eliminasi TBC.

Tuberkulosis dapat dicegah dengan beberapa cara, diantaranya adalah semua pasien TBC dan kontak erat menggunakan masker dan membuang masker dengan tepat, melakukan skrinning kesehatan apabila ada yang batuk berdahak lebih dari 2 minggu, berkeringat di malam hari dan kontak serumah ataupun kontak erat dengan pasien TBC, menerapkan perilaku hidup sehat dengan menjaga kebersihan serta memastikan ventilasi udara yang baik agar terkena paparan sinar matahari.

SSR PKBI Kota Yogyakarta berharap masyarakat dapat memberikan dukungan terhadap pengobatan TBC. Stigma pada pasien TBC juga masih cukup tinggi, sehingga masih banyak masyarakat enggan memeriksakan diri. Padahal dengan keterbukaan terkait kondisi kesehatan dapat segera ditangani dan menurunkan penularan lebih cepat.

Untuk saling berkolaborasi dalam eliminasi TBC, SSR PKBI Kota Yogyakarta juga bekerjasama dengan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan rujukan tingkat lanjut baik pemerintah maupun swasta serta secara rutin mengadakan kegiatan bersama untuk terus meningkatkan peran dalam eliminasi TBC.

 

Kader sebagai TB Warrior Sejati Guna Mencapai Eliminasi TBC di Kabupaten Sidoarjo

Kader SSR Sidoarjo melakukan skrining di tempat indeks kasus

Penyakit TBC tetap menjadi salah satu penyakit menular dan mematikan di dunia. Kasus tersebut juga menjadi bayangan kelam untuk Kabupaten Sidoarjo dimana angka notifikasi kasus TBC di Sidoarjo hingga Oktober 2022 mencapai 3.287 kasus berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo. Angka tersebut juga menempatkan Kabupaten Sidoarjo berada di urutan ke tiga dengan Kabupaten/Kota yang memiliki kasus TBC tertinggi di Provinsi Jawa Timur. Berbagai program pencegahan dan penanggulangan TBC telah dilakukan melalui peran lintas sektor maupun lintas program. Membangun jejaring dengan komunitas dan organisasi masyarakat pun menjadi strategi jitu untuk menghadapinya. Bentuk implementasi nyata adalah keterlibatan Kader kesehatan dalam Pencegahan dan Penanggulangan TBC di Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur.

Kader kesehatan adalah ujung tombak pelaksanaan segala program kesehatan di masyarakat dan tenaga sukarela sejati yang dipilih dari, oleh, serta untuk masyarakat dimana Kader harus senantiasa bekerja secara ikhlas, mau dan mampu melaksanakan program kesehatan, mengedukasi dan memotivasi masyarakat guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik. Kader kesehatan merupakan perwujudan peran serta aktif masyarakat. Begitu pula dengan Kader TBC komunitas yang juga merupakan bagian dari kader kesehatan yang fokus melaksanakan program pencegahan dan penanggulangan TBC di masyarakat dan biasa kami sebut dengan nama TB Warrior. Istilah Warrior sejujurnya tidak cukup untuk mengungkapkan begitu besarnya perjuangan dan pengorbanan Kader TBC guna mencapai eliminasi TBC di Sidoarjo. Sosok yang tidak pernah putus asa, bekerja tanpa pamrih, konsisten dalam mencapai tujuan yang ditargetkan, serta penuh keyakinan dan tekad ini tidaklah cukup dihargai oleh apapun. “Peran 39 kader sebagai TB Warrior di Kabupaten Sidoarjo sangatlah besar. Perkembangan capaian pelaksanaan investigasi kontak dan case finding dari semester 1 tahun 2022 ke semester 2 tahun 2022 sangatlah nampak, dimana terdapat peningkatan 10,85% untuk case finding dan 7,92% untuk pelaksanaan investigasi kontak rumah tangga di Kabupaten Sidoarjo”, ungkap Ayu, Staf Program SSR Yabhysa Sidoarjo.

Penyebutan Kader SSR Yabhysa Sidoarjo sebagai TB Warrior tentunya dilandaskan karena beberapa hal. Adanya 18 Kecamatan dan 27 Puskesmas yang terletak di Sidoarjo ternyata dapat diintervensi oleh 39 Kader SSR Yabhysa Sidoarjo. Bahkan Kecamatan dengan wilayah terluas yaitu Kecamatan Jabon hanya memiliki 2 kader aktif. Begitu pula dengan Kecamatan Sedati yang hanya memiliki 3 kader aktif. Selain cakupan wilayah Kabupaten Sidoarjo yang sangat luas, kelengkapan identitas indeks kasus turut menjadi tantangan bagi kader SSR Yabhysa Sidoarjo. Identitas alamat indeks kasus yang hanya menyebutkan RT dan RW tanpa adanya nomor rumah menjadi kendala dan sekaligus tantangan dalam hal pelacakan atau investigasi kontak. Hal ini nampak dari pernyataan Ibu Dyah kader SSR Yabhysa Sidoarjo saat berkomunikasi dengan staff program. “Wilayah Kecamatan Sukodono sangatlah luas. Rumah saya ujung utara, sedangkan indeks kasus berada di ujung timur, selatan dan barat. Saya sudah jauh-jauh kesana, hujan dan malam hari karena pagi mayoritas bekerja ternyata tetap saja tidak ketemu orangnya. Otomatis investigasi kontak 1 indeks kasus tidak cukup hanya dilakukan sehari. Besok dan besoknya lagi saya kunjungi ulang. Itu yang sering saya temui saat investigasi kontak,” ucap beliau. Kabupaten Sidoarjo juga merupakan daerah industri dengan total 961 perusahaan yang terdiri dari 664 perusahaan industri besar dan 297 perusahaan industri kecil yang tentunya banyak masyarakat nomaden sehingga ketika pendatang yang berdomisili di Kabupaten Sidoarjo ini menjadi indeks kasus maka akan lebih susah untuk melacak karena sering berpindah-pindah.

Kader SSR Sidoarjo berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain untuk memberikan edukasi terkait TBC

Kendala ini ternyata sering dihadapi oleh Kader. Hal tersebut pun dipertegas oleh penyataan Ibu Siti Setiyani selaku Kepala SSR Yabhysa Sidoarjo dalam diskusi kegiatan DPPM tanggal 8 Desember 2022 lalu. “Informasi identitas pasien LTFU di RT A setelah dilacak hingga ditanyakan kepada ketua RT ternyata tidak ada nama pasien tersebut. Kemudian bertanya ke Ketua RT B ternyata namanya saja yang sama namun setelah dikunjungi orangnya bilang tidak pernah sakit TBC dan ternyata NIK berbeda. Sebelumnya dihubungi via telepon tidak diangkat akhirnya ditanyakan di semua Ketua RT di RW bersangkutan dan ketemulah di RT C yang ternyata pasien merupakan warga nomaden yang kos di RT tersebut dan tidak pernah bersosialisasi dengan warga sekitar sehingga jarang ada yang mengenal. Walaupun susah mencari, bersyukurnya pada kunjungan kedua, pasien mau melanjutkan pengobatan”. Nah, hal-hal seperti ini yang patut diapresiasi dari kinerja kader SSR Yabhysa Sidoarjo.

Selain tantangan dalam hal pelacakan atau investigasi kontak, tantangan memotivasi kontak serumah atau kontak erat bergejala untuk tes dahak pun ikut berperan. Kader tidak hanya datang satu kali bahkan bisa sampai tiga kali agar kontak berkenan melakukan tes dahak. Hal ini serupa dengan tantangan pelacakan kasus Lost to Follow Up (LTFU) di Kabupaten Sidoarjo. Namun karena tekad Kader yang besar, maka segala kegiatan baik investigasi kontak ataupun penemuan kasus tetap bisa dilaksanakan dengan baik. Hal ini juga sesuai dengan beberapa hasil penelitian dimana menurut Sulaeman dkk (2016) dalam Jurnal Kedokteran Yarsi menjelaskan bahwa modal sosial kader yang meliputi dimensi relasional, kognitif, dan struktural berperan dalam penemuan kasus TB (Case Detection Rate/CDR). Dimensi relasional meliputi komunikasi dan kerjasama. Dimensi kognitif meliputi saling percaya, kepedulian dan perasaan memiliki dalam keluarga, masyarakat, kader serta petugas kesehatan. Dimensi struktural meliputi perkumpulan masyarakat serta jaringan sosial.

Semua perjuangan dan pengorbanan Kader TB Warrior SSR Yabhysa Sidoarjo di semester 2 tahun 2022 ini berujung pada peningkatan capaian program pada indikator output dan peningkatan rating Global Fund SSR Yabhysa Sidoarjo 1 tingkat dari rating semester sebelumnya. Peran Kader inilah yang patut diberikan apresiasi melalui penghargaan TB Warrior. Apresiasi ini penting sebagai bentuk motivasi kepada Kader untuk lebih semangat lagi dan karena kegiatan apresiasi menyangkut kegiatan melihat, mengamati, menilai dan menghargai suatu karya. Seorang pejuang harus menjaga agar tidak pernah patah semangatnya. Untuk memperoleh sekuntum bunga mawar yang indah, kita harus rela duri menusuk jari kita. Begitulah pengorbanan dan kerja keras kader TB warrior SSR Yabhysa Sidoarjo dimaknai dalam perjuangannya mencapai eliminasi TBC di Kabupaten Sidoarjo.


Penulis : Sri Rahayu, S.KM (Staf Program SSR Yabhysa Sidoarjo)

Editor: Winda Eka Pahla

Peningkatan Penemuan Kasus TBC melalui Inovasi Gerakan Komunitas (JABAT TB, TEMAN TB DAN TB WARRIOR) di Sidoarjo

Proses eliminasi Tuberkulosis (TBC) merupakan hal yang membutuhkan komitmen tinggi. Dalam prosesnya, pemikiran yang kreatif dan inovatif sangat diperlukan untuk menentukan langkah dalam pengambilan kebijakan atau pembuatan program baru demi melakukan eliminasi TBC.  Kurangnya pemahaman mengenai tanda dan gejala, serta pengobatan tuberkulosis juga menyebabkan peningkatan stigma di masyarakat terkait TBC semakin meluas. Indonesia dengan budaya sosialnya, sangat beresiko tinggi membentuk stigma yang mampu meningkatkan penundaan diagnostik dan ketidakpatuhan pengobatan TBC untuk pasien. Yang mana hal ini dapat mempengaruhi status mental pasien TBC dan dapat memunculkan gangguan psikosomatik, depresi hingga berujung pada kematian karena tidak patuhnya pada pengobatan.

Melihat situasi tersebut, diperlukan adanya gerakan dari seluruh pemerintah, pemangku kebijakan, komunitas hingga dari lini masyarakat untuk mendukung suksesnya eliminasi TBC di Indonesia. Dalam praktiknya, PR Konsorsium Penabulu-STPI berkomitmen untuk menciptakan sinergi yang baik dengan masyarakat umum yang berperan sebagai kader maupun pendamping pasien. Khususnya di wilayah Sidoarjo, SSR (Sub Sub Recipient) Sidoarjo menciptakan inovasi-inovasi baru sebagai usaha dalam memberdayakan sumber daya dan sebagai usaha untuk meningkatkan angka capaian notifikasi kasus.

Kegiatan JABAT TB di RS Mitra Keluarga Pondok Tjandra

Pada semester dua tahun 2022 ini, staff program SSR Sidoarjo, Ibu Ayu menyampaikan bahwa dirinya mempunyai banyak strategi untuk mencapai target. “Di periode semester Juli hingga Desember 2022, kami telah dan akan melaksanakan tiga program inovasi SSR Sidoarjo yang terdiri dari JABAT TB, TEMAN TB dan TB Warrior. Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk peningkatan jejaring kemitraan dan perluasan daerah intervensi melalui kunjungan, pengenalan program dan koordinasi penanganan TBC  dengan fasyankes sekitar dan lintas sektoral. Selain itu, capaian notifikasi kasus juga dapat meningkat sembari adanya variasi-variasi program yang sudah dikonsepkan,” tuturnya.

Program yang pertama yaitu JABAT TB. Program ini dicanangkan untuk peningkatan program dalam segi A“Kami mencoba menerapkan program tersebut semenjak bulan September lalu. Program ini ditargetkan dapat menggaet 15 Puskesmas yang belum masuk ke wilayah intervensi, Rumah Sakit yang belum melakukan MoU dengan Komunitas, BAZNAS dan Lembaga sosial lainnya,” jelas beliau. Ibu Ayu juga menambahkan bahwa program yang dikenal dengan JABAT TB ini telah menghasilkan beberapa intervensi wilayah Puskesmas yaitu Puskesmas Urangagung dan Puskesmas Waru 2, Sidoarjo. Selain Puskesmas, program JABAT TB juga menjadikan bertambahnya Rumah Sakit yang bermitra dengan SSR Sidoarjo melalui MoU yaitu RS Mitra Keluarga Pondok Tjandra, Sidoarjo.

Proses Pengisian Kuesioner TEMAN TB oleh Pasien TBC setempat

Selain dalam segi kemitraan, SSR Sidoarjo juga membuat sistem umpan balik atau dikenal dengan nama TEMAN TB (Sistem Penilaian Tuberkulosis) yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dalam pengaplikasian program TBC di wilayah mereka. “TEMAN TB ini merupakan adaptasi dari program CBMF (Community-Based Monitoring and Feedback) yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kita dalam melakukan monitoring pada kegiatan penanggulangan TBC serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan TBC di wilayah Sidoarjo,” tutur Ibu Ayu. TEMAN TB merupakan sistem penilaian tuberkulosis melalui kuesioner yang dapat diisi oleh pasien TBC saat berkunjung di fasyankes. Kuesioner dapat berisi tentang feedback, saran dan keluhan terhadap pelayanan tuberkulosis yang diimplementasikan di wilayah Sidoarjo. Selanjutnya, hasil dari program TEMAN TB akan dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan dan fasyankes terkait untuk merespon dan menindaklanjuti saran dan kritik yang telah diinput oleh pasien melalui TEMAN TB tersebut. Berikut untuk contoh kuesioner TEMAN TB yang diciptakan oleh tim SSR Sidoarjo:

 

Kuesioner TEMAN TB SSR Sidoarjo

Ibu Ayu menjelaskan terkait cara mengoptimalisasikan TEMAN TB.   “Dalam implementasinya, kami akan mengoptimalisasikan TEMAN TB ini dengan penyederhanaan isi kuesioner menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat, melengkapi poin pertanyaan terkait pengetahuan TBC serta tanggapan dan penilaian masyarakat terhadap peran komunitas. Semoga dengan adanya kuisioner ini dapat membantu dalam monitoring dan evaluasi kegiatan kita,” 

Kedepannya, untuk membangun sumber daya yang berintegritas dan berkualitas, Ibu Ayu dan tim juga akan melakukan pengoptimalan pemberdayaan Kader TBC di wilayah Sidoarjo melalui program TB WARRIOR. TB WARRIOR adalah program pemberian apresiasi kepada kader yang berprestasi dalam pelaksanaan program penanggulangan TBC. Pemberian apresiasi tersebut diberikan dalam bentuk piagam penghargaan kader TBC berprestasi yang ditandatangani oleh SSR dan diketahui oleh Dinas Kesehatan serta pemberian bingkisan. “Kami sangat mengerti bahwa kader merupakan tonggak utama kesuksesan eliminasi TBC. Oleh karena itu, di semester dua ini kami akan berusaha untuk mengapresiasi kerja keras mereka selama ini di lapangan melalui program ini,” ucap Ibu Ayu. Dalam penerapannya, program TB WARRIOR akan di kategorikan menjadi 3 jenis yaitu: a) TB Warrior Investigasi Kontak ; b) TB Warrior Case Finding dan c) TB Warrior Pendampingan Pasien, yang mana kegiatan ini akan dilaksanakan pada bulan Desember 2022 dengan penilaian dilakukan dalam semester 2 tahun 2022. “Kami sudah mensosialisasikan kegiatan ini ke seluruh koordinator kader dan kader pada kegiatan BL 2 tanggal 18 November 2022 dan pada whatsapp grup kader Sidoarjo dan penganugerahannya akan kami laksanakan pada akhir Desember 2022 bertepatan dengan kegiatan Pers Conferences DPPM,” tambah Ibu Ayu. 

Dengan variasi program yang dilakukan tersebut, SSR Sidoarjo berhasil menunjukkan grafik notifikasi kasus yang meningkat dari semester sebelumnya. Terdapat 73 angka notifikasi kasus yang SSR Sidoarjo raih per bulan November 2022 di semester dua tahun 2022 ini.  Yang mana, angka tersebut juga akan terus meningkat dengan adanya implementasi program yang sudah SSR Sidoarjo rencanakan.

Di akhir pembicaraan, Ibu Ayu menyampaikan harapannya bahwa semoga program-program yang telah dibuat oleh ia dan tim nya dapat meningkatkan angka notifikasi kasus TBC di wilayahnya. “Kami berharap semoga kegiatan dan inovasi yang kami buat ini dapat berimbas baik pada angka capaian ya, karena itu target utama kita. Dan semoga setelah banyak hal baik yang di petik dari program ini, dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk SR ataupun SSR yang hendak membuat program yang sama,” tutup beliau.


Penulis: Winda Eka Pahla

Mentari Sehat Indonesia Mengajak Para Petinggi Kabupaten Untuk Bersinergi Berantas TBC

komunitas mentari sehat indonesia kabupaten cilacap lakukan pertemuan

CILACAP.INFO – Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap mengajak para pemangku kebijakan terutama Dinas Kesehatan untuk mewujudkan sinergi berantas TBC (tuberkulosis).

Untuk mewujudkan Kabupaten Cilacap yang bebas akan TBC pada tahun 2030. Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap lakukan pertemuan selama dua hari, Dimulai pada hari Senin-Selasa, Tanggal 19-20 September 2022 di Hotel Atrium Cilacap.

Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap juga mengundang berbagai instansi seperti DPRD, Sekda, Kepala Dinas Pembedayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cilacap dan masih banyak lagi.

Tujuan Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap salah satunya mendorong layanan pemerintah dan swasta agar dapat memenuhi SPM melalui pertemuan dengan pihak legislatif dan eksekutif.

Angka kasus TBC di Kabupaten Cilacap sendiri juga masih cukup tinggi, hal ini memerlukan kolaborasi yang pro aktif antar sektor pemerintah, swasta dan komunitas.

“Di Cilacap kasus TBC masih tinggi, banyaknya kasus ditemukan yang akhirnya meninggal mungkin karena pengelolaannya tidak tepat, adapun yang terkena penyakit lain (Komorbit),” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Pramesti Griana Dewi.

“Sampai sekarang kita berupaya mengatasi, menangani dan mengelolanya dengan harapan angka kesembuhan juga akan tinggi,” tambah Pramesti.

Ketua Yayasan Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap, Rokhmah Agus Ciptaningsih, SE, M.Si mengatakan, saat ini TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan paling utama di Indonesia.

“Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Menurut Global TB Report tahun 2021, Indonesia berada di peringkat ketiga di dunia dengan kasus TBC terbanyak, Diperkirakan estimasi insidensi sebesar 824.000 kasus atau 301 per 100.000 penduduk,” terang Rokhmah.

Perlu kerja keras lintas sektor secara komprehensif, tidak hanya mengandalkan dinas Kesehatan tetapi peran aktif dari komunitas dan seluruh masyarakat, juga memilki peran yang sama-sama penting.

Sebagaimana diketahui dalam perpres No 67 tahun 2021 tersebut berisi 9 Bab, 33 Pasal, dan lampiran 80 hal, yang mencakup Target Dan Strategi Nasional Eliminasi TBC, Pelaksanaan Strategi Nasional Eliminasi TBC, Tanggung Jawab Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah Dalam Eliminasi TBC, Koordinasi Percepatan Penanggulangan TBC, Peran Serta Mayarakat Dalam Eliminasi TBC.

“Harapan kami setelah diadakannya kegiatan ini tercipta kolaborasi yang lebih pro aktif dari berbagai sektor Pemerintah Kabupaten, bukan hanya dari Dinas Kesehatan tetapi dari unsur yang lain. Serta kita juga berharap adanya peran Pemerintah Desa di tingkat bawah,” pungkas Rokhmah.

 

Gandeng Pemkab Cilacap, Komunitas Mentari Sehat Inginkan Sinergitas Berantas TBC

HARMASNEWS – Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap mengajak para pemangku kebijakan terutama Dinas Kesehatan untuk mewujudkan sinergi berantas TBC (tuberkulosis).

Untuk mewujudkan Kabupaten Cilacap yang bebas akan TBC pada tahun 2030. Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap lakukan pertemuan selama dua hari, Dimulai pada hari Senin-Selasa, Tanggal 19-20 September 2022 di Hotel Atrium Cilacap.

Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap juga mengundang berbagai instansi seperti DPRD, Sekda, Kepala Dinas Pembedayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cilacap dan masih banyak lagi.

Tujuan Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap salah satunya mendorong layanan pemerintah dan swasta agar dapat memenuhi SPM melalui pertemuan dengan pihak legislatif dan eksekutif.

Angka kasus TBC di Kabupaten Cilacap sendiri juga masih cukup tinggi, hal ini memerlukan kolaborasi yang pro aktif antar sektor pemerintah, swasta dan komunitas.

“Di Cilacap kasus TBC masih tinggi, banyaknya kasus ditemukan yang akhirnya meninggal mungkin karena pengelolaannya tidak tepat, adapun yang terkena penyakit lain (Komorbit),” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Pramesti Griana Dewi.

“Sampai sekarang kita berupaya mengatasi, menangani dan mengelolanya dengan harapan angka kesembuhan juga akan tinggi,” tambah Pramesti.

Ketua Yayasan Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap, Rokhmah Agus Ciptaningsih, SE, M.Si mengatakan, saat ini TBC masih menjadi salahsatu masalah kesehatan paling utama di Indonesia.

“Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Menurut Global TB Report tahun 2021, Indonesia berada di peringkat ketiga di dunia dengan kasus TBC terbanyak, Diperkirakan estimasi insidensi sebesar 824.000 kasus atau 301 per 100.000 penduduk,” terang Rokhmah.

Perlu kerja keras lintas sektor secara komprehensif, tidak hanya mengandalkan dinas Kesehatan tetapi peran aktif dari komunitas dan seluruh masyarakat, juga memilki peran yang sama-sama penting.

Sebagaimana diketahui dalam perpres No 67 tahun 2021 tersebut berisi 9 Bab, 33 Pasal, dan lampiran 80 hal, yang mencakup Target Dan Strategi Nasional Eliminasi TBC, Pelaksanaan Strategi Nasional Eliminasi TBC, Tanggung Jawab Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah Dalam Eliminasi TBC, Koordinasi Percepatan Penanggulangan TBC, Peran Serta Mayarakat Dalam Eliminasi TBC.

“Harapan kami setelah diadakannya kegiatan ini tercipta kolaborasi yang lebih pro aktif dari berbagai sektor Pemerintah Kabupaten, bukan hanya dari Dinas Kesehatan tetapi dari unsur yang lain. Serta kita juga berharap adanya peran Pemerintah Desa di tingkat bawah,” pungkas Rokhmah.***

 

Biar Saya Saja yang Sakit (TBC), Anak Saya Jangan (Harus Tetap Sehat)

Foto bersama seluruh narasumber dengan seluruh peserta Diskusi Publik TPT 2022

Sleman, 2 September 2022 – Indonesia merupakan negara ketiga dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia (GTR 2021). Tidak semua orang yang terinfeksi kuman TBC akan mengalami gejala sakit TBC, kondisi ini dikenal dengan infeksi laten TBC (ILTB). Untuk dapat mengatasi kondisi tersebut diupayakan pemberian obat Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak serumah dan kontak erat dengan pasien TBC yang sehat dan yang berisiko tinggi terkena TBC. Pada semester pertama Tahun 2022, capaian TPT di Indonesia mencapai 3.420 orang, angka ini walaupun masih rendah namun perlu diapresiasi semua pihak, mengingat cakupan pasien TBC bakteriologis baru yang ditemukan pada periode Januari-Juni 2022 sebanyak 91.869 orang. Sehingga dibutuhkan penguatan kolaborasi dan usaha lebih masif untuk memberikan TPT.

Rendahnya cakupan pemberian TPT masih terkendala beberapa hal, antara lain: (a) masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai ILTB dan TPT, termasuk keamanan pemberian TPT; (b) sehingga masih terjadi penolakan yang datang dari orang tua/wali/keluarga anak dengan faktor risiko TBC yang kontak erat atau tinggal serumah dengan pasien TBC serta (c) pemahaman pada tenaga kesehatan yang masih bervariasi terhadap perlu atau tidaknya Pemberian TPT, serta (d) ketersediaan  dan jaminan keberlanjutan logistik TPT di fasilitas kesehatan. Untuk menjawab hal-hal tersebut, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI bersama SR TBC Siklus Indonesia DIY sebagai Perwakilan Organisasi Masyarakat Sipil Penanggulangan TBC menggelar kegiatan Diskusi Publik bertajuk “Tanpa Tuberkulosis, Anak dan Keluarga Sehat, Indonesia Kuat!” di Sekretariat Daerah Kab. Sleman, DIY pada Jumat, 2 September 2022.

Penyampaian Presentasi oleh Country Officer WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono

Menurut Country Officer WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, Terapi Pencegahan TBC adalah pengobatan yang ditawarkan kepada perseorangan yang diperkirakan memiliki risiko sakit TBC dalam rangka mengurangi risiko sakit TBC tersebut. TPT diperlukan karena mayoritas orang yang terinfeksi TBC tidak memiliki gejala atau tanda TBC, tetapi memiliki risiko untuk mendapatkan sakit TBC. dr. Setiawan juga menegaskan bukti ilmiah dari TPT “TPT sudah terbukti sebagai intervensi yang efektif untuk menghindarkan individu dari sakit TB, bahkan mengurangi risiko mengalami TB sebesar 60-90% dibandingkan dengan individu lain yang memiliki karakteristik yang sama tetapi tidak mendapatkan TPT.” Hal ini juga diperkuat dengan informasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) diwakili oleh DR. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), bahwa balita sehat yang kontak dengan pasien TBC harus mendapatkan TPT, TPT terbukti efektif mencegah sakit TBC dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Efek samping yang timbul hanya sedikit dan sebagian besar ringan serta dapat sembuh secara sempurna”. Dr. Nastiti juga memberikan penekanan pentingnya memberikan perhatian pada TBC anak, untuk mencegah kasus TBC di masa dewasa, yang berpotensi menjadi sumber penularan baru.

(Diskusi Panel 1 dengan topik “Kebijakan dan Strategi Mendukung TPT di DIY”)

Kekuatan pemerintah dalam pemberian TPT tentu menjadi modal dasar. Menurut Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati, MPH, telah dibentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC yang disahkan dengan Surat Keputusan Gubernur DIY nomor 55/TIM/2022 sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden 67/2021. Salah satu rekomendasi Dinkes DIY untuk melibatkan Tim Percepatan dan kolaborasi dalam Pemberian TPT adalah “seluruh organisasi profesi dapat mensosialisasikan TPT kepada semua anggota profesi; sedangkan untuk fasyankes dapat berperan untuk menyiapkan SDM pelaksana TPT”. Hal ini dikuatkan oleh Ketua KOPI (Koalisi Organisasi Profesi Indonesia) TB DIY, yang merekomendasikan tiga strategi, “untuk peningkatan TPT balita dan kontak serumah kita dapat bersama-sama (1) mengadvokasikan memberikan tanggung jawab keberhasilan TPT pada kepala pemerintahan sehingga menjadikan TPT sebagai sebuah Gerakan bersama; (2) maksimalkan IK dan deteksi ILTB di populasi rentan (3) serta komunitas dapat mengaktifkan peran dasawisma untuk pendampingan anggota yang menerima TPT maupun pengobatan TBC”.  Advokasi kepada pemerintah juga disambut baik oleh H. Koeswanto, S.IP selaku Ketua Komisi D DPRD DIY yang menyatakan dukungannya untuk Pemberian TPT dan upaya penanggulangan TBC di DIY. Menurut Ketua Komisi D DPRD DIY, pemerintah daerah harus yakin dengan upaya penanggulangan TBC dan bersama-sama bertanggung jawab dalam menanggulangi TBC.

(Diskusi Panel 2 dengan topik “Dukungan Organisasi Profesi, Dukungan Komunitas dan Pengalaman Puskesmas dalam Pemberian TPT”)

Bagaimana peran komunitas dan fasilitas layanan kesehatan? Rekomendasi lain dari Dinkes DIY juga membicarakan peningkatan peran komunitas dalam investigasi kontak untuk menemukan kontak yang berhak mendapatkan TPT, memotivasi untuk memulai TPT dan menjadi pengawas menelan obat TPT. Peran komunitas dalam konteks pelaksana dana hibah The Global Fund untuk TBC diwakili Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, juga telah mengembangkan beberapa strategi peningkatan cakupan TPT melalui video partisipatif oleh kader dan Tim Kerja Komunitas mengenai TPT dan implementasi pengawasan menelan obat TBC bersamaan dengan pemberian TPT berbasis keluarga menggunakan lembar edukasi khusus TPT. Rakhmawati selaku PMELC SR Siklus DIY menyampaikan bahwa pihak komunitas mengelola kader-kader TBC untuk dapat melakukan komunikasi persuasif kepada keluarga dengan balita yang kontak serumah dengan pasien TBC. Peran dari komunitas tentu sebagai pendukung dari peran utama fasilitas kesehatan (Puskesmas) yang melakukan skrining pada keluarga (kontak serumah) pasien baru TBC terutama balita dan anak untuk mengetahui status TBC dan segera diberikan TPT jika tidak terkonfirmasi TBC, sebagaimana diungkapkan dr. Cahyo Susilowati selaku dokter fungsional Puskesmas Cangkringan. Beliau juga menyampaikan perlunya pendampingan dengan konseling serta pemantauan efek samping dari TPT.

Diskusi Publik ditutup dengan Closing Remarks dari Dr. Adang Bachtiar, MPH, DSc selaku Ketua Technical Working Group (TWG) TB – CCM Indonesia yang menyatakan bahwa “Asumsinya, ILTB dan pemberian TPT adalah kunci sukes untuk dapat eliminasi TBC. Untuk dapat mengimplementasikan TPT diperlukan kepemimpinan yang kolaboratif dengan budaya kerja berbasis bukti”.  

Selanjutnya Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan terus mengupayakan kolaborasi untuk memperkuat dukungan sistem untuk Pemberian TPT sekaligus “demand creation” sehingga gerakan bebas TBC dapat diwujudkan untuk mewujudkan eliminasi TBC 2030. Sebagaimana diungkapkan salah satu pasien TBC yang bersedia memberikan TPT kepada Tim Kerja Komunitas yang mendampingi “Biar saya saja yang sakit (TBC), anak saya jangan (harus tetap sehat)”.

 Komunitas Berdaya, Akhiri TBC di Indonesia!

Mangkir di Tembilahan, Pelacakan di Padang Pariaman

Padang Pariaman – Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) adalah kondisi dimana bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang sudah kebal terhadap obat TB lini 1. TBC biasa ataupun TBC RO bisa disembuhkan asalkan patuh minum obat selama pengobatan. lama pengobatan TBC RO ada yang jangka pendek (9-11 bulan) dan ada yang jangka panjang (18-24 bulan).

Pengobatan TBC Khususnya TBC RO dipantau secara medis dan didampingi untuk psikososial pasien. Untuk pendampingan medis diberikan oleh petugas kesehatan baik dari Rumah sakit PMDT dan petugas puskesmas, sedangkan untuk pendampingan Psikososial dilakukan oleh Manajer Kasus (MK) dan Pasien Supporter (PS) TBC RO dari Konsorsium Penabulu STPI di 190 Kota/ Kab. yang didampingi di seluruh Indonesia.

Pendampingan Psikososial dilakukan oleh MK dari sebelum pengobatan dan dilanjutkan sampai pasien sembuh. Hal ini dilakukan untuk mencegah pasien mangkir dari pengobatan karena akan beresiko menularkan pada orang terdekat bahkan berujung pada kematian. Mangkir pengobatan dapat dicegah dengan pemantauan dan pendampingan yang intensif sesuai dengan keluhan pasien.

Seperti kasus pasien pengobatan di RSUD Tembilahan, sebut saja namanya Ronal (37 Tahun). Ronal terdiagnosa TBC RO pada 17 Desember 2021 dan memulai pengobatan pada tanggal 9  Juni 2022 di RSUD Tembilahan. Dari awal pengobatan, Ronal sudah didampingi oleh MK RSUD Tembilahan. Setiap hari Ronal datang Ke RSUD untuk minum obat, akan tetapi pada hari ke empat, Ronal tidak datang untuk minum obat sehingga MK RSUD Tembilahan melakukan kunjungan rumah Ronal, tetapi Ronal tidak berada dirumah. Berdasarkan informasi dari tetangga, Ronal pulang kampung. MK RSUD Tembilahan mencoba menghubungi Hp Ronal , tetapi tidak pernah direspon.

Setelah 4 hari mangkir, MK RSUD Tembilahan mencoba menghubungi MK Padang Pariaman sesuai data di KTP Ronal (daerah Sintuak) dan memberikan data Ronal untuk dilakukan pelacakan. MK Padang Pariaman, meminta bantuan kader Sintuak untuk mengecek keberadaan Ronal di alamat tersebut. dalam waktu 30 menit, kader Sintuak memberikan laporan bahwa Ronal berada di Sintuak di rumah Orang tuanya.

Berdasarkan informasi tersebut MK Padang Pariaman melaporkan ke Dinkes Kab. Padang Pariaman bahwa ada pasien mangkir dari RSUD Tembilahan berada di Wilayah kerjanya, kemudian MK Padang Pariaman juga meminta izin melakukan Visite home didampingi petugas Puskesmas Sintuk.

Saat kami melakukan kunjungan, Ronal Berkata ” Kok tau se urang dinas ko dima awak?”. Petugas Puskesmas memberikan jawaban sembari senyum dan berkata ” Kan dilacak”.

Selanjutnya Petugas mengedukasi dan melakukan pendekatan untuk mengetahui alasan Ronal Mangkir. Setelah berdiskusi lama, akhirnya Ronal meminta untuk pengobatan TBC RO-nya di Sintuak saja karena Ronal tinggal sendiri di Tembilahan. Hal ini didukung oleh orang tua Ronal, agar dapat merawat anaknya dalam melakukan pengobatan. Secara psikologis, orang yang menjalani pengobatan butuh dukungan dan motivasi dari orang terdekat terutama dari keluarga agar membantu proses pengobatannya.

Hasil kunjungan tersebut dilaporkan ke Dinkes Kab. Padang Pariaman dan MK RSUD Tembilahan untuk memproses kepindahan tempat pengobatan Ronal. Pemindahan Pasien pengobatan TBC RO butuh waktu dan Proses, baik secara teknis, administratif dan pelaporannya. Setelah menunggu hampir 1 Bulan, pada tanggal 14 Juli 2022, Ronal dibawa ke RSUD Padang Pariaman untuk memulai kembali pengobatannya.

Dengan adanya kerjasama dinas kesehatan dan komunitas dalam pelacakkan pasien mangkir sesegera mungkin baik dalam kota, luar kota bahkan antar provinsi, dapat mengurangi resiko penularan TBC RO demi ELIMINASI TBC INDONESIA 2030.

Penabulu Bersama Mahasiswa UNIBA Adakan Sosialisasi Pencegahan Dan Pengendalian Penyebaran TBC Pada Masyarakat Sujung

Suasana sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyebaran TBC. (Foto dokumentasi ketua panitia)

Serang, Bantenaktual.com – Penabulu bersama Mahasiswa dan Mahaiswi Uniba (Universitas Bina Bangsa) yang tergabung dalam KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) kelompok 35 mengadakan kegiatan sosilisasi pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit Tbc (Tuberculosis) pada masyarakat Desa Sujung di Aula Balai Desa Sujung.

Kegiatan itu mengusung tema ‘Perilaku hidup sehat untuk kehidupan lebih baik dan masa depan tanpa Tbc’ yang dihadiri oleh unsur RT/RW, tokoh masyarakat Desa Sujung, Kader Puskesmas Desa Sujung dan unsur pemerintahan Desa Sujung.

Program SSR Penabulu STPI yang diwakili Tb Deni Faisal Hasyim pada sosialisasi itu mengajak masyarakat Desa Sujung untuk berperilaku hidup sehat dan bersih setiap hari.

“Kita harus melakukan pendataan kepada masyarakat yang terindikasi menderita Tbc, pendataan ini nanti dilakukan oleh semua RT yang didampingi kader Tbc Puskesmas Desa Sujung di lingkungan wilayahnya,” ucap Deni. Rabu (10/08).

Lanjut Deni menerangkan, masyarakat yang batuk lebih dari 2 minggu bahkan batuk berdarah, demam lebih dari sebulan, keluar keringat di malam hari tanpa aktivitas wajib di cek dahak di puskesmas, apabila hasilnya positif maka segera dilakukan pengobatan insentif di puskesmas selama 6-8 bulan hingga di nyatakan sembuh oleh Dokter.

“Itulah cara kita untuk penanganan pasien Tbc karena ada pasien Tbc yang SO (Sensitif Obat) dan RO (Resisten Obat) dan untuk mengetahui jenis Tbc tersebut kita melakukan TCM (Tes Cepat Molekular),” jelas Deni.

Lebih lanjut Deni menyampaikan, ada bantuan dari komunitas Global Found yang sudah bekerjasama dengan Penabulu untuk masyarakat yang menderita penyakit Tbc RO yaitu uang sebesar Rp.600.000 setiap bulannya selama masa pengobatan dengan catatan pasien harus rutin berobat, jadi itu yang disebut dengan enabler. (Sob/red)