Skip to content

Inovasi Para Kader Sebagai Bentuk Perjuangan untuk Eliminasi TBC di Pontianak

WhatsApp Image 2021-11-28 at 17.45.25

Tuberkulosis (TBC) bukan lagi penyakit yang asing ditelinga kita. Saat ini, TBC masih menjadi masalah dunia meskipun upaya penanggulangan TBC sudah diterapkan di setiap negara. Dilansir dari web resmi Kementerian Kesehatan, Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi triple burden TBC, yakni TBC, TBC Resistant Obat (RO), dan TB-HIV. Bahkan berdasarkan data Global TB Report 2021, Indonesia berada pada peringkat ketiga sebagai negara dengan jumlah orang dengan TBC terbanyak, setelah India dan Cina.

Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang turut berupaya mencapai Indonesia bebas TBC di tahun 2030. Berbagai upaya program dijalankan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota, termasuk oleh organisasi masyarakat sipil. Bersama Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, Yayasan Bina Asri Kalimantan Barat sebagai sub-recipient (SR) program ‘Eliminasi TBC di Indonesia’ berkomitmen untuk mengkoordinasikan kegiatan di 7 wilayah kerja salah satunya adalah Pontianak. Dikutip dari Laporan Tuberkulosis Nasional 2021, kasus TBC di Pontianak adalah 2.545 dari 672.440 penduduk. Hal utama yang dilakukan oleh Yayasan Bina Asri adalah mendukung giat para kader di wilayah Pontianak menjangkau orang-orang terdampak TBC. 

Yayasan Bina Asri dengan bantuan para kader di Pontianak berupaya memutus mata rantai penularan TBC dengan menyebarkan informasi tentang TBC kepada masyarakat. Cara yang mereka lakukan adalah dengan melakukan penyuluhan di Pasar Tradisional Flamboyan, Kampus Muhammadiyah dan Pesantren Manba’usshafa. Tiga tempat tersebut mereka pilih bukan tanpa alasan. Salah satu kader yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Sulastri Ningsih. Wanita yang di akrab dipanggil Sulastri ini telah mengawali langkah sebagai kader TBC sejak bulan April yang lalu.

“Kenapa kami memilih di pasar? Karena protokol kesehatan di pasar sangat kurang. Selanjutnya, untuk pesantren kami lakukan di sana karena lingkungan yang padat dan isi kamar yang juga padat. Dan untuk kampus, kami pilih karena memang kampus merupakan lembaga pendidikan yang padat, disana juga banyak sekali mahasiswanya,” tuturnya. 

Niat baik Yayasan Bina Asri disambut baik oleh pihak pesantren, pasar Flamboyan dan kampus Muhammadiyah untuk melaksanakan penyuluhan tentang bahaya TBC, stigma TBC di masyarakat, dan langkah yang harus dilakukan ketika mengetahui diri sendiri/orang terdekat terinfeksi TBC. Saat penyuluhan para peserta sangat antusias bertanya terkait dengan bahaya TBC. Sulastri menjelaskan, “Mereka sangat mengapresiasi kedatangan kami. Banyak sekali pertanyaan yang muncul terutama terkait TBC seperti bagaimana bentuk gejalanya dan cara agar terhindar dari TBC,” paparnya.  

Pengalaman-pengalaman yang diceritakan oleh anggota masyarakat seperti kader yang pernah merawat atau bertemu dengan pasien TBC diharapkan memberikan pandangan baru terhadap masyarakat bahwa TBC memang benar-benar terjadi di lingkungan sekitarnya. Yayasan Bina Asri berharap penyuluhan di tempat yang padat juga dapat dilakukan oleh kader-kader TBC di SSR lainnya. Kader adalah ujung tombak kesehatan yang paling dekat untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Sulastri sebagai seorang kader juga mengatakan “Saya ingin masyarakat memandang pasien TBC sebagai keluarga kita sendiri dan tulus membantu mereka dalam pengobatan dengan tidak membedakan atau mendiskriminasi mereka.” Dengan giatnya penyuluhan di masyarakat, diharapkan stigma di masyarakat dapat berubah sehingga tidak mengasingkan pasien TBC justru mampu memberikan semangat bagi mereka. 


Cerita ini dikembangkan dari SR Kalimantan Barat

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Thea Yantra Hutanamon

Bagikan Artikel

Cermati Juga