Strategi Jemput Bola Temukan TBC : Kolaborasi Kader dan Puskesmas dalam Investigasi Kontak SR Jambi

Sudah kita ketahui bersama bahwa Indonesia hingga saat ini menduduki peringkat tertinggi ketiga dengan beban Tuberkulosis (TBC) terbanyak di dunia setelah India dan China. Hal tersebut pun divalidasi oleh Kementerian Kesehatan Indonesia yang menyatakan bahwa dari estimasi 824 ribu pasien TBC di Indonesia Baru 49% yang ditemukan dan diobati sehingga terdapat sebanyak 500 ribuan orang yang belum diobati dan berisiko menjadi sumber penularan. Sehingga dengan latar belakang tersebut, sangat diperlukan upaya melakukan penemuan kasus secepat mungkin serta pemberian pengobatan secara tuntas sampai sembuh untuk memutus rantai memutuskan penularan TBC. 

Salah satu upaya yang dapat mendukung upaya tersebut adalah dengan mengimplementasikan pelacakan atau investigasi kontak. Investigasi kontak (IK) merupakan kegiatan pelacakan dan investigasi yang ditujukan pada individu untuk menemukan terduga TBC. Kontak yang terduga TBC akan dirujuk ke pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan dan bila terdiagnosa TBC, akan diberikan pengobatan yang tepat dan sedini mungkin. 

Dalam penerapannya, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan tugas tersebut dengan menggandeng relawan kesehatan komunitas populasi kunci yaitu kader yang tersebar di 30 provinsi dan 190 kabupaten/kota salah satunya di Jambi. Jambi sendiri pada umumnya memiliki masyarakat yang sudah mulai mengetahui keberadaan komunitas dan paham mengenai pengetahuan TBC. “Saat ini masyarakat Jambi cukup memahami keberadaan kami sebagai aktivis TBC setelah perjuangan kami memberikan edukasi dan pengetahuan tentang TBC di tahun sebelumnya yang cukup sulit dikarenakan adanya pandemi COVID-19,” ucap Dandy selaku Program Koordinator Sub Recipient (SR) Jambi. 

Meskipun begitu, pencapaian tersebut tidak membuat SR Jambi lengah. SR Jambi meneruskan upaya eliminasi TBC dengan membangun jejaring yang efektif di kota Jambi. “Kami sadar bahwa eliminasi TBC tidak bisa dikerjakan sendiri dan harus diselesaikan secara bersama dengan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Komunitas HIV, Komunitas Masyarakat Peduli TBC, dan Komunitas yang terhubung lainnya,” ucap Dandy. 

Tak hanya kerjasama dengan multi stakeholder, SR Jambi melanjutkan perjuangan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan Investigasi Kontak. Investigasi Kontak dilakukan oleh kader secara berulang kepada masyarakat agar mereka dapat menerima dan mencerna secara baik tentang kehadiran komunitas dan manfaat dari memahami TBC. Pendekatan pun juga kerap dilakukan oleh para kader dengan berkunjung ke rumah indeks dan mendekatkan diri kepada kontak erat dan membujuk secara perlahan agar berkenan melakukan pemeriksaan. Tentunya bukan hal yang mudah mengingat bahwa stigma masyarakat terkait penyakit TBC  masih banyak. Namun hal tersebut tidak menjadi kendala yang berarti bagi SR Jambi untuk melaksanakan Investigasi Kontak terlebih dengan semangat kader yang tak pernah lelah untuk memberikan edukasi dan penemuan kasus di masyarakat.

Kader merupakan komponen yang penting dalam menentukan capaian IK  suatu wilayah, sehingga pemberdayaan kader sangat diperhatikan oleh SR Jambi. “Kami melakukan bonding dengan kader agar mereka terus semangat dengan melakukan pelatihan baik secara teori maupun turun langsung di lapangan,” tambah Dandy. Memberikan reward kepada kader sebagai penghargaan atas kerjanya, melakukan pelatihan secara berkala dengan mengingatkan kembali tentang pentingnya IK dan penemuan kasus terbaru adalah langkah-langkah yang SR Jambi lakukan untuk menumbuhkan motivasi kader. Bahkan, jika pencapaian berhasil, SR Jambi juga mengajak para kader untuk makan bersama.

Selain pemberdayaan kader, SR Jambi juga aktif melakukan follow up terkait dengan data yang masuk di Puskesmas agar dapat terdata dengan baik. “Strategi khusus yang dilakukan SR Jambi kami menyebutkan strategi jemput bola dengan meminta langsung ke Puskesmas melampirkan berita acara pengambilan data Indeks Kasus yang berada di Puskesmas, dikarenakan jika menunggu petugas Puskesmas menginput data ke SITB membutuhkan durasi yang lebih lama,” tandas Dandy. Ia menambahkan bahwa strategi ini terbilang efektif agar data kasus terduga TBC dapat terinput di Sistem Informasi Tuberkulosis Komunitas (SITK) sehingga hasil kasus yang diperoleh kader dapat termonitoring dengan baik oleh komunitas.

Di akhir pembicaraan, sebagai PMEL Coordinator, ia berharap bahwa seluruh SR wilayah dalam naungan PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dapat lebih aktif untuk berkomunikasi kepada Puskesmas agar berita acara pengambilan data indeks kasus dapat terolah dengan baik agar tidak ada data yang telat ataupun terlewat. Ia juga berpesan untuk seluruh aktivis TBC untuk terus bersemangat dalam meneruskan perjuangan agar Indonesia dapat segera bebas dari TBC. 


Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Di Balik Kisah Ibu Musdalifah, Pasien Suporter TBC RO yang Membaktikan Dirinya Untuk Membantu Pasien TBC Sembuh

Ibu Musdalifah merupakan salah satu dari patient  supporter (PS) untuk pasien Tuberkulosis  Resisten Obat (TBC RO) di Makassar, Sulawesi Selatan. Ibu Musdalifah mendedikasikan dirinya sebagai PS semenjak tahun 2018. Berasal dari latar belakang pendidikan Psikologi yang mana mempelajari terkait kegiatan maupun interaksi manusia dalam hubungannya dengan konteks sosial, Ibu Musdalifah mulai tergerak untuk berpartisipasi aktif di dunia sosial salah satunya dengan menjadi pasien supporter TBC RO. “Karena background di fakultas psikologi, jiwa sosial tersebut akhirnya muncul untuk membantu sesama. Terlebih terdapat beberapa tetangga yang mengalami penyakit TBC dan melihat mereka putus asa dan tidak meminum obat, saya kasihan dan terketuk hati untuk membantu mereka,” ucap Bu Musdalifah.

Dalam kesehariannya, Ibu Musdalifah memulai aktivitasnya  hingga siang hari dengan mengajar Bimbingan Konseling di Pondok Pesantren Ummul Mukminin, Sudiang. Setelahnya, Ibu Musdalifah mengunjungi pasien dalam sehari maksimal 5 pasien menggunakan kendaraan bermotor hingga sore sebelum maghrib. “Iya saya sudah menjalankan aktivitas menjadi guru dan PS selama kurang lebih 5 tahun. Walaupun jarak antar rumah pasien ada yang dekat dan cukup jauh, namun semua itu terasa nyaman asalkan dijalankan dengan ikhlas,” sambung beliau.

Pendampingan pasien TBC RO yang Ibu Musdalifah jalankan pun tidak semudah yang dilihat. Panjangnya durasi pengobatan serta efek samping yang diakibatkan dengan adanya penggunaan obat anti TBC (OAT) menjadikan beberapa pasien menyerah dan tidak berkenan untuk melanjutkan pengobatan lagi. “Saya kadang kasihan lihat mereka putus asa. Tapi dengan efek samping yang mereka rasakan saya pun paham dengan rasa sakit yang mereka alami,” tutur Ibu Musdalifah. Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan yang berarti. Beliau secara konsisten terus memberikan semangat dan edukasi tidak hanya ke pasien, namun juga ke keluarga dan lingkungan tempat tinggal pasien agar dapat membantu memberikan afirmasi positif kepada pasien tersebut untuk sembuh.

Keluarga yang mendukung profesi Ibu Musdalifah memberikan suntikan semangat yang membuat segala kesulitan yang dihadapi menjadi mudah. Dengan segala resiko yang mungkin terjadi di lapangan, Ibu Musdalifah juga mengaku pasrah dan ikhtiar karena beliau yakin dengan menggunakan masker dan menjalankan protokol kesehatan, Ibu Musdalifah dapat terhindar dari penularan penyakit TBC. Hal tersebut pun terbukti dari kiprah beliau selama 4 tahun mendampingi pasien TBC tanpa tertular. “Yang penting pakai masker dan prokes ketat diterapkan saya akan merasa aman, alhamdulillah saya juga tidak dan semoga jangan sampai tertular untuk kedepannya,” utas beliau. 

Saat ini, Ibu Musdalifah sedang mendampingi 13 pasien TBC RO. Di tahun 2021, Ibu Musdalifah berhasil menemani pasien TBC RO hingga sembuh sebanyak 15 pasien. “Tahun lalu saat pandemi, saya cukup kewalahan karena adanya PPKM sehingga saya hanya mendatangi pasien selama 4 kali dalam satu bulan,” ucap Ibu Musdalifah. Namun hal tersebut tidak membuat beliau menyerah dan terus bersemangat mendampingi pasien minum obat, edukasi seputar penyakit, dampak, serta penularannya. 

Sebagai PS, kebahagiaan yang dirasakan adalah ketika menemukan ada pasien yang sembuh karena pendampingan yang dilakukan. “Saya merasa senang karena saya berhasil bisa membuat pasien sembuh dan tidak mangkir. Ada pasien dengan pengobatan 2020 hingga 2022 baru sembuh dan itu salah satu contoh perjuangan yang cukup panjang dengan kerjasama keluarga dan lingkungan pasien,” tandas beliau.

Untuk kedepannya, Ibu Musdalifah berharap bahwa seluruh PS dapat terus bersemangat untuk mendampingi pasien hingga sembuh. Beliau juga mengatakan bahwa meskipun menjadi PS bukanlah hal yang mudah dilakukan, tetapi selagi melaksanakan tugas dengan baik dan tulus ikhlas, beliau yakin semuanya akan aman dan nyaman untuk dijalani. 


Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Perjuangan Ibu Siti Aminah dalam Mencari Suspek untuk Indonesia Bebas Tuberkulosis 2030

Siti Aminah, atau yang akrab dipanggil dengan nama Ibu Siti merupakan salah satu dari sekian kader Tuberkulosis (TBC) yang bekerja di Puskesmas Rangkah, Tambaksari, Surabaya. Pengabdiannya sebagai kader TBC dimulai pada tahun 2014 yang mana hal tersebut muncul dari keresahannya karena tidak ada yang  berminat untuk menjadi kader saat dilaksanakan pelatihan kader TBC di Puskesmas Rangkah. “Awalnya, saya berpikir jika nanti ada yg sakit TBC bagaimana untuk penanganannya. Akhirnya saya yang angkat tangan untuk ikut pelatihan TBC dulu dan pelatihan selama 2 minggu sampe kita faham mengenai TBC,” tutur Ibu Siti. 

Dalam kesehariannya, Ibu Siti mencari suspek dari pagi pukul 08.00 WIB hingga sore pukul 17.00 WIB, dari satu rumah ke rumah lainnya di wilayah kerjanya yang cukup luas.  Selain itu, Ibu Siti juga aktif mengadakan kegiatan penyuluhan di masyarakat seperti bergabung pada saat kegiatan PKK, pertemuan masyarakat, arisan dan lainnya. “Saat memberikan edukasi, saya selalu memberikan penekanan bahwa TBC itu penyakit yang menular. Saya juga memberikan pengertian bahwa TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan,” utas Ibu Siti.

Ibu Siti berkomitmen untuk membuat masyarakat mengerti pengertian dari penyakit TBC dengan gejalanya seperti batuk yang tidak kunjung reda, nafsu makan yang berkurang, serta keringat dingin di malam hari. “Saya khawatir dengan lansia yang rentan dengan penyakit TBC, terlebih orang dengan diabet juga rawan dengan TBC, sehingga saya gunakan sebaik mungkin program penyuluhan di PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI,” ucap Ibu Siti. Dalam alur pengambilan suspek, Ibu Siti mengambil dahak pasien dari rumah ke rumah yang kemudian dahaknya dibawa ke laboratorium Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan. Jika ada suspek yang positif, Ibu Siti langsung datang  ke rumah pasien untuk menyarankan pengobatan gratis sampai 6 bulan dan memberikan edukasi agar tidak mangkir  atau putus pengobatan TBC di tengah jalan.

Namun, pencarian suspek tidak semudah yang dilihat. Terkadang, penolakan demi penolakan dalam penjangkauan suspek kerap dialami oleh Ibu Siti di lingkungan masyarakat. Beliau juga mengatakan bahwa terkadang pasien yang ia temui kurang suportif. “Saya memiliki kesedihan tersendiri sih, seperti kadang kerap menemui pasien yang bandel,” ujar Ibu Siti. Semangat beliau untuk membantu masyarakat bebas TBC tidak pudar dan terus gencar untuk menjangkau masyarakat dan pasien TBC yang positif. 

Di sisi lain, kesedihan yang ia rasakan juga dapat beliau tutupi dengan banyaknya teman dan orang baru yang ia temui saat menjadi kader TBC. “Saya cukup senang bertemu dengan orang baru karena banyak sekali pelajaran yang saya peroleh dari mereka, banyak pengalaman dan ilmu baru,” tambah Ibu Siti. 

Daya juang Ibu Siti pun membuahkan hasil. Capaian Ibu sebagai kader Siti terus menerus konsisten dengan capaian yang cukup memuaskan. Di tengah lelahnya ia menjaga usahanya dalam membuka warung, beliau masih sempat untuk membantu menemukan pasien TBC. Ia juga berpesan kepada para kader lainnya untuk terus semangat demi menyehatkan masyarakat dengan tujuan sosial. Ia juga yakin bahwa jika kader akan aman dan  tidak akan tertular jika kita dapat selalu mematuhi peraturan dan protokol yang ditetapkan. 


Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Matras TB Dorong Eliminasi TB di Bangka Belitung

 

Bangka merupakan salah satu Kabupaten di Bangka Belitung yang memiliki tingkat terduga Tuberkulosis (TB) tertinggi dibanding Kabupaten lainnya, dengan tingkat capaian penemuan yang masih rendah. Selain itu, dari segi jarak dan luas wilayah, Kabupaten Bangka memiliki wilayah yang besar dibandingkan dengan wilayah Kabupaten lainnya, sehingga Kabupaten Bangka menjadi wilayah yang memerlukan perhatian khusus baik dari masyarakat maupun dari pemerintah daerah setempat terkait dengan penanganan TB.

Dalam hal ini peran dan koordinasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka sangat penting untuk menghimbau apa saja upaya-upaya dalam penanggulangan dan pemecahan dalam masalah ini. Selain Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Puskesmas yang ada di Kabupaten Bangka juga memiliki peran penting  seperti yang dilakukan oleh Puskesmas Sungailiat .

Hal pertama yang dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan dibuatnya suatu wadah untuk mencari dan menemukan pasien TB yang bernama “ Matras TB”.  Kata Matras diambil dari nama salah satu pantai / objek wisata di Kabupaten Bangka yang terkenal indahnya. Sehingga, ketika mendengar kata matras, diharapkan masyarakat awam dapat langsung merepresentatifkan Kabupaten Bangka sebagai daerah yang indah dan nyaman. 

Matras TB sudah diimplementasikan selama 6 tahun dengan pencetus pertama yaitu dari kepala Puskesmas Sungailiat yang pelaksanaan dan penggerakannya dilanjutkan oleh pengelola program TB yaitu Bapak Supriyadi atau yang akrab dipanggil dengan Pak Yusuf.

Bapak Yusuf ini adalah pengelola program TB yang sudah lama bekerja di Puskesmas Sungailiat. Ia mengatakan bahwa dengan adanya Matras TB membuat pekerjaan Pak Yusuf dalam mencari penemuan kasus di lapangan lebih terorganisir dan lebih mudah. 

Selama di Matras TB,  ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan untuk mendukung eliminasi TB. “Kami menggerakkan masyarakat yang ada di wilayah Sungailiat untuk menjadi kader TB, yang mana kader ini mampu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menemukan kasus,” ucap Pak Yusuf.  Selain itu, terdapat juga beberapa kader yang juga merupakan ketua RT atau ketua lingkungan setempat, sehingga  mempermudah kegiatan penemuan kasus di tingkat wilayah dasar.  

Pak Yusuf menyampaikan bahwa melakukan kegiatan edukasi TB bukanlah hal yang mudah dilakukan. “Awalnya masih sulit menggerakan masyarakat yang masih minim informasi mengenai apa itu TB, tapi lama lama ada saja orang yang berminat untuk maju bersama dalam mengentaskan TB di masyarakat Sungailiat,” tutur beliau. 

Setelah mendapatkan masa yang mempunyai tujuan bersama, Pak Yusuf selalu aktif memberikan motivasi kepada kader untuk menjadikan semangat sebagai sebuah kunci. “Ada 30an orang kader yang tercatat di dalam Matras TB ,sehingga terbayang wilayah yang sangat luas dan orang yang banyak mampu di koordinir oleh 1 orang pengelola program,” tandas beliau.  

Sejak adanya kader-kader dari Matras TB, jumlah penemuan pasien TB di Puskesmas Sungailiat mulai meningkat dan terdapat strategi serta acuan yang jelas kedepannya, sehingga kader akan lebih mudah melakukan kegiatan dalam penemuan kasus TB di wilayah  Sungailiat. Selain itu, daya juang para kader juga tercipta dengan adanya koordinasi tim yang baik antara puskesmas dengan para kader. 

“Semua ini tercipta karena koordinasi yang apik baik antara pengelola, perawat, dokter serta para aktivis TBC di lapangan. Adanya Matras TB membuat capaian penjangkauan kasus TB di Puskesmas Sungailiat menjadi yang tertinggi di Provinsi Bangka Belitung,” tambah Pak Yusuf.  

Dari kisah yang sudah dibagikan, Pak Yusuf berharap bahwa setiap daerah di Bangka Belitung dapat menciptakan kinerja yang solid dalam menghentikan laju pertumbuhan kasus TBC di Bangka Belitung. Beliau yakin di setiap hal sulit yang dijalani kedepannya akan menjadi mudah jika kita semua bersedia memahami dan ikhlas mengerjakannya. 

 


 

Cerita ini dikembangkan dari SR Bangka Belitung

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

 

Pengelolaan Shelter Sebagai Penguatan Eliminasi TBC di Lampung

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Terlebih, saat ini Indonesia menjadi negara yang berada pada nomor urut tiga penderita TBC terbanyak di dunia. Laporan WHO juga memperkirakan angka kematian tuberkulosis di Indonesia yaitu sekitar 35 per 100.000 penduduk atau terdapat sekitar 93.000 orang meninggal akibat tuberkulosis pada tahun 2018 (NSP, 2020 – 2024). Hal tersebut membuat kita harus bergerak cepat dalam melakukan eliminasi TBC untuk meminimalisir terjadinya penularan TBC di masyarakat.

Selain itu, data tahun 2018 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 51,2% (4.704 dari 9.180 kasus) pasien TBC MDR (Multi Drug Resistant) atau yang bisa juga disebut dengan TBC RO (Resisten Obat) yang didiagnosis tidak memulai pengobatan karena kurangnya akses diagnosis yang berkualitas dan pengobatan yang berpusat pada pasien. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam Strategi Nasional TB 2020-2024 pada strategi 2 tercantum bahwa diperlukannya peningkatan akses layanan tuberkulosis bermutu yang berpihak pada pasien.

Salah satu operasionalisasi dalam memastikan layanan tuberkulosis yang berpihak pada pasien dan memberikan solusi pada rintangan yang dialami pasien adalah dengan menyediakan tempat singgah sementara (shelter) bagi pasien MDR TB. Saat ini, PR Konsorsium Penabulu-STPI memiliki 14 shelter yang tersebar di wilayah intervensi daerah PR Konsorsium Penabulu-STPI yang mana salah satunya berada di provinsi Lampung.

Shelter di Lampung diperuntukkan sebagai rumah singgah, transit minum obat pasien, juga sebagai rumah edukasi bagi pasien dan keluarga yang membutuhkan pendampingan serta motivasi dari Manajer Kasus (MK) dan Pasien Suporter (PS) dalam proses pengobatan untuk kesembuhan pasien TBC MDR. Selain itu, shelter juga diperuntukkan sebagai tempat kegiatan untuk MK & PS yang digabungkan dengan kantor Sekretariat KOMPPI LAMPUNG (Komunitas Masyarakat Peduli Penyakit Infeksi) serta Kantor OMP BADAK (Basmi dan Akhiri) TBC Lampung.

Irma Syafitri, salah satu MK SR Lampung menjelaskan bahwa terdapat beberapa kriteria pasien yang diperkenankan untuk tinggal di shelter tersebut seperti para pasien pasca suntik dari RS PMDT yang akan singgah untuk istirahat karena ESO (Efek Samping Obat) dan setelah ESO mereda pasien akan pulang ke rumahnya masing-masing; selanjutnya adalah pasien dari luar kota Bandar Lampung yang akan menginap atau transit sebelum dan sesudah ke RS PMDT dikarenakan akses transportasi yang sulit; kemudian yang terakhir adalah para pasien yang diberikan edukasi dan pendampingan bersama PS/MK dengan menerapkan protokol kesehatan dan kepatuhan pengobatan serta menghilangkan/mengurangi traumatik dampak Covid-19.

“Di shelter, kami memberikan edukasi dan motivasi kepada pasien dan keluarga tentang TB MDR, pengobatannya, efek samping obatnya, pencegahan, penularan hingga pendampingan yang dibutuhkan pasien saat harus konsultasi ke Ahli Jiwa/Psikiater pada malam hari,” tutur Irma. 

“Pelayanan makan dan minum pasien juga kami berikan 2 x 24 jam selama pasien dan keluarganya menginap di shelter yang mana dana untuk itu kami ambil dari uang Iuran MK/PS.  Di masa pandemic, shelter juga pernah digunakan sebagai tempat ambil obat pasien saat Kondisi buruk Pandemi Covid 19, selama 10 hari, dimana saat itu RS Full Bed dipenuhi pasien Covid 19,” tambah Irma terkait dengan pelayanan di shelter. 

Beberapa kegiatan lainnya yang juga dilakukan di shelter adalah FGD dengan pasien dan keluarga, Posyandu Lansia bekerjasama dengan Pemerintahan Kelurahan, pengajian bersama lingkungan dan Majlis Masjid sekitar Shelter, dan tempat melakukan vaksinasi, bekerjasama dengan Puskesmas dan POLRES/POLSEK.

Dalam proses kerjanya, 1 MK bertanggung jawab untuk bertugas di shelter secara bergiliran setiap harinya sesuai dengan jadwal piket yang telah ditentukan. Selain PS dan MK, beberapa kader juga turut bekerjasama dengan MK/PS melakukan CASE FINDING TB RO, ataupun berkunjung untuk berkonsultasi menangani permasalahan yang timbul saat pendampingan pasien TBC RO maupun SO.

 

Selain melakukan pendampingan, para PS dan MK juga mengadakan kegiatan sell out yang kegiatannya dilakukan di shelter sebagai Basis Stock. 

“Iya mba di masa pandemi kami membantu pasien yang memiliki usaha jual buah segar yang dikemas kemudian dibawa ke shelter dan kami jualkan langsung, maupun melalui WA Group “Pejuang Siger”. Usaha yang lain seperti minuman kemasan GURENJA (Gula Aren Jahe), usaha konektor hijab juga kami bantu pasarkan dengan cara dibeli sendiri ataupun promosi melalui WA Group”Pejuang Siger.” Pejuang Siger adalah group yang beranggotakan mantan pasien, pasien yang masih berobat, tenaga kesehatan, Kader, MK dan PS Mba,” tutur Irma Syafitri.

Dalam membantu pasien, Irma mengakui bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah bentuk rasa kepedulian untuk melindungi dan membantu pasien hingga sembuh. “Seyogyanya kami memberikan optimalisasi pelayanan kepada pasien dan juga masyarakat sekitar shelter untuk memberi rasa nyaman bagi yang membutuhkan dengan keberadaan,” ucap Irma. Bagi Irma, Shelter adalah Rumah Asa dimana bisa digambarkan secara umum mereka yang sudah mendapatkan pelayanan di shelter akan merasa senang.

Cepat Tanggap SR Sulawesi Utara PELKESI Dalam Mengatasi Permasalahan TBC di Sulawesi Utara

Hingga saat ini, Tuberculosis (TBC) masih menjadi permasalahan yang besar dalam dunia kesehatan di Indonesia mengingat angka kasus yang cukup tinggi dan penanganannya yang membutuhkan konsistensi serta komitmen yang tinggi. Di Sulawesi Utara, beberapa akar masalah yang dominan terjadi pada pasien TBC adalah rendahnya tingkat ekonomi pasien yang berpengaruh pada ketaatan pengobatan, kurangnya pemahaman akan TBC serta masih adanya stigmatisasi negatif terhadap penderita TBC. Hal-hal tersebut menjadikan beberapa pasien TBC lebih memilih mangkir dari proses pengobatan yang dapat menyebabkan TBC bisa kambuh kembali, susah diobati karena resisten antibiotik, menular ke orang terdekat, serta menjadikan kondisi lebih buruk dari sebelumnya hingga berujung kematian. 

Dari dimensi pelayanan kesehatan, permasalahan yang dominan terjadi meliputi kurangnya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola TBC dan terbatasnya kapasitas pelayanan menjadikan penjangkauan dan pengobatan TBC menjadi sulit. Sedangkan dari perspektif pemerintah, belum adanya support kebijakan Pemerintah Daerah serta masih terbatasnya alokasi anggaran untuk program penanggulangan TBC menjadikan penanggulangan TBC di Sulawesi Utara terhambat.

Selain itu, hingga saat ini, respon masyarakat masih menjadi salah satu hambatan yang berarti karena ketakutan mereka akan adanya skrining covid jika melakukan pemeriksaan di fasyankes. Selain itu, adanya pandemi juga menyebabkan petugas di pelayanan kesehatan menjadi rangkap tugas. Sebagian besar petugas TBC yang ada di Puskesmas terlibat dalam kegiatan vaksinasi dan menjadi petugas skrining untuk TRC (Tim Reaksi Cepat). Hal ini menyebabkan pemeriksaan sputum dan pencatatan formulir TBC, seperti TB 03, TB 05, dan TB 06 di Puskesmas menjadi terhalang.

Masa pandemi juga menyebabkan beberapa kondisi seperti aktivitas pengambilan obat TBC di pelayanan kesehatan mengalami penurunan karena ketakutan pasien TBC untuk datang ke puskesmas. Stigma sosial yang dialami pasien TBC maupun keluarga pasien juga membuat sebagian masyarakat enggan memberikan sputumnya untuk dibawa oleh kader agar di periksa di fasyankes. Tidak semua masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup tentang TBC terutama masyarakat menengah kebawah. Sehingga pelacakan TBC menjadi tidak terkendali karena beberapa kegiatan seperti Investigasi Kontak dan Penyuluhan (IK Non Rumah Tangga) menjadi terhambat karena diberlakukannya PSBB dan PPKM.

Untuk menangani permasalahan diatas, SR (Sub-Recipient) Sulawesi Utara selaku mitra dari PR Konsorsium Penabulu-STPI rutin melakukan rapat internal dengan melakukan diskusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Selain itu, SR Sulawesi Utara juga sangat menjaga koordinasi antara SR dan SSR. Koordinasi tersebut diterapkan dengan melakukan monitoring dan evaluasi baik via WA (WhatsApp) grup maupun kunjungan ke masing-masing SSR untuk melihat sejauh mana progres dan pencapaian dari setiap SSR. Selain dengan internal, agar terciptanya support dari pemerintah, SR Sulawesi Utara melakukan koordinasi dengan stakeholder, terkait dalam hal ini Dinkes Provinsi maupun Kabupaten/Kota turut digandeng untuk menjaga pelayanan dari tiap fasyankes demi menunjang penjaringan dan penemuan kasus, investigasi kontak, maupun pemeriksaan TCM (Tes Cepat Molekuler). Pada beberapa kegiatan, SR PELKESI juga berkoordinasi dengan Kepala Daerah seperti pada kegiatan TB Day yang dilaksanakan setiap 24 Maret setiap tahunnya. Kegiatan lainnya juga berkoordinasi dengan anggota dewan terkait advokasi dalam menyusun roadmap penanggulangan TBC. PELKESI juga berkolaborasi dengan komunitas yang bergerak di bidang sosial lainnya seperti PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), Persaudaraan Korban NAPSA, Yayasan Batamang Plus, Sinode GMIM, BAZNAS (Badan Zakat Nasional) dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

SR PELKESI aktif memotivasi para kader untuk melakukan Investigasi kontak sehingga hasil dari Investigasi Kontak menunjukkan angka yang tinggi khususnya SSR di Manado dikarenakan banyak kader yang melakukan investigasi kontak dari berbagai wilayah kerja puskesmas. Koordinasi dengan petugas puskesmas dalam memberikan indeks di awal bulan juga dilanggengkan demi memberikan waktu yang lebih cepat kepada kader-kader agar menyelesaikan IK tepat waktu. Bilamana ada kader yang tidak melaksanakan investigasi kontak terhadap indeks, maka indeks tersebut akan di investigasi oleh kader lain. Selain itu, sebagian besar kader memiliki latar belakang tokoh masyarakat/tokoh agama sehingga lebih mudah untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya memeriksakan diri ke puskesmas. Staff SSR juga mempunyai latar belakang sebagai tenaga kesehatan, sehingga mudah melakukan koordinasi dengan petugas puskesmas.

Hadirnya SR PELKESI dalam eliminasi TBC membuat masyarakat merasa terbantu dengan adanya kader-kader PELKESI yang melakukan investigasi kontak di lingkungan wilayah kerja kader.  “Masyarakat merasa aman karena mereka bisa mendapatkan penyuluhan edukasi kesehatan sehingga membantu masyarakat dengan adanya fasilitas penjemputan sputum, melakukan pendampingan  sebagai PMO (Pengawas Minum Obat) dan memberikan support nutrisi dan dana bagi pasien TB-RO”, ucap Mba Jeinne selaku PMEL Coordinator dari SR PELKESI. Mereka juga saat ini cukup kooperatif untuk memeriksakan diri ke puskesmas dengan didampingi kader PELKESI.

SR PELKESI berharap bahwa seluruh SR dapat terus memperkuat hubungan dengan mitra SSR seperti Dinas Kesehatan Puskesmas serta RS yang ada. Selain itu, pelatihan untuk para kader juga dapat dilaksanakan agar kader lebih cakap dalam hal melakukan edukasi dan penyuluhan serta investigasi kontak, sehingga setiap orang mau memberikan dahaknya untuk diperiksa, dan mereka yang sementara menjalani pengobatan agar dapat menjalani pengobatan sampai selesai dan tidak putus pengobatan. “Jangan berhenti berusaha karena ingatlah pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan yang mulia dan diberkati karena menemukan/menjaring mereka yang sakit dan mengajak mereka sehingga memperoleh pengobatan agar bisa sembuh dari sakit TBC”, imbuh beliau. 


Cerita ini dikembangkan dari SR Sulawesi Utara

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Dukungan Kader bagi Program TBC di Puskesmas Sembawa Saat Masa Pandemi COVID-19

Di masa pandemi COVID-19, semua orang harus cepat melakukan adaptasi dengan kondisi yang tidak menentu ini. Berbagai perubahan – perubahan turut menuntut penyesuaian-penyesuaian yang tidak hanya terjadi pada aspek kesehatan namun juga berimbas pada sosial, ekonomi juga perencanaan pembangunan yang berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.

Dalam bidang kesehatan, beban para tenaga kesehatan pun menjadi semakin bertambah dengan adanya pandemi COVID-19 ini. Adanya risiko-risiko seperti tertular penyakit, kelelahan dalam merawat pasien serta timbulnya stigma negatif sangat berpotensi mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas pelayanan medis tenaga kesehatan. Selain itu, petugas disibukan dengan kegiatan vaksinasi COVID-19 di lapangan. Keterbatasan tenaga khususnya tenaga labor di Puskesmas mengakibatkan terhambatnya proses pemeriksaan TBC di Puskesmas.   Oleh karena itu, Puskesmas Sembawa, khususnya petugas labor, memberikan pelatihan pembuatan slide sputum TBC  yang dilakukan sejak bulan September 2021. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat proses pemeriksaan di Puskesmas Sembawa, sehingga, sampel dahak dapat segera diperiksa dan tidak melebihi batas waktu ideal pemeriksaan 

Staff PMEL SR Sumatera Selatan menjelaskan proses implementasi kegiatan slide sputum TBC: 

“Iya untuk prosesnya, sampel dahak yang dibawa kader, kompor spiritus, kaca preparat, ose atau tusuk sate, masker, dan OPD yang telah dipersiapkan, merupakan beberapa peralatan yang digunakan untuk memulai fiksasi. Pada Kaca Preparat diberi nomor identitas slide sesuai dengan keterangan yang tertulis di Pot Dahak. Pot dahak dibuka dan sampel dahak diambil dengan menggunakan ose/tusuk sate dipindahkan di kaca preparat. Sampel dahak yang dibentuk di kaca preparat dibuat membentuk oval berukuran kurang lebih 2 x 3 CM. Kemudian sejenak didiamkan mengering di udara terbuka. Setelah kering, sediaan dahak tersebut difiksasi dengan cara melewatkan diatas nyala api sebanyak 2-3 kali. Setelah selesai, sediaan disimpan di dalam kotak slide.”

Pelaksanaan kegiatan ini terbilang cukup efektif karena selain menambah keterampilan kader, hal ini juga dinilai mempermudah dan membantu mempercepat proses pemeriksaan di Laboratorium. “Tentunya kegiatan ini berdampak kepada jumlah sputum yang dapat dilakukan pemeriksaan pada setiap hari, minggu, atau bulan. Jika biasanya ada penjadwalan pengantaran sputum bagi kader ke puskesmas, maka sekarang tidak,” tambah Andreansyah. Dengan keterampilan yang ada, kader dapat mengantar sputum kapan pun, dan membuat fiksasi sendiri tanpa menunggu petugas labor, yang mana sputum yang sudah difiksasi disimpan oleh kader ditempat yang telah ditentukan oleh Petugas Labor, untuk kemudian dilakukan pewarnaan dan pemeriksaan oleh Petugas Labor.

Andreansyah juga menjelaskan bahwa adanya pelatihan ini memberikan dampak yang baik pada angka capaian terduga di Puskesmas Sembawa. “Yang biasanya kami dalam sebulan hanya dapat melakukan pemeriksaan bekisar pada angka 40-50an, kini kami dapat mencapai angka lebih dari 50 bahkan menyentuh angka ratusan setiap bulannya,” tutur Andreansyah. Sehingga kegiatan ini dinilai cukup efektif untuk menemukan angka ternotifikasi karena semakin banyak yang diperiksa, semakin banyak kemungkinan kasus TBC yang akan ditemukan.

Adanya kegiatan ini tidak terlepas dari kerjasama multi-sektor yang dijalin oleh SR Sumatera Selatan dengan Puskesmas di daerah intervensinya tersebut. Awalnya, komunikasi dibangun atas dasar pengabdian yang terbentuk dalam wadah Komunitas Desa Peduli TBC (Komdes) yang dibentuk pada November 2020. Komdes bermula dari Desa Pulau Harapan Kec. Sembawa yang berisi dari Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, Petugas Puskesmas dan Kader TBC yang kemudian membawa aktivitas kader menjadi berkembang ke wilayah kerja Puskesmas lainnya seperti Desa Lalang Sembawa, Desa Mainan, dan Desa Rejodadi. Kerjasama Kader antar Desa ini juga dikoordinir oleh Petugas Puskesmas Sembawa yang juga merupakan bagian dari Komdes.

Kegiatan tersebut dirasa sangat positif bagi para kader. Menurut Andreansyah, kader merespon dengan sangat antusias karena diberikan keterampilan yang menunjang hasil kinerja di lapangan dan capaian yang mereka peroleh. Kader juga mengapresiasi tinggi ada ilmu yang diberikan oleh Petugas Puskesmas kepada mereka, karena tidak semua kader mempunyai kesempatan yang sama seperti mereka. Andreansyah juga berharap bahwa semoga SR lain dapat menerapkan kegiatan serupa, atau mungkin kegiatan lainnya dengan mengidentifikasi potensi lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan kader, merekatkan hubungan baik dengan fasyankes, atau hal lainnya yang menunjang untuk meningkatkan capaian target.

 


Cerita ini dikembangkan dari SR Sumatera Selatan

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Perjuangan dan Harapan Bu Ramil untuk Eliminasi TBC-HIV di Nusa Tenggara Timur

Tuberkulosis (TBC) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit yang saling terkait. Jika seseorang yang sebelumnya memiliki bakteri TBC tetapi kemudian terkena atau tertular HIV, maka HIV akan menurunkan daya tahan tubuhnya dan kuman TBC yang ada sebelumnya pun akan aktif, sehingga bisa menyebabkan penyakit TBC. Selain itu, seseorang yang sebelumnya memiliki HIV di dalam tubuhnya juga akan rentan tertular berbagai penyakit menular termasuk TBC karena daya tahan tubuh yang rendah. 

Di Indonesia, berkaitan dengan penyakit TBC-HIV, Kementerian Kesehatan RI mengumumkan bahwa sepanjang tahun 2021, telah terjadi kasus TBC-HIV dengan estimasi jumlah ODHIV yang menderita TBC sebanyak 18.000 kasus dan jumlah kematiannya yang menembus 4.800 jiwa dengan angka tersebut, tentunya penanganan dan penjangkauan kepada pasien TBC-HIV yang optimal sangat diperlukan untuk meminimalisir angka estimasi kasus dan angka kematian akibat penyakit tersebut. Sehingga dengan kondisi yang terjadi saat ini, (Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) selaku  sub-recipient (SR) dari  Konsorsium Penabulu STPI berinisiatif untuk mengkolaborasikan program TBC dengan HIV melalui program TB Care di wilayah cakupan mereka yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT). Program TB-HIV Care yang dijalankan melibatkan kader TBC yang berperan memastikan pasien TBC yang ditemukan dan didampinginya untuk melakukan tes HIV di puskesmas.

Ramil Isdak Tomasui, atau wanita yang terkenal dengan nama Ibu Ramil merupakan salah satu kader yang dipercayai oleh PERDHAKI NTT untuk melakukan tugas mulia sebagai kader pada program TB Care tersebut. Melalui panggilan hatinya, Ibu dua anak ini mempunyai niat yang sangat tulus dari hati untuk mendampingi dan mengunjungi pasien TBC demi memutuskan rantai penularan TBC di masyarakat. Menurutnya, menjadi kader merupakan panggilan Tuhan yang ia rasakan agar mendapatkan berkat dalam kehidupannya. “Saya senang bisa mengurus atau membantu orang sakit untuk memutuskan kuman TBC. Karena dengan menjalankan tugas kemanusiaan ini, saya juga mendapatkan berkat dalam kehidupan saya dan ini adalah panggilan Tuhan buat saya,” tuturnya. 

Setiap harinya, Ibu Ramil aktif melakukan tugasnya sebagai kader dengan pergi mengunjungi pasien serta mencari suspek untuk diperiksa. Selain menjadi seorang kader TBC, Ibu Ramil juga mahir membuat kue yang kemudian dititipkan di kios-kios dekat rumahnya. Saat melakukan penjangkauan kasus, Ibu Ramil rela menempuh jarak yang sangat jauh dari rumahnya demi mendapatkan suspek para pasien TBC. Jalanan yang sepi serta medan yang rusak tidak menyurutkan semangatnya untuk menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Derap langkah yang ia lakukan pun semata-mata dilakukan demi mengurus dan membantu orang dengan sakit TBC agar dapat terjangkau dan didampingi hingga sembuh. Rasa lelah yang Ibu Ramli rasa juga seketika hilang dengan rasa senang yang ia dapati ketika bertemu dengan para pasien TBC. “Ada momen tertentu dimana saya merasa bersyukur sudah mendapat ilmu tentang TBC dan bisa mengurus orang sakit dengan TBC. Saya bahkan sangat senang ketika saya bertemu dan membantu mereka hingga sembuh,” ucapnya. Semua itu rela ia lakukan demi untuk memutuskan penyakit akibat bakteri mycobacterium tuberculosis ini.

Hambatan demi hambatan kerap Ibu Ramil hadapi ketika melakukan penjangkauan kepada masyarakat. Terkadang, beberapa masyarakat tidak berkenan untuk menjawab secara jujur tentang kondisi yang dialaminya. “Ada orang-orang selalu jujur terhadap saya tetapi ada juga yang tidak mau jujur bahwa mereka itu sakit, tapi saya berusaha bagaimana caranya supaya mereka bisa terbuka dengan saya,” katanya. Namun, hal tersebut dapat diatasi oleh Ibu Ramil dengan terus menerus memberikan mereka edukasi terkait dengan penyakit tersebut. Selain itu, adanya pandemi juga kerap dijadikan alasan oleh masyarakat agar tidak dapat dikunjungi oleh para kader kesehatan terutama TBC. Tetapi Ibu Ramil tidak menyerah dan selalu melakukan pendekatan kepada masyarakat agar kehadirannya dipercaya oleh masyarakat.

Dalam eliminasi TBC-HIV, Ibu Ramil memiliki peran yang sangat penting dengan menjadi pendamping pasien dengan penyakit tersebut. Sebagai pendamping pasien TBC-HIV, ia kerap membantu pasien mengambil obat di Puskesmas karena kondisi pasien yang tidak bisa berpergian.  Agar pasien juga dapat segera sembuh, Ibu Ramil juga tak henti-hentinya untuk selalu mengingatkan pasien TBC-HIV agar selalu minum obat tanpa putus. “Saya usahakan untuk selalu ada bagi mereka, karena bagi saya tugas ini adalah tanggungjawab yang harus saya lakukan,” tambahnya.

Selain mendampingi pasien TBC-HIV, Ibu Ramil juga kerap memberikan penyuluhan tentang TBC-HIV ketika melakukan kunjungan kepada masyarakat. Melalui media komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang telah diberikan oleh PERDHAKI NTT, Ibu Ramil dengan semangat terus menularkan ilmunya kepada masyarakat di wilayah jangkauannya agar dapat memahami lebih tentang penyakit TBC dan menghilangkan stigma negatif di masyarakat terhadap penyakit tersebut. 

Dengan usaha-usaha yang telah Ibu Ramil kerahkan, dalam tahun 2021, Ibu Ramil berhasil menemukan 2 pasien TBC-HIV melalui jangkauan yang ia jalankan. Selain itu, bekerja sama dengan kader-kader di wilayah cakupannya, Ibu Ramil berhasil menjangkau 15 pasien TBC yang mana pasien-pasien tersebut juga telah di skrining dan dilakukan pemeriksaan HIV untuk mengetahui lebih dalam tentang kondisi pasien tersebut. Dalam pendampingan pasien, Ibu Ramil juga  berhasil mendampingi 2 pasien TBC-HIV hingga sembuh, dengan 1 pasien yang masih dalam masa pengobatan. 

Dalam pelaksanaan pendampingan pasien TBC-HIV, PERDHAKI NTT memberikan kepercayaan penuh kepada kader untuk mendampingi serta memberikan edukasi seputar TBC-HIV kepada masyarakat. Selain itu, berkolaborasi dengan Puskesmas setempat, PERDHAKI NTT juga membuka jembatan antara Puskesmas dengan para Kader TBC untuk memeriksa pasien TBC yang didampingi kader agar melakukan tes HIV untuk memastikan penanganan seperti apa yang diberikan kepada pasien TBC tersebut. “Kami diberikan kepercayaan penuh ya dari PERDHAKI NTT untuk menjalankan tugas ini, berbekal dengan ilmu yang kami punya, kami juga akan terus menjalankan tugas ini dengan baik,’ ucap Ibu Ramil. 

Ibu Ramil memiliki harapan bahwa pemeriksaan TBC-HIV dapat segera diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Pasalnya dalam melakukan pengobatan TBC, penting untuk memastikan status HIV pasien TBC. Sebab dengan memastikan tidak adanya virus ini didalam tubuh pasien TBC, maka pengobatan pun dapat berjalan efektif membunuh kuman TBC. Jika diketahui adanya HIV didalam tubuh pasien TBC, maka hal tersebut dapat berpengaruh pada menurunnya daya tahan tubuh si pasien, sehingga perlu ditambahkan pengobatan lanjutan untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien dan pengobatan TBC pun dapat berjalan efektif.


Cerita ini dikembangkan dari SR Nusa Tenggara Timur

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Kreatif! Kader di Lampung Tengah Bantu Vaksinasi COVID-19 Seraya Screening TBC Kepada Warga

COVID-19 atau penyakit yang disebabkan oleh virus corona adalah penyakit yang pertama terdeteksi di Provinsi Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019. Pola penyebarannya begitu cepat dan masif dari manusia ke manusia. Muncul adaptasi baru, yang mana semua orang harus menjaga jarak, menghindari kerumunan, selalu menggunakan masker dan membiasakan dengan budaya hidup baru yang disebut  protokol kesehatan. 

Di Indonesia, kasus COVID-19 pertama terdeteksi pada bulan Maret 2020. Pemerintah langsung melakukan tracking, peraturan larangan bepergian, penutupan tempat ibadah, sekolah, dan regulasi lainnya demi membatasi penularan COVID-19. Cepatnya mutasi yang berkembang dengan munculnya Varian Delta menjadikan COVID-19 cepat menular dan memiliki resiko kematian tinggi. Akibatnya, pada bulan Juni-Juli 2021, Indonesia mengalami gelombang tertinggi penularan COVID-19 dengan rata-rata harian mencapai 50.000 kasus.  

Kurangnya stok kamar di rumah sakit dan tabung oksigen yang langka, menambah miris cerita amukan COVID-19 di Indonesia. Disaat bersamaan, pemerintah melalui segala daya upaya berusaha mempercepat vaksinasi, dengan menggerakan seluruh lapisan baik unsur pemerintah, mulai dari Puskesmas, Rumah Sakit, TNI, Polri, maupun swasta bahkan Organisasi Kemasyarakatan. Berbagai unsur ini diminta menghimpun dan menyelenggarakan vaksinasi COVID-19 secara  massal dan gratis demi mencapai herd-immunity secara komunal di masyarakat.

Adanya pandemi juga berimbas pada penjangkauan kasus yang dilaksanakan oleh para kader TBC di wilayah cakupannya. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan ketakutan masyarakat untuk dikunjungi tenaga kesehatan menjadi hambatan besar yang harus dihadapi para kader TBC di lapangan. Namun, hal-hal tersebut dapat siasati oleh 3 kader TBC dari Lampung Tengah yaitu Mba Erma, Bu Eko, dan Mas Vajar. Mereka tetap menerapkan prokes yang ketat saat berinteraksi untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat. Kerjasama yang dibangun secara baik dengan para pemangku kepentingan seperti RT/RW dan petugas kesehatan lain di lapangan juga membuat yakin masyarakat bahwa kehadiran ketiga kader TBC ini berperan sebagai petugas kesehatan yang akan membantu mereka untuk tetap sehat.

Selain pelaksanaan investigasi kontak, para kader TBC juga turut aktif dalam penyelenggaraan vaksinasi. Kader komunitas TBC turut membantu tenaga kesehatan dalam pendaftaran peserta vaksin, penginputan data pada aplikasi, serta memastikan vaksinasi  berjalan tertib, kondusif, dan berjalan sesuai dengan protokol kesehatan.  Hal ini seperti yang disampaikan oleh Erma Afriyandari, salah satu kader Inisiatif Lampung Sehat, Kecamatan Padang Ratu. “Iya saya di  ajak dr. Ana. Dr.Ana adalah petugas TBC di Puskesmas Padang Ratu. Selain petugas TBC Puskesmas, dr. Ana juga di bagian vaksinator jadi saya diajak membantu karena kebetulan saya bisa komputer. Bagian saya berubah ubah sih, kadang di  bagian pendaftaran, kadang di bagian PCare,” ujar Erma.

Ketika membantu kegiatan vaksinasi, Erma juga tak lupa untuk melaksanakan tugasnya sebagai kader TBC. Kepada masyarakat yang dilayani, Erma mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan gejala-gejala umum TBC. “Disaat saya bertemu dengan masyarakat, selain saya tanya riwayat kesehatan, pasti saya juga selipkan beberapa pertanyaan terkait dengan gejala awal TBC seperti sedang batuk tidak? Jika batuk saya sarankan untuk  melakukan pemeriksaan dahak di Puskesmas, jadi sembari pemberian layanan vaksinasi ini, saya juga melakukan  skrining TBC, sehingga capaian yang saya dapatkan lumayan mas,” ujar Erma. Dengan inovasi skrining yang Erma lakukan, ia berhasil memperoleh capaian terduga sebanyak 120 dengan 7 kasus positif TBC sepanjang tahun 2021. 

Hal senada juga disampaikan Bu Ekowati dan Mas Vajarudin sebagai kader TBC di Kecamatan Bandar Mataram. Kedekatan mereka dengan petugas TBC di puskesmas memotivasi beliau untuk mengambil peran pada kegiatan vaksinasi di wilayah cakupannya. Jiwa sosial  mereka sebagai kader TBC yang sudah sering bekerja di tengah-tengah ancaman penyakit menular juga membuat mereka tidak ragu untuk turut serta mensukseskan program vaksinasi tersebut. “Ya kami berdua ikut bantu-bantu di bagian pendaftaran. Saat proses pendaftaran, kami juga menanyakan riwayat penyakit peserta vaksin, punya efek samping obat apa enggak, dan ya kami juga sembari menanyakan beliau ada batuk-batuk atau tidak? Kalau batuk kami kasih pot dahak untuk periksa TBC di Puskesmas. Apalagi saya kan Alumni Pasien Covid juga, jadi saya merasa ini adalah kesempatan saya untuk berbuat agar yang lain tidak sampai merasakan sakit nya COVID-19,” ucap Bu Eko. Dari proses skrining tersebut, Bu Eko dan Mas Vajar berhasil memperoleh 11 temuan kasus positif TBC dari temuan Bu Ekowati 8 Kasus dan Mas Vajarudin 3 Kasus selama tahun 2021.

Melihat hasil yang dicapai, Suroto selaku Program Officer SSR Lampung Tengah berkata, “Kegiatan program vaksinasi yang mereka lakukan dengan menyelipkan skrining TBC terbukti cukup efektif dalam menjaring suspek TBC. Sehingga selain membantu petugas  vaksinator, kader TBC Komunitas pun dapat melakukan edukasi serta mencari suspek TBC.” tuturnya. Suroto menambahkan bahwa partisipasi kader TBC dalam program vaksinasi telah dilaksanakan sejak bulan Agustus 2021 dengan menyisir kampung-kampung di wilayah Kabupaten Lampung Tengah. “Iya kegiatan ini telah dilaksanakan sejak bulan Agustus dan berakhir sampai selesainya program vaksinasi kampung-kampung pada akhir bulan 2021,” tambahnya.

Suroto berharap bahwa dengan upaya-upaya ini, COVID-19 dapat lebih terkendali bahkan segera hilang sekaligus dengan kasus TBC yang dapat tuntas dieliminasi. Ia juga akan terus mendukung kader-kader di wilayahnya agar mendapatkan timbal balik yang setimpal sesuai dengan usaha yang telah mereka lakukan dalam mengeliminasi TBC. “Kami akan terus membantu komunikasi antara  kader dan petugas TBC yang juga tim vaksinasi agar melibatkan kader TBC dalam kegiatan vaksinasi. Selain itu, kami memberikan reward tambahan untuk kader yang mendapat capaian terduga lebih dari target di luar reward dari Global Fund,” tandasnya.


Cerita ini dikembangkan dari SR Sulawesi Tengah

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Dwi Aris Subakti

Ibu Yenni; Ikon Baru Penggerak TBC di Kota Palu

Yenni Oktavianti atau akrab dipanggil Bu Yenni adalah koordinator kader yang lahir dan besar di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sejak lulus kuliah dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako pada tahun 2012, Bu Yenni mengajar di salah satu Sekolah Dasar Negeri sebagai guru Bahasa Inggris selama 2 tahun. Disamping itu, Bu Yenni juga pernah bekerja sebagai wartawan kriminal dengan membantu pendampingan kasus kekerasan yang di laporkan melalui KPPA (Koalisi Perlindungan Perempuan dan Anak) Kota Palu. 

Ibu Yenni memulai karirnya di bidang Kesehatan dengan menjadi kader posyandu sejak tahun 2017 di Puskesmas Kamonji , Kecamatan Palu Barat. Ketika menjadi kader posyandu, Bu Yenni rutin memberikan pelayanan posyandu bagi balita,remaja dan lansia. Selain itu, Bu Yenni juga menjalankan kegiatan penyuluhan untuk remaja seputar bahaya NAPZA dan kesehatan alat reproduksi. Dimulai menjadi kader posyandu, ketertarikan beliau pada dunia kesehatan terus bertumbuh dan membuat beliau mendedikasikan penuh dirinya untuk aktif pada kegiatan sosial yang berkaitan dengan kesehatan.

Langkah-langkah beliau pun terus berlanjut hingga akhirnya membawa beliau pada program kesehatan tuberkulosis. Hal itu bermula ketika Bu Yenni aktif dalam mengikuti pelatihan-pelatihan untuk kader puskesmas dan mengetahui adanya peran kader TBC di masyarakat. Awalnya, Bu Yenni mengikuti pelatihan TBC pada bulan Juni 2021 yang dilaksanakan oleh SR Sulawesi Tengah dan dilanjutkan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang sama lainnya hingga Desember akhir tahun kemarin. Berawal dari rasa ingin tahu serta semangat beliau yang tinggi untuk membantu pasien TBC, beliau mengajukan diri untuk menjadi koordinator kader. Keinginan tersebut muncul dari diri Bu Yenni sendiri. Beliau berkata, “Saya sangat senang bekerja di dunia sosial dan membantu orang banyak, karena jika kita bisa membantu urusan dari orang tersebut maka orang yang kita bantu mengangkat tangannya untuk mendoakan kita juga agar dimudahkan urusan” ujarnya. Pengajuan beliau disampaikan kepada SR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI selaku pelaksana Program Global Fund untuk Eliminasi TBC Komunitas. Melihat dedikasinya, Ibu Yenni dipercaya sebagai Koordinator Kader dan mengelola lima wilayah puskesmas dampingan yaitu wilayah Tipo, Mabelopura, Nosarara, Sangurara dan Kamonji Sulawesi Tengah. 

Dalam kesehariannya, Bu Yenni rutin melaksanakan penyuluhan dari satu wilayah ke wilayah lain melalui berbagai kesempatan baik secara formal maupun non-formal. Dari bulan Juli 2021, Bu Yenni telah merujuk terduga pasien sejumlah 41 orang melalui penyuluhan-penyuluhan yang beliau lakukan. Ketika menjalankan penyuluhan di lingkungan masyarakat, tahap awal yang beliau lakukan adalah dengan memperkenalkan bagaimana proses penularan TBC dan bahayanya bagi manusia. “Pemaparan tentang bahaya dan proses penularan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa TBC adalah penyakit yang harus kita eliminasi segera,” tuturnya. Selanjutnya, beliau juga mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan lingkungan terkait dengan kebersihan.”Kesehatan kita berawal dari lingkungan yang bersih,sehat dan nyaman, maka saya terus menginisiasi kepada seluruh masyarakat untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih,” tambahnya.  

Tidak hanya melaksanakan penyuluhan, Bu Yenni juga sangat aktif berupaya melakukan mendampingi pasien-pasien yang tengah melakukan pengobatan agar mereka tidak putus dalam minum obat. “Saat ini, pasien dalam dampingan saya berjumlah 4 orang, dan alhamdulillah 1 diantaranya sudah sembuh,” ucap Bu Yenni.  Selain itu, dibantu oleh lima kader di setiap wilayah, Bu Yenni berusaha untuk melakukan investigasi kontak semaksimal mungkin–meskipun dengan segala hambatan yang ada–agar dapat menjangkau kasus dengan baik di daerahnya. “Di lapangan saat ini beberapa hambatan masih terjadi, terutama masyarakat yang enggan untuk diperiksa maupun dirujuk meskipun mereka sudah mengalami batuk lebih dari 2 minggu. Selain itu, banyak juga pasien yang tidak terbuka mengenai kondisi kesehatan mereka sendiri,” ucapnya.  

 

Kurangnya pemahaman TBC oleh masyarakat membuat Bu Yenni, yang juga aktif sebagai pengurus Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) gencar memberikan penjelasan kepada masyarakat sekitar  tentang pemeriksaan dahak untuk mengetahui status TBC. “Saya kebetulan membawahi bidang kesehatan di PKK. Oleh karena itu, saya kadang membuat program pemeriksaan dahak kepada masyarakat dengan gejala awal TBC dan memberitahu mereka bahwa pemeriksaan ini digunakan untuk mengecek kondisi mereka dan menganalisis jenis batuk yang tengah mereka derita,” kata Bu Yenni. 

Selain melakukan pendekatan kepada masyarakat, Bu Yenni membuat program Komunitas Masyarakat Peduli (KMP) TBC dengan menggandeng para pemangku kepentingan dan organisasi masyarakat lainnya seperti Anggota Dewan, RT, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, dan para pengusaha. “Saya sudah mendapatkan donatur untuk membantu KMP TBC ini” ujarnya. Beliau menyampaikan bahwa program ini telah dikomunikasikan kepada beberapa Anggota Dewan yang berada di wilayah Palu Barat. Tidak hanya itu, beberapa pengusaha rekan-rekan dari Bu Yenni juga akan ikut andil dalam program tersebut dengan memberikan subsidi sembako  untuk para pasien yang kurang mampu. “Keterlibatan stakeholder sangat membantu untuk menyuarakan program ini agar masyarakat bisa lebih paham mengenai penularan, bahaya dan pencegahan dari penyakit TBC ini. Komunikasi rutin dengan RT dan Kamtibmas juga sering kami lakukan untuk membantu menemukan warga yg memiliki gejala untuk segera dirujuk, ” tambahnya. 

Usaha-usaha yang dilakukan Bu Yenni membuahkan hasil yang luar biasa. Semangat masyarakat untuk mulai melakukan cek kesehatan meningkat terutama di kalangan anak muda. “Ada hal menarik saat saya mensosialisasikan varian TBC, hasilnya menambah animo masyarakat untuk mengecek kondisi kesehatan mereka,” ucapnya. Aktifnya kegiatan sosialisasi yang Bu Yenni lakukan menjadikan Bu Yenni menjadi ikon Tuberkulosis di wilayahnya. “Ketika orang-orang melihat saya, yang mereka pikirkan adalah bagaimana perkembangan penderita TBC di lingkungan mereka, karena saya rajin memberitahu masyarakat sekitar untuk mendukung pasien TBC agar segera sembuh,” tambahnya. Selain itu, Bu Yenni dan teman-teman kader di wilayahnya hingga saat ini telah berhasil menemukan 8 pasien ternotifikasi TBC di wilayah cakupannya. 

Dengan kerja keras dan dukungan dari Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, Bu Yenni yakin bahwa TBC dapat dieliminasi sesegera mungkin di wilayahnya. “Keberadaan Konsorsium Penabulu sangat membantu pihak Puskesmas dan juga kami dalam menemukan pasien yang terduga tertular TBC, hal ini juga kerap disampaikan oleh para pengelola TBC di Puskesmas,” tuturnya. Kedepannya, Bu Yenni juga berharap bahwa kader di wilayah lain memiliki semangat yang sama bahkan lebih sehingga dapat menemukan dan mengobati pasien TBC sesegera mungkin. “TBC bukan penyakit aib atau kutukan masyarakat, TBC adalah penyakit yang bisa diobati secara tuntas dengan rutin minum obat selama 6 bulan, oleh karena itu mari sebagai kader kita hilangkan stigma negatif TBC dan melangkah maju demi kesehatan dan kesejahteraan bersama.”


Cerita ini dikembangkan dari SR Sulawesi Tengah

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Dwi Aris Subakti