Knowledge Management Coordinator (KMC) untuk Program Eliminasi TB – Konsorsium Komunitas Penabulu STPI

Latar Belakang

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI adalah Principal Recipient (PR) Komunitas TBC, berdampingan dengan PR Kementerian Kesehatan dan Program Nasional Penanggulangan TBC yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML). Dalam kerja sama dengan para mitra, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI bertujuan mengakselerasi eliminasi TBC 2030 di 30 provinsi dan 190 kota/kabupaten yang meliputi: 1) Penemuan dan pendampingan pasien TBC sensitif obat, 2) Penemuan dan pendampingan pasien TBC resisten obat, 3) Penguatan sistem komunitas, dan 4) Upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi pasien dalam mengakses pelayanan TBC berkualitas sampai sembuh.

Untuk kebutuhan pengelolaan program sebagaimana disebutkan di atas, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI sedang membutuhkan staff untuk posisi Knowledge Management Coordinator (KMC) . Dibawah supervisi Monitoring, Evaluation & Learning Manager (MELM), KMC melalui keahliannya membantu MELM dalam merencanakan, mengkoordinasi, mengimplementasikan dan mengevaluasi pengelolaan pengetahuan yang di dalamnya mencakup penelitian dan komunikasi untuk mendukung tercapainya tujuan program.

Tugas & Tanggung Jawab Utama

  1. Mengembangkan kerangka kerja, desain dan strategi pengelolaan pengetahuan dan komunikasi program TB Komunitas di PR dan SR
  2. Membuat rencana kerja tahunan terkait pengelolaan pengetahuan dan komunikasi yang diupdate setiap triwulan dan bertanggung jawab dalam pelaksanaannya.
  3. Melakukan supervisi dan monitoring secara berkala terhadap implementasi perencanaan dan strategi pengelolaan pengetahuan dan komunikasi program.
  4. Melakukan supervisi dan monitoring pelaksanaan program kepada SR secara berkala terkait kebutuhan peningkatan kapasitas, pengembangan pengetahuan, penelitian dan komunikasi program.
  5. Melakukan review triwulan terhadap kinerja staf di bawah unit KM untuk melihat sejauhmana kinerja staf dalam implementasi perencanaan, mengidentifikasi tantangan & hambatan yang dihadapi oleh staf.
  6. Memberikan dukungan terhadap peningkatan kapasitas staf dalam menjalankan tugas-tugasnya.
  7. Membantu MEL Manager dalam menjalankan pekerjaan terkait Monitoring, Evaluasi dan Learning serta tugas lain yang berhubungan dengan Konsorsium Penabulu-STPI.

Kualifikasi & Keahlian

  1. KMC diutamakan memiliki latar belakang pendidikan S2 dengan jurusan Ilmu Sosial, Ilmu Komunikasi, Kesehatan Masyarakat, Kesejahteran Sosial atau jurusan lain yang relevan.
  2. Memiliki keterampilan dalam menangkap pembelajaran dan menuliskannya menjadi produk pengetahuan.
  3. Memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengelolaan pengetahuan dan pembelajaran program. Pengalaman terlibat dalam program GF atau program kesehatan masyarakat menjadi nilai lebih .
  4. Menguasai metode penelitian kualitatif. Pengalaman melaksanakan penelitian kesehatan masyarakat menjadi nilai lebih.
  5. Terampil menggunakan komputer, khususnya dalam Aplikasi Office (Word, Excel, Power Point, dsb.).
  6. Menguasai Bahasa Inggris secara aktif akan diutamakan.
  7. Memiliki pengalaman bekerja dengan kelompok populasi kunci dan rentan di program TB dan/atau program HIV/AIDS.
  8. Memiliki pemahaman kesetaraan gender, hak asasi manusia, perawatan kesehatan yang berpusat pada manusia, dan pemberdayaan masyarakat.
  9. Memiliki pengalaman dalam mengkoordinir tim kerja dan memiliki kepemimpinan yang baik dalam mengelola tim.

Durasi Waktu

Periode penugasan: Januari s/d Desember 2022

Kirimkan CV dan pernyataan minat ke email:

hr@penabulu-stpi.id dengan subject email: KMC

Batas Waktu : 6 Januari 2022 pukul 12.00 WIB

Pengumuman Pemenang Pelelangan Pengadaan Jasa Kantor Akuntan Publik (KAP) Untuk Audit Laporan Keuangan Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Tahun 2021

PENGUMUMAN PEMENANG HASIL PELELANGAN
Nomor : PL.21.005/PR PB-STPI/XII/2021

Sehubungan   dengan   lelang   umum   pekerjaan   Pengadaan Jasa Kantor Akuntan Publik (KAP) Untuk Audit Laporan Keuangan Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Tahun 2021, maka dengan ini Panitia Lelang Pengadaan Jasa Kantor Akuntan Publik (KAP), PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mengumumkan pemenang lelang untuk pekerjaan tersebut di atas adalah:

Nama KAP : KAP Tanubarata Sutanto Fahmi Bambang & Rekan member of BDO International
Alamat : Prudential Tower Lt. 17, Jl. Jend. Sudirman Kav. 79,  Jakarta, 12910
Nomor Telepon : 021-57957300

Demikian kami sampaikan untuk diketahui, atas perhatian dan partisipasi saudara, kami ucapkan terima kasih.

Panitia Lelang Pengadaan Jasa Kantor Akuntan Publik (KAP)

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI

Jakarta, 22 Desember 2021

Unduh lampiran surat pengumuman pemenang

Implementasi DPPM dan Penguatan Peran Komunitas Jadi Strategi Baru Tanggulangi TBC di Sulsel

MAKASSAR, MEDITEK.ID – Upaya penanggulangan penyakit Tuberkulosis terus digiatkan pemerintah guna mengejar target eliminasi TBC tahun 2030. Salah satu upaya dilakukan adalah dengan implementasi District Public Private Mix (DPPM) sebagai salah satu strategi untuk menjangkau kasus secara lebih luas.

Ketua DDPM kota Makassar, dr. Nur Ashari, M. Kes., menjelaskan bahwa strategi PPM ini merupakan langkah baru yang dilakukan pemerintah dengan pelibatan semua fasilitas layanan kesehatan secara kompherenshif melalui kemitraan lintas program atau sektor terkait dan layanan keterpaduan pemerintah dan swasta.

“Tujuannya untuk meningkatkan akses layanan TB yang bermutu dan berpihak pada pasien,” katanya, saat pertemuan dukungan advokasi dan kemitraan komunitas yang diadakan SR Yamali TB Sulsel di Hotel Ramedo, Makassar, Selasa (20/12/21).

Dia melanjutkan, selain melibatkan semua jenis fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta, DPPM juga menggandeng berbagai organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Ikatan Bidan Indonesi (IBI), PATELKI , Persatuan Rumah sakit (PERSI), Asosiasi Klinik (ASKLIN), serta unsur Komunitas Peduli TB seperti Yamali.

Ia menjelaskan, organisasi profesi ini berperan dalam membina anggotanya untuk melaksanakan tatalaksana TB sesuai standar di tempat praktik masing-masing sebagai praktisi ahli dalam pelayanan langsung pada pasien, dan melaporkan kasusnya ke dalam sistem pelaporan TB di Dinas Kesehatan kabupaten dan kota.

Sementara itu, dari komunitas, SR Manager Yamali TB Sulsel, Wahriyadi menyampaikan bahwa dari sisi komunitas pihaknya melalui kader-kader TB akan mengambil peran untuk kegiatan pelacakan pasien mangkir dan putus berobat, investigasi kontak, serta pendampingan pasien TBC yang berobat di sektor swasta.

“Kita berharap dengan strategi ini jangkauan kasus TB semakin meluas dan tentu meningkat. Mengingat bahwa masih sangat tingginya kesenjangan antara angka orang terduga dan ternotifikasi TB dengan yang tercatat melakukan pengobatan,” harapnya.

Kegiatan pertemuan ini berlangsung selama tiga hari sejak 19 hingga 21 Desember 2021, dengan diikuti oleh sejumlah pihak di antaranya program TB Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, RSUD Labuang Baji, IDI, PDPI Cabang Sulawesi, PERSI, ASKLIN, BPJS Kesehatan, serta beberapa pihak lainnya.

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Tingkatkan Kapasitas Manajer Kasus TBC Resisten Obat

(Salah satu perwakilan SR menyampaikan presentasi hasil diskusi kelompok)

DENPASAR – Dilansir dari web resmi Kementerian Kesehatan RI, Indonesia merupakan 1 dari 10 negara yang menyumbang 77% kesenjangan secara global untuk estimasi kasus TB RO dengan estimasi kasus sebanyak 24 ribu. Dari banyaknya kasus tersebut, hanya 48% pasien TBC RO yang memulai pengobatan di lini kedua. Cakupan keberhasilan pengobatan juga masih sangat rendah yaitu di angka 45%. Sehingga rendahnya cakupan angka pasien TBC RO yang mulai pengobatan dan capaian angka keberhasilan pengobatan TBC RO berpotensi untuk meningkatkan penularan TBC RO, menimbulkan resistensi pengobatan yang lebih kompleks dan meningkatkan angka kematian.

Manajer Kasus (MK) sendiri mempunyai peranan yang bertanggung jawab terhadap tata kelola dalam kasus TB RO, mulai dari pasien terdiagnosis sampai menyelesaikan pengobatan dan juga pemberian dukungan, baik dukungan medis maupun psikososial. Untuk meningkatkan peran  MK di komunitas terutama dalam pencatatan dan pelaporan, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan Pelatihan Manajer Kasus yang dilaksanakan di Hyatt Regency, Sanur, Bali pada tanggal 10-14 Desember 2021.

(Ibu Heny didampingi oleh para Manager menyampaikan sambutannya)

Kegiatan diikuti oleh 128 peserta MK yang berada di 30 provinsi  cakupan kerja PR Konsorsium Penabulu STPI. Acara dibuka oleh Ibu Heny Akhmad selaku Direktur Program Nasional yang  bersama Manajer Program dan Manajer Monitoring, Evaluation, and Learning PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.  Pembukaan dilanjutkan dengan perkenalan dan penguatan komitmen belajar yang dipimpin oleh Lina Harahap, staf Data Management, sebagai MC. 

(Lina Harahap sebagai Master of Ceremony memimpin jalannya acara)

Hari selanjutnya, acara dimulai dengan pemaparan materi oleh Rahmat Hidayat Koordinator Field Program tentang Evaluasi Implementasi Pendampingan  TBC RO, dilanjutkan oleh Raisa Afni menjelaskan tentang Alur Pendampingan Pasien TBC RO oleh Komunitas dan  ditutup yang menjelaskan tentang Alur Kegiatan Per BL TBC RO. Setelah pemaparan materi selesai, peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk berdiskusi tentang evaluasi pencatatan dan pelaporan TBC RO, lalu menuliskan hasil alur pencatatan dan pelaporan yang dipahami dan yang sudah diimplementasikan. Aktivitas dilanjutkan dengan pemaparan presentasi dari hasil diskusi yang dibagi menjadi beberapa subtopik yaitu Implementasi Pendampingan oleh Pasien Suporter, Persiapan dan Penetapan Manajer Kasus, Interaksi & Penilaian awal, Enabler, Terminasi Pasien, Koordinasi Multi Pihak,  dan Pengorganisasian Kasus serta Perencanaan & Rujukan Sosial.

(Peserta membaca form yang telah diberikan oleh panitia)

Di hari ketiga, acara dilanjutkan dengan pembekalan tentang semua jenis form untuk proses input data pasien. Sebelum praktik penginputan dimulai, Irman selaku Data Management Staff memaparkan terlebih dahulu tentang penjelasan modul TBC RO di SITK Sistem Informasi Tuberkulosis (SITK). Thoriq Hendrotomo selaku Koordinator Data Management juga turut menjelaskan tentang pelaporan raw data RO dan data Kementerian Kesehatan. Setelah itu, peserta membentuk kelompok sesuai dengan asal SR untuk melakukan input raw data/ data individu ke SITK. Pada sesi ini, seluruh tim Data Management PR dan fasilitator terlibat untuk memastikan peserta fokus selama sesi dan form dapat terisi dengan baik.

(Dwi Aris Subakti selaku MEL Manager menutup kegiatan Pelatihan Manajer Kasus)

Kemudian di hari terakhir pelatihan Manajer Kasus, mereka melanjutkan proses penginputan data dengan memperbaiki data variabel-variable terkait perawatan TBC RO. Setelah Manajer Kasus selesai melakukan input, mereka memberikan hasil input pendampingan kepada  SR untuk dilakukan verifikasi. Pada malam harinya, acara pelatihan ini ditutup oleh Dwi Aris Subakti selaku MEL Manager yang menyampaikan agar ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan dan diterapkan secara baik ketika para MK kembali untuk melaksanakan tugasnya.

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Padukan Fokus Kolektif Mewujudkan Eliminasi Tuberkulosis

(Direktur Program Nasional didampingi oleh para manajer memberikan ucapan terima kasih kepada seluruh SR)

DENPASARTuberkulosis (TBC) adalah masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan  solusi  multisektoral, salah satunya dengan  keterlibatan masyarakat sipil dan komunitas  Data resmi dari Kementerian Kesehatan menunjukkan Indonesia adalah episentrum TBC terbesar ketiga di dunia pada tahun 2021. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI yang secara resmi telah menjadi Principal Recipient (PR) Komunitas program TBC melalui kerjasama dengan Global Fund Tahun 2021-2023 memiliki mandat untuk berkontribusi menurunkan beban TBC melalui peran serta masyarakat. Pada 5-10 Desember 2023, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI melaksanakan Lokakarya Asistensi Implementasi Teknis yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas manajemen program, keuangan, serta monitoring, evaluation, and learning (MEL) 30 Sub-Recipient (SR) untuk mengembangkan rancangan strategi dan perencanaan implementasi program hibah ini di tahun 2022. Acara tersebut berlangsung selama 5 hari melibatkan 93 peserta di Hyatt Regency Bali, Sanur.

(Dr. dr. Rita Kusriastuti, Wakil Ketua CCM Indonesia memberikan sambutan pada pembukaan kegiatan Lokakarya Asistensi)

Acara ini dibuka oleh Dr. dr. Rita Kusriastuti selaku Wakil Ketua CCM Indonesia, Nurul Nadia selaku Authorized Signatory Yayasan STPI, dan Budi Susilo mewakili Eko Komara selaku Authorized Signatory Yayasan Penabulu untuk memberikan arahan dan motivasi kepada PR dan SR untuk mencapai kinerja yang lebih baik di tahun 2022. Beliau-beliau juga mengajak para peserta agar dapat adaptif dengan situasi dan kondisi di lapangan, terlebih dengan adanya pandemi Covid-19 yang menghambat kegiatan di lapangan. 

(Ibu Heny Akhmad memberikan sambutan pada hari kedua acara Lokakarya)

Acara hari kedua pada Senin 6 Desember 2021 dimulai dengan pembukaan dari Direktur Program Nasional  Ibu Heny Akhmad yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang program TBC dalam empat panel dengan topik berbeda. Panel pertama membahas tentang Situasi Terkini Penanganan TBC dengan menghadirkan dr. Endang Lukitosari MPH (Wakil Koordinator Substansi TBC Resisten Obat Kementerian Kesehatan) dan dr. Setiawan Jati Laksono (WHO Indonesia Country Office). Dilanjutkan panel kedua tentang Kebijakan Multisektor TBC yang disampaikan oleh Dr. Agus Suprapto (Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan), dr. Tiara Tiffany Pakasi, M.A. (Koordinator Substansi TBC Kementerian Kesehatan), R. Budiono Subambang, S.T., MPM (Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah III, Kementerian Dalam Negeri) dan Ir. Eppy Lugiarti, MP Plt. (Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan). Panel ketiga membicarakan tentang Peran Serta Komunitas Mendukung Pasien TBC Sektor Swasta dengan materi yang disampaikan oleh dr. Mohammad Bey Sonata (USAID Indonesia TB Lead), dan dr. Carmelia Basri, M. Epid (Ahli Penanggulangan Penyakit Menular Langsung dan Sistem Kesehatan). Panel terakhir adalah  pembahasan terkait Gambaran Besar Keterkaitan Program TBC di Indonesia yang disampaikan oleh dr. Setiawan Jati Laksono (WHO Indonesia Country Office) dan Prof. DR. Adang Bachtiar, MD, MPH, D.S (Ketua TWG Tuberkulosis Indonesia). Setelah penyampaian materi, seluruh peserta aktif dalam mengutarakan pemikiran, pertanyaan dan pendapat mereka terkait dengan topik-topik yang telah disampaikan oleh para pembicara pada sesi refleksi dan tanggapan yang dipimpin oleh Donald Pardede (Management Advisory Team) dan  Heny Akhmad (National Program Director PR PB-STPI). 

(Dwi Aris Subakti selaku Manajer Monitoring, Evaluation and Learning memberikan materi tentang Kerangka Strategi Implementasi Program TBC Komunitas 2022)

Selanjutnya di hari ketiga, Dwi Aris Subakti  selaku Manajer Monitoring, Evaluation, and Learning menjelaskan Kerangka Strategi Implementasi Program TBC Komunitas 2022 serta menghimbau kepada seluruh peserta agar terus berupaya meningkatkan kualitas kerja agar mencapai target yang ditentukan dengan maksimal. Selanjutnya, Barry Adhitya selaku Manajer Program menyampaikan arahan programatik untuk meningkatkan upaya SR dan SSR merancang dan melaksanakan kegiatan di daerah serta berkoordinasi dengan SR Tematik. 

Pemaparan selanjutnya adalah update dan arahan tentang implementasi program yang  disampaikan oleh perwakilan setiap divisi PR Konsorsium Penabulu-STPI. Koordinator Field Program PR PB-STPI, Rahmat Hidayat menyampaikan Update Panduan Implementasi Program, dilanjutkan dengan Bunga Pelangi sebagai Koordinator Advokasi dan Kemitraan PR PB-STPI memaparkan Rencana Advokasi Komunitas. Di sesi selanjutnya, dua perwakilan dari divisi MEL yaitu Thoriq Hendrotomo selaku Koordinator Data Management menyampaikan tentang Update Pencatatan dan Pelaporan TBC Komunitas 2022, kemudian dilanjutkan oleh Thea Hutanamon selaku Koordinator Knowledge Management yang menjelaskan tentang Tata Kelola Pengetahuan Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI. Sedangkan, mewakili  Finance & Operations, Subhan selaku Koordinator Internal Control yang menyampaikan Update Mekanisme Pembiayaan dan Pembayaran Aktivitas TBC Komunitas 2022. Pada hari ketiga acara ini empat SR dengan capaian terbaik turut membagikan pengetahuan kepada peserta  lainnya upaya yang telah mereka lakukan untuk melakukan investigasi kontak, berkontribusi menemukan kasus TBC baru, dan mengupayakan balita mendapatkan Terapi Pencegahan TBC (TPT). Setelahnya, tim Internal Control memfasilitasi SR wilayah provinsi dan SR Tematik mereview Budget dan Plan of Action 2022.

(Barry Adhitya selaku Manajer Program memberikan materi tentang penyaluran Enabler oleh komunitas)

Hari keempat diawali oleh Barry Adhitya selaku Manajer Program  menjelaskan tentang Update Rancangan Pembiayaan Enabler Pasien TBC RO yang akan diberikan oleh Konsorsium Penabulu STPI kepada pasien TBC Resisten Obat mulai Januari 2022 hingga Desember 2023 di 190 kabupaten/kota wilayah kerja Konsorsium. Setelah pemaparan enabler selesai, peserta melanjutkan diskusi kelompok didampingi oleh fasilitator dari Tim Field Program untuk menyusun Annual Work Plan dan presentasi rencana kegiatan triwulan 1 2022. 

(Perwakilan kelompok menyampaikan diskusi implementasi program 2022)

Mengakhiri lokakarya ini, pada 9 Desember 2021 setiap SR mempresentasikan hasil diskusi tentang rencana implementasi program triwulan 1 tahun 2022 di daerah masing-masing. Setiap SR memaparkan tentang estimasi target yang akan mereka capai, menjelaskan cara-cara yang akan mereka lakukan untuk mencapai target tersebut dalam waktu tertentu, serta estimasi serapan anggaran implementasi program.  Direktur Program Nasional, Ibu Heny, didampingi para manajer menutup acara lokakarya dengan mengajak setiap individu dalam pertemuan ini berjanji memberikan upaya terbaik dalam mencapai Eliminasi TBC dan menyampaikan rasa terima kasihnya atas giat serta komitmen   31 SR untuk bekerja secara cepat dan tepat di 2022.

Desa Wele Kabupaten Wajo, Wujud Nyata Desa Peduli TBC

BELAWA WAJO- Upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) memerlukan peran semua pihak tanpa terkecuali. Jika beberapa tahun sebelumnya peran itu hanya terlihat dilakukan oleh pihak-pihak di bidang kesehatan dan para pegiatnya, maka sejak setahun terakhir pelbagai pihak seolah mulai berlomba untuk mengambil peran, salah satunya adalah pemerintah Desa Wele, Kecamatan Belawa, Kab. Wajo, Sulawesi Selatan.

Seolah gaung bersambut dengan keluarnya Peraturan Presiden No. 67 tahun tahun 2021 tentang penaggulangan Tuberkulosis pada bulan Agustus lalu, Pemerintah Desa Wele ini mencanangkan diri sebagai Desa peduli TBC. Komitmen itu bahkan tak sampai sekadar deklarasi, anggaran penanggulangan TBC dari alokasi dana desa telah digunakan untuk kegiatan edukasi kepada masyarakat desa serta pelatihan kader TB Desa.

Dijumpai di tengah-tengah pelaksanaan kegiatan pelatihan kader TB Desa, Kamis (16/12), Sekretaris Desa Wele, Karmila menuturkan bahwa Desa wale sebagai Desa peduli TB sedianya telah berlangsung sejak tahun 2020 lalu, dengan serangkaian agenda melalui kegiatan intervensi Desa TB Care Aisyiyah dan Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) Kab. Wajo.

“Saat Desa kita ditawarkan sebagai Desa Peduli TB, kami tak berpikir lama karena kami tahu penyakit menular ini ada di masyarakat tanpa terkecuali di Desa Wele,” katanya.

Sejak saat itu, lanjut Karmila, sejumlah rangkaian kegiatan Desa dilakukan, dari persiapan dengan melakukan pertemuan bersama para tokoh masyarakat dan tokoh agama, serta dilanjutkan dengan membentuk tim analisa situasi TBC Desa, dan mulai menggerakkan kader. “Dari rangkaian awal itu, ternyata ditemukan ada tujuh kasus TBC di Desa Wale sehingga hal itu semakin meyakinkan kami tentang program ini,” terang Karmila yang sekaligus mengambil peran sebagai sekretaris Komunitas Desa Gerak TBC.

Mengenai kegiatan pelatihan kader yang dilaksanakan, Fasilitator Pelatihan, Iskandar, menuturkan bahwa kegiatan itu dilakukan untuk menambah personel kader TB Desa guna menguatkan upaya perwujudan Desa Wele yang bebas TBC. “Ada 20 kader yang dilatih, yang lama untuk disegarkan maupun yang baru. Total Desa Wele sudah punya 20 kader,” tukas Iskandar yang merupakan Ketua Pengurus Yamali TB kab. Wajo.

Iskandar melanjutkan, bahwa Desa Wele ini patut dijadikan sebagai contoh untuk Desa lain. “Kegiatan ini fuul menggunakan alokasi dana desa, sehingga dengan itu kita juga berharap para kader TBC yang telah dilatih ini mampu berperan aktif dalam tindakan pencegahan seperti sosialisasi atau Penyuluhan maupun penemuan kasus lewat door to door di tiga dusun dalam Desa Wele,” tukasnya.

Pelatihan ini melibatkan empat pihak dalam pelaksanaanya, dari unsur pemerintah Desa Wele, Majelis Kesehatan Aisyiyah Cabang Belawa, SSR TB Komunitas Yamali Kab Wajo, serta Pengelola Program TB Puskesmas Sappa.

Penulis: Kasri Riswadi,
Koord. Program Yamali TB, SR GF-TB Komunitas Sulsel

Siap Siaga TBC dengan Desa Siaga TBC di Desa Sumare

MAMUJU – Pertama kalinya di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat telah diresmikan Desa Siaga Tuberkulosis (TBC) yang dibentuk bersama dengan Kelompok Masyarakat Peduli (KMP) TBC pada Selasa (14/12). Peresmian ini dihadiri oleh Kepala Desa Sumare, Amal Ma’ruf, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju, Dinas Kesehatan Provinsi, Puskesmas Rangas, Sekretaris Kecamatan Simboro dan SR STPI Penabulu di Sulawesi Barat. Desa Siaga TBC ini diresmikan setelah proses pembentukan sejak tiga bulan silam bersama dengan Substansi Tuberkulosis Kementerian Kesehatan RI.

Kegiatan ini dimulai dengan perkenalan dari masing-masing peserta yang dilanjutkan dengan pengantar dari SR STPI Penabulu Sulawesi Barat. Kemudian sambutan disampaikan oleh perwakilan dari Puskesmas Rangas, Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju, Dinas Kesehatan Provinsi serta Sekretaris Kecamatan Simboro. Terakhir, Kepala Desa Sumare memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan ini secara resmi.

Setelah dibuka secara resmi, Koordinator SR STPI-Penabulu Sulawesi Barat memaparkan mengenai konsep desa siaga TBC yang dilanjutkan dengan diskusi singkat salah satunya terkait jaminan kesehatan bagi kader sebelum bertugas sebagai kader peduli TBC. Kemudian setelah diskusi dilanjutkan dengan proses pemilihan ketua dan tim pengurus KMP yang dipandu bersama oleh Kepala Desa, Sekretaris Kecamatan dan BABINSA Sumare. Hingga akhirnya terpilih S. Janis sebagai ketua yang beranggotakan 12 kader dari masing-masing mewakili dusun di desa Sumare. Masing-masing kader mengucapkan janji kader untuk bersedia menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

Struktur Kepengurusan Desa Siaga TBC terbagi menjadi Dewan Penasihat yang beranggotakan Pemerintah Kecamatan Simboro, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju dan SR Sulbar. Kemudian Dewan Pengawas yang terdiri atas Pemerintah Desa dan BPD Sumare, Puskesmas Rangas, Babinsa & Kantibmas Sumare.

Desa Sumare, Kabupaten Mamuju merupakan sebuah desa di Provinsi Sulawesi Barat yang terletak berbatasan langsung dengan pantai di utara pulau Sulawesi. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian nelayan. Desa ini merupakan desa dengan risiko TBC tinggi namun belum ditemukan dimana pada tahun 2021 baru didapatkan 7 kasus dari 730 total penduduk. Jarak antara desa dengan Puskesmas Rangas sendiri terhitung jauh yakni 9 km dan hanya dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi karena tidak ada akses kendaraan umum.

Setelah pembentukan ini, Kepala Desa Sumare berharap agar para kader dan lintas sektor dapat menjalankan tanggungjawabnya untuk penanggulangan TBC dengan sebenar-benarnya sehingga kegiatan ini dapat terus berjalan dengan berkesinambungan. Selanjutnya, Tim Desa Siaga Sumare akan menyiapkan POS TBC Sumare pada bulan ini sebagai pusat data dan informasi desa dari kader setiap dusun, pengajuan APD berupa Masker untuk kader kepada PKM Rangas/Dinkes Kab. Mamuju, dan bergerak untuk penemuan kasus dan penyusunan profil TBC Desa untuk merancang rencana aksi yang sesuai dengan keadaan di Desa Sumare.

Tuntaskan Kasus TB, SR Konsorsium Penabulu Banten Kerjasama dengan Dinkes Provinsi, ARSSI, KOPI TB dan DPPM Banten

Sabdanews.net, Serang Raya – Sub Recepient (SR) Konsorsium Komunitas Penabulu dan Siap Tuberculosis (TB) Partnership Indonesia (STPI) Provinsi Banten menggelar pertemuan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, ASSRI, Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan TB (KOPI TB), Distric Public Private Mix (DPPM) TB Provinsi Banten dalam rangka melakukan pemetaan dan kerjasama pelaksanaan investigasi kontak (IK) TB dan pemantauan pasien TB, Senin, (29/11).

Lukman Hakim, Manager SR konsorsium Penabulu Provinsi Banten mengatakan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menentukan format pendampingan pasien TB yang memerlukan kesepakatan semua pihak yang terlibat dalam pendampingan pasien TB. Selain itu, kegiatan tersebut juga untuk mengidentifikasi indeks kasus TB di rumah sakit swasta yang ada di Provinsi Banten.

“Banyak sekali pasien TB di rumah sakit swasta yang tidak terdata di Sistem Informasi TB (SITB) yang akhirnya tidak ada yang mendampingi dan membuat mereka mangkir berobat,” ucap Lukman Hakim.

Lukman mengatakan kedepannya setelah kegiatan tersebut akan dilakukan sosialisasi panduan pendampingan pasien TB di sektor swasta.

“Nanti akan ada sosialisasi pendampingan pasien TB dengan formatnya dari kita SR Banten dan juga format yang ditentukan nanti dari forum ini,” ujar Lukman.

Sementara itu, Kasi P2P Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Dr. Nenden Diana mengatakan TB sampai saat ini masih menjadi masalah serius yang dihadapi Indonesia bahkan dunia dan saat ini di Indonesia Provinsi Banten menempati posisi ke-5 kasus TB tertinggi.

“Kita tahu penyakit TB ini sangat menular sehingga membuat kita sulit sekali menanggulangi persoalan ini, apabila tanpa bantuan semua pihak,” ucap Dr. Nenden Diana dalam sambutannya.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini kasus TB di Provinsi Banten semakin turun dan Provinsi Banten menjadi daerah yang bebas TB.

“Harapan kita kasus TB di Provinsi Banten bisa turun dan semoga ke depan Provinsi Banten bebas TB,” harapnya.

Inovasi Para Kader Sebagai Bentuk Perjuangan untuk Eliminasi TBC di Pontianak

Tuberkulosis (TBC) bukan lagi penyakit yang asing ditelinga kita. Saat ini, TBC masih menjadi masalah dunia meskipun upaya penanggulangan TBC sudah diterapkan di setiap negara. Dilansir dari web resmi Kementerian Kesehatan, Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi triple burden TBC, yakni TBC, TBC Resistant Obat (RO), dan TB-HIV. Bahkan berdasarkan data Global TB Report 2021, Indonesia berada pada peringkat ketiga sebagai negara dengan jumlah orang dengan TBC terbanyak, setelah India dan Cina.

 

Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang turut berupaya mencapai Indonesia bebas TBC di tahun 2030. Berbagai upaya program dijalankan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota, termasuk oleh organisasi masyarakat sipil. Bersama Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, Yayasan Bina Asri Kalimantan Barat sebagai sub-recipient (SR) program ‘Eliminasi TBC di Indonesia’ berkomitmen untuk mengkoordinasikan kegiatan di 7 wilayah kerja salah satunya adalah Pontianak. Dikutip dari Laporan Tuberkulosis Nasional 2021, kasus TBC di Pontianak adalah 2.545 dari 672.440 penduduk. Hal utama yang dilakukan oleh Yayasan Bina Asri adalah mendukung giat para kader di wilayah Pontianak menjangkau orang-orang terdampak TBC. 

 

Yayasan Bina Asri dengan bantuan para kader di Pontianak berupaya memutus mata rantai penularan TBC dengan menyebarkan informasi tentang TBC kepada masyarakat. Cara yang mereka lakukan adalah dengan melakukan penyuluhan di Pasar Tradisional Flamboyan, Kampus Muhammadiyah dan Pesantren Manba’usshafa. Tiga tempat tersebut mereka pilih bukan tanpa alasan. Salah satu kader yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Sulastri Ningsih. Wanita yang di akrab dipanggil Sulastri ini telah mengawali langkah sebagai kader TBC sejak bulan April yang lalu.

 

“Kenapa kami memilih di pasar? Karena protokol kesehatan di pasar sangat kurang. Selanjutnya, untuk pesantren kami lakukan di sana karena lingkungan yang padat dan isi kamar yang juga padat. Dan untuk kampus, kami pilih karena memang kampus merupakan lembaga pendidikan yang padat, disana juga banyak sekali mahasiswanya,” tuturnya. 

Niat baik Yayasan Bina Asri disambut baik oleh pihak pesantren, pasar Flamboyan dan kampus Muhammadiyah untuk melaksanakan penyuluhan tentang bahaya TBC, stigma TBC di masyarakat, dan langkah yang harus dilakukan ketika mengetahui diri sendiri/orang terdekat terinfeksi TBC. Saat penyuluhan para peserta sangat antusias bertanya terkait dengan bahaya TBC. Sulastri menjelaskan, “Mereka sangat mengapresiasi kedatangan kami. Banyak sekali pertanyaan yang muncul terutama terkait TBC seperti bagaimana bentuk gejalanya dan cara agar terhindar dari TBC,” paparnya.  

 

Pengalaman-pengalaman yang diceritakan oleh anggota masyarakat seperti kader yang pernah merawat atau bertemu dengan pasien TBC diharapkan memberikan pandangan baru terhadap masyarakat bahwa TBC memang benar-benar terjadi di lingkungan sekitarnya. Yayasan Bina Asri berharap penyuluhan di tempat yang padat juga dapat dilakukan oleh kader-kader TBC di SSR lainnya. Kader adalah ujung tombak kesehatan yang paling dekat untuk menjaga kesehatan masyarakat.

 

Sulastri sebagai seorang kader juga mengatakan “Saya ingin masyarakat memandang pasien TBC sebagai keluarga kita sendiri dan tulus membantu mereka dalam pengobatan dengan tidak membedakan atau mendiskriminasi mereka.” Dengan giatnya penyuluhan di masyarakat, diharapkan stigma di masyarakat dapat berubah sehingga tidak mengasingkan pasien TBC justru mampu memberikan semangat bagi mereka. 

 


 

Cerita ini dikembangkan dari SR Kalimantan Barat

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Thea Yantra Hutanamon