Kisah-Kasih Submission: Di Balik Heningnya Hutan Papua Selatan: Perjuangan Melawan TBC Tanpa Fasilitas Memadai


Nama saya Semuel, tetapi orang-orang lebih akrab memanggil saya Awingga. Dari Januari
2020 hingga Juli 2023, saya menjalani perjalanan menakjubkan sebagai perawat di pedalaman
hutan Papua, tepatnya bersama masyarakat adat Suku Koroway di Kabupaten Boven Digoel.

Kehidupan di sana sangat jauh dari kenyamanan kota—tidak ada listrik, tidak ada sinyal, dan satu-
satunya akses transportasi adalah pesawat kecil yang hanya datang beberapa kali dalam sebulan.

Masyarakat koroway hidup bergantung penuh pada alam dan masih nomaden dalam berkebun.
Di tahun-tahun awal, saya hanya bekerja berdua dengan satu rekan, tanpa adanya dokter di
tempat (online). Kami membentuk tim kecil yang bertugas melayani kesehatan masyarakat,
khususnya anak-anak sekolah. Selama lebih dari tiga tahun, kami menangani beberapa penyakit
endemic yang menular seperti malaria, frambusia, HIV/AIDS, dan TBC. Di antara semua itu,
malaria menjadi penyakit endemik dan hampir selalu ada setiap minggunya. Namun, TBC adalah
salah satu kasus yang paling menantang untuk ditangani.
Salah satu pengalaman yang sangat berkesan adalah saat menangani pasien Tn. B.M,
seorang pria berusia 36 tahun. Ia datang ke klinik dengan keluhan batuk berdahak selama lebih
dari empat minggu, disertai demam yang tak kunjung reda, tubuh sangat kurus, dan tampak lemas.
Berat badannya turun drastis dari 67 kg menjadi 46 kg hanya dalam waktu satu bulan. Bahkan,
saat datang ke klinik, ia harus dibopong karena tidak mampu berjalan sendiri.
Kami segera melakukan anamnesis. Tn. B mengaku sering berkeringat di malam hari,
kehilangan nafsu makan, dan merasa lemas sepanjang hari. Ia tinggal di kampung yang cukup
jauh, sekitar dua hingga tiga jam berjalan kaki dari tempat kami. Ia juga menyebut bahwa beberapa
orang di kampungnya pernah mengonsumsi obat “merah” (istilah lokal untuk obat TBC), namun
ia sendiri belum pernah didiagnosis TBC sebelumnya dan tidak memiliki kebiasaan merokok.
Oleh sebab itu, kami menganjurkan agar pasien dan keluarganya tetap tinggal sementara di
kampung tempat kami bertugas. Kami memberikan dua pot untuk pengambilan dahak dengan
metode “Sewaktu–Pagi”. Melihat kondisi pasien yang cukup kritis, kami segera merujuknya ke
RSUD di kabupaten keesokan harinya karena ada pesawat yang menuju kota. Kami menyiapkan
formulir TB-05 dan surat rujukan, serta menghubungi petugas penanggung jawab program TBC
di RSUD agar pasien bisa langsung ditangani setibanya di sana.

Lima hari kemudian, kami mendapat kabar bahwa hasil dahak pasien terdeteksi kuman TBC
dan sensitif terhadap rifampisin. Ia pun langsung memulai pengobatan di RSUD. Setelah menjalani
pengobatan selama satu bulan di kabupaten, pasien menyampaikan keinginannya untuk kembali
ke kampung karena terkendala biaya untuk transportasi dari rumah ke RSUD dan jarak yang jauh.
Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, pihak RSUD menghubungi kami dan menunjuk kami
sebagai Pengawas Minum Obat (PMO). Kami menyetujui penugasan tersebut.
Sebulan kemudian, Tn. B kembali ke kampung dan datang ke klinik kami. Saat itu,
kondisinya sudah jauh membaik. Batuknya mulai jarang, berat badannya naik dari 46 kg menjadi
58 kg, dan ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan. Kami memberinya obat untuk 10 hari dan

mengatur agar ia kembali ke klinik satu hari sebelum obat habis. Obat untuk fase awal pengobatan
dikirimkan secara bertahap dari RSUD kepada kami, dan kamilah yang mengatur
pendistribusiannya serta pemantauan langsung kepada pasien.
Seiring berjalannya waktu, Tn. B menjalani pengobatan dengan disiplin, kooperatif, dan
penuh semangat. Saat ia datang ke klinik, kami menanyakan kondisinya. Tn. B mengatakan ia
merasa lebih sehat dan sangat senang karena sudah sampai di tahap ini dan juga Tn. B tidak pernah
absen dari kontrolnya. Setelah enam bulan pengobatan, hasil pemeriksaan akhir menunjukkan
bahwa pasien sudah negatif dari kuman TBC dan dinyatakan tuntas pengobatannya.

Refleksi Pribadi

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa menjadi perawat muda di daerah terpencil bukan
hanya soal memberikan obat atau memasang infus, tetapi juga tentang keberanian, empati, dan
berserah penuh pada Tuhan. Saya menyadari bahwa keberhasilan pengobatan tidak hanya
bergantung pada ketersediaan fasilitas kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi oleh pendekatan yang
manusiawi, pendampingan yang sabar, serta komunikasi terapeutik yang baik antara tenaga
perawat dan pasien.
Saya juga belajar bahwa di tengah segala keterbatasan, harapan dan kesembuhan tetap bisa
diwujudkan. Pengalaman bersama Tn. B mengajarkan saya bahwa kesembuhan sejati terjadi ketika
ada kerja sama, semangat juang, dan keyakinan bahwa Tuhan turut bekerja dalam setiap prosesnya.
Tuhan yang memberi kekuatan bagi kami dalam merawat, dan Tuhan pula yang memberkati tubuh
pasien untuk menerima setiap obat dan makanan yang mendukung kesembuhannya.
Bagi Tn. B, dan banyak pasien lainnya, sembuh adalah Anugerah. Tapi lebih dari itu, mereka
adalah pejuang yang bertahan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk keluarganya, dan
kampungnya. Dan bagi kami, yang mengabdi dalam sunyi, mereka bukan sekadar pasien—mereka
adalah guru kehidupan.

 

Terima kasih sudah bertahan, para pejuang dan pemerjuang TBC. Kalian mengajarkan kami arti sebenarnya dari harapan.

Penulis: Semuel Hendrik Nofa Bonai

Kisah-Kasih Submission: Tuhan Tidak Adil, Mengapa Harus Saya? Tapi Jika Tidak, Siapa Lagi?

Sebuah kisah nyata dari penyintas yang kini menjadi pemerjuang tuberkulosis

Tahun 2019 semestinya menjadi babak baru yang membahagiakan. Setelah sekian lama belajar dan berjuang, akhirnya saya diterima di salah satu universitas negeri bergengsi. Jurusan kesehatan masyarakat, pula. Saat itu, saya merasa dunia mulai berpihak pada saya. Namun rupanya, hidup punya caranya sendiri untuk menguji ketangguhan. Pandemi Covid-19 baru saja mulai merebak. Indonesia dilanda kekacauan. Dan di tengah situasi itu, saya mengalami hal yang tidak pernah saya bayangkan: saya divonis tuberkulosis paru.

Awalnya saya hanya mengantar Ibu ke dokter penyakit dalam. Tapi dokter menatap saya dan bertanya, “Mbak, boleh saya periksa juga? Soalnya dari tadi saya dengar Mbak batuk-batuk terus”

Saya bingung. Saya merasa baik-baik saja, hanya batuk ringan, bukan yang perlu diperiksa. Tapi saya setuju, setengah ogah, setengah heran. Pemeriksaan sederhana dengan stetoskop itu berujung pada kalimat yang mengubah hidup saya, “Saya curiga Mbak kena TB. Harus dicek lab dan rontgen.”

Hasilnya? Positif TB paru kategori Sensitif Obat (TB SO). Saya dijadwalkan minum obat setiap hari selama enam bulan. Saya syok. Masih muda, baru mulai kuliah, dan malah membawa beban ini. Meski disarankan berobat di puskesmas, keluarga memilih jalur sunyi dengan berobat ke klinik pribadi. Mahal, tapi kami takut pada stigma. Tak ingin tetangga tahu. Tak ingin dijauhi.

Bulan pertama pengobatan jadi neraka kecil bagi saya. Tubuh saya menolak obat-obatan itu. Saya  mual, muntah, pusing, lemas tak berdaya setiap setelah mengkonsumsi obat yang diberikan dokter. Saya nyaris hanya terbaring. Hidup terasa beku. Bahkan, semangat pun menguap. Di titik itu, saya merasa dunia ini kejam. Tuhan tidak adil, kan? Kenapa saya?

Melihat kondisi saya yang tidak membaik, dalam keputusasaan, keluarga mengajak saya mencoba pengobatan alternatif. Kami mendatangi sebuah tempat yang dikenal masyarakat sekitar sebagai pusat penyembuhan tradisional. Praktiknya menggabungkan doa-doa secara buta, konseling spiritual, serta ramuan herbal yang diyakini bisa membantu pemulihan.

Di sana, kami diperkenalkan pada keyakinan bahwa penyakit bukan hanya soal tubuh, tapi juga batin. Bahwa penyakit bisa menjadi bentuk “ujian” atau “gangguan” yang perlu disikapi dengan hanya berserah diri tanpa mengaggap inovasi medis. Kami dihimbau untuk menjalani proses penyembuhan dengan sungguh-sungguh termasuk berhenti sementara dari pengobatan medis. Fokus pada ramuan herbal dan spiritualitas selama 6 bulan.

Saya tahu bagaimana ini terdengar, apalagi dari seorang mahasiswa kesehatan masyarakat. Namun, ketika tubuhmu remuk dan harapan nyaris hilang, kamu akan mencengkeram apa saja yang tampak seperti pegangan.

Ironisnya, saya merasa membaik. Saya kuat berdiri. Nafsu makan kembali. Saya bahkan sempat yakin, “Mungkin ini berhasil.” Meskipun rasa penasaran mendorong saya melakukan rontgen ulang. Saya butuh bukti. Butuh kepastian.

Hasilnya mengejutkan. Bakteri TB di paru-paru saya masih ada. Pengobatan alternatif tidak menyelesaikan apa pun. Saya terdiam cukup lama di depan hasil rontgen itu. Saya menyadari hal yang menyakitkan bahwa saya menyia-nyiakan 6 bulan waktu yang seharusnya bisa membawa saya ke sembuh total jika mengkonsumsi obat yang diberikan dokter.

Saya menangis. marah. Tak hanya pada keadaan, tapi juga pada diri sendiri. Keputusan yang saya buat dalam keputusasaan telah membawa konsekuensi yang lebih besar dari yang saya kira. Karena saya menghentikan pengobatan di tengah jalan, saya menjadi pasien TB Resisten Obat (TB RO).

Konsekuensinya? Obatnya lebih banyak. Efek sampingnya lebih berat. Dan saya harus menjalaninya selama 18 bulan.

Saya sempat takut, saya berpikit “Apa dokter akan menyalahkan saya?” dan “Apa saya pantas mendapatkan kesempatan kedua?”

Tapi saya akhirnya memutuskan bahwa saya harus bertahan. Tidak ada lagi kompromi. Tidak ada lagi jalan pintas. Saya jalani 18 bulan pengobatan dengan segenap tekad. Kali ini saya tidak lagi sembunyi-sembunyi. Saya sudah lelah menyembunyikan diri. Saya ingin sembuh dan hidup seperti manusia utuh.

Dan untungnya saya berhasil bertahan melalui perjuangan melawan TB.

Kini, saya telah lulus kuliah. Saya juga terlibat sebagai pendamping pasien TB resisten di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat skala Nasional. Saya memilih jalan ini bukan karena kebetulan. Tapi karena saya tahu, dukungan adalah sesuatu yang sangat berarti bagi mereka yang sedang menjalani pengobatan. Saya tidak ingin ada yang merasa sendirian seperti saya dulu.

Pengalaman ini juga menjadi bahan refleksi dalam studi magister saya. Saya meneliti, menulis, dan merancang intervensi pemberdayaan masyarakat untuk penanggulangan TB. Karena bagi saya, tuberkulosis bukan sekadar masa lalu yang kelam, tapi juga panggilan masa depan untuk hadir, membantu, dan menyuarakan.

Dulu saya sempat bertanya, “Tuhan, mengapa saya?”

Kini saya memahami, “Jika bukan saya, siapa lagi?”

Penulis: Bella Wiranti

Penyunting: Dianita Fatimah

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Hadir dalam Peluncuran Nasional Gerakan Bersama Penguatan Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis

Jakarta, 9 Mei 2025 – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) secara resmi meluncurkan Gerakan Bersama Penguatan Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TBC) sebagai bagian dari upaya percepatan eliminasi TBC di Indonesia. Acara ini diselenggarakan di Kantor Kelurahan Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, dan diikuti secara virtual oleh pemerintah daerah se-Indonesia melalui kanal YouTube Kemenkes.

Peluncuran gerakan nasional ini dipimpin langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dalam sambutannya, Menkes menegaskan bahwa penanganan TBC tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat. “Melalui kegiatan ini mari kuatkan sinergi dan komitmen desa, kelurahan, serta multi sektor demi Indonesia bebas TBC,” tegasnya.

Betty Nababan dan Erman Varella mewakili PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI sebagai bagian dari 120 tamu undangan yang hadir dalam kegiatan tersebut, bersama perwakilan dari Dinas Kesehatan, komunitas, organisasi masyarakat, dan kader kesehatan.

Komitmen Masyarakat dalam Penanggulangan TBC

Gerakan ini bertujuan memperkuat peran desa dan kelurahan sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan penanganan TBC berbasis komunitas. Desa dan kelurahan siaga TBC diharapkan menjadi wilayah yang mandiri dan siap melakukan deteksi dini, pendampingan, serta pengobatan bagi pasien TBC secara tuntas.

Menkes menyampaikan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang telah membunuh lebih dari satu miliar orang dalam 100 tahun terakhir. Di Indonesia sendiri, diperkirakan satu juta orang terinfeksi TBC setiap tahunnya, dan sekitar 125 ribu meninggal dunia. Sayangnya, banyak dari mereka tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi.

“Banyak orang terkena TBC tapi tidak tahu. Tolong bantu temukan mereka, alat dan pendeteksi sudah ada di puskesmas. Jika ditemukan, segera minum obat. Ada obatnya, dan bisa sembuh,” tambah Budi.

Apresiasi untuk Kader Kesehatan

Sebagai bentuk apresiasi terhadap peran kader kesehatan, Menteri Budi mengumumkan akan mengadakan lomba kader TBC tingkat nasional. Penilaian akan didasarkan pada jumlah pasien yang ditemukan, didampingi, dan berhasil sembuh. “Mereka yang terbanyak akan saya undang secara khusus ke Kementerian sebagai penghargaan,” ujarnya.

Kampung Siaga TBC: Inisiatif DKI Jakarta

Sebagai bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, telah dicanangkan program Kampung Siaga TBC yang bertujuan menciptakan lingkungan peduli dan tanggap terhadap TBC. Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan lintas sektor seperti TP PKK, Posyandu, tokoh masyarakat, hingga organisasi lokal.

Pada November 2024 lalu, proses penilaian Kampung Siaga TBC dilakukan oleh PPTI dan SR DKI Jakarta. Dari 274 kampung, enam kampung terbaik mempresentasikan praktik baik mereka dalam mendampingi pasien, menjaga lingkungan, dan memberdayakan warga.

Salah satu kampung yang dikunjungi langsung oleh tim juri adalah RW 01 Kelurahan Pela Mampang, Jakarta Selatan. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk menilai kesesuaian antara presentasi dan implementasi di lapangan.

Harapan Menuju Indonesia Bebas TBC 2030

Melalui peluncuran gerakan nasional ini, pemerintah berharap dapat memperkuat komitmen kolektif dari seluruh lapisan masyarakat dalam mendukung eliminasi TBC pada tahun 2030. Kelurahan Rambutan dipilih sebagai lokasi peluncuran karena telah terbukti sukses dalam implementasi program Kampung Siaga TBC.

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mengapresiasi langkah progresif yang diambil oleh Kemenkes dan semua pihak yang terlibat. Gerakan ini menjadi bukti bahwa dengan gotong royong, Indonesia bisa mewujudkan masyarakat yang sehat dan bebas dari TBC.

Kisah-Kasih Submission: Titik Terendah

Saya Rijal, saya seorang penyintas TBC. Sejak tahun 2010 saya mengabdi sebagai ASN guru di sebuah SMP SATAP di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di suatu pulau kecil yang berjarak dua jam dari kota dengan perjalanan naik perahu.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, ikan melimpah di perairan sana, warga menyapa dengan tutur bijaksana, dan guru masih dipandang bersahaja.Saya dan teman-teman merasa bangga meskipun hidup di pulau tak serba ada. Air bersih tiada mengalir dari keran-keran, air kiriman dari desa tetangga dan sumur jadi andalan, dan listrik baru tersedia ketika genset dinyalakan. 

Saya kira, tak ada yang perlu terlalu dipikirkan. Menjerang air sumur cukup mensterilkan, ikan dan sayur akan  aman saya makan. Namun, memang semua hal tak bisa kita duga, penyakit tetap bisa datang seberapapun diri ini kita jaga.

Dipercaya sebagai bendahara rutin di sela tugas mengajar, setiap dua minggu sekali saya berlayar, mengajukan dan melaporkan dana ke kota agar keuangan sekolah lancar. Namun, ketika semangat-semangatnya mengajar, saya merasakan batuk disertai rasa sakit di dada kiri mulai menjalar. 

“Kamu harus meminum obat ini selama 6 bulan” ucap dokter penyakit dalam yang saya temui di fasilitas kesehatan terdekat dari pedesaan. Tanpa penjelasan, dokter tak mengungkapkan: diagnosa TBC tak diinformasikan, saya menerima obat itu sebagai obat biasa atau vitamin yang menyembuhkan. 

Sembuh yang tak kunjung datang, batuk yang terus meradang, membuat saya memutuskan untuk pulang. Namun, sakit yang tak pasti, anjuran minum obat yang tak bisa saya patuhi, membuat saya ingin bertugas kembali. Saya memaksakan diri, hari-hari mengajar tetap saya jalani meski rasa sakit tak bisa saya hindari. Berkali-kali saya menguatkan diri, berkali-kali pula saya tumbang, tersiksa oleh nyeri. Ke sana ke mari saya pergi, desa dan kota saya arungi, rumah sakit demi rumah sakit saya kunjungi sampai  akhirnya, saya mendapatkan TBC sebagai diagnosis yang pasti.

Mulai saat itu, hidup saya berubah. Saya merasa berada di titik terendah. Obat-obatan dengan efek samping membuat malam-malam saya dipenuhi gelisah. Hubungan baik dengan kolega, teman, dan keluarga pun mulai goyah. Komunikasi dengan istri hanya berjalan searah, stigma buruk dari orang tuanya memperparah. Ia takut hidup kami menjadi tak berarah, seolah saya ini sangat payah, dan akhirnya kami harus berpisah.

Saya mencoba bertahan, mencari sekolah yang dekat dengan fasilitas kesehatan. Namun, tak ada sambutan, meski tenaga pengajar dibutuhkan—yang saya terima justru penolakan. Karena ketidaktahuan, penyintas TBC diperlakukan seolah monster yang menakutkan. Pernah sekali saya mendengar keluhan dari tenaga kesehatan yang meragukan kesembuhan, membuat proses berobat pun terasa sebagai tekanan.

Hari demi hari saya lewati dengan tabah, hingga akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang memperlakukan saya dengan ramah. Seorang penyintas TBC, seorang pejabat Dinas Pendidikan, dialah yang memberi saya kesempatan untuk bekerja dan memulai perjalanan saya seorang diri, tanpa teman dan keluarga.

Memulai pekerjaan seperti memulai hidup yang baru. Saya melakukan sisa pengobatan sendirian tanpa ada yang membantu, belajar mengerjakan semua hal sendirian tanpa menggerutu, dan mulai menerima keadaan untuk menjalani hari-hari tanpa mendengarkan opini orang-orang yang berlalu.

Setelah enam bulan saya menjalani pengobatan, akhirnya, saya sembuh. 

Meskipun hal-hal yang telah hilang tidak dapat kembali, saya bersyukur bisa melalui semuanya sendiri. Tak ada yang saya sesali, peduli merupakan hikmah yang saya bawa untuk dipahami. Begitulah kepedulian bisa datang dan pergi, padahal kepedulian lah yang saya butuhkan untuk melawan sakit yang saya alami. 

Orang dengan TBC bukan untuk dijauhi, bukan pula untuk didiskriminasi. Kami hanya ingin ditemani—dihargai sebagai sesama manusia yang tengah berjuang. Tubuh kami telah cukup lelah melawan rasa sakit, jangan biarkan hati kami ikut remuk karena stigma. Kami telah bertanya-tanya tentang masa depan kami, jangan biarkan kami terus bertanya—apakah kami layak diterima di dunia yang sama.

Kami tidak meminta dikasihani, hanya dimanusiakan. Karena pulih bukan hanya soal obat, tapi juga tentang harapan, dukungan, dan penerimaan.

 

 

Tulisan ini merupakan kisah terpilih dari Kisah-Kasih Submission dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia 2025.

Penulis: Samsurijal

Penyunting: Dianita Fatimah

Staff TB RO untuk Program Eliminasi TB – Konsorsium Komunitas Penabulu STPI

Latar Belakang

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI adalah Principal Recipient (PR) Komunitas TBC, berdampingan dengan PR Kementerian Kesehatan dan Program Nasional Penanggulangan TBC yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML). Dalam kerja sama dengan para mitra, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI bertujuan mengakselerasi eliminasi TBC 2030 di 30 provinsi dan 190 kota/kabupaten yang meliputi: 1) Penemuan dan pendampingan pasien TBC sensitif obat, 2) Penemuan dan pendampingan pasien TBC resisten obat, 3) Penguatan sistem komunitas, dan 4) Upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi pasien dalam mengakses pelayanan TBC berkualitas sampai sembuh.  Untuk periode program tahun 2024-2026, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan bekerja di 190 Kabupaten Kota di tahun 2024 dan di 229 Kabupaten/Kota di tahun 2025-2026.

Dalam memenuhi mandatnya sebagai wadah Komunitas di Indonesia memerangi Tuberkulosis, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mencari seorang Staf Program TB RO. Staf Program TB RO melalui keahliannya bertanggungjawab terhadap pengelolaan data pasien TBC RO, memperbaharui secara rutin data pasien berdasarkan hasil pendampingan, memberikan respon terhadap pasien mangkir sebagai Early Warning LTFU,   memeriksa kesinambungan antara data pendampingan dan pengajuan enabler setiap bulan.

Kebutuhan Posisi

  • Job Position: TB RO Staff
  • Direct Report: Program Manager
  • Duration: 1 Years
  • Expected Start Date: 1 Juni 2025
  • Location: Jakarta
  • Working Hour: 40 hours/week
  • Status: Full Time Staff (LoE 100%)

Kualifikasi

  1. Pendidikan
    • Pendidikan Strata-1, lebih diutamakan Jurusan Kesehatan Masyarakat / Pekerja Sosial / Ilmu Sosial lainnya.
  2. Pengalaman Bekerja:
    • Memiliki pengalaman dalam program TBC RO Nasional minimal 1 tahun.
    • Memahami peluang dan hambatan pendampingan TBC RO.
    • Memahami mekanisme pembayaran enabler untuk pasien TBC RO.
    • Berpengalaman di program TB komunitas dana hibah The Global Fund diutamakan.

Tanggung Jawab Utama

Perencanaan Program

  • Membantu Program Manager (PM) dalam mengkoordinasikan SR untuk menyusun rencana kerja (Workplan) dan strategi pelaksanaan program TB RO di masing-masing wilayah, berdasarkan prioritas kegiatan, kebijakan teknis, dan operasional yang telah ditentukan.
  • Berkontribusi dalam penyusunan Panduan Implementasi Program (PIP) serta Workplan TB RO di tingkat PR dan SR, sesuai dengan Annual Work Plan, Performance Framework, dan anggaran yang telah disetujui.

Koordinasi Implementasi Program

  • Memastikan pelaksanaan program TB RO di tingkat SR telah dikoordinasikan secara efektif untuk menjaga efisiensi dan efektivitas program sesuai ruang lingkup tugasnya.
  • Mengawasi dan memastikan implementasi program TB RO di tingkat SR berjalan sesuai pedoman operasional yang telah ditetapkan, dengan masukan teknis dari PM dan tim Monitoring, Evaluation, Learning, and Management (MELM).

Monitoring dan Evaluasi

  • Mengkoordinasikan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi program TB RO di tingkat SR, termasuk melakukan kunjungan lapangan ke wilayah kerja untuk monitoring, supervisi, dan memberikan asistensi teknis.
  • Memberikan penilaian terhadap kinerja program TB RO di SR serta menyampaikan rekomendasi terkait hambatan dan solusi kepada PM untuk memastikan pelaksanaan program berjalan tepat waktu dan sesuai target.

Laporan dan Analisis

  • Bertanggung jawab atas kelengkapan, akurasi, dan ketepatan waktu laporan kegiatan TB RO, termasuk laporan bulanan, triwulanan, dan tahunan dari SR.
  • Mengkonsolidasi laporan pelaksanaan kegiatan TB RO di tingkat SR untuk wilayah kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
  • Bersama tim Internal Control, menganalisis penggunaan anggaran dan laporan kegiatan TB RO di tingkat SR, serta melaporkan hasil analisis kepada PM.

  Koordinasi Lintas Tim

  • Berkoordinasi dengan tim Learning & Development untuk memfasilitasi SR dalam penyusunan rencana kegiatan advokasi TB RO di tingkat daerah.
  • Memastikan pelaksanaan kegiatan TB RO terkait pengobatan dan perawatan TB di tingkat SR sesuai dengan kebijakan program.
  • Melakukan inventarisasi dan review klaim enabler setiap bulan, berkoordinasi dengan tim Data Management.
  • Berkomunikasi intensif dengan Manajer Kasus dan Patient Supporter untuk mendukung kelancaran pelaksanaan program di lapangan.

Tanggung Jawab Lain

  • Bertanggung jawab atas pelaksanaan program TB RO oleh SR dan SSR, baik melalui intervensi oleh PR Komunitas maupun pemerintah, di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
  • Memastikan SR mematuhi dan mengimplementasikan peraturan atau kebijakan terkait pelaksanaan program TB RO.

Jika Anda memenuhi kriteria kualifikasi yang kami butuhkan dan berminat untuk melamar, silakan isi formulir berikut ini:

https://forms.gle/VGNkSkh4KM4iDgU86

Batas Waktu : 14 Mei 2025 pukul 17.00 WIB

Tahapan

  • Peneriman Lamaran : 7-14 Mei 2025
  • Penyaringan Lamaran : 15-16 Mei 2025
  • Interview Kandidat : 19-20 Mei 2025
  • Reference Check : 21 Mei 2025
  • Pemberitahuan Kepada Staff Terpilih & Tidak Terpilih : 22 Mei 2025
  • Draft Kontrak : 23 Mei 2025
  • Penandatanganan Kontrak : 26 Juni 2025

Jadwal dapat diubah oleh Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI tanpa pemberitahuan kepada pelamar. Hanya kandidat yang memenuhi syarat yang akan dihubungi.

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI berkomitmen untuk mencegah segala jenis perilaku yang tidak diinginkan di tempat kerja termasuk pelecehan seksual, eksploitasi dan penyalahgunaan, kurangnya integritas dan pelanggaran keuangan; dan berkomitmen untuk mempromosikan kesejahteraan anak-anak, remaja, orang dewasa, dan penerima manfaat yang bekerja sama dengan Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mengharapkan semua staf dan sukarelawan untuk berbagi komitmen ini melalui kode etik. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI menempatkan prioritas tinggi untuk memastikan bahwa hanya mereka yang memiliki dan menunjukkan nilai-nilai diatas dapat bekerja bersama Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.

Semua tawaran pekerjaan yang ditawarkan oleh Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan didasarkan pada pemeriksaan/ penyaringan yang sesuai untuk catatan kriminal dan pemeriksaan keuangan terkait dengan terorisme. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan meminta informasi kepada pelamar kerja melalui tempat kerja sebelumnya tentang temuan-temuan kekerasan seksual dan pelecehan seksual selama bekerja atau insiden-insiden yang sedang diselidiki ketika pelamar meninggalkan pekerjaannya. Dengan mengirimkan lamaran, pelamar telah memahami prosedur rekruitmen dari Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI berkomitmen untuk memastikan keberagaman dan kesetaraan gender dalam organisasi dan mendorong pelamar dari berbagai latar belakang untuk melamar.

Syarat dan Ketentuan Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI:

  1. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan melakukan pemeriksaan latar belakang terhadap kandidat terpilih.
  2. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI hanya akan menghubungi kandidat yang terpilih.
  3. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI tidak bertanggung jawab atas informasi palsu yang diberikan oleh pelamar.
  4. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI tidak memungut biaya apapun terkait proses rekrutmen.
  5. Harap diperhatikan bahwa pengajuan lowongan akan diperiksa oleh administrasi kami dan penerimaan pelamar akan ditentukan oleh syarat dan ketentuan Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.
  6. Seluruh informasi yang telah dihimpun harus dipenuhi tepat waktu sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditentukan oleh Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.
  7. Kerahasiaan Data
    • Pengumpulan Informasi: Informasi yang diberikan dalam lamaran kerja ini dikumpulkan hanya untuk tujuan mengevaluasi kesesuaian Anda untuk bekerja. Ini termasuk informasi pribadi dan profesional, seperti nama, detail kontak, riwayat pekerjaan, dan latar belakang pendidikan Anda. Informasi ini akan digunakan secara ketat untuk proses rekrutmen.
    • Penggunaan Data: Informasi pribadi Anda akan digunakan secara eksklusif untuk menilai kualifikasi dan kecocokan potensial Anda dalam organisasi kami. Informasi ini dapat dibagikan dengan personel terkait yang terlibat dalam proses perekrutan, termasuk para anggota panitia seleksi dan manajer perekrutan.
    • Keamanan Data: Kami berkomitmen untuk menjaga keamanan informasi pribadi Anda dan telah menerapkan langkah-langkah yang tepat untuk melindungi dari akses, pengungkapan, perubahan, atau penghancuran yang tidak sah.
    • Penyimpanan Data: Data lamaran Anda akan disimpan untuk jangka waktu yang wajar, sebagaimana yang diperlukan untuk proses rekrutmen. Jika lamaran Anda tidak berhasil, data Anda akan dihapus dengan aman dalam jangka waktu yang wajar.
    • Persetujuan Data: Dengan mengirimkan surat lamaran dan CV, Anda menyetujui pengumpulan dan penggunaan informasi pribadi Anda seperti yang dijelaskan dalam disclaimer ini.
    • Catatan: Kami tidak menjual, memperdagangkan, atau memindahkan informasi pribadi Anda kepada pihak ketiga. Namun, perlu diketahui bahwa kami mungkin diwajibkan secara hukum untuk mengungkapkan informasi kepada otoritas pemerintah atau pihak ketiga lainnya dalam keadaan tertentu. Jika Anda memiliki kekhawatiran tentang penggunaan atau keamanan data Anda, atau jika Anda ingin memperbarui atau menghapus informasi Anda dari catatan kami, silakan hubungi HR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.