Perjuangan Ibu Siti Aminah dalam Mencari Suspek untuk Indonesia Bebas Tuberkulosis 2030

Siti Aminah, atau yang akrab dipanggil dengan nama Ibu Siti merupakan salah satu dari sekian kader Tuberkulosis (TBC) yang bekerja di Puskesmas Rangkah, Tambaksari, Surabaya. Pengabdiannya sebagai kader TBC dimulai pada tahun 2014 yang mana hal tersebut muncul dari keresahannya karena tidak ada yang  berminat untuk menjadi kader saat dilaksanakan pelatihan kader TBC di Puskesmas Rangkah. “Awalnya, saya berpikir jika nanti ada yg sakit TBC bagaimana untuk penanganannya. Akhirnya saya yang angkat tangan untuk ikut pelatihan TBC dulu dan pelatihan selama 2 minggu sampe kita faham mengenai TBC,” tutur Ibu Siti. 

Dalam kesehariannya, Ibu Siti mencari suspek dari pagi pukul 08.00 WIB hingga sore pukul 17.00 WIB, dari satu rumah ke rumah lainnya di wilayah kerjanya yang cukup luas.  Selain itu, Ibu Siti juga aktif mengadakan kegiatan penyuluhan di masyarakat seperti bergabung pada saat kegiatan PKK, pertemuan masyarakat, arisan dan lainnya. “Saat memberikan edukasi, saya selalu memberikan penekanan bahwa TBC itu penyakit yang menular. Saya juga memberikan pengertian bahwa TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan,” utas Ibu Siti.

Ibu Siti berkomitmen untuk membuat masyarakat mengerti pengertian dari penyakit TBC dengan gejalanya seperti batuk yang tidak kunjung reda, nafsu makan yang berkurang, serta keringat dingin di malam hari. “Saya khawatir dengan lansia yang rentan dengan penyakit TBC, terlebih orang dengan diabet juga rawan dengan TBC, sehingga saya gunakan sebaik mungkin program penyuluhan di PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI,” ucap Ibu Siti. Dalam alur pengambilan suspek, Ibu Siti mengambil dahak pasien dari rumah ke rumah yang kemudian dahaknya dibawa ke laboratorium Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan. Jika ada suspek yang positif, Ibu Siti langsung datang  ke rumah pasien untuk menyarankan pengobatan gratis sampai 6 bulan dan memberikan edukasi agar tidak mangkir  atau putus pengobatan TBC di tengah jalan.

Namun, pencarian suspek tidak semudah yang dilihat. Terkadang, penolakan demi penolakan dalam penjangkauan suspek kerap dialami oleh Ibu Siti di lingkungan masyarakat. Beliau juga mengatakan bahwa terkadang pasien yang ia temui kurang suportif. “Saya memiliki kesedihan tersendiri sih, seperti kadang kerap menemui pasien yang bandel,” ujar Ibu Siti. Semangat beliau untuk membantu masyarakat bebas TBC tidak pudar dan terus gencar untuk menjangkau masyarakat dan pasien TBC yang positif. 

Di sisi lain, kesedihan yang ia rasakan juga dapat beliau tutupi dengan banyaknya teman dan orang baru yang ia temui saat menjadi kader TBC. “Saya cukup senang bertemu dengan orang baru karena banyak sekali pelajaran yang saya peroleh dari mereka, banyak pengalaman dan ilmu baru,” tambah Ibu Siti. 

Daya juang Ibu Siti pun membuahkan hasil. Capaian Ibu sebagai kader Siti terus menerus konsisten dengan capaian yang cukup memuaskan. Di tengah lelahnya ia menjaga usahanya dalam membuka warung, beliau masih sempat untuk membantu menemukan pasien TBC. Ia juga berpesan kepada para kader lainnya untuk terus semangat demi menyehatkan masyarakat dengan tujuan sosial. Ia juga yakin bahwa jika kader akan aman dan  tidak akan tertular jika kita dapat selalu mematuhi peraturan dan protokol yang ditetapkan. 


Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga

Matras TB Dorong Eliminasi TB di Bangka Belitung

 

Bangka merupakan salah satu Kabupaten di Bangka Belitung yang memiliki tingkat terduga Tuberkulosis (TB) tertinggi dibanding Kabupaten lainnya, dengan tingkat capaian penemuan yang masih rendah. Selain itu, dari segi jarak dan luas wilayah, Kabupaten Bangka memiliki wilayah yang besar dibandingkan dengan wilayah Kabupaten lainnya, sehingga Kabupaten Bangka menjadi wilayah yang memerlukan perhatian khusus baik dari masyarakat maupun dari pemerintah daerah setempat terkait dengan penanganan TB.

Dalam hal ini peran dan koordinasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka sangat penting untuk menghimbau apa saja upaya-upaya dalam penanggulangan dan pemecahan dalam masalah ini. Selain Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Puskesmas yang ada di Kabupaten Bangka juga memiliki peran penting  seperti yang dilakukan oleh Puskesmas Sungailiat .

Hal pertama yang dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan dibuatnya suatu wadah untuk mencari dan menemukan pasien TB yang bernama “ Matras TB”.  Kata Matras diambil dari nama salah satu pantai / objek wisata di Kabupaten Bangka yang terkenal indahnya. Sehingga, ketika mendengar kata matras, diharapkan masyarakat awam dapat langsung merepresentatifkan Kabupaten Bangka sebagai daerah yang indah dan nyaman. 

Matras TB sudah diimplementasikan selama 6 tahun dengan pencetus pertama yaitu dari kepala Puskesmas Sungailiat yang pelaksanaan dan penggerakannya dilanjutkan oleh pengelola program TB yaitu Bapak Supriyadi atau yang akrab dipanggil dengan Pak Yusuf.

Bapak Yusuf ini adalah pengelola program TB yang sudah lama bekerja di Puskesmas Sungailiat. Ia mengatakan bahwa dengan adanya Matras TB membuat pekerjaan Pak Yusuf dalam mencari penemuan kasus di lapangan lebih terorganisir dan lebih mudah. 

Selama di Matras TB,  ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan untuk mendukung eliminasi TB. “Kami menggerakkan masyarakat yang ada di wilayah Sungailiat untuk menjadi kader TB, yang mana kader ini mampu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menemukan kasus,” ucap Pak Yusuf.  Selain itu, terdapat juga beberapa kader yang juga merupakan ketua RT atau ketua lingkungan setempat, sehingga  mempermudah kegiatan penemuan kasus di tingkat wilayah dasar.  

Pak Yusuf menyampaikan bahwa melakukan kegiatan edukasi TB bukanlah hal yang mudah dilakukan. “Awalnya masih sulit menggerakan masyarakat yang masih minim informasi mengenai apa itu TB, tapi lama lama ada saja orang yang berminat untuk maju bersama dalam mengentaskan TB di masyarakat Sungailiat,” tutur beliau. 

Setelah mendapatkan masa yang mempunyai tujuan bersama, Pak Yusuf selalu aktif memberikan motivasi kepada kader untuk menjadikan semangat sebagai sebuah kunci. “Ada 30an orang kader yang tercatat di dalam Matras TB ,sehingga terbayang wilayah yang sangat luas dan orang yang banyak mampu di koordinir oleh 1 orang pengelola program,” tandas beliau.  

Sejak adanya kader-kader dari Matras TB, jumlah penemuan pasien TB di Puskesmas Sungailiat mulai meningkat dan terdapat strategi serta acuan yang jelas kedepannya, sehingga kader akan lebih mudah melakukan kegiatan dalam penemuan kasus TB di wilayah  Sungailiat. Selain itu, daya juang para kader juga tercipta dengan adanya koordinasi tim yang baik antara puskesmas dengan para kader. 

“Semua ini tercipta karena koordinasi yang apik baik antara pengelola, perawat, dokter serta para aktivis TBC di lapangan. Adanya Matras TB membuat capaian penjangkauan kasus TB di Puskesmas Sungailiat menjadi yang tertinggi di Provinsi Bangka Belitung,” tambah Pak Yusuf.  

Dari kisah yang sudah dibagikan, Pak Yusuf berharap bahwa setiap daerah di Bangka Belitung dapat menciptakan kinerja yang solid dalam menghentikan laju pertumbuhan kasus TBC di Bangka Belitung. Beliau yakin di setiap hal sulit yang dijalani kedepannya akan menjadi mudah jika kita semua bersedia memahami dan ikhlas mengerjakannya. 

 


 

Cerita ini dikembangkan dari SR Bangka Belitung

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Permata Silitonga