Permintaan Penawaran Lelang Pengadaan Jasa Kantor Akuntan Publik (KAP) Untuk Audit Laporan Keuangan Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Tahun 2021

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI adalah organisasi non laba penerima hibah dari Global Fund untuk program Eliminasi TB di Indonesia. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI berkedudukan di Jakarta Selatan dan memiliki wilayah kerja di 30 propinsi dan 190 kota/kabupaten di Indonesia.

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mempunyai target dalam pelaksanaan program Eliminasi TB yaitu untuk menurunkan pasien TB di Indonesia.

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan melaksanakan Pelelangan Pekerjaan Jasa Audit Laporan Keuangan program Eliminasi TB di Indonesia oleh auditor independent, dengan ketentuan sebagai berikut:

Persyaratan Calon Peserta Pelelangan

  1. Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mempunyai izin resmi yang berlaku di Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku;
  2. KAP dan tenaga auditornya tidak sedang tersangkut sanksi profesi dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, BPK atau lembaga negara lainnya;
  3. Tenaga auditor KAP tidak sedang tersangkut masalah hukum pidana di wilayah Republik Indonesia;
  4. Tenaga auditor KAP tidak memiliki konflik kepentingan dengan auditee;
  5. Tim audit KAP memiliki kompetensi dibidangnya sesuai persyaratan teknis dan professional untuk melaksanakan audit;
  6. Tim audit KAP mempunyai staf/personil dengan jumlah yang memadai untuk penugasan ini sehingga audit dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang telah disepakati Bersama;
  7. Tim audit KAP lebih disukai memiliki pengalaman audit keuangan yang cukup pada organisasi nirlaba atau not-for-profit.
  8. Pendaftaran dan pengambilan dokumen lelang (ToR, jadwal, dll) dikirim secara elektronik melalui email berikut:
    Email: procurement@penabulu-stpi.id
    Dengan subject :  Pendaftaran Lelang Pengadaan Jasa Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk Laporan Keuangan Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Tahun 2021
    Pendaftaran diluar batas waktu yang telah ditentukan, tidak akan dilayani;

Penjelasan pekerjaan (aanwijzing) akan dilaksanakan pada tanggal 03 Desember 2021 pada pukul 14.00 WIB melalui zoom meeting.

Silahkan unduh Dokumen Kualifikasi Lelang, Jadwal Lelang dan Term of Reference dibawah ini :

Berjuang Bersama Memberantas Tuberkulosis di Subang

Kabupaten Subang adalah salah satu daerah di Jawa Barat dengan jumlah penduduk yang padat sebanyak 1.579.018 jiwa. Kabupaten yang terletak di daerah pesisir pantai utara ini terbagi dari 30 kecamatan, 245 Desa, dan 8 kelurahan dengan  luas wilayah sebesar 2051,76 km.

 

Di Kabupaten Subang, penyakit menular Tuberkulosis (TBC) masih banyak ditemukan, hal ini pun diperkuat oleh data dari Laporan Tuberkulosis Nasional 2021 dengan 3.609 orang jatuh sakit sepanjang tahun 2021. Selain itu, Dinas Kesehatan Subang juga melaporkan bahwa TBC berada di urutan keempat sebagai satu-satunya penyakit menular yang menyebabkan kematian terbanyak setelah penyakit stroke, jantung koroner (CAD) dan gagal ginjal CKD. Kondisi tersebut menyiratkan upaya menurunkan jumlah kasus TBC yang membutuhkan peran berbagai pihak. 

 

Kondisi ini direspon oleh Sub-Sub-Recipient (SSR) Kabupaten Subang yang merupakan bagian dari Principal Recipient (PR) Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dengan memberikan dukungan komunitas dalam proses perawatan TBC. Dalam hal ini, SSR Subang melakukan langkah awal dengan memperkuat jejaring multipihak bersama beberapa pemangku kepentingan terutama Dinas Kesehatan Kabupaten Subang.

 

Program Staff SSR Subang, Irfan Maulana, mengatakan, “Dengan Dinas Kesehatan kita selalu diskusi untuk bersinergi dalam penjangkauan dan penemuan kasus TBC di Kabupaten Subang. Kami membangun komunikasi bahwa komunitas hadir untuk membantu Puskesmas agar orang dengan gejala TBC terdeteksi secara dini, masyarakat memahami penyakit ini, mendampingi pasien TBC selama berobat, serta melacak pasien mangkir”.  

 

Selain itu, kader komunitas yang dikelola oleh SSR Subang juga diberi kepercayaan dan dukungan oleh petugas Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Keberadaan kader dinilai sebagai angin segar karena dapat membantu dalam menjangkau orang dengan penyakit TBC di masyarakat sebagai perpanjangan tangan Puskesmas. Hal ini membuat kader bersemangat melaksanakan kegiatan untuk memutus mata rantai penularan TBC. 

 

Tuti, salah satu kader dari Cikalapa Subang menyatakan antusiasmenya karena mendapat dukungan penuh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Subang. “Saya sangat senang ketika mendapat dukungan dan kepercayaan dari Dinkes, rasanya seperti dikasih suntikan semangat dalam melakukan penjangkauan. Orang-orang Dinkes juga sangat komunikatif dan responsif sehingga kami sering melakukan diskusi terkait kondisi di lapangan,” tuturnya. 

 

Selain dukungan secara moril, Dinas Kesehatan juga menyediakan fasilitas dan ruang berbicara untuk para kader dan komunitas. “Di Dinas Kesehatan, kita diberikan ruangan untuk tempat berkumpul. Jadi, jika kita ingin melakukan pertemuan, pelatihan, ataupun diskusi, kita nggak repot-repot cari tempat deh’’ kata Tuti. 

 

 

Pada beberapa kesempatan, Dinas Kesehatan mengenalkan para kader kepada para pemangku kepentingan lainnya dan diberi ruang untuk memaparkan tugas-tugas yang dilakukan oleh kader TBC Komunitas di lapangan. “Yang jelas saya makin merasa dirangkul dengan diberikannya kesempatan untuk berbicara, kami nggak jalan sendiri, dan Dinkes selalu membersamai langkah kami,” tambah Tuti. 

 

Adanya dukungan tersebut meningkatkan produktivitas kader ketika melakukan penjangkauan. Dalam pencapaian notifikasi kasus, Kabupaten Subang berhasil menjangkau lebih banyak kasus dengan jumlah kader aktif yang meningkat. Irfan mengatakan, “Dulu itu sudah dilatih 140-an kader mba, kemudian yang aktif di bawah 20 kader. Bertahap sekarang yang aktif sampai 60,” tuturnya. 

 

Peningkatan keaktifan kader juga sangat berpengaruh pada capaian hasil yang didapatkan oleh SSR Subang. “Bahkan, di kuartal 3, kami mendapatkan hasil capaian kasus yang cukup baik dibandingkan kuartal sebelumnya” tutur Irfan. Bertambahnya angka penemuan kasus berkaitan dengan meningkatnya keaktifan para kader di lapangan. Semua terjalin karena komunikasi dan koordinasi yang baik antara SSR Subang dengan Dinas Kesehatan untuk mendukung kerja-kerja kader serta Puskesmas.

 

Dengan kemajuan saat ini, Tuti sebagai kader berharap bahwa kedepannya program yang sedang dilakukan komunitas dapat berkesinambungan sehingga pasien-pasien TBC Sensitif Obat (SO) maupun TBC Resisten Obat (RO) semakin berkurang. Tuti juga menyampaikan agar rekan-rekan kader dapat terus bersemangat dalam melaksanakan tugasnya dengan dukungan-dukungan yang sudah diberikan. 

 

SSR Kabupaten Subang berkomitmen akan terus bergerak menyukseskan eliminasi TBC bersama kader di masyarakat. “Semuanya berjalan dan mengikuti ritme dari hulu ke hilir dengan upaya selalu menjaga komunikasi dan koordinasi serta persepsi yang sama dengan stakeholder dalam mewujudkan sinergitas yang baik,” tutur Irfan. Relasi yang baik akan terus dibangun oleh SSR Subang baik itu ke pemerintah, komunitas dan organisasi masyarakat sipil lainnya, dan para kader untuk Kabupaten Subang bebas TBC. 


Cerita ini dikembangkan dari SR Jawa Barat

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Thea Yantra Hutanamon

 

Anjangsana Ke SR Sulsel, NPD PR Konsorsium Penabulu-STPI Semangati Puluhan Kader TB

MAKASSAR– Nasional Program Direktur (NPD) Program TB Komunitas PR konsorsium Penabulu-STPI, Heny Akhmad beranjangsana ke SR TB Komunitas Yayasan Masyarakat Peduli TB Sulawesi Selatan, pada Sabtu-Senin, 20-21 November 2021.

Kedatangan Heny selain untuk bersilaturahmi dengan pengelola program TB Komunitas, juga untuk melihat langsung aktivitas kader TB Komunitas sebagai ujung tombak program dalam mewujudkan eliminasi TBC 2030. “Kita tahu bersama bahwa upaya eliminasi TB ini sudah menjadi komitmen kita bersama, untuk itu pelaksanaannya harus kita pastikan semaunya berjalan, baik dari sisi penjangkauan kasus TB baru maupun advokasi kepada kebijakan sebagai salah satu strateginya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan di Sulsel ini, Heny juga menyempatkan berkunjung ke SSR TB Komunitas Yamali di Kab Maros, serta bertemu 40-an kader TB Komunitas Yamali TB kota Makassar. Saat pertemuan dengan kader, Heny berbagi motivasi kepada kepada kader agar tetap teguh dan semangat dalam melakukan aktivitasnya. “Saya harus menyampaikan terima kasih kepada ibu-ibu semua atas dedikasinya sebagai ujung tombak program TB ini. Kami tahu ini tugas yang berat dan penuh tantangan tetapi ibi-ibu semua mampu melakukannya,” tukas Heny yang disambut sorak tapuk tangan puluhan kader yang hadir pada kegiatan yang dilaksanakan di Rumah Makan Fatmawati, Makassar itu.

SR Manager Yamali TB Sulsel, Wahriyadi menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi dan telah dilalui oleh kader merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Ia pun menyampaikan bahwa beberapa apresiasi dilakukan, seperti adanya fasilitas reward untuk kader dalam melakukan aktivitas terkait program serta kegiatan-kegiatan refreshment untuk kompetensi kader, refreshing untuk menghindari kejenuhan kader, serta pemberdayaan ekonomi kader. Pada kesempatan tersebut, dilakuakn juga pemberian apresiasi bagi tiga orang kader dengan capaian tertinggi dalam periode semester 1 tahun 2021.

Kisah Dua Kader yang Rela Berjalan Lebih Dari 1 Jam Demi Membantu Sesama

Pulau Bali adalah pusat pariwisata Nusantara dengan kekayaan budaya yang indah dan penduduk yang ramah. Namun, dibalik semua hal tersebut,  ancaman tuberkulosis (TBC) terus menghantui kehidupan di Pulau Dewata ini. Pada tahun 2021, diperkirakan 12.406 orang jatuh sakit dengan TBC. Penyakit menular ini dapat mematikan, sayangnya, hingga sekarang masih banyak masyarakat dengan gejala batuk terus menerus yang menolak memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. 

Situasi tersebut juga terjadi di Kabupaten Buleleng dimana Sub-Sub-Recipient (SSR) Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), dengan dukungan Principal Recipient (PR) Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, bersama Puskesmas Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat berkoordinasi untuk mencegah dan mengendalikan TBC. Utamanya, organisasi berbasis masyarakat seperti PPTI berperan dalam memobilisasi masyarakat dalam penemuan orang dengan gejala TBC untuk memutus mata rantai penularan penyakit ini. Selain itu, kader TBC melakukan pendampingan di masyarakat agar pasien TBC tidak mangkir atau putus berobat dan memastikan mereka berobat sampai sembuh. Sebagai agen perubahan di masyarakat, kader memiliki andil dalam mengedukasi masyarakat tentang TBC, termasuk berupaya menghapuskan stigma dan diskriminasi terkait penyakit ini. 

Salah satu kegiatan penting yang dilakukan oleh PPTI Buleleng bersama Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat untuk memastikan setiap orang dengan TBC dapat terdiagnosa dan diobati adalah investigasi kontak. Kegiatan ini dilakukan oleh kader-kader yang dibekali pengetahuan dan keterampilan oleh PPTI Cabang Buleleng. Investigasi kontak merupakan upaya pelacakan dan skrining gejala aktif TBC pada orang-orang yang berhubungan atau melakukan kontak erat dengan pasien TBC. Individu yang merupakan kontak erat pasien TBC lebih rentan terinfeksi dan jatuh sakit sehingga upaya ini diperlukan untuk menemukan orang yang bergejala TBC agar dapat diperiksa dan diobati sedini mungkin. 

Luh Gorsini dan Sri Artati kader dari Puskesmas Banjar 1 merupakan kader TBC yang melakukan investigasi kontak. Hatinya tergerak untuk melakukan investigasi kontak setelah mengikuti pelatihan oleh PPTI dan melihat situasi pasien TBC di tengah masyarakat. Dalam melaksanakan perannya, mereka harus menempuh perjalanan kaki selama lebih dari 1 jam melewati perbukitan dan pedesaan untuk mencapai rumah pasien TBC yang berlokasi di pelosok desa kabupaten Buleleng. Perjuangan wanita 50-an tahun ini tidak tanpa hambatan, namun mereka berkata, “Kalau lihat reward sih nggak seberapa ya Mbak dibanding kerjaan kita nyamperin pasien yang rumahnya jauh-jauh. Yang penting niat kita dari hati, saya kalau lihat mereka itu sedih rasanya, kadang kan (masyarakat) yang memang di pelosok-pelosok ini jarang mendapat perhatian, jadi ya siapa lagi kalau bukan kita-kita ini,” ujar kader Luh Gorsini.

Saat diwawancarai oleh staf komunikasi PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, Sri Artati juga menyampaikan keprihatinannya, “Masker pun pasien ada yang ambil dari bekas-bekas orang di jalan mbak, itu dia pakai, saya sampe sedih. Syukurnya saya bawa perbekalan masker, itu saya berikan ke mereka”. Mengingat bahwa ada sesama yang membutuhkan pendampingan dan kehadirannya menggerakkan semangat dua kader ini menekuni perannya sebagai kader TBC.

Luh Gorsini dan Sri Artati juga mengakui bahwa kunjungan ke rumah pasien TBC  gampang-gampang susah karena penolakan dari  pasien untuk kader melakukan pelacakan di sekitar tempat tinggalnya. Kebanyakan pasien TBC di daerah Pedawa Lambo di kabupaten Buleleng adalah pedagang kebutuhan pokok. Mereka enggan mendukung investigasi kontak karena tidak ingin status kesehatannya  diketahui oleh masyarakat sekitar karena kekhawatiran dagangannya yang tidak laku dan  kehilangan pendapatan . 

Terlebih di masa pandemi ini, masyarakat juga memiliki asumsi bahwa petugas kesehatan datang untuk melakukan pelacakan  Covid-19, sehingga, masyarakat menolak untuk ditemui. Kader pun sudah memberikan penjelasan terkait peran mereka sebagai kader TBC kepada masyarakat namun ada saja masyarakat yang tetap menolak pelaksanaan investigasi oleh kader. 

Luh Gorsini dan Sri Artati berharap kisahnya ini dapat memberikan motivasi untuk kader lainnya  dalam melakukan investigasi kontak. “Kader yang sudah mengikuti pelatihan harus bisa dan mau melakukan investigasi kontak karena sudah diberi kepercayaan  yang besar apalagi untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, jika bukan kita maka siapa lagi”, tutur Luh Gorsini. 

Sri Artati juga menambahkan bahwa investigasi kontak yang ia dan teman-teman kader lainnya lakukan adalah semata-mata untuk membantu mereka terhindar dari penyakit yang mematikan ini. Dengan kegiatan tersebut, mereka merasa senang bisa menambah wawasan serta berkenalan dekat dengan warga yang mereka temui. Kedepannya, Luh Gorsini dan Sri Artati ingin masyarakat dapat lebih sadar dan paham tentang bahaya TBC, serta, bagi pasien yang sedang melakukan pengobatan juga taat mematuhi jadwal pengobatan dengan baik.

 


Cerita ini dikembangkan dari SR Bali

Ditulis oleh: Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communications Staff)

Editor: Thea Yantra Hutanamon

Kolaborasi Bersama Peduli Eliminasi TBC di Daerah Istimewa Yogyakarta

Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyakit tertua di Indonesia. Penemuan relief orang dengan TBC di Candi Borobudur menandakan bahwa penyakit ini tersebar di wilayah sekitar candi, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 800-an Masehi. Menilik situasi TBC di DIY saat ini, dengan 9.074 kasus TBC yang muncul di tahun 2021, penyakit menular dan mematikan ini masih menjadi momok di tengah-tengah masyarakat. 

Belum tuntasnya pemberantasan Mycobacterium Tuberculosis hingga saat ini mengindikasikan situasi yang semakin menantang, khususnya bagi pasien TBC Resisten Obat (RO) yang kebal terhadap beberapa jenis obat anti TBC yang paling efektif. Pasien TBC RO mengalami proses pengobatan yang cukup berat selama 9-20 bulan dengan efek samping obat yang berat. Memperhatikan kondisi tersebut, Sub-Recipient (SR) Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI di DIY yang diprakarsai oleh Siklus Indonesia melakukan kolaborasi multi-pihak bersama Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY, LazisMu DIY, serta Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Ahmad Dahlan.

Dalam program ini, Siklus Indonesia aktif dalam memberikan dukungan baik dalam bentuk fisik maupun moral melalui dukungan spiritual, transportasi berupa ambulan gratis, paket sembako, paket makan siang, dan masker untuk para pasien TBC RO. Selain itu, Siklus Indonesia juga memberikan dukungan kepada Manajer Kasus (MK) dan Pasien Supporter (PS) dengan menyediakan beberapa kebutuhan yang selama ini mereka belum memiliki seperti dukungan transport, serta dukungan perlindungan kesehatan berupa multivitamin dan biaya untuk BPJS Kesehatan. 

Dukungan tersebut berkat sinergi antara LazisMu dengan Siklus Indonesia dalam bentuk dukungan dana. Dana diserahterimakan oleh LazisMu melalui Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY lalu diteruskan kepada Siklus Indonesia yang kemudian menyalurkan dana tersebut untuk dikelola langsung oleh MK. “Untuk BPJS Kesehatan dan tambahan transport PS serta MK, kami berikan dalam bentuk cash, multivitamin dibelikan oleh MK kemudian dibagi kepada tim PS dan sembako diserahkan langsung oleh LazisMu dalam bentuk sembako,” papar Rakhma selaku Koordinator Program & MEL Siklus Indonesia yang terlibat pada program tersebut.

Mufi, salah satu MK DIY juga menyampaikan rasa bahagianya atas bantuan dari Siklus Indonesia. Ia menyatakan, “Selama ini dari program Global Fund TBC Komunitas belum ada fasilitas untuk dukungan BPJS Kesehatan, nutrisi dan multivitamin, sehingga ketika MK dan tim pendampingan pasien TBC RO mendapatkan dukungan-dukungan tersebut, saya dan tim merasa senang dan merasa terbantu dengan kerjasama multipihak ini.”

Sinergi kerjasama multipihak pada program ini memberikan dampak yang sangat positif terhadap pasien TBC RO, MK dan PS terutama di wilayah DIY. Pasien TBC RO merasa sangat terbantu dengan dukungan ini, mengingat bahwa mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pokok selama pengobatan karena tidak lagi bekerja. Mereka juga merasa dipedulikan oleh banyak orang, sehingga semakin semangat dalam menjalani pengobatan. 

Semangat sinergi kerjasama multipihak ini diharapkan nantinya dapat dijadikan sebagai contoh untuk daerah lain dalam mendukung upaya eliminasi TBC 2030. Melihat manfaat dari upaya Siklus Indonesia bersama berbagai pihak, bentuk kerjasama tersebut dapat diberikan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh para pihak. Dukungan tidak harus berbentuk uang, namun sangat dapat dalam bentuk apapun, bahkan hanya sekedar waktu luang misalnya. Apapun bentuknya sangat bermanfaat selagi para pihak memiliki kemauan untuk berkontribusi. Bentuk kerjasama multipihak ini juga dapat meningkatkan efektivitas upaya untuk menyukseskan eliminasi TBC sekaligus mengatasi hambatan yang masih ada dalam penanggulangan TBC. 

 


Cerita ini disusun oleh : Winda Eka Pahla Ayuningtyas (Communication Staff)

Editor : Thea Yantra Hutanamon

Tenaga Ahli 1 – Penyusunan Panduan dan Model Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) untuk Fasilitas Non- Kesehatan (Congregate Settings) oleh Komunitas

Latar Belakang

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI adalah Principal Recipient (PR) Komunitas TBC, berdampingan dengan PR Kementerian Kesehatan dan Program Nasional Penanggulangan TBC yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML). Dalam kerja sama dengan para mitra, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI bertujuan mengakselerasi eliminasi TBC 2030 di 30 provinsi dan 190 kota/kabupaten yang meliputi: 1) Penemuan dan pendampingan pasien TBC sensitif obat, 2) Penemuan dan pendampingan pasien TBC resisten obat, 3) Penguatan sistem komunitas, dan 4) Upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi pasien dalam mengakses pelayanan TBC berkualitas sampai sembuh.

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI sebagai Principal Recipient (PR) untuk program eliminasi TBC dengan dukungan dana Global Fund- Komponen TBC periode 2021 – 2023 mendukung pemerintah dalam upaya penanggulangan TBC melalui penemuan kasus secara aktif dan pendampingan pasien TBC oleh komunitas.

Sebagai upaya untuk mendukung pencegahan penularan TBC pada setting komunitas, terutama dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan memulai kegiatan penyusunan panduan dan model PPI pada setting non-fasilitas kesehatan atau congregate settings, sekaligus sosialisasi panduan dan implementasi awal pada Triwulan-4 2021 dengan dukungan skema pendanaan Covid-19 Respon Mechanism (C19RM) melalui Global Fund. Dengan demikian, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI membutuhkan tenaga ahli untuk mendukung penyusunan panduan PPI tersebut sekaligus model implementasinya pada komunitas.

Tugas dan Tanggungjawab Utama:

Bertanggungjawab dalam mengembangkan panduan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TBC dan Covid-19 untuk diimplementasikan pada setting non-fasilitas kesehatan oleh komunitas (congregates settings) sesuai dengan kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan rincian tugas sebagai berikut :

  1. Memberikan referensi dan panduan standar PPI sebagai rujukan,
  2. Mengidentifikasi dan menentukan kerangka/outline isi panduan,
  3. Memberikan input dan arahan terkait substansi/konten panduan sesuai outline penulisan yang telah disepakati,
  4. Memberikan paparan kemajuan penyusunan panduan pada pertemuan tematik PPI yang diselenggarakan oleh PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI
  5. Memberikan paparan terhadap isi panduan pada pertemuan diseminasi panduan yang diselenggarakan oleh PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI

Kualifikasi dan Keahlian

  1. Memiliki latar belakang pendidikan kesehatan/kedokteran dengan pengalaman dalam isu Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TBC dan/atau penyakit menular udara lainnya minimal 5 tahun
  2. Memiliki pengalaman dalam menyusun dan/atau mengembangkan panduan terkait Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TBC dan/atau penyakit menular udara lainnya
  3. Memiliki pengalaman kerja lebih dari 5 tahun dalam program terkait dengan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TBC dan/atau penyakit menular udara lainnya TBC
  4. Memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang efektif dan benar secara lisan dan tulisan sesuai dengan pedoman KBBI

Durasi Waktu

Periode Penugasan: November-Desember 2021

Jumlah Hari Penugasan: 20 hari

Kirimkan CV dan pernyataan minat ke email:
hr@penabulu-stpi.id dengan subject email: Tenaga Ahli-1

Batas Waktu : 3 November 2021 pukul 18.00 WIB

Tenaga Ahli 2 – Penyusunan Panduan dan Model Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) untuk Fasilitas Non- Kesehatan (Congregate Settings) oleh Komunitas

Latar Belakang

PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI adalah Principal Recipient (PR) Komunitas TBC, berdampingan dengan PR Kementerian Kesehatan dan Program Nasional Penanggulangan TBC yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML). Dalam kerja sama dengan para mitra, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI bertujuan mengakselerasi eliminasi TBC 2030 di 30 provinsi dan 190 kota/kabupaten yang meliputi: 1) Penemuan dan pendampingan pasien TBC sensitif obat, 2) Penemuan dan pendampingan pasien TBC resisten obat, 3) Penguatan sistem komunitas, dan 4) Upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi pasien dalam mengakses pelayanan TBC berkualitas sampai sembuh.

Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI sebagai Principal Recipient (PR) untuk program eliminasi TBC dengan dukungan dana Global Fund- Komponen TBC periode 2021 – 2023 mendukung pemerintah dalam upaya penanggulangan TBC melalui penemuan kasus secara aktif dan pendampingan pasien TBC oleh komunitas.

Sebagai upaya untuk mendukung pencegahan penularan TBC pada setting komunitas, terutama dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI akan memulai kegiatan penyusunan panduan dan model PPI pada setting non-fasilitas kesehatan atau congregate settings, sekaligus sosialisasi panduan dan implementasi awal pada Triwulan-4 2021 dengan dukungan skema pendanaan Covid-19 Respon Mechanism (C19RM) melalui Global Fund. Dengan demikian, PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI membutuhkan tenaga ahli untuk mendukung penyusunan panduan PPI tersebut sekaligus model implementasinya pada komunitas.

Tugas dan Tanggungjawab Utama:

Bertanggungjawab dalam memfasilitasi proses penyusunan panduan bersama mitra terkait sesuai pertemuan tematik, hingga tahap diseminasi, dengan rincian tugas sebagai berikut :

  1. Memfasilitasi diskusi dalam setiap pertemuan tematik PPI yang diselenggarakan oleh PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, bersama dengan narasumber terkait dan mitra terkait,
  2. Membantu PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI mengkomunikasikan ide-ide penyusunan panduan PPI kepada mitra terkait,
  3. Membantu Tenaga Ahli-1 untuk menyusun kerangka model implementasi PPI TBC dan Covid-19 untuk implementasi pada setting non-fasilitas kesehatan (congregates settings)
  4. Membantu Tenaga Ahli-1 mengidentifikasi dan menentukan kerangka/outline isi panduan
  5. Membantu PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dalam  memastikan kesesuaian panduan dan kebutuhannya dengan konteks komunitas
  6. Membantu PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI dalam mengidentifikasi lokasi concgregate setting untuk uji coba dan implementasi panduan
  7. Memfasilitasi pertemuan diseminasi panduan yang diselenggarakan oleh PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI

Kualifikasi dan Keahlian

  1. Memiliki latar belakang pendidikan kesehatan/kedokteran dengan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun dalam program TBC baik program di bawah pendanaan pemerintah maupun donor. Pengalaman kerja dalam pengelolaan program GF lebih diutamakan.
  2. Memiliki pengalaman dalam menyusun dan/atau mengembangkan dokumen panduan terkait TBC dan/atau penyakit menular lainnya
  3. Memiliki pengalaman dalam memandu / memfasilitasi pertemuan untuk membangun konsensus bersama
  4. Memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang efektif dan benar secara lisan dan tulisan sesuai dengan pedoman KBBI

Durasi Waktu

Periode Penugasan: November-Desember 2021

Jumlah Hari Penugasan: 20 hari

Kirimkan CV dan pernyataan minat ke email:
hr@penabulu-stpi.id dengan subject email: Tenaga Ahli-2

Batas Waktu : 3 November 2021 pukul 18.00 WIB