Skip to content

Ada Untuk Membantu Sesama: Dari Penyintas Menjadi Pendamping Sebaya

Eflin 1

Kota Pekanbaru adalah sentra ekonomi Provinsi Riau dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Di kota ini diperkirakan setiap tahunnya lebih dari 6.000 orang jatuh sakit akibat tuberkulosis (TBC). Kasus resistensi atau kekebalan terhadap antibiotik dalam pengobatan TBC juga cukup tinggi. Situasi ini menjadikan Kota Pekanbaru menjadi  wilayah prioritas penanggulangan TBC di Indonesia.

Ratih (bukan nama sebenarnya) saat ini menjalani pengobatan TBC Resisten Obat (TBC RO) di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru sejak Mei 2020. Ratih sempat putus berobat karena tidak tahan dengan efek samping obat anti TBC (OAT) yang harus ia telan setiap hari. Di usia 21 tahun, Dia harus berjuang melawan Mycobacterium Tuberculosis. Di saat yang sama Ratih mengalami beban ganda harus menghadapi masalah keluarga yang menyurutkan semangatnya menuntaskan pengobatan.

Eflin Vaulin Pakpahan, akrab dipanggil Eflin, adalah penyintas TBC yang dua tahun terakhir ini aktif sebagai patient supporter (PS) bagi pasien TBC RO di RSUD Arifin Achmad. Eflin merupakan Wakil di TUAH TB (Tunjukkan Aksi Hidup Tanpa Tuberkulosis), organisasi penyintas TBC di Provinsi Riau. Eflin dan TUAH TB bekerja sama dengan PKBI Riau selaku sub-recipient (SR) PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI. Eflin saat ini mendampingi 13 pasien TBC RO dimana Ratih adalah satu pasien yang ia perhatikan secara khusus. Ia mengkhawatirkan Ratih yang pernah putus berobat memiliki resiko memburuk menjadi Extensively Drug Resistant Tuberculosis (XDR TB). Kekhawatiran ini muncul karena hingga saat ini, belum tersedia pengobatan XDR TB di Riau.

Di awal pendampingan, Ratih sangat tertutup tentang kondisinya. Eflin menduga Ratih tidak mengonsumsi obat secara rutin karena merasa tidak ada perubahan fisik penanda kesembuhan. “Pada pasien yang rajin minum obat, saya selalu melihat adanya perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dan badannya menjadi lebih segar, tetapi saya tidak melihat ini padanya”, ucap Eflin saat diwawancarai oleh Permata dari PR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI.

Perlahan, Eflin mencoba mendekati Ratih melalui kunjungan rumah. Hal yang tidak mudah untuk membuat Ratih semakin terbuka. Pelan-pelan Ratih mulai mau bercerita dan mengkomunikasikan dukungan yang ia butuhkan. Eflin berupaya menjadi pendengar atas segala keluh kesah Ratih. Sebagai patient supporter, Eflin juga mengedukasi keluarga pasien agar memahami kondisi yang dialami oleh pasien TBC RO. Kepedulian Eflin dan pendekatan khusus yang ia berikan berhasil membawa Ratih kembali berobat. Karena sempat putus berobat, Ratih terpaksa menjalani 12 bulan pengobatan dari sebelumnya 9 bulan.

Sebagai penyintas, Eflin merasakan beratnya proses pengobatan TBC RO. Terlebih di Riau yang infrastruktur kesehatannya belum lengkap. Eflin harus tinggal sendiri saat menjalani pengobatan karena suaminya bekerja di luar kota. Eflin mengaku, 3 minggu sebelum selesai pengobatan, ia nyaris putus berobat karena merasa kondisi kesehatannya menjadi beban untuk keluarganya. Eflin putus asa. Beruntung, ada dukungan dari keluarga sehingga Ia berhasil menyelesaikan pengobatan TBC RO yang ditempuhnya selama sekitar 2 tahun.

Pengalaman hidupnya sembuh dari TBC RO memotivasi Eflin untuk menjadi PS. Ia berkomitmen untuk membantu menguatkan teman sebaya di daerahnya. “Simpel aja sih, yang pasti karena saya sudah merasakan bagaimana perjuangan pengobatan seperti apa. Saya ingin berbagi pengalaman agar pasien bisa terus berjuang dan melihat ada hasil nyata, dan juga karena saya mau mata rantai TBC RO bisa terputus”, ujar Eflin.

“Salah satu kunci utama kesembuhan pasien TBC RO bukan hanya obat yang dikonsumsi tetapi rasa perhatian dan dukungan dari keluarga serta orang terdekat pasien TBC RO”, imbuhnya. Oleh karena itu, Eflin secara pribadi maupun bersama manajer kasus dan petugas puskesmas, sering melakukan penggalangan bantuan untuk pasien TBC RO dalam bentuk uang, suplemen maupun perihal kebutuhan sehari-hari. Eflin berharap keterlibatannya sebagai PS serta pengalamannya sebagai penyintas TBC RO dapat memotivasi pasien TBC RO lainnya untuk tidak putus berobat. Eflin percaya bahwa memastikan pasien TBC yang mangkir berobat agar kembali menuntaskan pengobatannya adalah upaya penting untuk mencapai Eliminasi TBC di Indonesia.

 

Modifikasi Cerita Kisah Sukses SR Riau (PKBI Riau) dari Laporan Semester 1, 15 Juli 2021

Judul asli: Melestarikan Hidup Dengan Memastikan Pasien Mangkir Berobat Kembali

 


Penyunting : Permata Imani Ima Silitonga
Editor: Thea Yantra Hutanamon & Dwi Aris Subakti

Bagikan Artikel

Cermati Juga

Mentari Sehat Indonesia Mengajak Para Petinggi Kabupaten Untuk Bersinergi Berantas TBC

komunitas mentari sehat indonesia kabupaten cilacap lakukan pertemuan CILACAP.INFO –
Selengkapnya »

Gandeng Pemkab Cilacap, Komunitas Mentari Sehat Inginkan Sinergitas Berantas TBC

HARMASNEWS – Komunitas Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Cilacap mengajak para pemangku kebijakan terutama Dinas
Selengkapnya »

Mangkir di Tembilahan, Pelacakan di Padang Pariaman

Padang Pariaman – Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) adalah kondisi dimana
Selengkapnya »

Penabulu Bersama Mahasiswa UNIBA Adakan Sosialisasi Pencegahan Dan Pengendalian Penyebaran TBC Pada Masyarakat Sujung

Suasana sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyebaran TBC. (Foto dokumentasi ketua
Selengkapnya »

Ibu Juniwati, dari Kader Posyandu ke Kader TBC

Juniwati (50) memilih bergabung sebagai Kader Tuberkulosis sejak pertengahan tahun
Selengkapnya »

TB Campaign Day 2022 : Stop Stigma & Diskriminasi Terhadap Pasien TBC

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksius yang diakibatkan oleh mycobacterium tuberculosis,
Selengkapnya »